
Waktu menunjukkan pukul dua belas tepat, rapat diistirahatkan selama lima belas menit. Panitia yang mengurus konsumsi mengeluarkan minuman hangat dan juga camilan. Mengenai Baron dan Edo, setelah divisi FK selesai presentasi laporan mereka, keduanya kembali diundang masuk.
“Guys aku keluar dulu” pamit Qania saat mendengar ponselnya berdering dan ketika ia lihat ternyata itu dari kekasihnya.
“Kemana saja hmm?” Tanya Arkana begitu Qania menjawab teleponnya.
“Rapat sayang” jawab Qania yang baru saja mendaratkan bokongnya di kursi ruangannya.
“Masih belum selesai rapatnya?”
“Iya sayang, tinggal dua divisi lagi dan setelah itu penutupan dan ada satu urusan lagi. Kemungkinan paling cepat selesainya jam dua deh” Qania berbicara dengan begitu manja.
“Sayang lapar nggak? Cape nggak?” Tanya Arkana prihatin.
“Kalau capek iya tapi kalau lapar sih nggak terlalu sayang karena ada konsumsinya juga, ya kali kita ngadain rapat nggak nyiapin logistiknya. Kamu tahu sayang, logika tanpa logistic itu anarkis” terdengar kekehan Qania.
“Benar juga sayang, kalian dipaksa berpikir dan tidak diberi makan itu sama saja berbuat anarkis” timpal Arkana ikut tertawa.
“Aku kangen” lirih Qania.
“Aku kesana sekarang nih?” Tanya Arkana bersiap.
“Nggak sayang, nanti aku hubungi kalau sudah selesai” tolak Qania.
“Oh iya sayang, sebentar kami akan ke sana bersama Fero, Rizal dan Gea. Sekarang kami lagi di kafe nungguin kalian pulang. Sayang bisa nggak kamu pastikan kalau Cika nggak bakalan pulang dengan yang lain?”.
“Tenang sayang, Cika tadi sengaja aku minta Yani buat jemput jadi sebentar dia akan pulang dengan Fero”.
“Oh syukurlah” desah Arkana lega.
Tok..
Tok..
Tok..
“Qan lo di dalam?” panggil Abdi dari luar, karena Qania menutup pintunya.
“Iya Di, masuk aja” jawab Qania.
“Nggak usah Qan, lo aja yang keluar soalnya rapat udah mau dimulai” jawab Abdi kemudian berbalik dan pergi menuju ruang rapat.
“Oke” sahut Qania.
“Yah, udahan lagi nih teleponannya” Arkana terdengar galau.
“Iya sayang, maaf ya” lirih Qania.
“Ya sudah sayang kamu masuk gih supaya cepat kelar tuh rapat” pinta Arkana.
“Oke sayang, aku tutup dulu ya”.
“Iya”.
Dengan berat hati Qania mengakhiri panggilan telepon mereka dan kembali ke ruang rapat. Ia tidak ingin peserta yang lain menunggunya, sebagai moderator ia lah yang bertugas untuk membuka kembali rapatnya.
Satu jam kemudian, laporan pertanggung jawaban dari semua divisi telah selesai dan kini di depan pengurus inti dan masing-masing anggota divisi sudah mengambil tempat.
Panitia yang melaksanakan rapat LPJ kembali mengambil alih rapat dan mempersilahkan kepada Abdi selaku ketua himpunan untuk memberikan sambutan terakhir di masa jabatannya yang akan segera ia lepas.
“Assalamu’alaikum” ucap Abdi.
“Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatu” jawab semuanya.
“Selamat, eh selamat apa ya? Selamat pagi kah? Selamat malam kah? Selamat subuh atau dini hari kah? Saya bingung karena tidak pernah member sapaan salam di jam dua pagi” Tanya Abdi bingung.
Ruangan menjadi ramai karena terdengar gelak tawa karena pertanyaan Abdi tadi.
__ADS_1
“Selamat malam aja bang, masih gelap”,.
“Selamat subuh aja Di”,.
“Selamat pagi aja bang”,.
“Selamat dini hari aja Di” ucap Qania yang juga masih tertawa.
“Ya sudah karena kata ibu wakil selamat dini hari, maka saya akan menyapa kalian dengan itu meskipun terdengar aneh” ucap Abdi terkekeh.
“Selamat dini hari semua” sapa Abdi ramah namun terdengar tegas.
“Selamat dini hari” balas mereka, ada yang sudah mulai serius ada juga yang maih terkekeh geli setelah menjawab sapaan Abdi tersebut.
