
Waktu terus berlalu hingga tak terasa sudah sebulan Qania menghabiskan waktu dengan Arqasa, anaknya yang kini sudah semakin cerewet di usianya yang ke dua tahun itu. Setelah ujian akhir semester dan nilai mereka keluar, Qania langsung bergegas kembali ke kotanya karena sudah tidak tahan dengan masalahnya yang ada di kota ini terlebih lagi kerinduannya terhadap sang anak semata wayang tersebut.
“Mami, Arqa mau main sepeda sama kakek ya” ucap Arqasa yang setelah lancar berbicara malah memanggil Qania dengan sebutan Mami.
“Iya sayang, kamu hati-hati” ucap Qania yang sedang membantu bi Ochi menyiapkan bahan-bahan masakan untuk makan malam.
“Siap Mamiku tersayang” ucapnya sembari memberi hormat.
Qania terkekeh begitu pun dengan bi Ochi. Arqasa mencium pipi sang Mami kemudian bergegas ke teras dimana sang kakek, Setya Wijaya sedang menunggunya dengan sepeda.
“Bi, kenapa Arqasa begitu cerewet diusianya yang baru dua tahun lebih ini ya?” tanya Qania sambil mencuci sayuran.
“Mungkin keseringan nonton youtube nak, dia emang hobi niruin apa yang dia nonton makanya jadi kayak gitu” jawab bi Ochi yang sedang menyiapkan bumbu masakan.
“Mungkin kali ya bi, soalnya sebulan aku disini anak itu kerjanya main hp mulu, nonton terus dan niruin gayanya. Kadang aku kualahan menghadapi gayanya, hehehe” tambah Qania yang kemudian duduk untuk memotong sayurannya.
“Aku jadi ngerasa bukan ibu yang baik buat Arqasa bi, selama ini aku nggak ngurusin dia dan aku bahkan tidak tahu bagaimana tumbuh kembang anakku itu” ucap Qania lirih.
Bi Ochi tersenyum, ia paham dengan perasaan Qania.
“Nak Qania jangan menyalahkan diri seperti ini. Kan semua yang nak Qania lakukan juga untuk masa depan anaknya” hibur bi Ochi.
“Hmm, tapi bi, aku jadi berpikir kalau nanti setelah aku selesai kuliah dan mulai turut membantu papa mengurus pekerjaannya justru semakin akan membuat aku sibuk dan nggak punya waktu buat anakku. Usaha papa sangat banyak bi, dan bukan hanya ada di kota ini saja. Aku takut tidak bisa membagi waktu untuk anakku karena sibuk mengumpulkan rupiah bi. Aku tahu uang itu sangat penting untuk kehidupan, tapi bagi anak kecil yang paling mereka butuhkan itu adalah perhatian dan kasih sayang. Hahh, andaikan Arkana masih bersama kami, aku akan menjadi ibu rumah tangga saja dan akan mengurusi dia serta anak kami setiap hari dan setiap saat” ungkap Qania panjang lebar membuat bi Ochi tertegun dengan ucapan Qania tersebut.
“Hah bi Ochi nggak usah masukin ke hati ucapan Qania tadi ya, Qania hanya sedang rindu saja pada Arkana yang biasanya selalu mengatasi kesulitanku dan sekarang justru aku yang harus mengatasi apa yang seharusnya menjadi urusannya, hehe” kekeh Qania yang langsung merubah suasana begitu melihat ekspresi bi Ochi.
Bi Ochi tersenyum, ia sangat paham dengan sifat dan sikap Qania yang tidak ingin membebani orang lain dengan keadaan dan perasaannya.
“Nak Qania emang nggak kepikiran untuk mencari pengganti nak Arka? Emang di kota sana nggak ada yang naksir? Nak Qania ini sangat cantik dan masih muda loh, ya setidaknya salah satu CEO” tanya bi Ochi sambil menatap serius pada Qania yang duduk berhadapan dengannya itu.
Qania tersenyum lembut sebelum menjawab pertanyaan bi Ochi.
“Bi, Arkana itu hanya ada satu di dunia ini dan tempatnya nggak akan ada yang bisa gantiin di hati dan pikiran Qania. Hanya Arkana yang ada disini bi” ucap Qania sambil memegangi dadanya.
“Yang naksir banyak bi, bahkan sangat banyak. Tapi hati Qania nggak bisa berpaling bi, hanya Arkana saja yang Qania mau, bukan yang lain. Dan apa tadi bibi bilang, CEO? Haha bibi ini terlalu banyak menonton sinetron ya?” imbuh Qania diakhir tawa.
‘Ternyata cinta nak Qania terhadap nak Arka itu tidak main-main. Kenapa Tuhan begitu tega sampai memisahkan mereka? Semoga saja suatu saat nak Qania menemukan kebahagiaannya dan berharap dia tidak akan selamanya sendiri hingga menua’ doa bi Ochi di dalam hati.
