
Qania tersenyum menatap Arqasa yang sudah tertidur pulas. Tadi setelah selesai makan dan mencurahkan segala isi hati mereka, Qania mengajak Arqasa untuk menghabiskan waktu mereka dengan melakukan apapun yang Ar inginkan. Mereka pergi bermain ke mall, mencoba semua permainannya dan juga mereka membeli jajanan di food court dan menikmatinya bersama-sama. Tak ada yang mengira mereka adalah pasangan Ibu dan anak, keduanya terlihat seperti kakak beradik. Qania pun tadi membelikan pakaian ganti untuk Ar sehingga anaknya itu tidak menggunakan seragam sekolah saat bermain.
Rasa syukur Qania memiliki anak secerdas Ar dan juga ia tersadar bahwa ia masih memiliki satu semangat hidup dan tujuannya bertahan yaitu Arqasa. Anak semata wayangnya bersama pria yang paling ia kasihi di seumur hidupnya.
“Ar, maafin Mami kalau selama ini belum bisa jadi Mami yang baik untukmu, Nak. Maafin Mami yang sempat lupa jika ada malaikat Mami yang menunggu di rumah agar Mami segera kembali,” ucap Qania seraya mengelus pipi tembem Arqasa yang tengah tertidur pulas sementara sebelah tangannya sedang mengendalikan stir mobil.
Qania menghela napas, ia merutuki dirinya sendiri yang lebih fokus pada kasus orang lain dan terlena dengan kebersamaannya bersama Tristan dan hampir melupakan tujuannya untuk segera kembali.
“Baiklah Qania, malam ini mulailah menyusun skripsi agar bisa segera ujian meja dan menyandang gelar itu lalu kembali menjalani hidup di kota ini dan mengurus anakku,” ucapnya memberi semangat pada dirinya sendiri.
Qania membelokkan mobil dan masuk ke halam rumah papa Setya setelah Pak Anwar membukakan pintu gerbang. Di depan pintu Papa Setya sudah menunggu kepulangan mereka. Ia mengernyit begitu melihat Qania keluar dari mobil dengan perlahan lalu membuka pintu sebelah.
Qania menggendong tubuh Arqasa yang belum juga terbangun dan itu membuat Papa Setya segera mendekat.
“Biar Papa aja Nak, kasihan kamu,” ucap Papa Setya.
“Nggak apa-apa kok Pa. Qania bisa kok gendong Ar,” tolak Qania halus.
“Hati-hati naik di tangga. Oh ya, kalian habis darimana saja sampai Ar ketiduran begitu?” tanya Papa Setya ikut berjalan menapaki anak tangga.
“Main di mall Pa sama jalan-jalan. Qania udah lama nggak ngabisin waktu bersama Ar. Dan sepertinya Ar juga butuh waktu untuk bermain sama aku, Pa. Kasihan dia, udah terlalu lama aku tinggal. Ya walaupun aku sering pulang tapi aku tidak pernah lama menghabiskan waktu dengannya. Bahkan aku tidak ada untuknya saat dia membutuhkan bantuanku untuk menjawab pr-nya, hehehe. Aku Ibu yang cukup buruk, kan Pa,” ucap Qania tertawa miris.
Papa Setya membukakan pintu kamar dan Qania pun masuk bersama dengan papa Setya.
“Maafin Papa. Ini semua juga karena keinginan Papa,” ucap Papa Setya lirih.
Qania meletakkan Arqasa di atas tempat tidur kemudian ia beri selimut.
“Nggak kok Pa, aku paham dengan tujuan baik Papa. Makanya aku akan usahakan dua minggu kedepan aku akan melaksanakan ujian meja. Dan aku harap malam ini Papa bisa membantuku,” ucap Qania kemudian ia duduk di sofa bersama Papa Setya.
“Tentu saja. Papa malah lebih senang bisa membantumu. Nanti malam kita akan mulai menyusun skripsimu. Kalau bisa, sehari sebelum sidang kamu ujian atau sehari setelah sidang juga boleh,” ucap Papa Setya.
Qania nampak berpikir, “Apa bisa secepat itu menyusun skripsi Pa?” tanya Qania.
