
"Jadi kalian udah lama tahu si Tristan itu," ucap Rizal setelah mendengarkan cerita Syaquile.
"Iya Kak. Aku sih yakin kalau dia itu kak Arkana. Hanya saja nggak ada petunjuk ke arah sana. Nggak yakin aku kalau mereka hanya dua orang yang kebetulan mirip. Kembaran aja masih ada bedanya, kan?" ucap Syaquile.
"Gue setuju sama Lo Syaq. Jadi kita tinggal nungguin hasil forensik mayat itu, kan?" timpal Fero.
Syaquile mengangguk. "Sebenarnya aku juga mau kalau kak Qania minta Tristan ngelakuin tes DNA. Cuma kata Kakak nggak enak sama Tristannya. Mungkin Kakak ada rencana lain yang dia nggak kasih tahu ke aku setelah hasil forensik nya keluar. Dua sampai tiga minggu hasilnya akan keluar," ucap Syaquile.
"Sumpah tadi gue syok banget!" ucap Fero teringat akan pertemuannya dengan Tristan.
"Apalagi gue," timpal Rizal.
"Kalian masih kalah sama aku. Di rumah sakit aku berpapasan dengan dia di depan ruangan kak Qania. Aku sempat pikir itu hantu lho," ujar Syaquile mengenang bagaimana ia menjadi speechless saat pertama kali bertemu dengan Tristan.
"Gue nggak bisa ngebayangin gimana reaksi om Setya nanti saat berpapasan dengan Tristan," gumam Rizal.
"Sebenarnya udah pernah. Cuma waktu itu Tristan pakai masker jadi nggak mengundang perhatian om Setya. Bahkan mereka aja masuk ke ruang rawat Kakak bersamaan," ucap Syaquile membuat Rizal dan Fero terbelalak.
"Hah, tapi emang sih waktu itu kita cuma bisa ngenalin Arka dari cincinnya," gumam Rizal.
"Ada banyak kemungkinan yang mungkin terjadi sebelum kejadian itu. Dan satu lagi, aku juga baru tahu satu fakta kalau ternyata Kak Qania dan Papa itu tahu soal orang yang bernama Tristan Anggara tapi bukan Tristan yang mirip Kak Arka. Dan katanya lagi, orang itu hilang nggak ada kabar sampai sekarang. Aku juga udah coba cari tahu tentang Tristan Anggara itu dengan kemampuan yang aku punya tapi nggak ada hasil. Semua tentangnya nggak ada sama sekali. Tristan Anggara yang mirip Kak Arka pun nggak dipublikasikan di semua media. Tapi aku masih tetap berusaha untuk mencaritahu kebenarannya. Dan aku yakin dibalik ini semua yang paling tahu dan bisa merasakannya itu hanyalah Kak Qania. Namun ya, dia menutup dirinya untuk semua itu," jelas Syaquile panjang lebar.
"Kalau memang seperti itu gue yakin ada sesuatu yang sangat besar dibelakang Tristan Anggara yang mungkin saja dia pun tidak tahu," gumam Fero.
"Hem ... oh iya, setelah dekat dengannya, Kak Qania jadi sering bermimpi aneh. Dia sering bermimpi kak Arka datang dan meminta tolong kepadanya. Hal itu terjadi hanya setelah mereka dekat. Kata Kakak selama ini dia belum pernah memimpikan kak Arka. Namun setelah dia dan Tristan menjalin kedekatan mimpi seperti itu sering kali datang," cerita Syaquile.
"Gue yakin ada hal besar dibalik ini semua. Entah mengapa tapi hati gue jelas mengatakan kalau dia itu Arkana. Perasaan gue yakin dia itu sahabat gue," lirih Rizal yang memang sudah dekat dengan Arkana sejak lama.
"Gue juga ngerasain hal yang sama. Sekarang kita tinggal nungguin hasil dari tim forensik itu," timpal Fero.
"Iya Kak. Aku pamit dulu ya, masih banyak hal yang harus aku kerjakan terutama masalah besar ini," pamit Syauqile.
"Iya, hati-hati. Jangan lupa kabari perkembangannya," ucap Rizal.
