Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Aduh


__ADS_3

Pak Yotar membukakan gerbang begitu melihat Tristan datang, ia menyapa Tristan dan juga Qania yang baru pertama kali ia lihat. Bahkan ia sangat terkejut karena tuannya membawa seorang wanita tengah malam, hal yang belum pernah ia lakukan bahkan bersama Marsya. Setelah memastikan tuannya masuk, pak Yotar menutup kembali pintu gerbangnya dan masuk ke dalam rumah.


Di pintu depan, bi Ria sudah menunggu kedatangan Tristan. Ia pun sama kagetnya dengan sang suami saat melihat majikannya membawa seorang wanita. Namun ia tidak mau menanyakannya karena baginya itu bukan ranahnya.


“Selamat malam den Tristan dan nona ….”


“Qania,” ucap Qania mengerti bahwa bi Ria tidak mengetahui namanya.


“Oh iya selamat malam nona Qania,” ucap bi Ria dengan lembut.


“Bi, dia temanku dan akan menginap disini karena sudah larut jadi aku membawanya bersamaku. Bibi bisa siapin kamar buat dia, kan?” Ucap Tristan.


“Bisa, Den. Kamar yang di atas atau yang di bawah?” Tanya bi Ria.


“Yang di atas lah, Bi. Masa bibi mau kasih kamar Wawan ke Qania,” sahut Tristan.


Wawan adalah anak dari bi Ria dan pak Yotar yang sedang kuliah di luar kota dan sudah dianggap adik oleh Tristan.


“Maaf, Den. Saya pikir kamar Wawan sudah tidak akan ditempati lagi,” cicit bi Ria.


“Bi, Wawan itu sudah seperti adik saya sendiri dan rumahku ini juga adalah di rumahnya. Udah nggak usah mellow gini. Tolong bibi siapin aja kamar buat Qania, kasihan dia sudah lelah,” ujar Tristan.


Qania mencebikkan bibirnya. ‘Aku dibilang sudah lelah? Bukankah kamu yang sudah nampak begitu kelelahan. Haihhh ….’ Keluh Qania dalam hati.


“Baik, Den. Mohon tunggu sebentar,” ucap bi Ria kemudian naik ke lantai atas meninggalkan Tristan dan Qania yang sedang duduk di ruang tamu.


Hening, tidak ada dari keduanya yang berani memulai percakapan lebih dulu. Diam dengan pikirannya masing-masing. Qania santai saja, sementara Tristan, ia sudah tidak bisa menahan kantuknya. Sudah beberapa kali Tristan menutup mulutnya karena terus menguap, ia bersandar di sofa dan Qania yang melirik dengan ekor matanya hanya bisa tersenyum.


Lagi, Qania merasa de javu,  namun ia berusaha untuk tidak menyama-nyamakan baik Tristan maupun Arkana karena ia tahu buntut dari itu semua adalah rasa sakit untuknya karena Tristan bukanlah Arkana.


“Tristan,” panggil Qania.


“Hah … iya Qania, ada apa?” Tanya Tristan terkejut, rupanya ia tadi sudah tertidur.


“Aku boleh meminjam motormu? Aku tiba-tiba saja merasa lapar dan ingin mencari makanan di luar,” tanya Qania, dalam hati Qania berharap Tristan akan mengantarnya dan ia bisa melepas rindunya pada Arkana dengan mengulang kenangannya meskipun bersama Tristan.


“Oh, kamu tadi sudah tertidur ya. Maaf ya, aku hanya ingin meminjam motormu karena aku merasa lapar dan ingin makan ayam bakar. Kamu tidur saja, aku bisa sendiri. Lagian tadi aku lihat nggak jauh dari sini ada warung tenda yang menjual ayam bakar. Boleh ya?” bujuk Qania, dalam hati ia terus menanti jawaban apa yang akan diberikan oleh Tristan.


“Aku antar,” ucap Tristan tegas kemudian langsung berdiri.


