
"Kauu?" geram Fandy.
"Tolong aku" isak Qania.
"Kalau lo ada masalah hadapin gue secara jantan dan lepasin Qania" bentak Arkana.
"Jadi kau sengaja menjebak saya?" ucap Ghaisan yang turut masuk.
"Kalian?" Fandy terkejut. "Mengapa mereka bisa ada disini. Harusnya mereka sedang berkelahi atau bahkan sudah ada yang tumbang" pikir Fandy yang mulai gugup.
"Tolong aku" isak Qania.
Fandy berdiri dan menarik Qania dengan kasar agar turut berdiri bersamanya. Ia membalikkan posisi kini Qania berada di depannya sementara ia dari belakang memegangi tangan Qania yang masih terikat.
"Ayo maju" teriak Fandy sambil tersenyum sinis.
"Beraninya kau" geram Arkana.
Arkana dan Ghaisan tidak bisa melanjutkan aksinya karena Fandy menjadikan Qania sebagai tamengnya.
"Lihat betapa dekatnya gue sama Qania, bahkan gue bisa nyium rambutnya, hmmm sangat harum" ucap Fandy sambil menghirup aroma rambut Qania.
Arkana mengepalkan tangannya, sementara Qania terus menangis karena Fandy memperlakukannya tidak senonoh.
"Lepasin aku, hikkksss" tangis Qania.
"Gue bahkan bisa cium leher putih mulusnya" lanjut Fandy memanas-manasi Arkana.
"Tolong jangan" pinta Qania.
"Ayolah sayang, mari kita mempertontonkan kepada mereka betapa hebatnya kita saat bercinta, biar mereka melihat dengan mata kepala mereka bagaimana kita saling bercumbu dan.." belum selesai Fandy meneruskan kata-katanya, dua buah pisau mendarat tepat disebelah kiri dan kanan lehernya membuat ia tersentak dan kehilangan konsentrasi.
Qania yang menyadari hal itu langsung bergegas berlari kearah Arkana. Sementara kedua pisau itu datang dari Ghaisan yang memang sudah mahir menyelesaikan masalah dalam kondisi segenting ini.
Ghaisan mengeluarkan senjata lasernya dan menyuruh Fandy mengangkat kedua tangannya. Fandy kini kalah telak dan tidak dapat berkata apa-apa lagi.
"Cepat bawa pulang Qania, biar saya yang mengurus lelaki ini" perintah Ghaisan yang kini naluri tentaranya sudah keluar.
"Terima kasih" ucap Arkana kemudian memapah Qania untuk keluar melalui pintu samping agar tidak menjadi pusat perhatian para tamu.
__ADS_1
Setelah Qania dan Arkana pergi, Ghaisan langsung meringkus Fandy. Namun saat Ghaisan hendak menyimpan kembali pistolnya, Fandy langsung mendorong Ghaisan hingga terjatuh ke lantai. Dengan cepat Fandy mengambil pisau yang tertancap di dinding yang kini retak, kemudian menancapkannya di perut Ghaisan lalu ia pergi meninggalkan Ghaisan yang berlumuran darah.
Saat Arkana hendak masuk bersama Qania ke halaman rumah Qania, ekor mata Arkana menangkap sosok yang berlari dengan cepat, ia merasa curiga dan langsung menitipkan Qania pada pak satpam.
"Sayang aku khawatir sama Ghaisan, bisakah kamu masuk dulu. Kunci pintu sebelum aku atau orang tua kamu datang" pinta Arkana.
"Kamu hati-hati" ucap Qania sambil menatap sendu kearah Arkana.
Arkana mengangguk dan membelai rambut Qania, kemudian ia bergegas masuk lewat pintu samping rumah Elin yang langsung mengarah ke toilet. Saat Arkana masuk ia kaget karena melihat Ghaisan yang sudah berlumuran darah.
"Ghaisan" teriak Arkana yang langsung mendekati tubuh Ghaisan yang semakin lemah.
"Tolong bawa saya ke rumah sakit" pinta Ghaisan.
"Tentu" ucap Arkana yang langsung membantu Ghaisan berdiri dan memapahnya.
