
Setelah makan malam, mereka berkumpul di teras rumah pak kadus, disana juga sudah ada pak Oge dan pak Mirad. Mereka tengah membahas tentang rancana program mereka yang akan dimulai besok.
“Besok sebaiknya kita keliling dusun dulu dan melihat keadaan sekitarnya karena hasil dari pengamatan kita nanti mungkin akan jadi program kerja kita nanti” ucap Abdi memulai pembahasan.
“Setuju” sahut Qania.
Dan mereka pun mulai membahas tentang seluk-beluk dusun tersebut sampai sebuah mobil berwarna hitam memasuki halam rumah pak kadus. Qania memicingkan matanya, melihat mobil yang tidak asing baginya, yaitu mobil yang biasa digunakan papanya saat perjalanan dinas. Namun yang keluar dari kursi kemudi justru orang yang sebaya papanya tapi bukanlah sang papa.
Pak kadus segera berlari menghampiri mobil yang sudah berhenti tersebut dan pintunya sedang dibuka.
“Papaa” panggil Qania saat melihat sosok yang keluar dari kursi di belakang kursi kemudi.
Papanya tersenyum sambil merentangkan tangannya menyambut putrinya yang berlari ke pelukannya itu.
“Papa ngapain disini pa?” Tanya Qania yang masih dalam pelukan papanya.
“Nengokin kamu” jawab papanya singkat.
“Mari masuk pak Zafran” ajak pak kadus.
“Pak Jaja kenal papa?” Tanya Qania melepas pelukannya dan beralih menatap ke pak kadus.
“Iya neng, papa kamu kan ketua DPRD di kabupaten kita dan biasa datang memberikan bantuan ke dusun. Wah rupanya kamu anak pak Zafran ya, maaf neng bapak tidak tahu” ucap pak kadus merendah.
“Saya Cuma anaknya pak, jangan merendah begitu lah. Anggap saja saya mahasiswi seperti yang lainnya oke, jangan pikirkan jabatan papa saya” ucap Qania sembari tersenyum lebar.
“Hallo om” sapa Elin yang datang mendekati Zafran kemudian mencium punggung tangannya.
“Eh Elin disini juga, bakalan rame nih” goda Zafran.
“Ishh om mah gitu, suka benar deh kalau ngomong. Kayak anggota dewan aja” celetuk Elin sambil mengedipkan sebelah matanya.
“Bukan sayang, om bukan anggota dewan tapi ketuanya, hehehe” gurau Zafran yang membuat mereka tertawa kecuali Manda yang sudah masuk ke dalam kamarnya.
“Om emang terbaik” ucap Abdi kemudian menyalimi Zafran, diikuti oleh Baron dan Prayoga yang sudah mengenal pria tersebut.
“Mari masuk pak” ajak pak kadus.
“Ayo semua. Oh iya Qan, ada titipan buat kamu di mobil” ucap papanya kemudian masuk ke rumah pak kadus bersama yang lainnya juga supirnya.
“Titipan?” Tanya Qania pada dirinya sendiri.
Karena tidak ingin berlama-lama Qania langsung membuka pintu mobil di belakang kursi kemudi.
“Hai”,.
Qania terdiam sambil menatap lekat wajah orang yang menyapanya itu.
Tes..
Air matanya langsung menetes saat menyadari bahwa inilah titipan yang diucapkan papanya.
“Sayang ngapain diam disitu? Sini masuk” ajaknya.
“Arkana Wijaya” ucap Qania pelan membuat pemilik nama terkekeh.
Ya, orang tersebut adalah Arkana Wijaya, kekasihnya. Dengan cepat Qania masuk ke mobil dan menutp pintunya.
“i..ini kamu?” Tanya Qania masih belum percaya dengan apa yang ia lihat.
“Menurut lo?”,.
“Hikss, aku rindu” isak Qania.
Arkana pun langsung membawa Qania ke dalam dekapannya.
“Hei sayang belum sehari loh ini. Kamu masih harus berada disini dan menahan rindu lima puluh sembilan hari lagi” ledek Arkana sambil mengelus rambut panjang Qania yang terurai.
“Ya tetap aja aku rindu, gue rindu sama lo tahu nggak” tandas Qania membuat Arkana mengeratkan pelukannya.
“Gue tahu, makanya gue disini nemuin elo” ucap Arkana menirukan gaya bahasa Qania.
Keduanya pun diam dan larut dalam perasaan dan pikirannya masing-masing sambil berpelukan.
Baron yang merasa resah karena Qania belum juga masuk padahal sudah hampir sepuluh menit pun memutuskan untuk keluar. Namun saat ia baru saja ingin menghampiri mobil tersebut justru mobilnya bergerak pergi meninggalkan halaman rumah pak kadus. Baron pun buru-buru masuk ke rumah untuk menanyakan pada papanya Qania.
“Hosshh, hossh”,.
“Om itu kenapa mobilnya pergi? Qania sama siapa?” Tanya Baron panic.