“Bi, aku kuat kok. Bibi jangan menatapku seperti itu. Aku jadi merasa bahwa aku adalah manusia paling menyedihkan di muka bumi ini” ucap Qania merajuk namun hanya bercanda.
Bi Ochi tertawa begitu pun dengan Qania, dan setelah itu mereka mulai sibuk memasak karena saat ini waktu sudah menunjukkan pukul lima sore.
.................
Di ruang keluarga saat ini, Qania, Arqasa, Zafran, Alisha dan Setya sedang duduk sambil bermain bersama si kecil yang selalu membuat kehebohan. Ia saat ini sedang menyibukkan kedua kakeknya dengan menjawab semua pertanyaan-pertanyaannya yang menimbulkan pertanyaan baru.
“Kek, ini apa?” tanya Arqasa sambil memegangi bola.
“Itu bola sayang” jawab Zafran yang kini bergantian dengan Setya yang sudah mengibarkan bendera putih tanda menyerah.
“Bola apa?” tanyanya lagi.
“Bola karet”,.
“Karet apa?”,.
Zafran menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia tidak tahu harus menjawab apa lagi.
__ADS_1
“Nek” panggil Arqasa yang membuat Alisha menghembuskan napas gusar.
“Iya sayang” jawab Alisha.
“Bola siapa ini Nek?” tanyanya.
“Bola Arqasa”,.
“Arqasa siapa?”,.
“Arqasa cucu nenek”,.
“Nenek siapa?”
Alisha meringis, ia tidak mau lagi melanjutkan menjawab pertanyaan sang cucu yang pasti akan terus ada pertanyaan baru lagi.
Qania sampai memegangi perutnya yang terus tertawa melihat bagaimana anaknya membuat kesal kedua kakek dan neneknya.
“Mami” panggilnya membuat Qania berhenti tertawa secara tiba-tiba.
“Iya nak” jawab Qania yang sudah mempersiapkan diri dengan apa saja yang akan ditanyakan oleh sang anak.
“Arqa sayang Mami” ucapnya membuat Qania terbengang sesaat lalu merentangkan tangannya meminta sang anak untuk datang memeluknya.
“Mami lebih sayang Arqa nak” ucap Qania sambil menciumi puncak kepala sang anak.
Suasana berubah menjadi haru, namun saat mereka sedang menikmati suasana tersebut ponsel Qania berdering dan peneleponnya adalah Lala.
“Hallo, Assalamu’alaikum La” sapa Qania.
"Wa’alaikum salam kak Qania, kak tolong kak” teriak Lala dengan suara yang begitu panik.
“Nek Nilam, dia, kami diserang oleh rentenir kak”,.
“Apaa? Kenapa bisa?” pekik Qania yang membuat Arqasa yang berada di dalam pangkuannya itu terkejut.
Dengan cepat Alisha mengambil alih cucunya itu ke dalam pangkuannya.
"Anak nek Nilam mencuri sertifikat rumah dan menggadaikannya ke rentenir kak dan itu atas nama nek Nilam. Dan tadi mereka datang mengamuk dan menghancurkan barang-barang di rumah ini serta menghajar nek Nilam dan sekarang nenek pingsan. Kami sekarang di rumah sakit kak”,.
“Apaaa? Terus gimana keadaan nek Nilam?” tanya Qania semakin khawatir.
“Dokter belum keluar dari ruangan kak, kami baru dua puluh menit yang lalu sampai di rumah sakit. Kakak bisa nggak datang nolongin kami, aku mohon kak”,.
Qania terdiam sambil menatap wajah putranya, ia bingung harus menjawab apa. Begitu juga dengan suara tangisan Lala yang terdengar memilukan dan membuat Qania tidak tega.
“Baiklah, kamu tolong jaga nek Nilam dulu ya” ucap Qania.
“Iya kak, nanti aku kabari lagi”,.
Panggilan berakhir, Qania menyimpan kembali ponselnya di atas meja lalu beralih menatap wajah orang tuanya.
“Ada apa?” tanya Zafran.
“Tadi Lala telepon Pa, katanya dia dan nek Nilam diserang oleh rentenir dan sekarang nek Nilam di rumah sakit karena dihajar oleh mereka. Anak nek Nilam menggadaikan sertifikat rumah tanpa sepengetahuan nek Nilam dan disitu tertulis bahwa nek Nilam lah yang akan melunasi pinjaman tersebut” cerita Qania sambil memijat pelipisnya.
“Kurang ajar, lalu kamu maunya bagaimana?” tanya Setya merasa geram.
__ADS_1
Qania belum menjawab, ia melirik sang putra yang kini sudah serius menonton video dari ponselnya sendiri yang diberikan sebagai hadiah ulang tahun yang kedua oleh kakek Setya.
Qania menarik napas panjang kemudian menghembuskannya secara perlahan-lahan sebelum mengambil keputusan.