Papa Setya tertawa. “Kau pikir ini skripsi anak Teknik yang membutuhkan banyak waktu untuk menguji benda. Tidak sama Nak, kau pasti sudah banyak belajar dari para seniormu. Apalagi kau di kelas internasional,” ucap Papa Setya yang membuat Qania terkekeh.
“Iya juga ya Pa. Oh iya, aku juga udah punya beberapa referensi sih. Aku yakin juga Papa punya kasus atau buku rujukan yang bisa membantuku,” ucap Qania.
“Nanti kita cari bersama. Kamu istirahat saja, nanti setelah makan malam kita akan mengerjakan skripsimu. Papa keluar dulu,” ucap Papa Setya kemudian meninggalkan kamar Qania.
Qania melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul lima lewat tiga puluh menit.
“Sebaiknya aku mandi saja. Nanti Ar biar aku lap aja badannya kalau udah malam. Hah, anak tampanku sangat kelelahan rupanya,” gumam Qania seraya berdiri kemudian masuk ke kamar mandi.
. . .
__ADS_1
“Tris, emang masalah Papa dan Om Handoko itu sangat fatal ya?” tanya Marsya sambil menatap Tristan. Kemudian ia alihkan menatap jendela kamar rawat inapnya mencari pemandangan yang bisa menyejukkan penglihatan.
Tristan yang tengah duduk di sofa pun melirik Marsya. “Setahu aku semua udah aku beresin dan memang ada banyak investor yang menarik investasi mereka bahkan tak sedikit yang langsung memutus kerja sama sepihak di sebagian bisnis yang disana ada saham milik Pak Handoko. Tapi kalau milik Papamu pribadi aku udah tangani dan udah baik-baik saja kok,” jawab Tristan. Sejujurnya ia pun bingung kenapa tuan Alvindo malah kembali ke Indonesia. Ia sangat ingin menanyakan ini pada Marsya namun justru Marsya lah yang bertanya lebih dulu.
“Kalau emang kayak gitu, kenapa Papa terlihat sangat cemas, Tris? Bahkan di hari kamu pergi pun Papa seperti orang yang sedang menanggung beban berat. Aku bisa melihat ia begitu frustrasi. Bahkan kadang aku terbangun tengah malam dan Papa tidak benar-benar tertidur. Aku jadi cemas,” ungkap Marsya yang sudah memendam kecemasan namun ia tak berani menanyakan ini kepada Papanya.
Tristan tersentak.
Apa separah itu? Tapi yang aku tahu semua usaha milik Om Alvin udah stabil kecuali yang ada kaitannya dengan Pak Handoko. Ada apa ini? Apa ada yang tidak aku ketahui?
“Apa kasus Om Handoko itu belum selesai? Atau jangan-jangan kasus penganiayaan itu melibatkan Papa ya? Apa Papa turut serta menganiaya anak pengacara itu?” tanya Marsya berasumsi, ini juga yang selalu menghantui pikirannya.
“Sya kamu bicara apa sih?!” sentak Tristan. “Jangan menaruh prasangka buruk pada Papamu. Jelas-jelas saat kejadiannya Papamu sedang dalam perjalanan kesini. Aku juga sudah mencari tahu dan memang ini murni karena ulah Pak Handoko sendiri, nggak ada sangkut pautnya sama Om Alvin,” lanjut Tristan membela tuan Alvindo dan juga ia langsung teringat akan Qania.
Mars6 menghela napas lega. “Oh syukurlah kalau Papa tidak terlibat. Jujur saja aku selalu terpikir kearah sana Tris,” ucap Marsya lirih.
Tristan berjalan mendekati Marsya. “Semua akan baik-baik saja. Jika memang ada masalah besar, kemungkinan itu adalah masalah pribadi mereka dan aku tidak tahu menahu soal itu. Kamu doain aja yang baik-baik. Dan segeralah pulih agar kita bisa pulang dan kamu nggak kepikiran terus soal ini,” hibur Tristan, ia ingin menyentuh pundak Marsya seperti yang dulu selalu ia lakukan saat menghibur gadis itu namun tangannya berhenti di udara kala wajah Qania melintas di benaknya.
“Hahh ... kamu benar Tris. Aku harap dua hari lagi aku bisa segera pulang. Untuk kontrolnya biar di rumah sakit di kota kita aja. Aku benar-benar nggak bisa tenang,” ucap Marsya menarik rambutnya kebelakang. Ia pun meminta Tristan membantunya berjalan kembali ke tempat tidurnya.
