
Kedua orang tua Qania merasa pening mendengar celotehan Arkana yang terus terpancing saat mereka bertanya. Akhirnya mereka memutuskan untuk meninggalkan Arkana yang masih menunggui Qania dengan alasan ia ingin menghabiskan waktu sebelum besok berangkat kerja keluar kota dan harus menjalani hubungan jarak jauh lagi.
Arkana membelai rambut Qania yang masih nyaman menutup matanya itu.
“Kamu kapan bangunnya sih sayang, aku khawatir melihatmu begini” gumam Arkana sambil terus mengelus rambut Qania.
“Aku nggak mau bangun, aku malu punya tunangan yang mulutnya lambe turah” ucap Qania masih setia memejamkan matanya.
“Eh ini udah bangun tapi masih nutup mata atau lagi ngigau sih?” Tanya Arkana pada dirinya sendiri.
“Menurut lo” sambung Qania.
“Oh jadi udah bangun dari tadi, hehe” kekeh Arkana lalu menghujani ciuman di wajah Qania.
“Ih rese deh” ucap Qania segera bangun dan duduk bersandar di tempat tidurnya.
Arkana tertawa geli melihat wajah kesal Qania, ia kemudian menggelitik tubuh Qania membuat keduanya tertawa lepas dan di bawah kedua orang tua Qania bernapas lega karena sudah mendengar tawa anak mereka.
“Sayang aku sayaaaaaaang banget sama kamu” ungkap Arkana saat keduanya tengah berbaring di atas tempat tidur Qania sambil menatap langit-langit kamar Qania dengan tangan yang saling menggenggam.
“Aku juga, tapi haruskan kita jarak jauh lagi?” Tanya Qania sambil menoleh ke arah Arkana.
“Hm, maaf sayang. Tapi ini untuk kebaikan kita, aku bekerja keras untuk biaya pernikahan kita dan juga masa depan rumah tangga kita” ucap Arkana meyakinkan Qania dengan menatap lekat kedua netra kekasihnya itu.
“Hmmm” Qania kembali menatap langit-langit kamarnya.
Qania tidak menampik bahwa apa yang dikatakan oleh Arkana adalah benar, hanya saja ia enggan berpisah dari tunangannya itu. Rasa rindunya masih begitu besar dan ia masih ingin berlama-lama menghabiskan waktu dengan Arkana.
“Aku tahu kamu berat mengizinkanku pergi sayang, tapi kamu kan bisa mengisi hari-hari tanpa aku dengan mengurus skripsimu dan juga kamu bilang kan kamu akan turun lapangan untuk kerja praktek. Percaya deh, kamu bakalan nggak ngerasain waktu berlalu saat kamu sibuk” usul Arkana sambil terus menatap Qania yang enggan menatapnya.
“Kamu benar juga sih sayang, tapi aku tidak suka berjauhan denganmu. Kan aku udah bilang aku nggak suka kamu berada jauh dari jarak pandangku” rengek Qania sambil mendekatkan kepalanya ke samping Arkana.
“Sabar sayang, semua akan indah pada waktunya” ucap Arkana kemudian mengecup puncak kepala Qania yang berada dalam rengkuhannya itu.
Keduanya pun kini sama-sama tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Arkana sedikit lega karena Qania tidak membahas soal traumanya tadi di mobil dan juga senang karena Qania ternyata belum disentuh oleh Juna tapi ia sekaligus geram saat mengingat apa yang sudah dilakukan Juna pada Qania.
Lain halnya dengan Qania yang tengah memikirkan dan membayangkan hari-harinya tanpa Arkana. Ia sudah ingin menyusun rencana apa saja yang akan ia lakukan untuk membunuh waktu yang ia lalui tanpa Arkana di sampingnya.
“Sayang” panggil Qania.
“Iya sayang” sahut Arkana kemudian keduanya saling bertatapan.
“Kita ke rumah kamu yuk, aku bantuin kemas pakaian yang akan kamu bawa” ajak Qania.
“Beneran?” Tanya Arkana kegirangan.
“Iya sayang” jawab Qania dengan menampilkan senyuman termanisnya.
