Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Penolakan


__ADS_3

Tubuh Rosa bergetar ketakutan karena ia baru saja masuk dalam perangkapnya sendiri, akhirnya ia tahu kenapa Qania bersikap biasa saja dan dengan santainya menantang dirinya hingga membiarkannya melapor ke polisi.


‘Sial, gue kejebak sama perangkap gue sendiri. Arghh kalau gini kan gue sama papi yang malu’ gerutu Rosa dalam hati.


Rector, dekan dan dosen serta kedua polisi itu menatap penuh tanya pada Rosa yang sedang ketakutan itu. Sementara pak Agus menyeringai, ia puas dengan tindakan Qania yang membuat Rosa tidak berkutik.


“Rosa, bisa jelaskan ini ke Papi?” tanya papinya yang menatap Rosa dengan sengit.


“I..itu bu..bukan, i..itu nggak se..seperti yang a..ada di rekaman itu Pi” kilah Rosa tergagap saking gugup dan takutnya.


“Sudah jelas seperti itu dan kau masih mengelak?” cibir pak Agus.


“Kalian semua yang ada di kelas ini, apakah benar yang ada di rekaman ini atau tidak?” tanya pak Dekan yang langsung mengambil alih.


Mereka yang ditanya saling memandang, kemudian mereka melihat Rosa yang menatap menghiba pada mereka namun juga sorot matanya penuh ancaman.


“Diam?” cibir pak Dekan.


“Baiklah jika memang rekaman Qania salah, maka kami dari pihak kampus akan membawa kasus ini ke jalur hukum. Tapi, jika rekaman itu benar adanya maka semua yang ada di ruangan ini akan saya hentikan mata kuliah dari saya dan dari pak Agus selama satu semester dan otomatis kalian semua akan gagal” ancam pak Dekan.


“Itu memang rekamannya salah pak” seru salah satu dari mereka yang ingin mengambil kesempatan membuat Rosa tersenyum.


“Hanya ada satu orang yang bersuara?” pancing pak Dekan.


“Benar pak, rekaman itu salah” seru mereka kompak.


“Lalu apa buktinya kalau rekaman itu salah?” tanya pak Dekan.


Semuanya terdiam dan saling memandang untuk menanyakan bagaimana mereka akan membuktikan benar salahnya rekaman tersebut. Pak Dekan sebenarnya hanya memancing mereka, dan kini ia tahu bahwa ada yang tidak beres dengan situasi ini.


Lama mereka dalam keheningan, tiba-tiba suara seseorang mengejutkan mereka.


“Saya berani jamin rekaman itu benar Pak, karena Qania memanglah selalu menjadi bahan bullyan Rosa serta Rosa selalu menindas Qania hampir setiap hari pak kalau saya tidak membelanya” ucapnya dengan lantang.


“Julius?” pekik Rosa bersamaan dengan Qania namun Qania menyebut nama Julius hanya seperti berbisik saja.


“Jadi benar seperti itu?” tanya pak Halim, rector.


“Benar Pak, jika tidak percaya silahkan cek CCTV kampus ini” sahut Julius yang berjalan mendekati Qania.


“Rosaaa” geram papinya.


Rosa menunduk takut dengan tatapan papinya yang seakan ingin menelannya hidup-hiduo itu.

__ADS_1


“Maaf pak, saya seorang mahasiswa dari Fakultas Hukum yang tentu saja jika saya lulus nanti saya akan menjadi seorang pengacara. Dan untuk menjadi seorang pengacara itu tidak gampang, sebelum sidang kita harus sedia payung sebelum hujan dan mampu bermain cantik untuk membuat lawan kita tidak berkutik. Jadi seorang pengacara itu haruslah memiliki ide dan gerakan cepat agar mampu memenangkan sebuah kasus, bukan begitu pak Erlangga dan pak Agus” ucap Qania sembari menyeringai menatap dua pria yang ia sebutkan namanya itu.


“Sangat benar Qania, rupanya bakat sebagai seorang pengacara sudah mulai mengalir dalam dirimu” sahut pak Erlangga.


“Bapak bangga jika kau bisa bergerak cepat seperti ini dan ya seperti katamu sedia payung sebelum hujan” timpak pak Agus.


Tubuh Rosa semakin bergetar karena ia sudah tidak bisa berkilah lagi sebab ditambah pembelaan dari Julius tadi. Sementara papi Rosa tertunduk malu akan kelakuan anaknya yang justru berimbas pada harga dirinya sebagai seorang penegak hukum.