“Aamiin. Aku cari makan siang dulu. Kamu mau makan apa? Sekalian aku juga mau sholat dulu. Nggak apa kan kalau aku tinggal?” tanya Tristan.
“Iya. Makanannya kamu samain aja. Aku juga dapat makanan dari rumah sakit,” jawab Marsya.
Aku harus tanyain ini sama Qania. Aku yakin dia tahu masalah ini. Aku akan meneleponnya nanti.
... . . ....
Qania keluar dari kamar mandi dengan mengenakan pakaian lengkap. Ia menyisir rambutnya dan memakai bedak dan membiarkan wajahnya alami tanpa sentuhan kosmetik lainnya.
Ia tersenyum melihat Arqasa yang masih tidur sementara kumandang adzan sudah terdengar. Ingin membangunkan tapi Qania tidak tega, anaknya tertidur begitu lelap dan itu adalah kesenangan tersendiri bagi Qania.
Apa Arqasaku sebelumnya tidak tidur selelap ini? Jika benar, aku sungguh Ibu yang buruk karena tidak bisa membuat anakku terlelap dan bermimpi indah.
Qania pun beranjak untuk melaksanakan sholat Maghrib. Melaksanakannya dengan khusyuk dan memanjatkan doa dengan banyak permintaan untuknya dan sang buah hati. Terselip pula nama Arkana Wijaya serta orang tua dan mertuanya. Setelah hatinya lega ia pun mengaamiinkan doa-doanya dan melepas alat sholatnya.
“Mi, kenapa nggak bangunin Ar?”
Qania menoleh ke belakang dimana anaknya sedang duduk bersandar di tempat tidur sambil mengucek matanya, suaranya terdengar parau.
Qania yang baru saja selesai melipat alat sholatnya pun berjalan menuju ke meja untuk menyimpannya. Ia mendekati Arqasa dan langsung mengecup puncak kepalanya sebelum ia duduk.
Arqasa tersenyum hangat.
“Mami lihat Ar sangat lelap jadi nggak Mami bangunin. Yuk Mami bantu ngelap badannya Ar,” jawab Qania sambil mengusap-usap rambut Ar.
__ADS_1
Qania menggandeng tangan Ar ke kamar mandi. Terdengar suara gemericik air dan juga tawa Qania yang sedang meledek Ar sementara wajah Ar begitu kusut karena terus diledek oleh sang Mami.
Papa Setya yang masuk ke kamar tersebut untuk memanggil keduanya untuk makan malam pun tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
“Harusnya aku nggak egois dengan memisahkan Ibu dan anak itu. Ar memang benar-benar membutuhkan kasih sayang Qania dan cucuku itu memang hanya butuh Ibunya karena sudah tidak memiliki sosok Ayah. Arka, kamu beruntung memiliki istri seperti Qania. Papa merindukanmu Nak,” lirih Papa Setya sambil berjalan keluar kamar dan ia memutuskan untuk menunggu di meja makan saja.
Setelah makan malam, Qania menemani Arqasa belajar di ruang keluarga sementara Papa Setya sedang mengurus pekerjaannya di ruang kerjanya. Tanpa pemberitahuan keluarga Zafran Sanjaya mendadak datang. Mama Alisha pun langsung memeluk Qania karena putrinya itu memilih tinggal di rumah mertuanya dan hanya malam kedatangannya kemarin hanya untuk mengambil Arqasa saja.
“Ma, Pa” sapa Qania kemudian satu persatu ia ciumi punggung tangannya.
“Qania, kenapa nggak tinggal sama Mama saja dulu Nak?” tanya Mama Alisha sambil memeluk Qania.
“Maaf Ma, Qania nanti akan nginap di rumah Mama. Qania cuma pulang sepuluh hari aja. Dan Qania disini karena Papa Setya akan membantu Qania mengerjakan skripsi dan semoga bisa segera selesai. Kalau udah, Qania bakalan nginap di rumah Mama menunggu hari keberangkatan,” jawab Qania memeluk erat tubuh Mamanya.
“Emang udah mau skripsi?” tanya Papa Zafran yang sudah duduk bersama Ar yang sedang mewarnai gambar di bukunya.
“Iya Pa. Kata Pak Dekan aku boleh langsung skripsi karena insiden kemarin,” jawab Qania menutupi bahwa ada misi dibalik insiden itu.
