Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Jangan Takut


__ADS_3

Tristan bergegas menuju ke rumah Marsya malam itu juga karena mendapat telepon dari Marsya dan ia mendengarnya menangis histeris. Pikiran Tristan kacau. Ia menduga mungkin saja Marsya sudah mengetahui tentang penangkapan Papanya. Ingin sekali Tristan egois dan memilih untuk mencari Qania namun Marsya pun sangat membutuhkannya karena bagaimanapun saat ini statusnya adalah tunangan Marsya. Sangat jahat menurutnya jika mengabaikan kesedihan gadis itu.


“Ya, meskipun lebih jahat lagi karena dibelakangnya gue malah menjanjikan pernikahan dengan wanita lain. Gue emang jahat dan sadis, tapi ini soal hati,” ucap Tristan sambil mengemudikan mobilnya membelokkannya memasuki halaman rumah Marsya.


Salah satu pelayan membukakan Tristan pintu dan ia bergegas menuju ke kamar Marsya. Ia mendapati gadis itu tengah menatap kosong dengan masih ada genangan air mata disana. Tristan pun mendekati Marsya yang duduk di sofa sambil menatap keluar jendela.


“Sya,” panggil Tristan.


“Kenapa Tris? Kenapa?” isak Marsya. Ia tidak berbalik hanya untuk menatap pria yang sangat ia cintai itu.


“Sya kamu sebenarnya kenapa? Apa yang terjadi? Coba ceritain ke aku. Aku nggak tenang lihat kamu kayak gini,” ucap Tristan. Tidak mungkin ia langsung menebak penyebab Marsya menangis.


“Papa Tris, Papa,” ucapnya masih menangis.


Deg ....


“Papa kamu kenapa?” tanya Tristan degdegan.


“Aku tadi masuk ke ruang kerjanya dan nggak sengaja menemukan surat penangkapannya dari kantor polisi. Hikss, Papa sebenarnya ada masalah apa dengan Om Handoko? Kenapa Papa sampai ditangkap polisi?” tangis Marsya pecah dan ia pun langsung masuk ke dalam pelukan Tristan.


Tristan enggan membalas pelukan itu namun mendengar tangisan pilu Marsya ia pun akhirnya mengelus lembut punggung Marsya.


“Sya, aku nggak tahu apa yang terjadi sama Om Alvin karena kamu pun tahu kalau aku sama kamu nggak ada disini. Kamu doain aja semoga Papamu baik-baik aja. Kamu yang sabar Sya. Besok kita temui Om Alvin di kantor polisi biar kamu bisa tanyain masalahnya apa sampai harus ditangkap polisi,” ucap Tristan menghibur Marsya. Ia pun tidak ingin memberitahukan Marsya penyebab Papanya ditangkap polisi.


“Tapi Tris, selama ini, seumur hidup aku nggak pernah dengar Papa berbuat jahat dan melukai orang. Papaku orang baik. Kalau Om Handoko aku memang sering curiga dan kurang suka padanya. Jangan-jangan ini kasus Om Handoko dan dia menarik Papa masuk ke dalam masalahnya. Aku nggak terima Papaku terlibat kasus hukum apalagi sampai dipenjara. Aku nggak terima!” tangis histeris Marsya dan Tristan hanya bisa menghela napas.


Tristan ingin sekali bertanya kepada Qania tentang masalah sebenarnya namun jangankan bertanya, ia pun hanya ingin mendengar suaranya kini tak bisa lagi.


Baiklah, biar Marsya tenang dulu baru gue mikir tentang hubungan gue sama Qania, batin Tristan.


Tristan kali ini sangat dilema. Di satu sisi ia ingin menghibur Marsya karena gadis itu sedari dulu telah bersamanya dan selalu ia membagi masalahnya. Dari dulu Tristan selalu ada untuknya disaat-saat terburuknya. Dan disisi lain hubungannya dengan Qania pun sedang dipertaruhkan. Qania menjadi penuntut di kasus ini dan yang dituntut adalah orang terpenting dalam hidup Marsya. Salah benar dengan tuan Alvindo, Tristan tidak bisa memihak siapapun.


Memikirkan ini semua membuat Tristan pusing. Berada diantara dua pilihan itu sangat menyulitkan. Dengan adanya konflik ini pun ia semakin pesimis bisa meninggalkan Marsya dengan mudah. Marsya tengah terluka dan bahkan ada kemungkinan akan menderita jika tahu Papanya pelaku kejahatan dan akan dipenjara. Apa jadinya bila ia meninggalkannya demi Qania yang merupakan orang yang memenjarakan Papanya?