"Pasti Kak."
Syaquile pun pergi dan tinggallah Rizal dan Fero di ruangan tersebut.
"Gimana menurut Lo?" tanya Rizal.
"Gue sih yakin dia Arka. Tapi kenapa dia nggak bisa ingat sedikit saja tentang kita, tentang Qania. Ya kalaupun dia hilang ingatan, setidaknya jika dia bertemu dengan orang-orang di masa lalunya pasti ada sedikit reaksi. Tapi ini, dia sangat asing sama kita, bahkan ke Qania," jawab Fero.
"Apa kita pukul aja ya kepalanya. Hahh ... lama-lama otak gue jadi dongkol," gerutu Rizal.
.... . . . ...
Tristan menghentikan motor di jembatan. Ia masih tidak ingin kembali sebelum mendapatkan kejelasan dari Qania. Ia tidak ingin pulang dengan masih membawa tanda tanya besar di hatinya tentang perasaan Qania terhadapnya. Sementara Qania, ia tersadar saat motor berhenti di tempat dimana ia biasa berhenti bersama Arkana hanya untuk berfoto bersama. Bayangan tentang Arkana yang menggendongnya sampai ke rumah melewati jalan ini membuat hati Qania berdesir. Ingin, sangat ingin ia melakukan hal itu lagi bersama pria di depannya namun ia berusaha menekan perasaannya agar tidak terbawa suasana. Ia meyakinkan hatinya bahwa pria ini bukanlah Arkananya meskipun harus bersitegang dengan hati dan pikirannya.
“Kenapa berhenti disini?” tanya Qania yang sudah bisa mengendalikan perasaannya.
“Aku tidak bisa pulang sekarang,” jawab Tristan.
“Lalu?”
“Aku ingin jawabanku Qania. Jika aku tidak mendapatkannya maka tidak akan pergi dari kota ini, titik!”
“Ya sudah aku akan memberikan jawaban tapi tidak disini. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat,” ucap Qania dengan nada serius dan itu membuat Tristan sedikit merasa lega.
Qania pun memberitahukan lokasi dimana ia akan membawa Tristan. Dengan senang hati Tristan pun langsung menuruti permintaan Qania. Sekitar setengah jam menempuh perjalanan, Qania dan Tristan pun sampai di pantai. Pantai yang setelah kepergian Arkana sudah tidak pernah lagi didatangi oleh Qania.
Qania merasakan sesak di dadanya saat turun dari motor dan mendapati pantai yang semakin menampilkan warna jingga itu. Tristan memperhatikan raut wajah Qania yang terlihat sedih dan tertekan. Ia bisa menebak kalau tempat ini adalah salah satu tempat dimana Qania biasa menghabiskan waktu bersama Arkana. Dalam benaknya Tristan terus menerka-nerka ada apa gerangan sehingga Qania mengajaknya ke tempat ini.
__ADS_1
Tristan pun mengikuti langkah kaki Qania yang membawanya ke tepi pantai. Tristan menoleh ke samping, ia bisa melihat tatapan Qania yang lurus seolah sedang menerawang jauh mencari ujung dari lautan ini. Tristan menarik napas panjang, dadanya pun mulai terasa sesak melihat keadaan Qania saat ini.
Untuk apa Qania mengajakku ke tempat ini jika tempat ini justru membuatnya bersedih, batin Tristan.
Tristan tak melepaskan pandangannya dari Qania yang masih betah menatap lautan yang tak berujung ini. Baru saja Tristan akan mengeluarkan suaranya, Qania berbalik menatapnya sehingga pandangan mereka bertemu sesaat.
“Jika kau adalah Arkana, apa yang akan kau lakukan saat kenyataan itu datang padamu?” tanya Qania yang berusaha menahan air matanya.
“Maksudnya?” Tristan benar-benar tidak paham dengan pertanyaan Qania.
Qania tersenyum getir, “Aku bertanya, apa yang akan kau lakukan jika ternyata kau adalah Arkana?” ulang Qania.
Tristan terdiam sambil menatap lekat netra Qania. Ia bisa melihat tatapan penuh harap disana. Namun Tristan tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut. Otaknya seolah terkunci dan lidahnya kelu hanya untuk bersuara.
