Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Gadis Piano


__ADS_3

Qania baru saja memarkirkan motornya di parkiran kampus namun ketika ia akan berjalan tangannya dicegat oleh Julius.


“Qan boleh ngomong bentar nggak?” tanya Julis ragu-ragu.


“Boleh tapi boleh tolong lepaskan tanganku dulu?” sindir Qania sambil melirik tangannya yang digenggam oleh Julius.


“Oh maaf” Julius pun langsung melepaskan tangan Qania.


“Ya sudah ngomong aja, kurang dari sepuluh menit kita harus sudah di kelas” ucap Qania datar.


“Gue minta maaf atas pernyataan gue minggu lalu ke elo Qan, lo mau kan maafin gue” ucap Julius dengan tatapan memelas.


Sudah seminggu pasca Julius menyatakan cintanya pada Qania, mereka tidak lagi bertegur sapa seperti biasanya. Qania dan Julius menjadi jauh, lebih tepatnya Qania yang menghindari Julius meski pun Julius terus saja mencoba berbicara pada Qania namun selalu saja Qania beralasan agar bisa menjauhi Julius.


“Iya aku maafin” ucap Qania sembari tersenyum tipis.


“Makasih Qania, tapi bolehkan kita berteman lagi kayak dulu?” tanya Julius dengan binary di wajahnya.


“Iya” jawab Qania tulus.


‘Nggak benar juga sih kalau aku terus menghindari Julius, kasihan dia yang jadi merasa bersalah karena sikapku’ batin Qania.


“Yess… makasih ya Qan, kita berteman” ucap Julius mengulurkan tangannya.


‘Kali aja dari berteman gue bisa dekat dengan Qania dan kalau udah dekat gue tinggal pelan-pelan mengambil hatinya’ sorak Julius dalam hatinya.


“Iya” ucap Qania kemudian membalas uluran tangan Julius dan memberikannya senyuman manis yang membuat jantung Julius ajep-ajep.


“Yuk ke kelas” ajak Qania setelah melepaskan tangan Julius.


Julius jadi salah tingkah ketika ia yang tengah mengkhayalkan Qania langsung dikejutkan ketika Qania melepaskan tangannya.


“Eh, iya ayo” sahut Julius, kemudian keduanya pun berjalan beriringan sambil mengobrol membahas tentang materi kuliah mereka.


Di kelas, Rosa yang baru saja kembali masuk setelah dihukum seminggu tidak bisa mengikuti mata kuliah pun bertambah kesal pada Qania yang sedang berjalan bersama Julius. Baru saja ia senang karena minggu lalu mendapat kabar dari temannya kalau Qania dan Julius tidak saling bertegur sapa, namun yang ia lihat kali ini justru kedua orang itu sedang berjalan bersama dan terlihat sangat akrab dan.. mes..ra..


‘Apa sih hebatnya si Qania janda di tinggal mati itu, kok Julius bisa lengket gitu sama Qania? Perasaan gue masuk di salah satu mahasiswi most wanted di kampus ini, kok Julius nggak ngelirik gue sih?’ gerutu Rosa dalam hati, ia yang tengah duduk di kursinya menatap sengit pada Qania dan Julius yang baru saja memasuki kelas dan duduk di bangku mereka dimana Julius duduk di depan Qania.


Baru saja Rosa ingin menyindir Qania, dosen mata kuliah pagi ini sudah memasuki ruang kelas membuat Rosa mendengus kesal dan langsung mengubah situasi hatinya agar tidak mendapat hukuman lagi.


 


*


 


Qania tengah duduk menunggu pesanan kue tartnya sambil sesekali melihat penyanyi akustik yang sedang menghibur para pengunjung kafe. Saat ini Qania sedang berada di salah satu kafe yang terkenal di kotanya sekarang setelah ia pulang dari kampus.


Hanya seorang diri duduk di salah satu kursi pengunjung sambil menikmati jus alpukatnya yang telah disajikan lebih dulu. Mata Qania berbinar ketika melihat kue tart kecil pesanannya datang.


“Silahkan dinikmati” ucap pelayan pria yang sebaya dengan Qania itu kemudian melenggang pergi meninggalkan Qania sendiri.


Qania mengeluarkan lilin bertuliskan angka dua sebanyak dua buah kemudian ia menancapkannya di atas kue tartnya lalu membakarnya.