__ADS_1
Teman-temannya pun ikutan panik kecuali Zafran dan Rais yang merupakan supir dinas Zafran.
“Lah om, kok diam aja?” Tanya Abdi yang sudah khawatir.
“Tenang aja, di dalam mobil tadi ada pawangnya, hehe” jawab Zafran sambil tertawa pelan.
“Pawang?” beo Witno dan Raka bersamaan.
Zafran mengangguk, sementara Abdi, Baron dan Prayoga langsung tanggap. Mereka bernapas lega karena sudah tahu siapa yang membawa Qania pergi.
“Pawang om?” Tanya Elin yang duduk di sebelah Zafran.
Elin memang sangat dekat dengan Zafran karena dari kecil ia dan Qania selalu bersama. Zafran pun mengedipkan matanya sambil tersenyum membuat Elin ber oh ria.
“Arkana?” bisik Elin membuat Zafran tertawa lalu mengangguk pelan.
Witno yang melihat Elin berbisik menjadi sangat penasaran apalagi saat melihat Elin ikut tertawa bersama Zafran.
‘Sebenarnya ada apa sih?’ gumam Witno merasa sangat penasaran.
Bu Karni datang bersama Manda membawa nampan berisi teh hangat dan singkong goreng sebagai camilannya.
“Silahkan dinikmati, maaf pak hanya ini saja” ucap bu Karni mempersilahkan.
“Jangan sungkan bu, singkong goreng adalah camilan favorite saya” ujar Zafran sambil mencomot sepotong singkong yang terlihat masih panas.
“Wah ternyata selera kita sama ya pak” seru pak Oge yang juga langsung ikutan mengambil singkong goreng.
“Wah kamu nggak sopan Ge” tegur Mirad yang juga mengambil satu.
Gelak tawa terdengar di ruang tamu tersebut, sambil mengobrol dan menikmati camilan mereka.
*
*
Mobil yang dikendarai oleh Arkana berhenti di depan rumah yang ramai, terlihat di sana sedang ada perkumpulan muda-mudi yang tengah duduk di teras.
Qani menatap Arkana, mencoba menanyakan dimana mereka sekarang.
“Maaf sayang aku ngajak kamu kesini, ini posko kelompoknya Cika dan si Fero tadi nitip sesuatu buat Cika” ucap Arkana yang tanggap dengan pertanyaan kalbu Qania.
Qania dan Arkan turun dari mobil dan bergandengan tangan menuju ke rumah tersebut.
“Assalamu’alaikum” sapa Qania.
“Selamat malam” sapa Arkana.
“Wa’alaikum salam dan selamat malam juga” balas mereka kompak.
“Qania, Arkana” panggil Cika yang baru Saja datang dari dalam rumah.
“Hai Cik” sapa Qania dan Arkana bersamaan.
“Masuk yuk” ajak Cika.
Qania dan Arkana pun mengikuti Cika yang masuk ke dalam rumah.
“Yani kemana?” Tanya Qania saat sudah duduk di ruang tamu.
“Lagi pergi ke warung sama anaknya pak kadus sini” jawab Cika.
“Oh iya Cik, kita nggak bisa lama-lama. Gue kesini Cuma mau ngasih ini ke elo dari pacar lo yang katanya lagi rindu berat” ucap Arkana diselingi candaan.
“Ih apaan sih, malu tahu” pipi Cika merona mendengar ungkapan Arkana mewakili Fero.
Arkana memberikan sebuah bingkisan yang cukup besar yang ia bawa sedari tadi kepad Cika.
“Katanya buat pengganti pelukannya” ledek Arkana membuat Cika tertunduk malu.
“Aku nggak ada nih?” Tanya Qania menatap lekat kearah Arkana dengan sebelah alisnya terangkat.
“Ada kok” jawab Arkana sambil menyeringai membuat Qania bergidik ngeri.
“Ya udah kita pamit dulu, papa kamu mau jalan juga” ajak Arkana.
“Kok cepat sih?” keluh Cika.
“Maaf ya, lain kali pasti aku datang lagi” ucap Qania sambil merangkul Cika yang duduk di sebelahnya.
__ADS_1
“Iya deh” pasrah Cika.
“Salamin sama Yani” ucap Qania saat mereka berjalan keluar.
“Iyaa” sahut Cika sambil memeluk bingkisannya.
Qania dan Arkana bergegas masuk ke mobil dan mobil pun melaju dengan kecepatan sedang dengan tangan keduanya saling menggenggam.
“Jadi apa nih hadiah buat aku?” Tanya Qania sambil menoleh kearah Arkana yang tengah menyetir.
“Ada sayang ada” ucap Arkana kemudian memberhentikan mobilnya.
Arkana mendekatkan wajahnya ke wajah Qania dan kini hanya berharak lima sentimeter saja. Hal tersebut membuat Qania gugup, jantungnya ajep-ajep saat bibir Arkana bergerak kearah bibirnya.