“Bagaimana kabar kalian, apakah masih semangat?” Tanya Abdi.
“Masiiihh…” jawab mereka.
“Oke kita tes dulu, Mars Teknik tu wa ga”
‘Bangun pagi tidak biasa
Tidak mandi sudah biasa
Banyak tugas akan biasa
Anak teknik luar biasa
Teknik, teknik, teknik, yes’
“Oke, sepertinya memang masih semangat” ucap Abdi tersenyum senang.
“Pertama-tama saya mengucap syukur kepada Tuhan yang maha esa karena berkat ridhanya lah sehingga saya dan rekan-rekan pengurus himpunan dapat menjalankan tugas kami selama setahun dan juga akhirnya bisa sampai di titik ini dimana hari ini adalah hari terakhir kami menjabat. Saya sangat berterima kasih kepada rekan-rekan pengurus himpunan, terutawa pada bu wakil ketua yang paling mendominasi kepengurusan ini” Abdi melirik Qania yang ada di sebelahnya dan disambut senyuman oleh Qania.
“Seperti yang kita ketahui pertama bahwa bu wakil saya ini adalah mahasiswa terbaik dan yang pertama terbaik di fakultas teknik selama kampus kita ini berdiri. Maka dari itu saya menunjuknya sebagai wakil saya agar saya tidak susah payah karena dia sangat cerdas pasti memiliki sejuta ide dan yang lainnya untuk membangun himpunan” kekeh Abdi yang dihadiahi pelototan oleh Qania.
“Nggak usah lebay, serius napa. Udah jam segini” bisik Qania membuat Abdi terkekeh geli.
“Saya tidak ingin berbicara panjang lebar mengingat waktu dan kondisi kita tentu sudah sangat lelah. Dengan begitu, saya Abdi Narayan selaku ketua himpunan mengucapkan terima kasih kepada panitia pelaksana LPJ. Dengan demikian maka kami pengurus himpunan saat ini menyatakan bahwa kami telah selesai mengemban tugas dan akan menyerahkan pada pengurus himpunan baru yang terpilih nanti. Kami dari pengurus himpunan lama dengan ini melepas jabatan kami dengan bahagia, terima kasih” ucap Abdi dengan wajah terharu begitu pun seluruh anggotanya.
Prok..
Prok..
Prok..
Tepuk tangan meriah mengakhiri sambutan Abdi tersebut yang sudah resmi melepas jabatan mereka dengan bahagia tanpa kekurangan apapun selama masa menjabat.
“Baiklah, dengan mengucapkan alhamdulillah maka rapat pertanggung jawaban hari ini saya tutup, sekian dan terima kasih” ucap ketua panitia dengan mengetuk palu tiga kali.
Kembali terdengar tepuk tangan meriah dan keharuan dari semua pengurus yang saat ini sedang berpelukan kemudian berjabat tangan. Sementara peserta sudah mulai berhamburan keluar.
“Jangan harap lo bisa kabur dari sini” aura dingin terpancar dari wajah Qania.
Edo terkejut karena Qania mengetahui pergerakannya padahal ia sendiri melihat bahwa Qania tengah berjabatan tangan denga pengurus himpunan lainnya. Edo berdiri mematung sesaat, kemudian ia dibawa oleh Prayoga ke ruangan rapat khusus pengurus himpunan untuk membahas tentang masalah kemahasiswaan yaitu di ruangan Prayoga.
⚘
⚘
Di ruangan Prayoga terdengar pedebatan sengit antara Baron dan Edo. Saat ini mereka sudah tidak bersikap formal terdengar dari kata-kata kasar keduanya, sementara yang lain sudah lelah menengahi keduanya yang sama-sama keras kepala dan tidak ada yang mau mengalah.
“Gini deh, kalian ingat tidak gimana susahnya kita melewati ospek dan OPH bersama tapi kita tetap berhasil karena kita kompak, kita solid. Dan kalian melupakan semua itu dan menjalin permusuhan hanya karena seorang perempuan yang bahkan kalian berdua tidak ada yang memilikinya dan lebih parahnya lagi dia malah langsung menunjukkan bahwa dirinya memiliki pria lain. Ayolah kalian sudah cukup dewasa untuk melakukan permusuhan yang bahkan jika perempuan itu tahu dia akan besar kepala karena ulah kalian. Berdamai saja lah, tidak ada untungnya bagi kalian bersikap seperti ini” akhirnya Qania bersuara setelah diam cukup lama, sekalinya ia bersuara semua dibuat bungkam olehnya.