“Selamat ulang tahun yang ke dua puluh dua Arkana Wijaya, suamiku tercinta, kekasih tersayang, pujaan hatiku, pelipur laraku. Hari ini aku memesankan kue kesukaanmu dan berharap kau melihatnya. Aku sangat merindukanmu, aku berdoa semoga kau selalu baik-baik saja” ucap Qania dengan senyum menhiasi wajahnya namun derai air mata membasahi pipinya.


“Happy birthday Arkanaku, I love you so much, for the past, now and forever, every single day of forever. I love you forever ever after Arkana Wijaya”,.


Qania meniup lilin tersebut dengan air matanya yang semakin deras mengalir ke wajahnya.


Kegiatan Qania itu rupanya tak luput daripandangan seorang pria yang memakai setelan jas kantornya yang sedang makan siang di kafe itu bersama dengan seorang wanita cantik di depannya.


‘Memesan kue ulang tahun dan meniupnya sendiri tanpa kawan. Hmm, apa ia sedang berulang tahun tapi tidak memiliki kerabat atau teman dekat yang bisa diajak merayakan ulang tahunnya? Sungguh kasihan” gumamnya dalam hati sambil terus memperhatikan tindakan Qania.


“Sayang kok nggak dimakan sih?” tanya wanita di depannya membuyarkan lamunannya.


”Eh iya sayang” ucapnya menyembunyikan rasa kagetnya.


 


Qania yang baru saja memotong kue dan mencicipinya itu tersenyum ketika melihat penyanyi kafe itu duduk di dekat kursinya.


“Hai” sapa Qania.


“Saya?” tunjuknya pada diri sendiri.


“Iya kamu” ucap Qania sembari tersenyum hangat.


“Ini ada kue” ucap Qania lagi, “mari duduk disini”,.


Meskipun ragu, pria itu pun berdiri dan duduk di depan Qania.


“Oh lo lagi ulang tahun” ucapnya sembari tersenyum manis pada Qania.


Qania hanya menjawabnya dengan senyuman, kemudian mempersilahkan pria itu mengambil kue sesuka hatinya.


“Kamu sering nyanyi di kafe ini?” tanya Qania yang melipat kedua tangannya di atas meja.


“Iya tapi malam hari, sebenarnya gue gantiin teman gue yang seharusnya datang kesini dan memainkan piano itu” tunjuknya pada piano yang berada di tengah-tengah kafe.


“Tapi dia lagi nggak enak badan, jadi gue gantiin tapi sayangnya gue nggak bisa main piano jadi honor kami dikurangi” imbuhnya.


“Memangnya harus ya piano?” tanya Qania sedikit iba melihat pria di depannya yang sedang menyantap kue tart pemberiannya itu.


“Kalau siang gini ya pihak kafe inginnya piano yang dimainkan dan kalau malam boleh akustik” jelasnya.

__ADS_1


“Oh gitu. Ehmm aku Qania, kamu?”,


“Mario, panggil saja Rio” jawabnya.


“Oke Rio, aku boleh nggak mainin piano itu?” tanya Qania to the point.


”Emang lo mau?” tanyanya mengernyit.


“Iya, biar sekalian honor kalian dibayar full untuk kerja hari ini” jawab Qania sembari menaikturunkan alisnya.


“Wah terima kasih sekali Qania” ucapnya gembira.


“Don’t mention it” jawab Qania kemudian berdiri dan melangkah mendekati piano tersebut.


“Eh Qania tunggu, biar gue infoin dulu sama maneger kafenya” cegat Mario ketika Qania akan membuka penutup piano tersebut.


“Oh hehe, iya” kekeh Qania merasa malu sendiri.


Mario pun bergegas mencari maneger kafe tersebut. Tidak sampai dua menit ia balik lagi dengan napas terengah-engah.


“Qan, lo boleh mainin pianonya” ucapnya sambil mengatur napas dan memegangi perutnya.


“Kamu abis dikejar hantu ya” ledek Qania membuat Mario mendengus.


“Gue mau duduk dulu” ucap Mario meninggalkan Qania.


“Baiklah piano, mari kita menghibur pengunjung kafe ini” bisik Qania pada piano itu yang tentu saja tidak akan mendapatkan balasan dari ajakannya itu.


Terlalu cepat kau pergi meninggalkanku


Saat diriku terlalu mencintaimu


Terlalu banyak cerita yang kau tinggalkan


Saat ku dekat saat bahagia denganmu


...Andai aku bisa memutar waktu, andai aku bisa...