Arkana mengecup bibir Qania dan perlahan mulai mel*matnya, Qania pun menikmati momen tersebut sambil menutup kedua matanya. Keduanya saling mencurahkan perasaan dengan berciuman cukup lama.
Ciuman pun diakhiri ketika keduanya sudah kehabisan pasokan udara di paru-paru mereka.
Arkana menangkup kedua pipi Qania, mengecup keningnya, hidungnya kemudian kedua pipi Qania. Qania pun menghilangkan gengsinya, ia melakukan hal yang sama dengan Arkana membuat Arkana tersenyum senang.
Arkana membawa Qania kedalam dekapannya, menghirup aroma rambut Qania dan menghujami puncak kepala itu dengan ciuman bertubi-tubi.
“Sayang” panggil Qania lirih.
“Iya sayang” sahut Arkana.
“Aku rindu” cicitnya.
“Aku juga rindu, sangat rindu kamu. Entah bagaimana nantinya melewati hari tanpa melihatmu, ditambah lagi signal di dusun kamu itu cukup memprihatinkan. Aku nggak tahu bagaimana nanti aku melewatkan setiap detikku tanpa mengetahui kabarmu, apakah kamu baik-baik saja atau kamu kenapa-napa”,.
“Aku rasanya ingin membawamu pulang agar aku bisa melihatmu kapanpun dan paling tidak aku bisa mengetahui kabarmu. Tapi di tempatmu saat ini, semua benar-benar menyesakkan dan sangat menyiksaku” Arkana menghela napas.
“Aku ingin berada disini bersamamu tapi itu tidak mungkin karena aku pun harus memenuhi keinginanmu untuk rajin bekerja karena enam bulan lagi kita bakalan nikah. Tapi aku nggak bisa, aku sungguh tidak mampu berjauhan denganmu” ungkap Arkana membuat Qania terisak di dadanya.
“Aku juga tidak bisa jika tidak melihatmu, kau tahu sendiri bagaimana kacaunya aku saat tidak melihatmu kemarin. Dan aku masih harus bertahan disini dua bulan lagi, hahh. Semuanya membuatku sesak” isak Qania.
“Aku tahu aku harus sabar, aku harus kuat dan aku harus yakinkan diriku untuk mampu melewati ini semua” lanjut Qania.
“Sayang, kamu harus jaga hatimu untukku, jaga mata dan telingamu. Aku tidak ingin siapapun menyentuhmu kecuali orang yang sudah ku percaya berada di dekatmu. Ingat pesanku” tegas Arkana.
“Kamu pun harus sama, justru harusnya aku yang bilang begitu. Secara aku di dusun dan kamu di kota, ya mata kamu lah yang harus di jaga” sanggah Qania.
“Pasti” ucap Arkana semakin mengeratkan pelukannya.
“Oh ya, mana bingkisan buat aku?” Tanya Qania yang teringat akan ucapan Arkana tadi.
Arkana melepaskan pelukannya, kemudian merogoh ponselnya di saku jaketnya.
“Kemarikan ponselmu, aku bakalan ngirim hadiahku” pinta Arkana.
Qania hanya menurut sambil penasaran.
Setelah mengirimkan bingkisan yang ia maksud, Arkana memberikan ponsel Qania kembali.
“Apa nih?” Tanya Qania.
“Nanti aja dilihatnya” jawab Arkana.
“Iya deh”,.
“Sayang” panggil Arkana.
“Iya sayang” sahut Qania.
“Maaf aku nggak bisa ngasih boneka kayak Fero ngasih ke Cika, aku bahkan nggak bawa satu pun benda buat kamu. Aku hanya menitipkan kalung dan cincin tunangan kita di atas jantungmu karena aku berharap setiap detakan jantungmu kau akan teringat akan diriku yang juga tengah mengingatmu”,.
“Aku tidak tahu apakah kita akan selamanya bisa bersama, tapi satu hal yang harus kamu tahu bahwa aku itu akan selamanya cinta kamu, selamanya sayang kamu dan kamu satu-satunya di hatiku” ungkap Arkana membuat mata Qania berkaca-kaca.
“I will always love you, kekasihku. Dalam hidupku hanya dirimu satu” Arkana menyanyikan sepenggal lagu sambil menggenggam tangan Qania.
“I will always need you, cintaku. Selamanya takkan pernah terganti” Arkana membelai lembut pipi Qania dengan sebelah tangannya.
“Ku mau menjadi yang terakhir untukmu, ku mau menjadi mimpi indahmu” Arkana pun kembali membawa Qania kedalam dekapannya.
Qania menumpahkan seluruh perasaannya melalui isak tangisnya, Arkananya ini selalu saja bisa membuatnya kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan perasaannya. Arkananya juga selalu saja membuatnya meleleh dengan hal sederhana namun sangat romantic bagi Qania.
‘Aku memang egois, karena aku menginginkanmu selamanya bersamaku Arkana Wijaya’,.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
__ADS_1