Degggg…


Jantung Qania seolah berhenti berdetak, jawaban yang ingin ia dengar akhirnya ia dengar juga. Namun bukan itu, melainkan jawaban tegas Tristan yang begitu sama dengan Arkana yang membuat jantung Qania seolah berhenti berdetak.


Jauh dari pikiran Qania yang ia pikir akan bersorak jika Tristan mau mengantarnya, melainkan justru membuat ia begitu terkejut.


‘Aku-aku sangat ingin memeluknya, aku sangat ingin dan sangat sangat ingin memeluknya. Tapi aku tahu dia bukan Arkanaku, dia orang lain. Tapi ucapannya tadi seolah menyambar hatiku. Aku harus bagaimana? Permainan yang tadi aku rencanakan seolah berbalik menyerangku. Apa aku kuat berdekatan dengan Tristan untuk beberapa waktu kedepan? Aku takut akan jatuh cinta kepadanya hanya karena melihat diri Arkana pada wajahnya. Aku sudah salah, ya Tuhan. Aku memanfaatkan pria ini untuk menyembuhkan luka dan menebus rinduku tapi kini aku merasa hati dan jantungku tidak cukup kuat untuk melakukan ini. Aku harus bagaimana, ya Tuhan?’


“Qania, kok malah bengong?” Tanya Tristan sambil menggoyang-goyangkan tangan Qania yang masih duduk dan nampak sedang berpikir.


“Hah … iya, kenapa?” Tanya Qania kaget.


“Ayo pergi, sebelum ayam bakarnya habis,” ucap Tristan.


‘Aku tahu tadi kau melamunkan sesuatu. Oh ayo lah Qania, aku siap memelukmu jika kau membutuhkannya. Aku bahkan sudah menyiapkan bahuku untukmu bersandar. Dan waktu yang sudah ku siapkan untuk mendengarkan keluh kesahmu. Jangan pendam sendirian, bicaralah.’


“Oh iya, ayo.”


Tristan mendesah kecewa, harapannya untuk menjadi tempat bersandar Qania pupus sudah. Dengan gontai ia mengikuti Qania yang kini sudah berjalan di depannya.


“Den Tristan mau kemana? Kamarnya sudah siap,” panggil bi Ria yang sedang menuruni anak tangga.


“Keluar sebentar, Bi. Pintunya di tutup saja, tapi nggak usah dikunci. Kita nggak lama kok,” sahut Tristan tanpa berbalik.

__ADS_1


Tristan tersenyum melihat Qania yang begitu bersemangat hingga sudah berjalan sampai di depan gerbang.


“Qania, kenapa tidak menungguku sih? Ayo kita naik motor,” teriak Tristan dari teras rumah.


“Aku tidak jadi naik motor, Tristan. Aku ingin berjalan kaki saja, tidak begitu jauh kok,” teriak Qania sambil membuka pintu gerbang.


“APPAA? Jalan kaki? Apakah dia tidak takut kelelahan? Dia tidak takut betisnya jadi berotot? Haihh … apa lagi yang tidak aku ketahui tentangnya? Semakin menarik saja,” gumam Tristan sambil berjalan mendekati Qania yang sudah berada di luar pagar, kemudian Tristan menutup kembali pintu gerbangnya.


Keduanya berjalan beriringan, Qania terus menarik napas untuk menghirup udara malam sambil memejamkan kedua matanya. Sementara Tristan, ia sibuk tersenyum sambil memperhatikan tingkah Qania.


‘Cantik, sangat cantik.’


“Qania,” panggil Tristan.


Qania membuka matanya dan menoleh ke samping. “Ya.”


“Kau tidak lelah? Kan kita bisa naik motor tadi.”


“Aku, lelah? Aku bahkan sudah terbiasa seperti ini. Aku itu adalah anak teknik yang merangkap jadi anak hukum. Aku bahkan bisa kok mengelilingi kota ini dengan berjalan kaki. Percaya tidak kalau aku akan mengajakmu untuk melakukan itu nanti?” goda Qania yang ingin tertawa melihat ekspresi terkejut Tristan.