“Wah aku senang banget kalau kamu mau bantuin kemasin pakaian aku. Duh berasa udah punya istri dong ya sekarang” goda Arkana membuat pipi Qania merona.
“Ayo” Qania bangun dan langsung turun dari tempat tidurnya.
Arkana duduk namun enggan untuk berdiri, ia masih senyam-senyum sambil menatap Qania yang sudah berada di dekat pintu.
“Sayang kenapa diam saja hah? Kamu kenapa senyam-senyum sendiri? Udah gila?” Tanya Qania mulai kesal.
“Emang kamu masih mau pakai baju kayak gitu ke rumahku sayang? Kamu nggak mau ganti dulu? Tapi aku sih oke oke aja” ujar Arkana membuat Qania langsung melihat pakaian yang ia kenakan.
“Hehe aku lupa sayang” kekeh Qania kemudian berjalan menuju toilet. “Keluar ya, aku mau ganti baju dulu” pinta Qania.
Arkana tersenyum lalu mengangguk dan langsung bergegas keluar dari kamar Qania.
*
*
Suasana kampus saat ini tengah ramai dengan banyaknya calon mahasiswa baru yang tengah mendaftar di kampus. Wajah-wajah segar mereka membuat Qania dan Yani tertawa geli saat mengingat mereka yang dulu pertama kali mendaftar di kampus ini.
Saat ini Qania dan Yani tengah berada di kampus untuk mendaftarkan mata kulaih yang mereka program semester akhir mereka dan juga ingin meminta surat pemberitahuan dari kampus untuk turun lapangan menyelesaikan mata kuliah Kerja Praktek atau yang biasa mereka singkat KP.
Setelah semalam menghabiskan waktu dengan Arkana dan tadi pagi mengantar Arkana ke bandara, Qania langsung bergegas menghubungi Yani dan Rey untuk bersama-sama datang ke kampus. Semalam juga papanya sudah memberitahukan bahwa aka nada proyek besar yang kan dimulai beberapa hari lagi di pusat kota mereka dan memenuhi syarat proyek yang ditargetkan untuk mereka bisa melakukan KP.
__ADS_1
“Sorry guys gue telat” ucap Rey ngos-ngosan karena berjalan tergesah-gesah mencari keberadaan Qania dan Yani.
“Napas Rey” ledek Qania.
“Kamu memang rajanya telat” gerutu Yani.
“Kan udah minta maaf Yan. Ya udah yuk masuk, Baron mana?” Tanya Rey sambil merangkul dua saudaranya itu.
“Lagi ada urusan keluarga dia, kita wakilin aja ngambil surat izin KPnya” jawab Qania.
“Ohh”,.
Saat Qania, Rey dan Yani tengah berjalan sambil berbincang-bincang dengan posisi Rey sudah melepas rangkulannya, tiba-tiba saja di depan mereka ada aksi kejar-kejaran yang dilakukan dua calon mahasiswa baru yang tanpa sengaja menabrak Qania hingga keduanya terjatuh ke lantai.
“Maaf kak, Ken nggak sengaja” cicitnya sambil berdiri dan mengulurkan tangannya.
“Rasain lo Ken, siapa suruh ngerjain gue” ejek temannya yang tadi sedang mengejar cowok yang menabrak Qania lalu pergi.
“Nggak apa-apa kok, lain kali hati-hati ya” ucap Qania kemudian menerima uluran tangan Ken dan menengadahkan wajahnya.
“Bidadari” gumam Ken saat melihat wajah Qania yang tadi tertutup rambut.
Qania terkekeh mendengar gumaman cowok di depannya itu.
“Perkenalkan kak, nama gue Kenzie Rafanza Alatas dan lo bisa manggil gue Ken. Gue anak dari wakil ketua dewan di kabupaten ini. Usia gue delapan belas tahun, gue anak pertama dan terakhir dari nyokap bokap gue. Tinggi gue seratus delapan puluh sentimeter dengan berat badan enam puluh kilogram. Nomor sepatu gue empat puluh dua, warna favorit gue biru dan hitam. Gue banyak memenangkan pertandingan basket antar sekolah dan menjuarai olimpiade matematika tingkat provinsi. Gue suka balapan dan menjadi calon ketua di Devil Racing Team. Sabuk hitam karate, tapi gue juga jago silat dan taek wondo. Gue kaya, gue ganteng dan pastinya gue jomblo” ucapnya panjang lebar sambil mengulurkan tangannya.