...Takkan ku siakan waktu-waktu bahagia denganmu...


...Aku akan selalu ada untuku, bersamamu...


Terlalu perih ku rasa saat kau pergi


Sedih mendalam jiwaku kehilanganmu


Terlalu singkat kurasa engkau disini


Ku hanya bisa menangis tak sanggup lagi


...Andai aku bisa memutar waktu, andai aku bisa...


...Takkan ku siakan waktu-waktu bahagia denganmu...


...Aku akan selalu ada untuku, bersamamu...


Semoga engkau tenang, semoga kau bahagia


Semoga engkau senang disana, disana


...Andai aku bisa memutar waktu, andai aku bisa...


...Takkan ku siakan waktu-waktu bahagia denganmu...


...Aku akan selalu ada untuku, bersamamu...


 


Sementara Qania yang tengah menghayati lagunya dengan linangan air mata, dari salah atu kursi pengunjung kafe terlihat sedang menangis.


‘Suara itu kenapa sepertinya tidak asing? Tapi aku dengar suara itu dimana?’ gumam pria yang sedari tadi mengamati Qania.


“Hikss”,.


“Marsya kau kenapa menangis?” pekiknya saat melihat wanita di depannya itu menangis.


“Hikss Tristan, aku..aku..”,.


“Kau kenapa Marsya?” tanya Tristan panik.


‘Aku nggak mungkin bilang ke Tristan kenapa aku nangis. Lagian kenapa gadis itu memainkan piano dengan lagu yang membuatku teringat padanya, hikss aku sungguh merindukannya’ jerit Marsya dalam hati.


“Sayang kenapa kau menangis, hmm?” tanya Tristan lagi saat tidak mendapat jawaban dari Marsya yang justru sedang menangis tersedu-sedu.


“Aku.. aku hanya terbawa suasana dengan lagu yang dimainkan oleh gadis itu” jawab Marsya gugup.


“Ya ampun Marsya, kenapa kau begitu melankolis sih” kekeh Tristan kemudian berdiri dan memeluk Marsya dari belakang yang sedang menangis itu.


“Jangan mengejekku Tris” tegur Masya mencoba mengalihkan.


“Habisnya selama ini aku tidak pernah melihatmu menangis hanya karena lagu” ucap Tristan sambil mengusap-usap bahu Marsya.


‘Kamu hanya tidak pernah melihatnya’,.


“Habisnya gadis itu bernyanyi dengan penuh pengahayatan, aku kan jadi terbawa perasaan” kilah Marsya.

__ADS_1


‘Memang benar apa yang dikatakan oleh Marsya, gadis itu bernyanyi dengan penuh perasaan seolah-olah dia sedang mengalami apa yang ada di lagu itu. Tapi setahuku bukan dia gadis yang selalu memainkan piano di kafe ini. Dan suaranya seperti pernah ku dengar tapi dimana?’,.


Tristan berusaha berpikir untuk mengingat pemilik suara itu, dan..


‘Ah dia si gadis piano yang dengan lancangnya menyentuh pianoku. Apa dia pindah kesini karena kuusir dari kafe ku? Tapi bukannya dia tadi sedang merayakan ulang tahun? Ah kenapa aku jadi begitu peduli dengannya, bodoh amat lah’,.


“Lah kok jadi kamu yang melamun Tris?” tanya Marsya menoleh ke belakang dan mendapati Tristan sedang menatap punggung gadis piano itu.


“Eh nggak kok Marsya. Kamu emang benar dia sangat menghayati lagunya” ucap Tristan membuat Marsya menganggukkan kepalanya pelan hingga dua kali.


“Hmm, aku jadi ingin berkenalan dengannya” ucap Marsya bersemangat kemudian berdiri dari duduknya, “ayo Tris, temani aku berkenalan” ajak Marsya.


Dengan langkah tergesah-gesah Marsya menarik tangan Tristan untuk mendekati Qania, namun baru saja Marsya akan menyapa Qania, seseorang memanggil namanya.


“Hallo nona Marsya Alvindo dan tuan Tristan Anggara sapa seorang pria yang terlihat sudah berumur sekita empat puluhan tahun.


“Eh tuan Gilbert Hosterneo” sapa Tristan dan Marsya bersamaan.


“Apa kabar? kebetulan kita berjumpa disini” ucap tuan Gilbert.