"Kita lewat samping saja, agar tidak ada yang melihat kita" pinta Ghaisan dan Arkana pun menurutinya.
Arkana mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Rizal agar datang dengan membawa mobil.
Cukup lama mereka menunggu dengan keadaan Ghaisan yang semakin lemah, akhirnya Rizal datang dan segera mengabari Arkana.
"Lo harus kuat dan bertahan. Sebentar lagi kita akan sampai" ucap Arkana yang begitu panik.
Ghaisan masih sempat tersenyum pada Arkana sebelum akhirnya semua menjadi gelap.
____
Ghaisan membuka matanya perlahan, ia melihat Qania yang kini tertidur di sampingnya dengan posisi duduk di bangku. Ia mengucak matanya karena masih belum percaya dengan apa yang ia lihat.
"Qania" panggilnya lemah.
Qania yang mendengar panggilan itu perlahan membuka matanya dan mengangkat kepalanya.
"Eh Ghai kamu sudah siuman" ucap Qania sambil tersenyum.
"Kenapa kamu bisa disini?" tanya Ghaisan yang kemudian mengedarkan pandangannya namun tidak melihat siapapun selain Qania.
"Aku tadi gantian jagain kamu, Elin ada urusan di kampus sementara om sama tante semalam disini nungguin kamu. Jadi aku meminta mereka untuk istirahat di rumah" jelas Qania.
__ADS_1
"Memangnya sudah berapa lama saya pingsan?" tanya Ghaisan yang merasa perutnya agak sakit sehingga ia memegangi perutnya.
"Dua hari" jawab Qania.
"Appaaa?" Ghaisan begitu terkejut. "Saya harus kembali, saya memiliki tugas dan harus menyelesaikannya" ucap Ghaisan yang teringat akan pekerjaannya.
"Hei Ghai kamu apa-apaan sih, baru saja sadar sudah langsung ingin bertugas. Dasar tentara sok sibuk" cibir Qania.
"Saya bukan sok sibuk, tapi itu memang tugas saya sebagai abdi negara" tegas Ghaisan membuat Qania menatapnya kesal.
"Ya sudah silahkan pergi" ucap Qania kesal.
Ghaisan hanya bisa menghela napas panjang karena memang benar jika ia tidak bisa apa-apa selain berbaring di rumah sakit saat ini. Ia berusaha duduk pun tidak bisa karena rasa nyeri di perutnya.
"Bangun aja susah malah sok-sokan mau bertugas" cibir Qania membuat Ghaisan tersenyum lebar.
"Ah apaan sih pikiranku ini, husshh jauh-jauh sana. Ingat dia milik orang lain" batin Ghaisan.
"Oh iya, aku nggak tahu harus bilang apa lagi selain terima kasih karena kamu sudah menolongku. Terima kasih Ghaisan" ucap Qania yang kini matanya berkaca-kaca karena teringat kejadian waktu itu dan kini melihat Ghaisan yang begitu lemah.
"Ada yang bisa kamu bilang selain terima kasih, yaitu aku mau menikah denganmu" batin Ghaisan. "Eh apaan sih, kenapa saya bisa seperti ini" Ghaisan berdebat dengan hati dan pikirannya.
"Hmm. Oh ya bagaimana dengan pelakunya?" tanya Ghaisan mengubah topik.
"Dia sedang bersembunyi entah dimana" jawab Qania yang kesal saat mengingat Fandy.
"Elin sudah tahu?" tanya Ghaisan.
"Kami belum memberitahukan pelakunya pada keluargamu" jawab Qania.
"Sebaiknya begitu, jika mereka tahu itu pasti akan berdampak pada hubungan Elin" ucap Ghaisan.
"Ya memang seperti itu, tapi mau sampai kapan coba ditutupi?" kesal Qania.
"Biar saya yang mengurusnya" ucap Ghaisan meyakinkan Qania.
Qania hanya mengangguk, ia menyerahkan semuanya pada Ghaisan. Ia sebenarnya juga berpikiran yang sama dengan Ghaisan, namun disisi lain hubungan sahabatnya pasti akan berdampak besar.
......
__ADS_1