“Yang diucapkan Qania memanglah benar adanya. Kenapa gue sampai bermusuhan dengan Edo bahkan bertahun-tahun hanya karena perempuan sialan yang sudah merusak hubungan kami dan pergi begitu saja tanpa memilih salah satu dari kami dan parahnya ia bahkan langsung memilih pria lain” pikir Baron.
“Sebenarnya gue setuju banget sama Qania, toh gue juga udah kasih pelajaran sama tuh cewek sund*l tempo hari. Baron dan gue seharusnya tidak sampai seperti ini. Baiknya gue mengalah aja, sudah cukup lama hubungan kami renggang” pikir Edo.
__ADS_1
“Uh apaan sih Arkana ini, orang lagi tegang-tegangnya dia malah nelepon mulu” gerutu Qania saat ponselnya tidak berhenti bergetar.
“Ini lagi pakai ngirim-ngirim foto. Arghhh aku kan jadi kangen. Dia kok galau gitu tetap cakeo ya. Ahh punya aku tuh” qania senyam-senyum sendiri, untung saja tidak ada yang memperhatikannya.
“Ekhmm” dehem Qania membuat pandangan beralih padanya.
“Jadi gimana? Ini sudah mau masuk waktu subuh loh. Emang kita mau disini terus?” Tanya Qania menyindir.
“Gini Qan..” ucap Baron dan Edo bersamaan, kemudian keduanya saling melirik.
“Lo duluan..” lagi, mereka berbarengan.
“Nah tuh kan udah kelihatan kalau kalian itu kompak” ledek Qania.
“Ro..”
“Do..”
“Barengan deh kalau mau ngomong, kalian kelewatan kompaknya” Qania cekikikan karena Baron dan Edo terus bicara bersamaan.
“Oke gue duluan” putus Edo.
“Ron, gue minta maaf atas kesalahpahaman kita selama ini. Gue udah menabur permusuhan antara kita, gue harap kita bisa berbaikan setelah ini” ucap Edo menunduk lirih.
“Gue juga mau minta maaf Do, gue juga salah. Gue juga sangat berharap kalau kita bisa kembali menjalin hubungan teman rasa saudara seperti dulu” ucap Baron.
Tanpa diminta keduanya langsung bersalaman dan saling merangkul.
“Nah gini kan enak. Baru jug ague ngelepas jabatan sebagai ketua divisi kemahasiswaan eh kalian harus ngundang gue lagi ke ruangan ini. Ya elah, gue udah dimisioner masih aja kerja” protes Prayoga berpura-pura kesal.
“Uwwuu Yog, elo the bestnya deh” sahut Cika.
“Benar tuh Cik, Yoga paling rajin kayaknya” timpal Yani.
“Gak rela dia ninggalin jabatan dan ruangannya” ledek Risty.
“Apaan sih kalian, ngomong apa” dengus Prayoga.
“Nah gini kan enak, kita udah lega deh masa jabatan kita ditutup dengan kembalinya Baron dan Edo. Ya udah pada balik deh, capek dan ngantuk” sela Abdi, ia mencegah terjadinya perdebatan lebih panjang lagi.
“Benar banget, yukk” ajak Risty.
“Kalian berdua pulangnya sama siapa?” Tanya Baron melirik kearah Cika dan Qania.
“Gue sama R…”
“Sama aku kok, nanti dijemput” Qania memotong ucapan Cika, ia tidak ingin jika Cika pulang bersama Risty karena Fero akan datang.
Cika melongo sambil menatap Qania setelah mendengar ucapan Qania tadi.
“Oh ya sudah, kita tunggin deh jemputannya” ucap Prayoga yang disetujui oleh mereka.
“Tapi gue balik dulu ya, gue udah ngantuk banget sama lapar juga sih” ucap Edo menyengir.
“Ya sudah hati-hati bro” ucap Rey yang dari tadi sibuk sama ponselnya.
“Gue kira lo bisu Rey” cibir Yani.
Rey hanya menampakkan deretan gigi putihnya mendengar cibiran Yani, karena setelah itu ia kembali lagi menatap ponselnya.
“Lo nggak pulang Rey?” Tanya Yani.
“Nggak, gue sama Baron nginap sini” jawab Rey menatap kearah Yani.
Yani hanya membulatkan mulutnya.
__ADS_1
Qania langsung mengirim pesan kepada Arkana untuk memintanya segera datang menjemput.
...⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘...