Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Anak Durhaka


__ADS_3

Di rumah Qania..


Qania, Cika dan Abdi sedang sibuk membahas rincian laporan pertanggungjawaban yang akan diadakn besok. Namun pikiran Qania melayang jauh ke kekasihnya yang belum mengabari sejak tadi. Bahkan ia kadang kedapatan melamun oleh Abdi dan Cika.


“Lo kenapa Qan? Lo sakit?” Tanya Abdi.


“Eh, enggak kok. Aku lagi bingung aja, soalnya besok kita rapat LPJ (Laporan pertanggungjawaban), terus besoknya gue harus mengurus ujian proposal gue” jawab Qania tidak sepenuhnya berbohong karena memang ia sudah harus mendaftarkan jadwal ujiannya.


“Lo udah mau maju proposal?” Tanya Abdi dan Cika bersamaan.


“Bu Lira nyuruh gue ujian proposal sebelum berangkat KKN, katanya biar satu beban gue udah hilang” jawab Qania memangku dagunya dengan tangan kanannya.


“Hadeeh bu Lira ada-ada saja” ucap Abdi.


“Ya kalian tahu sendiri seperti apa dosen waliku itu” ucap Qania pasrah membuat Abdi dan Cika tertawa.


 


Kembali ke markas…


“Lo mau ngapain?” Tanya keduanya gelagapan.


“Menelepon Daren Wilanata” jawab Arkana dengan santai.


“Appaaa..” Fero, Rizal dan dua tawanan mereka itu terkejut.


Arkana menekan tombol panggil pada ponsel tersebut saat mendapatkan kontak Daren Wilanata.


Tut..


Tut..


Tut..


“Hallo Daren” sapa Arkana dengan ramah.


“Siapa lo?” ketus Daren.


“Gue, gue yang lo cari-cari” jawab Arkana sambil menyeringai.


“Arkana Wijaya?” tebak Daren.


“Lo memang brilliant Daren” jawab Arkana terkekeh.


“Bangsat, lo mau apa hah?” maki Daren.


“Gue mau lo bunuh si Setya sekarang juga” ucap Arkana dingin, raut wajahnya berubah.


“APA?” Daren tersentak.


“Bukannya lo mau ngebunuh dia, jadi lakukanlah. Gue sangat berterima kasih sama lo” Arkana memangku kakinya.


Rizal dan Fero hanya bisa mengumpat dalam hati sambil menatap sinis pada Arkana.


“Tapi dia bokap lo” ucp Daren.


“Terus kenapa?”


“Gue nggak nyangka aja kalau lo bakalan setega ini” Daren mengaktifkan speakernya dan mendekatkan ponselnya ke arah Setya yang sedang duduk terikat bersama pak Anwar.


“Demi harta apa pun akan menjadi tega, hahaha” Arkana tertawa.


“Arka?” panggil Setya, ia terkejut dengan ucapan Arkana.


“Oh lo licik juga Daren Wilanata, tapi tidak masalah” ucap Arkana santai. “Hallo papaku tercinta, bagaimana rasanya diculik, apakah menyenangkan?” Tanya Arkana sok ramah.


“Arka kamu kenapa nak?” Tanya Setya masih bingung.


“Aku kenapa? Aku bahagia tentu saja” jawab Arkana.


“Anak kurang ajar” bentak Setya membuat hati Arkana bergetar.


“Terserah. Oh ya Daren, bisakah kita membuat janji bertemu?” Tanya Arkana mulai serius.


“Untuk apa?” Tanya Daren acuh.


“Untuk membahas kematian seperti apa yang pantas untuk si tua itu” jawab Arkana dengan santai.

__ADS_1


“Kurang ajar kamu Arkana” terik Setya.


“Hei santai saja pak tua, itu tidak akan sakit. Kami akan memberikan kematian yang manis untukmu” ucap Arkan berbicara dengan gaya terlihat seperti seorang psikopat.


Setya dan pak Anwar hanya bisa menghela napas dan menggelengkan kepala, sementara Daren tertawa.


“Ide bagus anak durhaka. Kapan kita akan bertemu?” Tanya Daren merasa tertarik.


“Jam sebelas di kafe X” ucap Arkana.


“Tentu, setengah jam lagi saya akan sampai di sana” ucap Daren mematikan ponselnya.


Di tempat Daren..


“Kau dengar itu Setya Wijaya, anakmu bahkan menginginkan dan merencanakan kematian yang manis untukmu. Hah, aku tidak perlu mengotori tanganku dengan membunuhmu, biarkan darah dagingmu yang melakukannya” ucap Daren sambil melenggang perci.


Daren mengunci ruangan tersebut, rumah yang lebih ke arah gubuk itu berada di pinggiran kota.


“Saya tidak menyangka nak Arkana akan berkata seperti itu pada papanya” ucap Anwar.


“Apalagi saya sebagai papanya, War” gumam Setya.


Di markas Arkana..


“Gue nggak menyangka lo sekeji ini Ka” ucap Rizal menatap jijik pada Arkana.


“Jadi lo selama ini mendekati Qania hanya untuk harta Ka? Lo sampah” umpat Fero.


“Hahaha” tawa Arkana menggema di ruangan tersebut.


Kedua tawanan itu ikut tertawa melihat dua orang teman Arkana yang terlihat bodoh. Arkana berjalan kea rah belakang si botak dan gondrong itu, dan..