Memikirkan ini membuat Tristan tak bisa menemukan jalan keluar. Pikirannya buntu. Ia tak tahu harus berjalan ke arah mana dan harus berdiri disisi siapa.


Marsya terus menangis dan Tristan tak henti memberikannya penghiburan. Detik berganti menit hingga menit berganti jam. Gadis itu tertidur dalam dekapan Tristan masih menyisahkan tangisnya. Air mata masih terus mengalir dan membasahi pipinya. Tristan semakin tidak tega meninggalkan Marsya dalam kondisi seperti ini.

__ADS_1


Gue bakalan jadi pria paling jahat jika meninggalkannya demi Qania. Gue juga jadi pria paling pecundang karena nggak berani memperjuangkan cinta gue. Dan gue sekarang stress.


Setelah tak terdengar lagi racauan dari mulut Marsya, Tristan pun mengangkat Marsya dan menidurkannya di tempat tidur. Memakaikan selimut lalu menatapnya sebentar sebelum pergi meninggalkan rumah itu.


Di dalam mobil Tristan tak henti berteriak frustrasi dengan beberapa kali memukul setir mobilnya. Ia membelokkan mobilnya ke arah kontrakan Qania namun tak berani mengetuk. Ia yakin disana tidak ada orang.


Bingung tak tahu kemana arah dan tujuan, ia pun akhirnya kembali ke rumah pukul dua belas malam.


 


Pagi pun menjelang, suasana ruang makan Pak Erlangga begitu ramai karena banyaknya anggota yang turut sarapan. Ada keluarga Setya Wijaya dan ketambahan Pak Jayadi dan Aarav. Mereka menikmati sarapan dengan sedikit perbincangan ringan. Yang terlihat terburu-buru hanya Qania. Ia harus ke kampus hari ini dan menyelesaikan urusannya agar besok ia bisa segera ujian skripsi.


Berbeda dengan Qania, Tristan seharian ini terus mencarinya. Menunggui di depan kontrakannya dan bahkan dua kali ia bolak-balik ke kompleks perumahan Pak Erlangga hanya sekadar mencari tahu keberadaannya.


Marsya terus menanyainya dan ia hanya menjawab sedang sibuk mengurus pekerjaan tuan Alvindo yang terbengkalai karena masalah ini. Marsya tentu saja percaya dan lagi-lagi Tristan merutuki dirinya yang kian hari semakin lihai berbohong.


Malam menjelang, tak ada tanda-tanda keberadaan Qania di kontrakannya. Ia hampir gila karena tidak bisa mendapatkan kabar Qania.


“Sial! Kenapa baru terpikirkan sekarang sih?!” umpat Tristan. Ia pun melajukan mobilnya mencari warung yang menjual kartu perdana.


Tristan memilih sembarang kartu dan langsung mengisi pulsanya. Ia sudah tidak sabar menelepon Qania.


Siapa? Pikir Qania.


Ia mencoba abai namun lagi-lagi ponselnya berdering. Ia tidak tahu saja si penelepon itu terus mengumpat menunggu jawaban darinya.


Apa jangan-jangan berhubungan dengan kasus Pak Handoko? Batin Qania.


Qania pun mengangkat panggilan tersebut namun ia terdiam begitu mendengar suara dari balik sambungan telepon.


“Aku di depan rumah yang kamu tempati sekarang. Jika kamu tidak keluar maka jangan salahkan aku jika aku akan masuk dan memaksamu untuk menemuiku.”


Qania mendengus. Ia mana boleh membiarkan Tristan bertemu dengan Papa Setya.


“Baik. Aku akan keluar sekarang.”


Qania bergegas turun. Ia memutus sambungan telepon dengan sesukanya. Tristan tersenyum menyeringai. Ia bisa menebak jika Qania pasti akan menemuinya.

__ADS_1


Qania turun dan menuju ke ruang makan. Ada perasaan gugup jika harus berbohong namun lebih membahayakan lagi jika Tristan yang datang ke rumah ini.


“Pa, aku mau izin keluar. Ada janji sama Lala. Kasihan juga aku belum sempat menemuinya. Pak Erlangga, Tante, aku pamit ya,” ucap Qania.