“Kami baik tuan, bagaimana dengan anda?” tanya Tristan balik.


“Secangkir kopi akan menjawab pertanyaan anda tuan Tristan” sahutnya dengan maksud ingin mengajak Tristan dan Marsya untuk minum kopi bersamanya.


“Ah kami baru saja makan tuan Gilbert, tapi jika kau ingin kau bisa minum kopi bersama Tristan karena aku ada urusan” ucap Marsya bersemangat.


“Tris ayolah, aku sedang buru-buru untuk berkenalan dengan gadis piano itu. Sebentar lagi lagunya habis” bisik Marsya.


“Hmm baiklah tuan gilbert, mari” ajak Tristan setelah menyetujui keinginan Marsya.


Setelah Tristan mengajak tuan Gilbert pergi, Marsya pun langsung mendekati Qania yang baru saja selesai memainkan piano itu.


“Hai” sapa Marsya.


“Astagfirullah” kaget Qania.


“Hehehe, maaf ya mengagetkanmu” kekeh Marsya.


“Iya nggak apa-apa mbak” ucap Qania tersenyum.


“Oh iya aku Marsya Alvindo, panggil aja Marsya” ucapnya sambil mengulurkan tangannya.


“Qania Salsabila, panggil saja Qania” balas Qania menjabat tangan Marsya kemudian keduanya saling melepaskan jabatan tangan mereka.


“Aku suka suaramu, penghayatanmu menyanyikan lagu tadi. Aku sampai nangis loh karena terbawa perasaan” ceplos Marsya membuat Qania terkekeh kemudian menghapus air matanya di pipi.


“Wah lihat, penyanyinya pun menangis” pekik Marsya.


“Hehe iya mbak Marsya habisnya lagu ini memang menceritakan tentang kisah hidup saya” ujar Qania membuat Marsya menggigit bibir bawahnya.


“Oh pantas saja. Hm kamu penyanyi di kafe ini? Tapi kok aku baru kali ini melihatmu?” tanya Marsya mengalihkan.


“Oh bukan mbak Marsya, saya hanya pengunjung dan kebetulan saya ingin memainkan piano ini” jawab Qania.


“Eh mbak Marsya nggak capek berdiri?” tanya Qania tak enak hati.


“Oh nggak kok, aku permisi dulu ya tunanganku sudah menunggu” kekeh Marsya kemudian meninggalkan Qania yang juga kemudian berdiri untuk kembali duduk bersama Mario.


“Wah Qania sepertinya hari ini gue bakalan dapat bonus besar berkat elo” pekik Mario kegirangan.


“Kok bisa?” tanya Qania bingung.


“Lo tahu tadi wanita yang mendekati elo itu adalah anak orang terpandang di kota ini dan dia menyukai permainan pianomu dan itu adalah keuntungan besar bagi kafe yang tentu saja berimbas ke gue” cerita Mario.


Qania tersenyum setelah tahu apa yang menjadi alasan Mario begitu senang.


“Syukurlah, oh ya kamu emang kerjanya nyanyi doang?” tanya Qania.


“Gue nyanyi buat ngumpulin duit untuk bayar skripsi gue, soalnya  gue udah mendekati drop out” kekeh Mario.


“Dan berkat elo sepertinya uang skripsi gue akan terkumpul hari ini dan mungkin akan lebih” tambahnya.


“Emang kamu kuliah dimana? Jurusan apa?” selidik Qania.


“Gue kuliah di kampus UII, jurusan Teknik Sipil” jawabnya.


“Wah kamu saudaraku dong, kita seangkatan. Aku juga lulusan Teknik Sipil tapi bukan di kota ini’ pekik Qania, entah mengapa ia begitu terlihat senang.


“Oh ya, wah kebetulan banget” ucap Mario tak kalah hebohnya.


Qania dan Mario pun bersalaman ala anak Teknik, setelah mereka lama mengobrol Qania pun pamit pulang karena hari sudah menjelang sore.


“Mbak ini uang untuk pesanan saya tadi” ucap Qania menyodorkan uangnya.


“Tapi kata pak maneger anda tidak perlu bayar karena sudah memainkan piano dan membuat nona Marsya memberikan bonus ke kafe ini” tolak kasirnya.


“Oh gitu ya, makasih” ucap Qania kemudian pergi meninggalkan kafe itu.


 


 


...🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀...


Terima kasih sudah membaca 🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2