“Syukurlah, biar kamu cepat pulang. Kasihan anakmu juga disini membutuhkanmu. Belum lagi nanti kamu akan menggantikan mertuamu mengurus semua bisnisnya. Hah, sepertinya Papa ingin menarikmu pulang dan biar saja mertuamu itu mengurus semuanya.” Papa Zafran menghela napas berat sambil memikirkan berapa banyak bisnis yang digeluti oleh besannya itu dan juga cabangnya yang beranak-pinak.
“No, no, no. Dia menantuku dan tidak akan aku biarkan kembali padamu. Walaupun anakku sudah tiada tapi ada Arqasa cucuku dan juga anak Qania yang akan mewarisi semua ini. Dan sebelum dia tentu saja Maminya dulu yang mengurusi. Semua milikku adalah milik mereka berdua,” ujar Papa Setya sambil berjalan menuruni tangga.
Papa Zafran mendengus. “Tapi semua usahamu itu akan menyiksa Qania. Biarkan saja dia bersenang-senang dengan Arqasa dan cukup kau dan orang kepercayaanmu saja yang mengelola bisnismu itu. Biarkan anak dan cucuku menikmatinya tanpa perlu bekerja,” ucap Papa Zafran tak mau kalah.
“Aku sudah membebaskannya menguras habis hartaku tapi menantuku ini bahkan enggan membeli berlian ataupun kendaraan mewah. Bahkan yang bulanannya pun hanya terpakai seperempat saja setiap bulannya,” ucap Papa Setya kemudian melirik Qania yang hanya terkekeh.
“Ya ampun Qania, harusnya kamu tuh gunain, habisin kalau perlu. Uang mertuamu ini tidak akan habis bahkan setiap jam terus bertambah,” timpal Mama Alisha.
“Aku juga heran, entah siapa yang dulu mendoktrin otakku agar lebih bijaksana dalam mengelola keuangan dan tidak menghamburkan uang untuk hal-hal yang tidak perlu,” ucap Qania kemudian melirik sang Papa.
Papa Zafran berdehem kemudian ia berdiri dan merangkul Qania.
“Ajaran Papa dong. Papa bersyukur Qania tumbuh menjadi wanita yang sederhana walaupun hidup dalam kemewahan,” ucap Papa Zafran bangga.
“Benar. Mama juga bangga sama Qania. Kamu dan Syaquile sampai saat ini masih menerapkan ajaran dan didikan kami. Mas Setya tahu, Qania dan Syaquile bahkan tidak meminta uang bulanan dan uang saku sekolah mereka akan dijatahkan pagi hari sebelum berangkat ke sekolah. Nanti ketika ada kebutuhan mendesak mereka baru akan meminta,” timpal Mama Alisha dengan senyuman penuh kebanggaan.
“Berarti aku beruntung karena akhirnya Qania menjadi anakku,” ucap Papa Setya yang membuat Papa Zafran dan Mama Alisha memutar bola mata mereka merasa jengah.
Papa Setya pun tertawa, kemudian mereka melanjutkan obrolan mereka membahas kasus Qania yang pelakunya sudah mendapatkan hukuman sementara untuk kasus berikutnya mereka menutup mulut karena Qania tidak ingin Mama dan Papanya memikirkan semua masalahnya.
Hingga hampir pukul sepuluh malam mereka baru berpamitan pulang. Arqasa pun sudah tertidur sejak pukul sembilan tadi. Setelah mengantar kedua orang tuanya keluar, Qania dan Papa Setya pun masuk.
“Papa lihat kamu sangat kecapaian. Bagaimana kalau sekarang kamu tidur saja. Besok ikut Papa ke kantor dan kita akan mengerjakannya disana. Besok tidak ada jadwal meeting juga. Setelah mengantar Ar ke sekolah kita akan ke kantor untuk memulai menyusun skripsi,” ucap Papa Setya yang tak tega melihat Qania harus begadang.
“Hmm, Papa tahu aja kalau Qania kelelahan,” kekeh Qania.
Papa Setya hanya tersenyum kemudian ia dan Qania berpisah karena kamar Qania dan Ar berada di sebelah kanan sementara Papa Setya kamarnya berada di ujung sebelah kiri.
__ADS_1