Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Boleh Pegang Pipinya?


__ADS_3

Sekitar pukul dua siang Tristan kembali lagi ke rumah sakit untuk mengecek keadaan Qania. Ia terus saja memikirkannya hingga dengan berjalan terburu-buru ia menabrak seorang anak kecil yang sedang berlari sambil memegangi ice creamnya.


Tristan membantu bocah itu berdiri, ia pikir anak itu menangis karena terjatuh di tanah, namun ternyata tidak.


"Kamu tidak apa-apa? Maaf Om tadi jalannya nggak hati-hati," ucap Tristan kemudian membawa anak itu dalam gendongannya menuju ke bangku di dekat taman rumah sakit.


Anak itu menggeleng membuat Tristan tersenyum lega.


"Kamu sama siapa tadi? Orang tuamu kemana?" cecar Tristan sambil menoleh ke kiri dan ke kanan mencoba mencari keberadaan orang tua anak ini.


Ia kembali menggeleng.


Anak ini punya siapa sih? Kenapa nggak ada orang tuanya, batin Tristan.


"Emang kamu ngapain disini?" tanya Tristan lagi.


"KTP," ucapnya.


Tristan mengernyit, ia bingung apakah anak ini meminta KTPnya atau KTP itu adalah suatu nama singkatan lain dari tanda kependudukan. Ataukah sebuah sinyal.


"KTP punya Om mana, aku mau lihat," ucapnya lagi.


Tristan menggelengkan kepalanya, kemudian ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan dompetnya lalu memberikan KTPnya pada anak tersebut.


"T-r-i," bocah itu terlihat kesal, "Kenapa nama Om susah sekali di eja ya," keluhnya.


Tristan tergelak, ia mengacak-acak rambut bocah kecil yang masih terus berusaha melafalkan namanya.


"Tristan, nama om itu Tristan," ucap Tristan masih terkekeh.


"Oh."


"Kenapa minta KTP, sih?" tanya Tristan penasaran.


"Soalnya kata kakek Setya kalau mau ngomong sama orang asing itu harus minta KTP, nanti kalau nggak kenal akunya diculik," jawabnya membuat Tristan kembali tergelak.


"Anak pintar," ucap Tristan mengelus kepala bocah itu.


"Kamu kenapa sendirian disini?" tanya Tristan lagi.


"Mami sakit, Om. Tadi aku keluar buat beli ice cream," jawabnya.


"Oh, terus Papinya?"


"Udah di surga, Om. Daddy aku udah di surga," lirihnya.


Tristan menjadi merasa tak enak hati karena sudah membuat bocah itu bersedih. Ia kemudian memeluknya sejenak.


"Maminya sakit apa?"


"Kecelakaan, Om."


"Nama kamu siapa?"

__ADS_1


"Arqasa, Om. Arqasa Wijaya. Kalau Om sendiri ngapain disini?"


"Mau jenguk calon istri, hehehe. Terus Mami kamu namanya siapa?" tanya Tristan lagi.


"Qania Salsabila Wijaya, Om."


Jadi dia anaknya Qania? Beruntung banget gue ketemu disini.


"Kamu usianya berapa?" tanya Tristan.


"Hampir lima tahun sih, Om. Tapi masih lama," jawabnya ambigu.


What! Empat tahun udah secerdas ini. Eh nggak heran sih, dia kan bibitnya Qania.


"Om dari tadi nanya-nanya mulu, terus pakai masker lagi. Aku kan jadi nggak bisa lihat muka Om," keluh Arqasa.


Tristan terkekeh, kemudian ia membuka maskernya dan melempar senyum manis pada Arqasa.


Namun senyuman itu memudar saat ia melihat wajah bocah itu menatapnya sendu.


Dia kenapa?


"Kamu kenapa sayang?" tanya Tristan kebingungan.


Arqasa menggeleng.


"Ada yang sakit? Kamu kenapa mau nangis?"


Tidak ada jawaban dari Arqasa, bocah itu meneteskan air matanya namun dengan cepat ia menghapusnya sehingga Tristan menjadi terheran-heran.


"Om ...."


"Iya."


"Boleh aku pegang pipinya?" tanya Arqasa lirih.


Tristan refleks memegang kedua pipinya sambil bertanya-tanya dalam hati.


"Wajah Om sangat mirip dengan Dad**dy aku," lanjut Arqasa.


Tristan akhirnya paham dengan kesedihan anak ini yang ternyata sedih karena melihat wajahnya. Ia mengangguk sambil tersenyum memperbolehkan Arqasa memegang pipinya.


Tangan mungil itu perlahan menyuntuh pipinya, sangat lembut dan nyaman untuk Tristan. Hatinya tersentuh melihat betapa bahagianya anak ini saat bisa menyentuh pipinya.


"Makasih Om," ucap Arqasa setelah melepaskan pegangannya.


"Sini Om peluk," ucap Tristan dan Arqasa pun langsung masuk ke dalam dekapan Tristan.


"Om tahu nggak aku itu sangat rindu sama Daddy, hanya saja aku udah nggak bisa lihat Dadddy bahkan nggak pernah lihat. Tapi lewat wajah Om aku bisa melihat wajah Daddy yang sangat aku rindukan.


"Om tahu tidak, Mami aku itu ternyata sangat bodoh," ucap Arqasa membuat Tristan mengernyit.


"Bodoh?" beo Tristan.

__ADS_1


"Iya. Jadi kan, Mami itu setiap malam selalu berdoa dan aku biasa dengar kalau aku terbangun," ceritanya.


"Emang berdoa bikin bodoh?" tanya Tristan terkekeh.