Qania tersenyum miris, “ Tidak perlu dijawab. Kau bukanlah Arkana dan tidak akan pernah menjadi dia.”
Ingin rasanya Qania mengatakan pada pria di hadapannya ini jika ia sangat berharap dirinya adalah Arkana. Namun Qania takut menyinggung perasaan Tristan. Bagaimanapun tidak ada orang yang suka disamakan dengan orang lain. Setiap orang memiliki perangainya masing-masing. Baik buruk diri seseorang itu adalah jati dirinya. Qania sadar akan hal tersebut karena ia pun tidak menyukai disamakan atau disbanding-bandingkan dengan pribadi yang lain. Bagi Qania menjadi diri sendiri lebih baik daripada berpura-pura untuk menjadi orang lain.
Qania perlahan duduk di atas pasir dengan pandangan yang tetap lurus ke depan. Tristan pun ikut duduk namun enggan bersuara.
“Disini ada banyak kenanganku bersamanya. Di tempat kita duduk saat ini adalah tempat dimana aku biasa mengahabiskan waktu bersamanya untuk melihat matahari terbenam. Di setiap sudut tempat ini ada banyak kenanganku dan kau tahu, saat ini saja aku bisa melihatnya sedang tersenyum disana, bermain gitar disana, dan sedang lari berkejar-kejaran denganku disana. Disana juga aku bisa melihatnya sedang bermain ombak bersamaku,” ucap Qania sambil menunjuk beberapa tempat yang dalam pandangannya ia melihat dirinya sedang bersama Arkana.
“Selama ini aku menjalani hidup dengan membawa kenangannya bersamaku. Aku tidak pernah membiarkannya pergi dari pikiranku. Sedikit pun tidak pernah terpikir olehku untuk melupakannya. Justru perasaan itu tumbuh setiap waktu. Setiap kali aku mengingatnya maka perasaanku terhadapnya semakin bertambah dan semakin besar. Hanya hidup bersama kenangannya pun bisa membuatku bahagia. Dengan membayangkan senyumannya saja sudah memberikanku semangat untuk terus menjalani hari-hariku. Aku tahu itu semua aneh dan tidak wajar bagi sebagian orang, tapi itulah yang aku gunakan untuk semangat melanjutkan hidupku.
“Aku terus semangat disaat aku sudah lelah bertahan. Aku terus memasang senyum terbaikku disaat hatiku terus saja menangis. Kau tahu, aku tidak pernah merasakan cinta yang seperti ini sebelumnya. Bahkan membayangkan akan dicintai sebesar itu olehnya tidak pernah terpikirkan olehku. Kata orang, kita bisa melupakan orang yang kita sayang seiring dengan berjalannya waktu. Tapi tidak denganku, justru seiring berjalannya waktu, aku terus mengingatnya dan terus mencintainya. Aku memupuk cintaku dan menyiraminya setiap hari agar cinta itu tidak layu dan mati.
“Sampai saat ini, tidak ada satu pun yang mampu membuatku berpaling. Aku gila, ya memang aku akui aku sudah gila karena terus membangun duniaku seperti ini. Tapi itu bukan suatu kejahatan bukan? Aku tidak pantas dihakimi karena perasaanku terhadap suamiku yang seperti ini.”
Qania terus bercerita dengan perasaan yang sesak bahkan ia membiarkan air matanya mengalir di pipinya. Setiap kali ia mengingat tentang Arkana-nya maka air matanya akan menetes dan rasa rindu itu pasti akan langsung menyerangnya bahkan menggerogti hatinya. Dan yang semakin membuat Qania sakit adalah orang yang ia rindukan tidak bisa lagi menebus rindu itu. Walaupun ia menangis meraung-raung, orang yang ia inginkan itu tidak bisa lagi datang padanya dan memeluknya. Tidak bisa lagi memberikan kenyamanan dan kehangatan padanya. Sampai air matanya mongering pun Arkana-nya tidak akan lagi datang untuk menebus rindu itu.
Qania menatap nanar pada Tristan yang sedari tadi hanya diam saja mendengar ceritanya. Ingin rasanya Tristan menghapus air mata itu namun tubuhnya seolah kaku.
“Maka dari itu … jika kau bukanlah Arkana, maka berhentilah berharap padaku Tristan Anggara. Karena sekeras apapun usahamu mendapatkanku maka yang akan kau dapatkan hanyalah raga tanpa jiwa. Dan yang pasti kau hanya akan mendapatkan rasa sakit karena mencintai orang yang hatinya sudah mencintai orang lain. Kau hanya akan mendapatkan kebagiaan semu. Jangan mengatakan aku akan tetap berusaha karena batu yang terus ditetesi air pun akan tetap hancur juga. Aku Qania Salsabila, apa yang sudah aku prinsipkan maka tidak akan aku ubah kecuali sang Maha membolak-balikkan hati manusia yang melakukannya ….”
“Tapi jika kau adalah Arkana, meskipun kau diam di tempat atau pun kau pergi bersembunyi kemanapun maka aku pasti akan mencari dan menemukanmu. Jika kau adalah Arkana, kau tidak perlu melakukan apapun karena aku yang akan melakukannya. Aku yang akan membawamu pulang padaku meskipun kau menolak akan kupaksa. Kau lari akan ku kejar. Akan kulakukan segala cara untuk mengembalikanmu padaku. Kau tunggu dan lihatlah. Tapi itu jika kau adalah Arkanaku. Namun jika bukan, maka kuburlah perasaanmu untukku karena aku hanya mencintai Arkana Wijayaku saja. Tidak peduli dia hidup atau mati, aku selamanya cinta padanya.”
Setelah berbicara begitu panjang lebar, Qania kembali terdiam. Tristan pun diam tak tahu harus berbicara apa. Jujur saja hatinya sakit saat mendengar ungkapan cinta Qania untuk Arkana yang begitu besar namun ia tidak bisa memprotes itu semua.
Matahari hampir sampai di tempat persembunyiannya, dengan tiba-tiba Qania berbalik dan mencium bibir Tristan dan ciuman itu berubah menjadi *******. Ciuman dengan durasi yang cukup lama dengan Tristan yang begitu menikmatinya hingga matahari benar-benar terbenam.
Rasanya sama. Manisnya sama, dan perasaanku saat menciumnya itu sama. Aku harap dia memang adalah orang yang sama, batin Qania sebelum ia menyudahi ciumannya.
“Kau pulang dan bertunanganlah. Toh baru tunangan juga belum tentu akan menikah. Jika kita ditakdirkan untuk bersama maka aku dan kau yang akan bersanding di pelaminan,” ucap Qania seraya berdiri meninggalkan Tristan yang masih berada dalam kebingungannya.
Aku Aamiini ucapanku itu jika memang kau adalah orang yang sama, batin Qania seraya berjalan menuju ke parkiran motor.
“Itu tadi apa?” tanya Tristan pada dirinya sendiri sambil memegangi bibirnya.
Tristan tersenyum saat tersadar kalau tadi Qania yang memulai ciumannya. Hati yang awalnya sudah hancur kini kembali dibuat bahagia oleh Qania.
“Aku memang tidak paham dengan jalan pikiran Qania. Dia menyuruhku pulang dan bertunangan namun diujung kalimatnya dia juga bilang jika kita ditakdirkan bersama maka kami yang akan bersanding di pelaminan. Aku bingung karena dia juga bilang tidak akan mencintai siapapun karena hanya ada Arkana di hatinya. Apa maksud ucapannya tadi ya?” Tristan semakin dibuat bingung oleh Qania.
Tristan pun akhirnya menyusul Qania karena ia tidak bisa mendapatkan jawaban dari kebingungannya.
“Lama sekali, sedang bersemedi tadi?” ledek Qania.
“Aku sedang bingung saja dengan ucapanmu tadi,” ucap Tristan kemudian mengaitkan helmnya.
“Jangan sampai kebingunganmu membuatku bingung,” ledek Qania lagi.
“Sudahlah jangan bermain kata-kata, ayo naik,” ucap Tristan.
__ADS_1
Qania pun tersenyum kemudian naik ke atas motor dan Tristan langsung melajukan motornya di atas aspal.