“Jadi bagaimana dengan perkataan anda tadi pak Segara? Apakah anda akan memberlakukan ucapan anda terhadap putri anda sendiri?” tanya Qania tersenyum sinis.


“Te..tentu saja” jawabnya terbata.


‘Apakah aku yang harus menghukum anakku dengan tanganku sendiri? Tapi aku adalah seorang penegak hukum yang tidak boleh pandang bulu’,.


“Sudah lah pak, kali ini saya memaafkan perbuatan Rosa karena sebenarnya ini adalah masalah internal kampus yang seharusnya diselesaikan di dalam kampus saja. Mengenai hukuman untuk Rosa sebaiknya itu datang dari pihak kampus. Dan untuk bapak, saya tahu pasti sebagai orang tua anda akan memberikan hukuman pada anak anda ini di rumah anda juga, tapi itu bukan hak saya untuk mencampuri” ucap Qania bijak.


“Saya salut dengan apa yang kau ucapkan Qania dan benar bahwa ini adalah masalah internal kampus jadi sebaiknya untuk tidak menimbulkan berbagai opini dan gossip bapak-bapak polisi ini sebaiknya kembali bertugas. Bukan maksud saya mengusir, namun kami dari pihak kampus ingin menyelesaikan masalah ini secepatnya” ucap pak Haim.


“Baik Pak, saya selaku orang tua dari Rosa menerima apapun hukuman yang pihak kampus berikan padanya” ucap pak Segara.


“Papi sangat kecewa padamu” bisiknya pada Rosa, membuat Rosa semakin ketakutan.


“Baiklah kalau begitu kami pamit dulu, terima kasih” ucap polisi yang satunya berpamitan.


“Ba..bagaimana dengan kami pak?” tanya salah satu mahasiswa yang tadi mendukung Rosa.


“Kalian juga akan mendapat hukuman dari saya setelah Rosa dip roses” jawab pak Erlangga kemudian melangkah pergi meninggalkan ruang kelas bersama Rosa yang terus menundukkan kepalanya karena malu dan kesal kepada Qania.


“Tuh kan apa gue bilang, Qania itu emang the best, nggak salah gue jatuh cinta sama dia”,.


“Iya ya, kita udah salah sangka sama Qania, gue makin kagum sama dia”,.


“Idih tadi aja elo ngejelekin dia”,.


“Ah udah, bubar aja yuk”,.


Suasana kelas itu menjadi sunyi sepeninggalan rombongan dosen. Qania kemudian kembali ke bangkunya untuk mengambil tas namun beberapa teman sekelasnya langsung datang meminta maaf padanya. Qania tersenyum kecut melihat mahasiswa yang selalu membullynya datang untuk mengemis maaf darinya.


“Ya udah gue maafin, lain kali silahkan ulangi lagi dan kalian akan bernasib sama seperti Rosa” ucap Qania yang kemudian melenggang pergi meninggalkan ruang kelas tersebut.


Para mahasiswa tersebut terbengang mendengar ucapan Qania yang sangat menohok itu. Mahasiswa lainnya yang pro ke Qania tertawa cekikikan mendengar ucapan Qania dan melihat ekspresi teman mereka yang lainnya yang tadinya meminta maaf kepada Qania.


Qania yang sudah sampai di parkiran untuk mengambil motornya itu tertoleh saat tangannya ditarik oleh seseorang.

__ADS_1


“Julius?” Qania memicingkan mata pada tangannya yang digenggam oleh Julius.


“Sorry Qan, gue nggak maksud buat narik tangan elo” ucapnya kemudian melepaskan tangan Qania.


“Iya nggak apa-apa. Oh iya kenapa tadi bisa sampai di kelas lagi?” tanya Qania.


“Oh itu tadi gue sudah sampai di parkiran dan gue lupa kalau belum mengembalikan buku dari perpustakaan. Eh saat gue balik dari perpustakaan gue lihat polisi dan salah satunya papinya si Rosa jadi gue penasaran dan ngikutin mereka dan ternyata dugaan gue benar kalau ini itu ulahnya si Rosa. Tapi syukurlah elo nggak kenapa-napa” cerita Julius panjang lebar namun Qania hanya mendengarkan tanpa menanggapi serta memasang wajah datar.


“Kan tadi gue duah bilang kalau elo mendingan balik sama gue ke parkiran. Elo sih bandel nggak mau dengerin gue” lanjutnya sambil terkekeh.


Qania memasang senyum paksa mendengar ucapan diselingi canda yang garing menurut Qania demi menghargai usaha Julius menghiburnya.


