
Qania berlari kecil menjemput sang anak yang juga sedang berlari kecil ke arahnya. Sungguh Qania begitu merindukan putranya yang hampir dua bulan tidak bertemu dengannya. Keduanya berpelukan dan Qania langsung menggendong anaknya tersebut.
Kedua orang tua Qania pun menyusul mereka dari belakang dan Qania langsung mencium punggung tangan kedua orang tuanya bergantian begitu pun dengan Syaquile.
“Anak Mami udah makin gede ya, Nak,” ucap Qania kemudian mengacak-acak rambut Arqasa.
“Mami, jangan rusakin rambut aku!” keluhnya membuat semua keluarganya tertawa.
“Ya udah yuk kita lanjut ke hotel,” ajak Syaquile sambil membawa koper yang tadinya berada di tangan sang Papa.
“Papa Setya nggak ikut?” tanya Qania saat mereka sedang berjalan menuju mobil yang terparkir.
“Mertuamu itu sedang sibuk menguru bisnisnya di Provinsi Utara sayang,” jawab Mama.
“Hah … itu tuh akibatnya kalau gila kerja dan nggak sadar udah bangun banyak cabang. Nantinya aku kan yang bakalan kualahan ngurusin bisnisnya,” keluh Qania sambil membuka pintu mobil bagian belakang.
Qania pun masuk diikuti oleh mamanya yang duduk di belakang sementara Syaquile yang menyetir dan papanya duduk di sebelahnya. Mobil tersebut berhasil Qania pinjam dari hotel sebagai fasilitas pemilik hotel dan tentu saja tidak ada yang bisa menolak permintaannya.
“Sabar saja sayang, semua itu mungkin caranya untuk mengusir rasa sepi dan sebagai pelampiasannya karena kehilangan Arkana,” hibur mamanya.
“Benar! Dulu pun seperti itu saat istrinya alias Ibu mertuamu meninggal. Setya menjadi gila kerja demi mengusir sepinya dan akhirnya ia menjadi pengusaha sekaligus pengacara yang sukses. Kamu maklumi saja Nak, ‘hanya dengan bekerja dan menyibukkan diri mertuamu itu bisa sedikit melupakan kesedihannya,” timpal Papanya.
Ada rasa sesal di hati Qania karena sudah mengeluhkan sikap mertuanya. Padahal ia pun sama, mengusir kesepiannya dengan giat belajar. Ia menyesal telah gagal paham pada sikap mertuanya itu. Harusnya sebagai dua orang yang paling kehilangan, Qania bisa paham dengan perubahan sikap mertuanya. Dalam hati ia terus mendengungkan kata maaf untuk mertuanya itu.
“Kalian benar, maafkan aku,” lirih Qania.
Zafran dan Alisha tersenyum, mereka paham bahwa anak mereka ini masih sama. Masih Qania yang mudah tersentuh dan mudah memahami keadaan.
“Mi, emang nggak apa-apa kalau Ar membolos?” tanya Arqasa tiba-tiba sambil memainkan rambut Qania yang terurai.
“Mami kasih tahu satu rahasia, mau Nak?” tanya Qania.
“Mau Mi,” sahut Arqasa cepat.
“Rahasia agar sekolah terasa menyenangkan dan berkesan itu saat kita tidak hanya menjadi murid teladan tapi juga bisa jadi murid yang sedikit bandel. Jadi nggak masalah membolos asal pintar,” ucap Qania mengerjai sang anak. Padahal ia pun sadar bahwa ia tidak pernah sekali pun melakukan hal tersebut.
“Seperti itu ya Mi?” tanya Arqasa bingung.
“Ya. Karena peraturan itu dibuat ya untuk dilanggar,” ucap Qania mantap.
“Hah?” kaget Arqasa.
“Gini deh Mami kasih tahu, kalau semua orang patuh ya nggak perlu susah-susah pemerintah buat aturan, kan? Jadi kalau nggak ada pelanggaran ya peraturan nggak ada gunanya, kan? Dan kalau semua orang nggak ngelanggar aturan lalu apa fungsinya penegak hukum di Negara kita?” ucap Qania (author ngajak para pembaca ajaran sesat, hihihi … peace).