Bughhhh….


 


Di rumah Qania..


“Pa,  Arkana belum memberi kabar?” Tanya Qania setelah mengantar Cika dan Abdi keluar.


“Aku khawatir pa” lirih Qania.


“Doakan saja yang terbaik untuknya” ucap Setya.


“Iya pa, Qania masuk ke kamar dulu” Qania membuka pintu kamarnya.


Drtt..


Drtt..


“Papa angkat telepon dulu” ucap Zafran terburu-buru meninggalkan Qania menuruni anak tangga.


“Hallo”


“….”


“Pasti”


“….”


“Kirimi lewat pesan”


“…..”


“Tentu saja”


“….”


“Ya”


Zafran bergegas meninggalkan rumah dengan mengendarai mobilnya sendiri setelah berbicara dengan orang yang meneleponnya itu.


 


Di kafe X


Arkana duduk sendirian sambil meminum kopi yang ia pesan, menunggu kedatangan Daren.

__ADS_1


Arkana sudah mengenal Daren karena dia pernah melawan Daren di perlombaan balap di kota XY dan Daren kalah waktu itu, namun mereka tidak menjalin permusuhan.


Arkana melirik ke pintu kafe saat melihat seorang pria dengan pakaian santai berkulit putih, tinggi, dengan kacamata yang tersemat di wajahnya menambah kesan kerennya.


“Hai Daren Wilanata” sapa Arkana begitu Daren duduk di depannya.


“Hai juga Arkana Wijaya, lama tak jumpa” Daren menbalas sapaan Arkana itu dengan tersenyum tipis.


“Pesan minum bro” ucap Arkana.


“No thanks, langsung saja” tolak Daren.


“Wah lo buru-buru amat. Minum dulu dan biar gue yang pesanin” Arkana langsung memanggil pelayan.


“Ada yang bisa saya bantu tuan?” Tanya pelayan itu dengan ramah.


“Jus alpukat satu” ucap Daren singkat.


“Baik tuan, mohon menunggu” ucap pelayan itu kemudian pergi.


“Jadi lo mau ngomong apa?” Tanya Daren langsung ke intinya.


“Kita tidak pernah menjadi musuh Daren, lo tahu itu bukan?”


“Ya, tentu saja”


“Gue Cuma ingin meminta bantuan lo”


“Bantuan? Bantuan apa?”


“Gue ingin meminta lo buat ngasih berkas ini untuk ditanda tangani Setya” menyodorkan berkas.


“Kenapa bukan lo aja yang ngasih?” Tanya Daren mengangkat sebelah alisnya.


“Silahkan dinikmati tuan” ucap pelayan itu setelah meletakkan jus alpukat milik Daren kemudian pergi.


“Gue malas melihat wajah memelasnya” jawab Arkana kemudian menyesap kopinya.


“Hahaha, lo emang anak durhaka” Daren menyeruput jus alpukatnya.


“Hahaha gue akuin lo benar dengan menyebut gue anak durhaka. Tapi sumpah gue malas berurusan dengan si tua itu” ucap Arkana sambil mengetuk meja dengan jari-jarinya.


“Setidaknya lo beri salam perpisahan ke bokap lo” tersenyum setan.


“Hahaha, lo benar juga. Kalau nanti lo udah dapetin tanda tangannya lo video call gue deh”


“Enak aja lo, malas gue. Lo aja sendiri yang minta tanda tangannya” tolak Daren.


“Gue kan tadi minta tolong ke elo” Arkana cemberu.


“Apakah dia berkata jujur atau ini rencananya?” batin Daren.


“Lo ikut aja” ajak Daren memancing Arkana.


“Gue sibuk, mau pacaran” tolak Arkana lagi.


“Hahaha, gila lo. Nggak tahu terima kasih lo, dia kan yang mengurus elo dari kecil”


“Tidak, dia sudah membunuh kedua orang tua kandung gue. Dia lah yang menyebabkan gue menjadi yatim piatu” ucap Arkana dingin, sorot matanya penuh kebencian.


“Gue bisa lihat dia begitu membenci Setya, jadi dia bukan anak kandungnya. Pantas saja dia begitu durhaka dan cuek akan kematian Setya. Tapi ini bagus, gue bakalan memancing emosinya sehingga dia sendiri yang bakalan ngajak gue buat segera membunuh Setya tanpa mengotori tangan gue” batin Daren, ia tersenyum licik.


“Jadi lo bukan anak kandungnya?” Tanya Daren pura-pura terkejut.


“Ya” jawab Arkana dingin, ia mengepalkan kedua tangannya yang ada di atas meja, sementara Daren yang melihat itu tersenyum licik.


“Kalau begitu lo harus membalas kematian kedua orang tua lo, mereka pasti akan tersenyum puas setelah lo membalaskan dendam mereka” Daren memprovokasi Arkana.


“Lo benar Daren, sepertinya gue harus membunuhnya dengan tangan gue sendiri supaya orang tua gue senang” ucap Arkana geram, sorot mata penuh kebencian terpancar di matanya.


“Bagus, dia terpancing. Keysha, sebentar lagi kamu akan mendapatkan keadilan” batin Daren, ia menyeringai.


Daren menyeruput habis jusnya, sambil tersenyum puas dengan melihat kebencian di mata Arkana.


Brakkkk….


...🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺...

__ADS_1


__ADS_2