Tristan mengangguk kemudian menggeleng. Qania akhirnya tertawa, ia tidak menyangka pria arogan ini bisa juga bersikap bodoh dan polos.


“Aku hanya bercanda, kau tidak usah terkejut seperti itu. Jika pun aku ingin, aku tidak akan mengajakmu. Buang-buang masa jika menghabiskan banyak waktu bersamamu,” ucap Qania sok ketus padahal dalam hati ia mati-matian menekan perasaannya agar tidak bermain terlalu jauh dengan pria berwajah sama dengan sang suami.


“Dasar menyebalkan,” gerutu Tristan.


“Aku tahu dan aku sengaja,” tandas Qania.


Tristan hanya mencebikkan bibirnya, ia tidak ingin berdebat lagi.


Mereka pun sampai di warung tenda yang hampir tutup, Qania cukup terkejut karena belum setengah jam yang lalu warung tenda ini masih begitu ramai namun sekarang tinggal mas penjualnya saja yang tersisa.


“Yah, sudah mau tutup ya Pak?” tanya Qania lemas.


“Bisa buatkan saya satu, Pak. Saya sudah sangat kelaparan,” pinta Qania.


Bapak tersebut tampak bingung, ia sudah ingin tutup dan sudah lelah serta mengantuk. Namun rejeki juga tidak ingin ia tolak.


“Tolong buatkan saja ya, Pak. Istri saya sedang mengidam soalnya, biasalah kemauan ibu hamil itu ada-ada saja dan tidak tahu waktu,” ucap Tristan yang datang mendekat ke arah Qania dan bapak penjualnya.


“Oh, hehehehe … sedang ngidam toh. Ya sudah silahkan duduk dulu biar saya buatkan,” ucapnya kemudian langsung menyiapkan ayamnya.


Qania dan Tristan pun langsung duduk lesehan, Qania menatap horror pada Tristan sementara yang ditatap hanya bersiul-siul sambil mengalihkan pandangannya dari Qania. Tristan tahu kalau Qania ingin memprotes masalah kata-katanya yang bilang kalau dia sedang mengidam, makanya ia berusaha menghindar. Namun dalam hati ia sedang tertawa geli saat ini. Akhirnya Qania hanya diam saja tak mempedulikan Tristan yang terus menghindar untuk bertatapan mata dengannya.


Tak lama kemudian pesanan pun datang, Qania dengan tidak sabarnya langsung menyantap makanan tersebut sambil sesekali mengeluh panas. Tristan yang melihatnya hanya tertawa geli, benar-benar wanita pujaannya ini akan lupa segalanya kalau sudah berhadapan dengan makanan. Bahkan tidak menawarinya sama sekali.


“Pelan-pelan saja, nanti tersedak baru tahu rasa,” ledek Tristan.


“Aku sangat suka makan ayam bakar, sudah hampir sebulan nggak makan ini. Kau mau coba? Sini aku suapin, buka mulutmu, aaa ….”


Bak gayung bersambut, Tristan langsung saja membuka mulutnya dan Qania pun langsung menyuapinya.


“Enakkan?”


“Enak,” jawab Tristan sambil mengunyah. ‘Apalagi kau yang menyuapiku.’


Qania tidak lagi mempedulikan Tristan, ia hanya terus fokus dengan makanannya hingga ayam bakar itu habis beserta minumannya. Bahkan Tristan hanya sekali suapan tadi dan tidak mendapatkan bagian lagi setelahnya.


“Hahh … kenyang, Alhamdulillah.” Qania langsung membenamkan wajahnya di atas tangannya yang berada di atas meja.


“Syukurlah kalau kamu udah kenyang. Yuk balik, kasihan bapaknya udah mau pulang juga dan kamu juga harus istirahat,” ajak Tristan.


