Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Rencana Elin (1)


__ADS_3

Semakin hari hubungan Qania dan Arkana tidak menemukan titik terang, karena keduanya sibuk dengan urusan masing-masing. Arkana berusaha membuang semua rasa rindunya dengan terus mencari pembunuh Tosan, sementara Qania baru saja selesai ujian.


Mulai timbul rasa rindu di hati Qania pada Arkana, ia ingin menghubungi kekasihnya itu namun ia gengsi, sebab Arkana sama sekali tidak menghubunginya sejak hari itu dan kini sudah dua minggu mereka tidak menjalin komunikasi sama sekali.


"Apa kata-kataku waktu itu terlalu egois dan jahat ya?" Pikir Qania.


Ia kembali mengingat bagaimana ia mengusir Arkana dan tidak mau melihat wajahnya saat itu. Dan kini justru ia sangat ingin Arkana ada di sisinya dan ia begitu sangat merindukan wajah tampan kekasihnya itu.


"Aku rindu, tapi aku ragu" gumam Qania sambil memegangi ponselnya, ia berniat akan menghubungi Arkana.


Setelah mengumpulkan keberaniannya, ia memutuskan untuk menghubungi Arkana dan melepaskan rindunya serta menyudahi perselisihan diantara mereka yang sebenarnya dirinya lah yang menyebabkan ini semua.


Panggilan terhubung, namun tidak ada jawaban sama sekali membuat Qania kembali ragu.


"Apa dia sibuk? Atau masih marah?" Pikir Qania.


"Biarkan saja dulu, nanti dia pasti akan menghubungiku kembali" ucap Qania menyemangati dirinya sendiri.


Satu jam berlalu namun sama sekali tidak ada tanda-tanda Arkana akan menghubunginya kembali. Qania terus menabahkan hatinya dan tetap berpikir positif.


Malam hari pun tiba, namun Arkana juga tidak memberi kabar sama sekali, padahal sudah setengah hari Qania menunggu balasan darinya. Setelah makan malam Qania bertekad untuk menghubungi Arkana dan membuang semua gengsinya demi hubungan mereka.


Dengan terburu-buru Qania masuk dan mengambil ponselnya. Ia menekan tombol panggil saat menemukan kontak Arkana dan panggilan itu terhubung.


Delapan kali Qania menghubunginya namun tidak ada jawaban sama sekali membuat Qania putus asa dan kecewa.


"Apakah dia melupakanku? Atau sengaja mengabaikanku? Semarah itu kah dia padaku sampai tidak mau menggubris satu pun panggilanku. Setidaknya kirimilah pesan" Qania terus mengoceh diatas tempat tidurnya.


Pukul sembilan malam ponsel Qania berdering, namun itu bukanlah dari Arkana melainkan dari sahabatnya Elin. Dengan malas Qania menjawab telepon dari sahabatnya itu.


"Kenapa Lin?" Tanya Qania tanpa basa-basi.


"Besok jalan pagi yuk" ajak Elin.


"Lagi malas".


"Please..".


"Ya udah, besok ya. Aku mau istirahat dulu nih, udah ngantuk" ucap Qania mengakhiri panggilannya.


Qania begitu hilang semangat karena tidak mendapat kabar dari Arkana. Namun beberapa saat kemudian ponselnya kembali berdering dan tertera nama yang ditungguinya sedari tadi. Dengan penuh semangat Qania menjawab telepon tersebut.

__ADS_1


"Darimana saja?" Tanya Qania.


"Aku sibuk" jawab Arkana singkat.


"Ngapain?" Tanya Qania.


"Mencari bukti untuk membuatmu memaafkanku" jawab Arkana datar.


"Aku sudah memaafkanmu" ucap Qania lirih.


"Besok-besok kau akan marah dan menjauhiku lagi. Marahlah dulu dan pikirkan lah dulu untuk memaafkanku, jika hatimu belum ikhlas jangan paksakan. Aku juga lelah jika harus meminta maaf namun hanya karena sebuah masalah yang bukan aku sengaja kamu menjauhi dan membenciku seperti ini" ungkap Arkana.


"Maksud kamu apa?" Tanya Qania, air matanya menetes.


"Tenangkanlah dirimu dulu sebelum kembali menerimaku. Yakinkan dirimu apakah kamu ikhlas memilihku, aku memberimu waktu untuk memikirkannya. Selamat malam" ucap Arkana mengakhiri panggilannya.


"Hallo.. halloo" Qania memanggil namun hanya bunyi telepon terputus yang terdengar.