“Hati-hati,” ucap mereka bersamaan.


Qania bisa bernapas lega. Ia berjalan keluar melewati halaman yang cukup luas. Ia bisa melihat tak jauh dari pos satpam ada mobil yang sangat ia kenali. Sambil berjalan mulutnya tak henti mengumpati Tristan. Sementara Tristan dalam mobil tersenyum penuh kemenangan melihat Qania yang datang dan langsung membuka pintu mobil. Duduk dengan wajah kesal membuat Tristan membuang muka agar Qania tak tahu bahwa ia sedang menahan tawanya.


“Katakan ada apa?” tanya Qania ketus.


“Apa seperti itu sambutan untuk calon suami yang sedang merindukanmu, hem?” tanya balik Tristan.


“Sudah kubilang jangan terlalu berekspektasi,” sentak Qania.


“Terserah apa katamu. Yang jelas malam ini kau hanya akan bersamaku.” Setelah mengucapkan itu, Tristan langsung mengunci mobil agar Qania tak kabur dan ia segera melajukan mobilnya tanpa peduli Qania yang terus menggerutu.


“Lagian kamu kenapa blokir aku? Aku ada salah apa sama kamu?” tanya Tristan sesekali melirik Qania.


Qania tidak bisa menjawab. Ia sadar betul kalau Tristan tidak memiliki kesalahan padanya.


“Tidak perlu dijawab. Qania, jangan takut. Aku ini bersungguh-sungguh dengan ucapanku. Marahlah dulu sepuas hatimu. Tapi ingat aku ini adalah tempatmu kembali, disini adalah rumahmu,” ucap Tristan kemudian sebelah tangannya ia gunakan untuk meraih tangan Qania. “Kamu ingatkan, aku pernah bilang kalau apa yang udah aku genggam nggak akan pernah aku lepasin. Aku akan berikan kamu waktu sebanyak mungkin untuk berpikir. Tapi bukan untuk berpikir menghindar, menjauh atau melupakanku. Aku hanya memberikmu waktu untuk menentukan kapan aku akan datang untuk melamarmu. Kapanpun aku akan langsung datang mengiyakannya. Aku akan beri kamu waktu. Jangan takut. Aku adalah orang yang bisa kamu pegang omongannya,” ucap Tristan, ia sedikit melirik Qania yang hanya tertunduk tak merespon.


Bukan tak ingin merespon, Qania hanya sedang berusaha menekan perasaannya. Siapalah yang tidak tersanjung mendengar ucapan Tristan barusan. Namun ia kembali terpikir tentang siapa Tristan sebenarnya. Qania sudah tak peduli dengan Marsya lagi karena ia memiliki satu keyakinan kuat yang menurutnya tidak ada yang bisa menentang itu.


“Terima kasih. Oh ya, suatu saat jika aku benar-benar menemukan keyakinanku padamu maka jadilah dirimu sendiri. Aku ingin kau membuatku menambatkan hati padamu karena itu adalah dirimu. Aku pun yakin kau juga sama, ingin dicintai sebagai dirimu sendiri,” ucap Qania membuat Tristan tersenyum tipis.


“Aku akan merebutmu Qania. Aku pastikan kau akan mencintaiku dan memandangku sebagai diriku yang sebenarnya, bukan karena bayang-bayang masa lalu,” ucap Tristan kemudian ia menciumi tangan Qania yang masih dalam genggamannya sementara Qania tak banyak bereaksi.


“Cobalah. Tapi aku sedang tidak ingin memikirkan itu karena besok aku akan sidang skripsi. Selain itu otakku juga menjadi buntu karena aku lapar. Jadi ....”


“Aku akan membawamu mencari tempat makan yang kau inginkan,” sambar Tristan cepat membuat Qania tak bisa menyembunyikan senyumannya.


Jika pun kau benar bukan Arkana, maka buatlah hatiku jatuh padamu karena kau adalah seorang Tristan. Mungkin takdir tak benar-benar kejam padaku dengan mengirimkan sosok pengganti seperti yang aku inginkan. Sosok yang tak ingin aku lupakan meskipun bukan dia tetapi aku bisa merasakannya. Dengan melihatnya saja rinduku terobati, namun aku tak tahu apakah ini sekadar penawar rasa sakit atau memang aku sudah mencintainya sebagai seorang Tristan Anggara.


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2