“Benar juga kata Mami,” ucap Arqasa sedikit paham.
“Ekhmmm ….” Zafran berdehem sedikit keras.
__ADS_1
“Eh, upss … awas Ar, ternyata di mobil kita ada pemerintah daerah. Mami sampai lupa kalau kita sedang diawasi oleh bupati,” kekeh Qania.
“Jangan ikuti ajaran sesat Mamimu, Nak,” ucap Zafran sambil menoleh ke belakang.
“Aku pikir-pikir dulu deh, Kek,” sahut Arqasa yang membuat Qania, Syaquile dan Mama tak bisa menahan tawa.
“Rasain tuh Pa,” kekeh Syaquile.
“Cucu nenek pintar banget,” puji Alisha sambil terkekeh meledek sang suami.
“Gitu ya kompak. Setelah ini kalian berempat tidak mendapat izin untuk masuk ke kabupaten T,” ancam Zafran.
“Ya udah, Mama sama Ar ikut Qania saja ke kota Y. Iya kan Ar,?” ucap Alisha mengerjai suaminya.
“Iya Nek. Disana juga Ar bisa bersama Mami setiap hari,” timpal Arqasa.
“Aku juga ikut Ma. Biarin saja bupatinya sendirian nggak ada keluarganya,” ujar Syaquile.
“Kalau nyerang Papa semuanya pada kompak ya,” dengus Zafran yang mengundang gelak tawa di dalam mobil.
Tak lama kemudian mobil tersebut sudah memasuki area hotel Arqasa. Syaquile pun ikut menginap dan mereka masuk ke kamar masing-masing dengan Qania yang tidur bersama Arqasa. Karena waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam maka mereka memutuskan untuk istirahat.
.... . . ...
“Dad, Daddy!! Ini Ar, Daddy … Ar rindu sama Daddy.”
“Bersabarlah Nak, sebentar lagi Mami akan selesai kuliahnya. Mami janji akan mencurahkan semua perhatian dan kasih sayang Mami hanya untukmu,” lirih Qania.
Maafin Mami Ar, maadin Daddy juga. Kami adalah dua orang tua yang gagal dalam menjaga dan membesarkan anak. Daddymu tak bisa melihatmu dan kau pun juga begitu. Sementara Mami yang bersamamu justru tidak memiliki ruang dan waktu lebih banyak untuk menyaksikan tumbuh kembangmu, Nak. Maafin Mami untuk waktu kita yang sudah terbuang sia-sia. Maafin untuk semua kasih sayang yang begitu kurang kau dapatkan dari Mami. Maafkan untuk semua momen yang tidak bisa kita lewati bersama. Maafin Mami, Ar. Tolong jangan membenci Mami dan tolong tanamkan dalam hati dan pikiranmu bahwa Mami selalu menyayangimu dan melakukan semua ini untuk kita berdua. Dan tolong beritangguhlah diri dan hatimu dengan kenyataan bahwa kau tidak memiliki sosok pelindung yang kau sebut Daddy itu. Anak Mami pasti kuat, Nak.
.... . ....
“Qania!! Haruskah seperti ini hahhhhh ….”
Tristan tiada henti berteriak di dalam mobilnya sambil melampiaskan emosinya pada stir mobil. Bagaimana tidak, ia sudah menunggui seharian dan Qania pun tidak menampakkan dirinya. Bahkan ia sudah meminta ahli IT untuk meretas ponsel Raka yang ia curigai sebenarnya mengetahui keberadaan Qania namun sayang hasilnya pun nihil.
“Apakah kau tidak bisa merasakan perasaanku Qania? Haruskah kau campakkan aku seperti ini setelah kau berhasil membuatku bersujud di kakimu dan tertunduk takluk padamu? Jika kau memintaku untuk meninggalkan Marsya maka detik ini juga pun akan kutinggalkan dia tanpa pertimbangan apapun lagi. Qaniaaa!! Kenapa caramu melemahkanku begitu sadis Qania?” erang Tristan dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
Ia merasakan perasaan yang begitu sakit hingga ia tidak bisa membendung air matanya. Ia merasa bahwa inilah titik terendahnya. Ia bahkan tidak bisa menipu dirinya dan memanipulasi keadaan seolah ia baik-baik saja.