Qania terkekeh mendengar perkenalan yang menurutnya paling panjang dan sangat percaya diri itu. Sedangkan Yani dan Rey menganga mendengarkan penjabaran tentang identitas cowok itu pada Qania.
“Perkenalkan nama saya Qania Salsabila Sanjaya panggil saja Qania. Saya anak dari bapak Zafran Sanjaya ketua dewan di kabupaten kita. Usia saya dua puluh tahun, saya anak pertama dari dua bersaudara dari mama papa saya. Tinggi saya seratus enam puluh centimeter dengan berat badan empat puluh lima kilogram. Nomor sepatu saya tiga puluh delapan dan warna favorit saya cokelat dan jingga. Saya wakil ketua Himpunan Mahasiswa Teknik Sipil sekaligus putri kampus disini. Saya juga sudah mewakili kampus untuk olimpiade matematika nasional dan juga pertukaran mahasiswa seluruh Indonesia. Saya tidak suka balapan dan saya juga tidak mahir bela diri. Saya tidak punya uang karena yang kaya itu orang tua saya, saya cantik dan saya juga sudah bertunangan” balas Qania sambil menyambut uluran tangan Ken.
Ken berdecak kagum dengan balas Qania yang mengingat dengan jelas urutan perkenalannya tadi dalam waktu singkat. Sementara Rey dan Yani tercengang mendengar balasan Qania.
“Cantik banget dan putri kampus pula” gumam Ken membuat Qania terkekeh.
“Tapi sayang sudah bertunangan” sambung Qania.
“Iya, kalau nggak bakalan gue jadiin pacar” ucapnya dengan polos masih mengunci pandangannya pada wajah Qania dengan ekspresi mengagumi.
Qania tertawa mendengar celetukan Ken yang menurutnya sangat menggemaskan. Ingin rasanya ia cubit pipi cowok di depannya itu kalau saja ia tidak ingat Arkana. Wajah Ken memang sangatlah tampan dan imut dipadukan dengan gaya cool dan angkuhnya menambah ketampanannya.
Ken mengangguk cepat, membuat Qania tidak bisa lagi menahan tawanya.
“Kakak emang tunangannya siapa?” Tanya Ken penasaran.
“Kamu kan pembalap dan calon ketua Devil Racing Team, kamu kenal nggak Arkana Wijaya si pembalap itu?” Tanya Qania memancing Ken.
“Kenal kak, dia ketua kami” jawab Ken antusias. “Dia sosok yang gue kagumi dan gue mau jadi kayak dia, keren, jago balapan, dan pastinya tampan” puji Ken membuat Qania senyam-senyum sendiri.
“Eh emang kenapa kak?” Tanya Ken tersadar.
“Dia tunangan saya” sahut Qania.
“Oohh. Eh Appaaaa?” pekiknya begitu tersadar dengan pernyataan Qania.
“Iya, kami sebentar lagi akan menikah. Kamu tenang saja, kamu pasti diundang kok” ucap Qania kemudian mengusap rambut Ken dan meninggalkan cowok itu yang tengah melamun bersama Yani dan Rey.
Ken memegangi rambutnya yang tadi diusap oleh Qania kemudian mencium tangannya.
“Cantiknya bidadari gue. Sayang, dia tunangan ketua gue yang amat gue kagumi dan hormati. Tapi mereka cocok sih, sama-sama cantik dan tampan. Ah gue jadi patah hati sebelum menyatakan cinta” Ken berjalan ke bangku dan duduk disana sambil menghembuskan napas beberapa kali untuk menetralkan perasaannya.
Ken merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponselnya lalu menelepon seseorang.
“Hallo bro”
“Iya, ada apa Ken?”,.
“Gue ketemu bidadari bro”,.
“Oh ya? Cantik dong?”,.
“Cantik banget malah”,.
“Tapi pasti cantikan calon istriku lah”,.
__ADS_1
“Hmm, lo benar bro. Calon istri lo lebih cantik”,.
“Iya dong, terus kenapa suara lo lemas amat?”,.