Qania menangis sejadi-jadinya namun tanpa suara. Ia merasakan hatinya hancur sehancur-hancurnya saat Arkana mengungkapkan isi hatinya itu.


"Aku tahu aku salah, haruskah kamu berkata setega itu padaku?" Isak Qania.


Pagi yang cukup dingin karena dari subuh sudah diguyur hujan, sehingga tidak sedikit orang yang masih bersembunyi di balik selimut. Namun berbeda halnya dengan Elin yang sudah menyusun rencananya untuk mendekatkan kakak sepupunya dengan sahabatnya. Ia dari subuh sudah resah karena hujan turun dengan derasnya, namun keresahannya hilang bersama dengan perginya hujan dan kini sinar mentari mulai menyinari bumi.


Ia sudah bersiap lebih awal, dan bergegas membangunkan kakak sepupunya itu. Namun saat ia menuju kamar, ia bahkan tidak menemukan Ghaisan disana.


"Ya ampun, dia kan tentara dan sudah biasa bangun pagi. Pasti dia sedang berolah raga saat ini" ucap Elin sambil menepuk jidatnya.


Elin bergegas menuju ke luar rumah, dan benar saja Ghaisan sedang melakukan pemanasan disana. Ia lalu menghampirinya dan akan memulai rencananya.


"Kak ke taman yuk, disana lebih enak untuk berolah raga" ajak Elin.


"Boleh, yuk" jawab Ghaisan.


"Kakak duluan aja deh, Elin mau jemput teman dulu. Kita biasanya olah raga bareng di taman (maksudnya jalan doang sama jajan, nggak olah raga, hehehe)".


"Oke, kakak tunggu disana ya" ucap Ghaisan kemudian berlari kecil kearah taman.


Elin bergegas lari ke rumah Qania, ia yakin benar kalau sahabatnya itu tentu saja masih bersembunyi di balik selimutnya. Elin mengetuk pintu dan...


Bruaaakkk....

__ADS_1


Elin yang dengan keras menggedor pintu kamar Qania justru malah terjatuh ke dalam kamar karena Qania juga disaat yang bersamaan membuka pintu kamarnya.


"Ya ampun Elin, ngapain push up disitu?" tanya Qania sok polos, padahal ia menahan tawanya.


"Gila ya Qan, udah tahu ini jatuh malah dibilang push up" gerutu Elin sambil berdiri.


Tawa Qania pecah, ia memegangi perutnya yang sakit karena tertawa lepas melihat tingkah sahabatnya itu.


"Tumben bangun pagi" cibir Elin.


"Biasanya juga bangun pagi, tapi setelah subuhan ya balik tidur lagi, hahahaha" jawab Qania.


"Yuk ke taman, lapar nih" ajak Qania.


"Ayo" turut Elin, keduanya berjalan menuju taman bergandengan tangan.


Di taman yang biasanya ramai itu terlihat agak sepi, mungkin karena cuaca tadi sehingga mengurungkan niat warga sekitar untuk olah raga. Pedagang keliling juga tidak banyak seperti biasanya, namun tidak mengurungkan niat kedua gadis itu untuk jajan.


Elin melambai pada Ghaisan yang memperhatikan mereka datang dengan bergandengan tangan itu.


"Jadi dia yang Elin maksud" gumam Ghaisan, entah mengapa ada perasaan senang yang timbul di hati Ghaisan.


Elin dan Qania mendekat ke arah Ghaisan, Qania tersipu malu saat Ghaisan tersenyum padanya.


"Yuk olah raga" ajak Ghaisan.


"Hah, siapa yang mau olah raga. Kita nggak pernah olah raga kok kalau kesini, kita cuma jajan" jawab Qania dengan polosnya.


Elin dengan segera membekap mulut Qania, kemudian menggaruk lehernya yang tidak gatal itu. Ia menjadi kikuk dihadapan Ghaisan.


"Manis dan polos, dia nggak suka basa-basi dan nggak sok-sokan. Semakin memikat" pikir Ghaisan.


"Qania kok kamu jujur banget sih" bisik Elin namun masih terdengar oleh Ghaisan.


"Tenang, saya tidak dengar. Saya tinggal dulu ya, mau olah raga. Kalian silahkan lanjutkan olah raga perut dan mulut kalian" ucap Ghaisan meledek.


"Ihh kakaaaaakk" teriak Elin malu.


Ghaisan tertawa lalu pergi meninggalkan kedua remaja itu, ia pergi sambil tersenyum membayangkan wajah dan tingkah Qania.


........

__ADS_1


__ADS_2