“Aku sangat berat meninggalkan anakku, tapi mereka juga membutuhkanku. Dan juga kau harus mengurus barang-barangku disana serta mencari tempat tinggal baru untuk kami. Hah, aku bingung aku nggak tahu harus bagaimana?” ucap Qania resah.
“Kamu pulanglah dulu nak, kamu tidak perlu mengkhawatirkan anakmu karena ada kami. Mereka membutuhkanmu dan sebagai orang yang mampu, kamu wajib menolong mereka” ucap Zafran mencoba memberi masukan kepada Qania.
“Lagi pula sekarang ada Nisha yang nanti akan membantu mengurus Arqasa. Dia tinggal nunggu wisudah juga” sambut Setya.
Nisha yang dulunya diangkat Qania menjadi adiknya itu setelah melalui drama Ken yang akhirnya mereka jadian pun membawa Nisha tinggal bersama di rumah Setya namun baru setelah KKN selesai Nisha mau tinggal di rumah Setya Wijaya.
“Hmm, baiklah kalau seperti itu” ucap Qania pasrah.
“Jika kamu merasa berat, kami akan ikut menemani ke sana” timpal Alisha.
Qania terdiam, ia langsung berpikir keras mengenai ucapan mamanya.
‘Nggak boleh, mereka nggak boleh datang kesana dan bertemu dengan Tristan Anggara. Aku nggak mau mereka mengalami nasib yang sama denganku’,.
“Nggak usah Ma, Qania bisa sendiri. Titip Arqasa ya Ma, Pa” ucap Qania lirih.
“Pasti sayang” jawab mereka hampir bersamaan.
“Lagian Qania juga harus ke kampus lebih cepat untuk mengurus kepindahan Qania, hahhh” Qania mendesah ketika teringat akan urusan pindah kelasnya.
“Pindah?” beo ketiga orang tua itu.
“Iya. Kemarin di kampus ada Syaquile Ma, Pa. Dia minta dekan Qania buat mindahin Qania ke Internasional Class, gila kan” gerutu Qania.
“Kok bisa?” tanya Alisha bingung.
“Biasa Ma, waktu itu dia mendapati Qania sedang bertengkar dengan salah satu teman sekelas Qania hanya karena teman Qania itu iri dengan pesona putrimu ini. Nah Syaquile kesal lalu mengajak Qania menemui dekan dan meminta Qania pindah ke kelas yang isinya orang-orang serius semua. Hah, entah bagaimana nanti nasib Qania di kelas itu” cerita Qania sedikit mengurangi alur kejadian.
‘Maaf Ma, Pa, Qania nggak mungkin kasih tahu alasan yang sebenarnya ke kalian’,.
“Oh iya, Nisha kemana?” tanya Alisha.
“Lagi sibuk persiapan wisudah Ma. Hmm, dia bakalan marah nggak ya kalau Qania nggak datang ke acara wisudahnya” ucap Qania sambil memikirkan perasaan adik angkatnya itu.
“Dia pasti mengerti, Nak. Sebaiknya kamu istirahat, papa akan memesankan tiket penerbangan untukmu. Kebetulan besok ada penerbangan ke kota Y pukul tujuh pagi” ucap Setya sambil memeriksa ponselnya.
“Hmm, iya Pa” ucap Qania lesu.
Qania membawa Arqasa dalam gendongannya sambil menaiki tangga menuju ke kamar mereka. Sampai di dalam kamar Qania membiarkan sang anak asyik dengan ponselnya dan ia sibuk memandangi wajah sang anak yang semakin hari semakin terlihat seperti Arkana Wijaya.
Qania tidak menyiapkan barang apapun karena ia memang tidak ingin membawa pakaian. Disana pakaiannya sudah sangat banyak sehingga ia tidak perlu membawa banyak barang lagi.
Qania tertawa tanpa suara begitu melihat sang anak sudah terlelap dengan kedua tangannya memegang ponsel yang masih memutar video lagu anak-anak. Ia pun menyelimuti tubuh Arqasa kemudian menghujani seluruh wajah anaknya itu dengan ciuman.
“Arkana, anak kita semakin mirip saja denganmu. Aku sangat iri padamu. Hah, aku yang hamil, aku yang melahirkan tapi mengapa justru wajahmu yang mirip dengannya. Ini memang adalah ketidakadilan yang tidak bisa ku tuntut di pengadilan manapun” kekeh Qania sambil mengusap rambut Arqasa dengan penuh kelembutan.
“Mami akan sangat merindukan anak tampan Mami ini. Bersabarlah sebentar lagi Nak, kita akan segera berkumpul kembali” ucap Qania kemudian mengecup kening Arqasa dengan sayang.
Qania memeluk erat tubuh mungil anaknya sampai keduanya tertidur lelap.
....................................
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca 🤗🤗🤗🤗
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