“Gue patah hati bro”,.
“Lah kok udah patah hati aja? Emang kamu ditolak?”,.
“He’em, dia udah punya calon suami”,.
“Yah kasihan, hehehe. Selagi janur kuning belum melengkung lo masih bisa nikung bro” ledeknya.
“Emang lo mau gue tikung bro?” Tanya Ken sambil menyeringai.
“Lah kok gue?”,.
“Iya, soalnya gue patah hati sama bidadari cantik yang gue sukain itu merupakan putri kampus tempat gue daftar. Dia udah punya tunangan dan namanya Qania Salsabila Sanjaya, yakin lo gue bisa nikung?” ucap Ken menahan tawanya.
“Kampret lo, dia tunangan gue sialan. Awas lo berani dekatin Qania” umpatnya.
“Hehehe, katanya tadi selagi janur kuning belum melengkung gue masih bisa nikung” ledek Ken.
“Tapi nggak sama tunangan gue juga kali. Awas aja lo”,.
“Tentu bro, dia juga udah nolak gue secara tidak langsung. Hmmm, bro ini gimana gue udah patah hati” rengeknya.
“Ya mana gue tahu, itu derita lo. Awas lo macam-macam sama Qania”,.
“Ya ampun bro, udah tiga kali ngancem gue. Tenang aja, gue nggak bakalan macam-macam kok, cukup satu macam aja, hehe” kekehnya.
“Sialan lo, awas saja lo kalau gue udah pulang. Ya udah lo selamat berpatah hati ria deh, gue sibuk, bye”,.
Tuttt…
Tuttt…
Tuttt…
“Idih main matiin aja, dia nggak tanggung jawab sama patah hati gue” gerutu Ken lalu tertawa geli setelah berhasil mengerjai Arkana, ya dia tadi menelepon Arkana untuk memastikan benar tidaknya ucapan Qania tadi.
“Hmm sabar, dia bukan jodoh lo Ken. Andai saja gue yang ketemu duluan. Aahhh, ini mah namanya kita adalah rasa yang tepat di waktu yang salah”,.
“Kasihan yang patah hati” ledek teman ceweknya tadi.
“Sialan lo Nisha, awas lo gue botakin rambut keriting lo” teriak Ken saat Nisha sudah berlari meninggalkannya.
Ken diam menatap punggung Nisha yang menjauh meninggalkannya.
“Gue masuk ke SMP yang sama, SMA yang sama dan kampus yang sama Cuma agar bisa terus melihat lo berada di dekat gue Nisha. Gue udah suka sama lo dari SD tapi gue nggak berani nyatain dan hasilnya gue Cuma bisa membuat lo kesal aja tiap hari supaya bisa memiliki kesempatan dekat sama lo meskipun cara gue salah. Hah, gue harap suatu hari nanti lo jatuh cinta sama gue dan saat itu tiba gue juga udah bisa ngungkapin perasaan gue” gumam Ken sambil terus menatap lurus meskipun Nisha sudah tidak lagi berada di dekatnya.
Ken dan Nisha sudah berada di sekolah yang sama sejak SD dan Ken diam-diam menyimpan rasa untuk Nisha namun ia tidak tahu kenapa setiap kali ia ingin menyatakan cinta pada Nisha yang ada ia malah membuat Nisha kesal dengan tingkahnya yang sepertinya tidak serius.
“Nisha lo cantik dan manis, gue suka sama lo dan gue cinta sama lo”,.
Nisha terdiam mendengar ucapan Ken namun pipinya bersemu merah.
“Gue..gue..”,.
“Tapi bohoooong” tawa Ken kemudian pergi meninggalkan Nisha yang sedang memberinya sumpah serapah padanya.
Ken kemudian pergi meninggalkan tempat ia duduk untuk mencari keberadaan Qania, ia berniat ingin menempel pada tunangan ketua timnya itu tapi bukan untuk menjadikan Qania kekasihnya melainkan ingin menjadi adik Qania sebagaimana Arkana selalu menganggapnya sebagai adik.
“Sekali-kali gue ngerjain kak Arka kali ya dengan bikin dia cemburu dan naik darah, hehe”,.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca 🥰😊😊