“Perasaanku yang terlalu berlebihan atau kau yang terlalu kejam menyakitiku Qania?” tanya Tristan sambil menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak.
Tristan menundukkan kepalanya di stir mobil. Untung saja saat ini ia memarkir mobilnya di tempat sunyi sehingga ia tidak perlu risau jika ada pengendara lain yang mengganggunya. Entah terlalu lelah atau terlalu sedih ia pun sampai tertidur dengan posisi membungkuk begitu.
__ADS_1
.... . ....
Pagi ini Qania sekeluarga terlihat sibuk terutama Qania dan Alisha yang sedang didandani oleh ahli make up yang sengaja Qania datangkan dan itu berkat bantuan petugas di hotel. Hari ini merupakan hari wisudah Syaquile sehingga mereka ingin tampil memukau meskipun dengan dandanan sederhana namun tetap terlihat elegan.
Qania menggandeng Arqasa yang terlihat begitu tampan dengan setelannya sementara ia sendiri mengenakan gaun yang terlihat sangat pas di tubuhnya dan tentu saja menutupi tubuhnya dengan sempurna. Tadinya ia ingin mengenakan kebaya namun ia tak sempat mencarinya sehingga hanya memesan gaun, tas dan sepatu dari aplikasi online.
Mobil yang kali ini disetir oleh Zafran pun akhirnya memasuki halaman gedung tempat dilaksanakannya wisudah. Mereka pun turun bersamaan dan tak jarang banyak yang memuji Qania bersama Arqasa dan tentu saja banyak pujian untuk Syaquile yang enggan untuk ia tanggapi.
“Giaa!! Cakep banget tuh cewek. Adiknya juga imut banget.”
“Cantik! Siapa ya? Gue nggak pernah lihat di kampus kita.”
“Dia datang bareng Syaquile. Apa dia calon istrinya ya?”
“Wah mereka serasi banget ….”
Dan masih banyak lagi ungkapan-ungkapan mahasiswa peserta wisudah yang berdecak kagum untuk mereka dan Qania hanya menanggapinya dengan senyuman tipis sementara Syaquile terkesan begitu dingin. Mereka yang mendapat senyuman manis dari Qania bahkan sampai kaku karena indah dan mempesonanya senyuman tersebut.
“Apa sih Dek, jangan ketus-ketus gitu,” ledek Qania.
“Iya nih, si Syaquile ketus amat sama cewek,” timpal Mama.
“Dia hanya sedang menjaga hati,” ujar Papa.
Setelah Zafran berucap demikian, raut wajah Syaquile semakin cemberut. Ia tiba-tiba teringat akan Lala yang tidak bisa hadir di acara wisudahnya. Padahal ia sangat ingin berfoto dengan kekasihnya tersebut.
“Sabar, nggak lama lagi kok,” ledek Papa yang paham akan apa yang tengah dipikirkan oleh Syaquile.
“Hahh –“ Syaquile menghela napas- “Ya udah ayo masuk, acaranya udah mau dimulai,” ajak Syaquile sambil terus mengelus dadanya mencoba bersabar dan menerima keadaan.
Prosesi wisudah pun dilaksanakan dengan lancar hingga sesi foto bersama. Bahkan beberapa petinggi kampus dan wali para mahasiswa meminta berfoto bersama Zafran Sanjaya yang mereka tahu sebagai seorang Bupati. Kharisma seorang Zafran Sanjaya memang tidak bisa dipandang sebelah mata dan itu membuat Qania dan Syaquile memutar bola mata mereka merasa jengah dengan sang Papa yang justru menjadi salah satu icon yang menarik di acara wisudah kali ini.
Setelah semua prosesi berakhir, mereka pun kembali ke hotel dan malamnya mereka mengadakan makan-makan di restoran sebagai pesta kecil-kecilan untuk keberhasilan Syaquile sebelum pagi nanti mereka akan kembali ke rumah mereka.
...❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️...
Terima kasih sudah membaca 🤎🤎🤎
__ADS_1