‘Julius ini sangat tampan tapi aku sama sekali nggak tertarik padanya padahal dia juga mahasiswa yang cerdas. Dia juga sangat muda, terpaut hampir empat tahun denganku tapi sikapnya yang selalu melindungiku membuatku merasa dia adalah kakakku sementara aku adiknya’ gumam Qania dalam hati.


‘Apa ini saatnya ya?’ tanya Julius pada dirinya sendiri dalam hati.


“Oh ya sudah ya Jul, aku mau balik dulu dan makasih banget udah mau bantuin tadi’ ucap Qania kemudian berbalik untuk mengambil motornya.


“Qania tunggu” cegat Julius membuat Qania berhenti dan menoleh padanya.


“Ada lagi?” tanya Qania.


“Gue mau ngomong serius” ucap Julius sedikit grogi.


Qania membalikkan badannya dan menatap Julius, dari raut wajahnya Qania sudah bisa menebak apa yang ingin dikatakan oleh Julius padanya.


“Qan, jujur gue udah lama suka sama lo semenjak kita ORMIK. Awalnya gue pikir gue Cuma kagum doang sama lo karena elo yang cerdas dan bisa menghalau segala bentuk pembullyan terhadap elo waktu kita ORMIK. Tapi semakin hari gue semakin yakin kalau rasa ini lebih dari sekedar rasa suka dan bahkan bukan hanya sekedar kagum. Gue jatuh cinta sama elo Qania dan gue udah yakin kalau rasa di hati gue ini emang benar rasa cinta dan sayang sama elo, gue ingin selalu ada di dekat lo, gue ingin selalu ngelindungin elo dan gue sangat-sangat bahagia melihat senyuman elo. Gue harap lo bisa nerima perasaan gue Qan” ucap Julius tanpa jeda membuat Qania menatap datar padanya bukannya memasang ekspresi kaget.


“Maaf Jul, aku nggak maksud nolak kamu tapi kamu kan tahu aku sudah mempunyai seorang anak dan kamu masih muda bahkan baru lulus SMA sementara aku sudah berusia hampir dua puluh dua tahun. Aku udah matang Jul sementara kamu baru remaja yang akan beralih ke sosok pria dewasa, maafin aku aku nggak bisa nerima kamu. Kita berbeda jauh Jul, kamu pantas mendapatkan yang lebih baik dari aku” tolak Qania secara halus.


“Aku tahu itu Qania, gue udah mempertimbangkan itu semua dan gue nggak masalah dengan status lo seorang janda atau single parent itu gue nggak masalah” tegas Julius dengan penuh penekanan.


“Tapi aku masalah dengan status aku dan status kamu. Kamu enak bisa ngomong gitu terus nanti kalau kita jalani hubungan ini, kedepannya akan banyak tantangan yang harus kita lewati dan aku nggak mau melewati apapun nantinya. Aku capek jika harus berjuang dan aku lelah untuk kecewa, jadi sebaiknya kamu buang jauh-jauh perasaan semu kamu itu Jul” tegas Qania.


“Udah lama banget Qan, udah lama banget gue mendam perasaan ini dan lo bilang ini perasaan semu. Apa lo nggak bisa lihat selama ini gue gimana ke elo Qan?” teriak Julius frustasi, untung saja di parkiran hanya ada mereka berdua.


“Sekali lagi maaf Jul, bahkan adek aku saja lebih tua dari kamu. Kamu pantasnya jadi adikku saja” ucap Qania kemudian berlalu meninggalkan Julius dan menaiki motornya.


“Elo bakalan nyesal dengan keputusan lo Qania, lo nggak bisa selamanya sendiri dan menutup hati lo. Hidup harus terus berlanjut  Qania, lo harus sadar kalau suatu saat elo juga butuh pendamping dan gue harap lo cepat nyadarinnya kalau keputusan elo selama ini nolak semua pria itu salah Qania. Lo nggak bisa terus memaksakan diri lo untuk setia sama suami elo yang udah nggak ada” teriak Julius ketika Qania hendak menarik gas motornya.


“Julius aku menghargai perasaanmu padaku tapi kamu juga harus bisa menghargai keputusanku karena ini hidupku. Meskipun aku tidak menikah hingga ajal menjemputku itu adalah keputusanku, bukan hakmu untuk mencampurinya, permisi” tandas Qania kemudian melajukan motornya meninggalkan Julius yang tengah mengerang frustasi.


 

__ADS_1


...🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀...


__ADS_2