
"maaf Siska, beliau bukan asisten saya. tapi beliau adalah bos saya dan beliau adalah anak dari pak Bagas, orang yang dari tadi anda bicarakan" tegas Faris memotong ucapan Siska. Faris tidak ingin bosnya dibicarakan orang terlalu jauh.
Siska seketika melotot mendengar penjelasan Faris, dengan mulut yang menganga Siska memperhatikan Sastra dari ujung kaki hingga ujung rambut. Mata bulat hitam yang indah, hidung mancung dan kulitnya yang putih bersih tanpa noda, pearwakannya yang tegap dan tinggi serta lesung pipi di wajahnya membuatnya terlihat sempurna.
"tapi wajahnya sangat familiar dimataku, apakah aku pernah bertemu dengannya sebelumnya" lirih Siska dalam hati.
Sastra merasa tidak nyaman dengan tatapan gadis cerewet didepannya, lalu dia berdehem untuk memberi kode bahwa dia tidak nyaman.
"hemm... apakah anda begitu terpesonanya dengan ketampannan yang saya miliki?"
Siska nampak kikuk dan merasa mendengar ucapan Sastra, lalu dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"maaf , tapi wajah anda terasa familiar dimata saya. apakah sebelumnya kita pernah bertemu? atau apakah kita pernah berteman dimasa lalu?"
__ADS_1
Sastra mengerutkan dahinya dan merasa heran dengan ucapan Siska, dia merasa tidak pernah bertemu dengan gadis ini sebelumnya dan juga dia tidak merasa pernah memiliki teman seperti Siska.
"maaf mungkin anda salah orang nona" jawab Sastra tegas namun masih terdengar lembut, tanpa ada niat membuat lawan bicaranya merasa tidak nyaman.
"akh mungkin saja kau memiliki teman yang mirik dengan bos saya, apakah kita akan melanjutkan makan siang kita?" tanya Faris menoba menengahi dua orang yang saling bertatapan didepannya. tatapan keduanya memiliki arti tersendiri bagi Faris.
"akh... mungkin saja karna aku terlalu memikirkannya" gumam Siska, namun sebenarnya rasa penasaran Siska belum hilang. diam-diam dia masih terus melirik dan memperhatikan Sastra. wajah dan perawakan Sastra benar-benar mirip dengan Angga, aku harus memberitahukan ini segera dengan Angga batin Siska dalam hati.
"sepertinya saya tidak jadi menraktir kalian untuk makan siang, saya ada keperluan mendadak. saya janji akan menraktir kalian lain waktu. saya permisi dulu pak Sastra , kak Faris" pamit Siska yang langsung pergi tanpa jawaban dari keduanya.
"apakah masih ada jadwal saya setelah ini?" tanya Sastra sambil sesekali tersenyum kepada pekerja yang berlalu lalang di sekitar mereka.
"tidak ada lagi bos, pakah kita akan kembali ke hotel" ucap Faris.
__ADS_1
"kita ke hotle saja, saya lelah mendengar gadis cerewet tadi"
Faris lalu menganggukkan kepalanya seraya membawa Sastra keluar dari area pembangunan, sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat didepan keduanya, lalu mereka pergi meninggalkan tempat itu.
"saya akan makan siang didalam kamar hotel, tolong siapkan makan siang saya. kamu boleh pergi berjalan-jalan jika kamu ingin, saya tidak akan ikut" jawab Sastra setelah mereka tiba di loby hotel.
"baik bos, saya akan mengurus semuanya" angguk Faris lalu pergi memisahkan diri dari Sastra.
setiba dikamarnya Sastra memikirkan kembali kata-kata gadis cerewet yang ditemuinya tadi
"mengapa saat dia mengatakan wajahku familiar dimatanya? Apakah aku memang pernah beteman dengannya ? tidak mungkin kan dia sepupu atau saudaraku? aku kan tidak memiliki siapapun, aku hanya memiliki papa dan mama, lagian bagaimana mungkin aku me Sastra miliki sepupu ? papa dan mamku kan anak tunggal" tanya Sastra dalam hati.
Sastra masih ingat betul dengan ekspresi gadis tadi, dia seolah-olah benar mengenaliku dengan jelas. matanya menympan sesuatu. "akh... bagaimana aku masih memikirkannya? kan setiap manusia memiliki 7 kembaran di belahan dunia ini . mungkin saja wajahku mirip dengan seseorang yang pernah ada di hidupnya. Sastra mencoba tidak memikirkan hal itu lagi, dia mencoba menyantap makan siang yang sudah diantar oleh seorang pelayan hotel.
__ADS_1