"Iya lah Om. Masa Mami tiap malam berdoa minta Daddy dibalikin sama Allah, udah gitu nangis sambil maksa-maksa Allah. Dulu aku tuh kalau dengar Mami doa kayak gitu aku juga ikutan berdoa. Tapi setelah aku tanya sama bu ustadzah temat aku ngaji, kalau orang udah meninggal itu nggak bakalan balik lagi.


"Tapi kenapa ya Om, Mami kok doanya selalu kayak gitu kalau di rumah. Aku kan jadi kasihan sama Mami, dia nggak tahu kalau orang udah meninggal itu nggak bakalan bisa balik lagi. Tapi aku nggak berani bilang ke Mami, nanti Mami makin sedih," cerita Arqasa, Tristan yang mendengarkannya pun ikut bersedih.


Jadi selama ini Qania selalu berharap Arkana kembali. Apakah itu lewat gue? Kalau emang gitu, doa lo terkabul Qania.


"Itu karena Mami terlalu sayang sama Daddy kamu, Nak. Oh ya, memangnya Mami nggak pernah dekat sama laki-laki lain?" selidik Tristan.


"Aku nggak ngerti Om," jawab Arqasa.


Tristan tertawa miris, bagaimana bisa ia menanyakan itu pada bocah empat tahun.


Hening kembali menyelimuti keduanya. Perlahan-lahan Arqasa kembali mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah Tristan.


"Aku pikir tadi Om itu adalah Daddy," lirihnya.


"Kalau begitu anggap saja Om ini adalah Daddymu," ucap Tristan tulus, ada perasaan sayang di hatinya untuk bocah tersebut.


Arqasa menggeleng. "Tidak bisa, Om. Kata Mami, nggak ada yang bisa gantiin Daddy dan Daddy nggak akan pernah digantiin oleh siapapun. Aku ingin menganggap Om seperti Daddyku, tapi maaf Om aku nggak bisa.


"Aku sudah melewati semuanya berdua dengan Mami. Kata Mami, Daddy masih ada di hati kami dan tidak akan pernah pergi. Mami saja nggak mau gantiin Dadddy, masa aku mau gantiin Dadddy sih."


Ada gurat kesedihan sekaligus kekecewaan di wajah Tristan. Ia sempat berpikir bisa lebih mendekati Qania melalui anaknya, akan tetapi dugaannya salah. Anak dan Ibu itu sama-sama berhati keras untuk tetap mempertahankan kedudukan Arkana Wijaya.


"Arqasa, pernah nggak kamu merasa kalau Mami kesepian?" tanya Tristan, ia berusaha mengacaukan pertahanan bocah tersebut.


"Mami selalu kesepian, Om," sahut Arkasa.


Bukan ini sih jawaban yang gue inginkan. Haihh rupanya anak ini tahu kalau ibunya merasa kesepian.


"Mami punya banyak beban pikiran Om, Mami itu kasihan karena harus berjauhan dari aku. Aku pernah dengar kalau Mami mau berhenti sekolahnya karena nggak sanggup jauh dari aku. Tapi kakek Setya terus bikin Mami semangat demi masa depan aku dan Mami.


"Aku pernah sakit tapi nggak berani ngadu ke Mami karena akan jadi beban pikiran Mami. Kasihan Mami, makanya kata Kakek aku harus tumbuh jadi lelaki hebat biar bisa melindungi Mami. Hanya aku pria milik Mami, Om. Jadi tiap aku sakit aku nggak mau cerita sama Mami, masa pelindung Mami cengeng sih. Aku harus lebih kuat dari Mami, biar bisa jagain Mami aku yang cantik itu.


"Andai Daddy masih ada ya, Om. Aku pasti bisa kayak teman-teman sekolahku yang diantar ke sekolah sama orang tuanya. Aku sedih sih, tapi kata Mami aku harus kuat. Aku kan anak laki-laki, pantang cengeng. Aku juga pengganti Daddy buat Mami, kata semua orang aku sangat mirip sama Daddy. Jadi, kalau aku rindu sama Daddy ya tinggal ngaca kata Mami."


Tristan terdiam mendengar curahan hati Arqasa, bocah kecil itu sudah bersikap dewasa sebelum waktunya. Mungkin didikan dari Qania yang membuat anaknya bisa bersikap seperti itu. Ia bahkan tidak melihat kesedihan di wajah Arqasa saat menceritakan keinginannya ke sekolah di antar oleh orang tuanya. Tristan tahu, anak itu sebenarnya sedang bersedih namun tidak ia pungkiri bahwa anak ini sangat pandai bermain ekspresi seperti induknya.


"Ya udah Om, aku mau masuk dulu. Nanti Mami cariin," ucap Arqasa bergegas turun dari tempat duduk mereka.


"Eh ... Om antar, ya," ucap Tristan terkejut dari lamunannya.


Arqasa tersenyum sambil menggeleng. "Nggak usah, Om. Aku bisa sendiri. Da da Om, senang bisa bertemu denganmu," ucap Arqasa kemudian berlari cepat meninggalkan Tristan yang masih terus menatap sendu padanya.


Aku harus kuat, aku nggak boleh cengeng. Aku tadi ingin nangis lihat om Tristan tapi nanti Mami marah kalau aku cengeng. Aku harus jadi laki-laki kuat, biar bisa melindungi Mami. Jangan cengeng, jangan nangis, jadi anak kuat. Hiksss, Daddy aku rindu Daddy.


"Anak itu sangat hebat, aku salut dan aku bangga pada kegigihannya. Andai dia bisa menjadi anakku dan aku bisa jadi suami Qania, betapa bangganya aku memiliki anak dari wanita hebat itu."


...🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻...

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca 🤗🤗🤗


__ADS_2