
Pagi sekali Alisha sudah bersiap dengan rapih setelah sarapan, biasanya ia memilih mengunjungi para tanamannya di halaman namun kali ini ia sudah telihat rapih.
“Mama mau kemana?” tanya Zafran saat masuk ke kamar setelah menghabiskan kopinya di bawah.
“Mau ke rumah Arkana pa” jawabnya sambil mengoles bedak di wajahnya. Ia sedang duduk di depan meja riasnya.
“Ada yang harus di selesaikan? Masalah pertunangan?” tanya Zafran yang saat ini sudah duduk di atas tempat tidur.
“Ada yang harus mama selesaikan dan luruskan pa” jawabnya setelah selesai dengan urusan wajahnya.
“Maksud mama?” tanya Zafran heran.
“Masalah Qania dan Arkana, haih kedua anak itu bertengkar lagi” ceritanya saat mulai mengambil tas kecilnya.
“Apa? Kenapa bisa?” tanya Zafran kaget.
“Biasa pa, masalah calon mantu kita yang cemburunya kelewatan. Masa dia minta Qania membatalkan pertunangan hanya karena Qania bersimpatik pada perasaan Ghaisan" cerita istrinya.
"Ya ampun anak itu sangat persis seperti Setya dulu" ucap Zafran sambil menepuk dahinya.
"Ya sudah mama pergi dulu, mama juga sudah tahu alamat rumahnya" sambung Alisha berpamitan pada suaminya.
"Maaf ya ma nggak bisa mengantar mama, papa ada rapat pagi ini" ucap Zafran saat Alisha mencium punggung tangannya.
"Nggak apa pa, mama di antar supir saja. Mama pergi dulu ya pa. Assalamu'alaikum" pamitnya.
"Wa'alaikum salam" jawab Zafran.
*
*
Disinilah kini Alisha, tepat berada di ruang tamu kediaman Setya dan Arkana, setelah tadi sudah di persilahkan masuk oleh ART rumah tersebut.
__ADS_1
"Alisha, apa yang membawamu sepagi ini kemari?" sapa Setya yang datang entah dari mana lalu ikut duduk berhadapan dengan Alisha.
"Maaf mas aku sudah mengganggumu pagi ini, ada hal penting yang ingin aku bahas" ujar Alisha sambil melirik sana-sini.
"Soal apa? Apakah ada kendala dengan persiapan pertunangan?" tanya Setya masih mempertahankan senyum manisnya. "Oh iya, kamu mau minum apa?" tawar Setya.
"Nggak usah repot-repot mas, saya kemari ingin bicara sama kamu dan Arkana. Kemana anak itu?" tanya Alisha yang sudah memasang wajah serius.
"Anak itu masih di kamar, tadi dia balik lagi setelah sarapan. Sebenarnya ada apa Al, kamu nampaknya sangat serius?" tanya Setya semakin penasaran.
"Aku ingin bahas tentang... Nah Arkana, kemari sebentar, tante ingin bicara" Alisha memanggil Arkana yang baru saja melintas di depan mereka.
Arkana langsung mendekat dan duduk di samping papanya dengan raut wajah yang ikut bingung.
"Pagi tante" sapanya canggung.
"Ya pagi" jawab Alisha ketus.
"Maksudmu apa Al? Membatalkan pertunangan?" tanya Setya yang kaget bukan main.
"Tanyakan pada anakmu sendiri" jawab Alisha langsung melipat kedua tangannya di depan dada dan membuang muka.
"Arkana jelaskan sekarang kepada papa" pinta Setya dengan suara yang lantang, membuat Arkana merasa takut.
"Arkana tidak bersungguh-sungguh pa, Arkana hanya menggertak" ucapnya sambil menunduk.
"Terus maunya kamu setelahnya Qania akan datang padamu dan meminta maaf. Mengemis-ngemis kamu akan memaafkannya dan menarik kembali kata-katamu untuk membatalkan pertunangan. Kamu itu lelaki macam apa. Sudah berapa kali kau membuat Qania harus meminta maaf dan mengemis padamu? Anakku juga punya harga diri dan di dunia ini bukan hanya kamu laki-laki. Saya akan lebih senang jika memang pertunangan ini tidak terjadi agar anak saya tidak perlu menjadi pengemis cinta" tegas Alisha yang membuat Arkana gemetar, ia takut jika semua ucapan Alisha itu benar.
"Tapi tante, Qania dia.."
"Dia mencintaimu dan kamu selalu menuduhnya memiliki perasaan pada pria lain, begitu maksudmu?" potong Alisha.
"Iya" jawab Arkana gugup.
__ADS_1
"Cih, sungguh hatimu itu terbuat dari apa Arkana. Kau sering kali meragukan cinta Qania. Jika kau ragu, maka jangan lanjutkan. Dan ya, saya akan sangat lega jika itu terjadi dan juga saya akan mencarikan pria yang lebih baik darimu untuk putriku. Dan mas, aku mohon maaf atas kegagalan ini. Semoga mbak Ayu juga memaafkanku, aku tidak bisa melihat putriku seperti itu. Aku permisi" ucap Alisha kemudian bangkit dan berjalan dengan cepat meninggalkan dua pria yang saling mematung dengan pikirannya masing-masing.
___
"Jadi benar yang dikatakan Alisha?" tanya Setya pada Arkana ketika mereka tinggal berdua di ruangan tersebut.
Arkana diam, ia tidak tahu harus menjawab apa juga ia sangat takut jika benar mama Qania memutuskan hubungan mereka.
"Arkana, jawab papa" pinta Setya namun Arkana seakan tuli.
"ARKANA JAWAB PAPA" bentak Setya membuat Arkana tersadar dari lamunannya.
"Iya benar pa" jawabnya gugup.
"Oh jadi seperti ini kemauan kamu. Papa juga akan setuju jika memang mereka mau membatalkan pertunangan kalian. Papa tidak menyangkah, Qania yang selalu mencintaimu itu bisa kau ragukan. Hati mana yang tidak sakit jika di ragukan dan di curigai seperti itu padahal dia sudah sungguh dan sangat mencintaimu. Cih, entah apa yang ada di pikiranmu" Setya menggelengkan kepala sambil memberi senyuman sinis pada Arkana yang kini telihat melemas.
"Papa jangan gitu, papa harusnya bantuin aku pa" rengek Arkana.
"Kamu yang buat semua jadi seperti ini, papa nggak mau terlibat. Selesaikan sendiri, papa banyak urusan" ucap Setya kemudian meninggalkan Arkana yang kini diam membisu.
Arkana mengacak rambutnya, ia merasa serba salah. Ucapannya kemarin malah berbalik padanya dan ia menjadi tersudut saat ini, ia bingung harus apa.
"Gue nggak bakalan lepasin Qania, demi apapun gue nggak mau kehilangan dia, Arrgghhhhh" Arkana menjambak rambutnya frustasi.
Sementara di tempat lain, Qania tengah berbaring di tempat tidurnya sambil terus menanti Arkana menghubunginya, namun sampai saat ini tidak ada satu bentuk notifikasi dari orang tersebut.
"Apakah memang ini sudah berakhir?" isak Qania yang akhirnya meloloskan butiran bening dari kedua matanya.
*
*
__ADS_1