“Tapi aku udah kenyang banget dan udah malas buat jalan.” Ucap Qania yang masih menyembunyikan wajahnya.

__ADS_1


“Lalu?”


“Ya kamu gendong aku lah.”


“Apakah ini yang dinamakan modus, Qania?” Tanya Tristan menyeringai.


“Modus apanya sih?” sanggah Qania, ia mati-matian berusaha untuk tidak tertawa, pipinya pun sudah merona hanya saja Tristan tidak bisa melihatnya.


“Kamu mengajakku untuk jalan kaki biar pulangnya nanti minta digendong, begitu kan?” ucap Tristan menggoda Qania.


“Ya nggak lah. Ya sudah kamu pulang saja, biar aku nginap disini. Atau pesankan taksi online saja biar aku pulang sendiri ke kostanku,” ucap Qania berpura-pura merajuk.


“Iya-iya, begitu saja sudah merajuk,” ucap Tristan yang akhirnya mengalah.


“Aku bayar dulu, kamu tunggu disini,” imbuhnya.


“Nggak usah, aku yang makan ya aku lah yang bayar,” cegat Qania langsung mengangkat kepalanya.


“Kan aku suaminya,” ledek Tristan kemudian bergegas pergi, ia seolah tahu setelanya Qania akan kesal.


“Tristan Angaraaaaa ….”


Sambil cekikikan Tristan memberikan uang kepada bapak penjualnya.


“Istrinya kenapa, Mas?” Tanyanya.


“Biasa, Pak. Moodnya berubah-ubah. Kembaliannya untuk bapak saja,” sahut Tristan.


“Wah terima kasih banyak, Mas,” serunya kegirangan dan Tristan hanya mengangguk.


Sambil bersiul-siul Tristan berjalan mendekati Qania yang sedang menatap kesal kepadanya.


“Nggak usah kesal gitu, yuk naik ke punggungku.”


Qania mendengus kesal, namun ia segera naik saja ke punggung Tristan karena ia sudah sangat mengantuk, kebiasaan Qania setelah makan.


Setelah mengucapkan terima kasih kepada bapak penjualnya, keduanya pun pergi dari warung tersebut. Bapak penjualnya tersenyum melihat kemesraan pasangan suami istri itu, padahal ia tidak tahu kalau keduanya adalah dua orang yang dulunya saling membenci.


“Katanya mau keliling kota dengan jalan kaki, ini saja udah minta digendong, gimana sih?” Ledek Tristan.


“Biarin. Aku tuh kalau abis makan bawaannya ngantuk,” ucap Qania memberi pembelaan untuk dirinya.


“Dasar, ular.”


“Terserah.”


“Aduh … kamu berat juga, aku nggak kuat nih gendongnya,” keluh Tristan namun hanya berpura-pura saja. Mana ada beratnya, tubuh Qania saja kecil dan tidak begitu berisi.


“Yee … gimana mau dijadiin jodoh nih, baru gendong segini aja langsung aduh,” ejek Qania.


“Ya udah kamu bilang aja mau digendong sampai dimana, keliling kota aku yes deh biar bisa jadi jodoh,” ucap Tristan bersemangat.


“Ntar aja, tunggu aku hilang waras baru aku mau jadi jodoh kamu. Aku ngantuk dan aku ingin tidur. Kau jangan macam-macam,” ucap Qania langsung menjatuhkan dagunya di bahu Tristan.


Tristan mendengus, namun ia langsung terkikik begitu mendengar dengkuran halus. Rupanya gadis ini sudah tertidur. Dengan santainya Tristan berjalan agar bisa berlama-lama dalam posisi ini.


“Aku mengaku kalau aku semakin jatuh cinta padamu Qania. Terima kasih untuk malam yang indah ini Tuhan, Engkau yang terbaik,” gumam Tristan yang tidak berhenti tersenyum.


 


...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...


Terima kasih sudah membaca 🤗🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2