“Pesawatnya jam delapan. Aku sudah memesankan tiket untukmu,” ucap Qania yang membuat Tristan menarik rem mendadak.
“Qania, aku belum ingin pulang,” rengek Tristan.
“Aku tidak peduli. Kita sekarang cari makan dan aku akan mengantarkanmu ke bandara. Masih ada waktu kurang dari dua jam lagi,” ucap Qania.
“Tapi—“
“Setelah bertunangan datanglah lagi,” ucap Qania datar.
“Tapi setelah bertunangan aku akan menemani Marsya ke luar negeri mungkin sekitar satu atau dua bulan,” lirih Tristan.
“Hati-hati di Negara orang,” ucap Qania.
“Yakk Qania, aku kira kau akan merengek untk menahanku dan memintaku kembali kesini,” teriak Tristan kesal.
Qania menahan tawanya, ia sangat menyukai saat Tristan kesal. “Sudah jalan saja, tidak perlu banyak protes,” ucap Qania datar berusaha menahan tawanya.
“Ck, bagaimana aku bisa jatuh cinta pada wanita sekejam dirimu sih,” gerutu Tristan.
“Itu karena kau tidak memiliki otak makanya salah jatuh cinta,” ejek Qania.
Tristan mendengus, jika ia meladeni Qania maka mereka akan terus berdebat dan ia juga yang akan sakit hati dengan ucapan menusuk Qania.
setelah makan malam dan membantu Tristan mencari pakaian ganti akhirnya mereka sampai di bandara dengan jadwal penerbangan sekitar lima belas menit lagi.
“Qania besok aku akan bertunangan lho,” ucap Tristan berusaha untuk memprovokasi Qania.
“Tunangan ya tunangan saja, tidak ada yang melarang,” ucap Qania sarkas.
“Iss kau ini bagaimana sih, kau kan bisa bilang untuk aku membatalkannya,” gerutu Tristan kemudian mengerucutkan bibirnya.
“Kau pikir aku ini pelakor dan perusak hubunga orang, heeh?” hardik Qania yang mana membuat Tristan bergidik dengan tatapan membunuh dari Qania.
“Huh bukan seperti itu juga. Ya sudah, bicara denganmu tidak akan membuatku mendapatkan keinginanku yang ada hanya terus membuatku kesal. Aku pamit, jaga dirimu dan jangan rindukan aku. Aku tunggu hari pertemuan kita selanjutnya,” ucap Tristan menatap lekat kedua mata Qania.
Qania tersenyum mengangguk, “Hati-hati. Kabari jika sudah sampai. Dan lain kali jangan repot-repot untuk datang menyusulku. Kau akan kelelahan,” ucap Qania kemudian ia mendekati Tristan dan berbisik. “Lelah hati maksudku,” bisik Qania usil membuat wajah Tristan memerah kesal.
“Kau! Tunggu saja, aku akan memaksamu untuk bersanding denganku di pelaminan,” ucap Tristan menggebu-gebu.
“Akan aku tunggu,” goda Qania. Jika memang kau adalah Arkanaku, maka aku yang paling menantikan hari itu tiba. Dan jika tak kunjung tiba maka aku yang akan memaksamu naik ke pelaminan bersamaku Ka.
Qania yang sedang membatin itu dimanfaatkan oleh Tristan untuk memeluknya. Qania awalnya kaget dan ingin berontak namun rasa nyaman dan hangat membuat Qania mengurungkan niatnya.
“Aku pamit dulu,” ucap Tristan kemudian mengecup kening Qania dan Qania pun memejamkan matanya menikmati rasa hangat yang begitu familiar baginya.
Qania melambai pada Tristan yang sedang melambai padanya. Setelah Tristan tak terlihat lagi Qania pum memutuskan untuk pulang.
Jika keyakinanku benar maka hari yang aku nantikan itu akan segera tiba. Semoga hasilnya tidak akan mengkhianati usaha yang sudah kulakukan, batin Qania.
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...
Terima kasih sudah membaca 🤗🤗🤗
.... . . . . . . . . . . ...
__ADS_1