
Qania turun dari taksi dan berlari menuju ke ruangan yang diberitahukan oleh Lala di telepon. Dari semalam nek Nilam belum sadarkan diri dan ketika Qania baru saja mendaratkan kakinya ke kota tersebut ponselnya berdering dan itu panggilan dari Lala.
Lala memberitahukan bahwa nek Nilam sudah tidak bisa diselamatkan lagi sejak sejam yang lalu saat Qania masih di dalam pesawat dan Qania baru bisa dihubungi. Qania hampir saja terjatuh tadi namun ia teringat akan Lala sehingga ia mencoba menguatkan diri dan segera mencari kendaraan umum untuk segera menuju ke rumah sakit.
Qania mengatur napasnya begitu sampai di depan ruangan yang dimaksud oleh Lala. Setelah ia merasa enakan, barulah ia berjalan pelan ke ruangan yang dari luar sudah terdengar suara tangisan Lala.
Ceklek...
Lala menoleh begitu pintu ruangan terbuka, ia yang sedang menangis pun langsung berlari ke pelukan Qania. Wajahnya nampak begitu kusam dengan mata bengkak karena terus menagis.
“Kak, nenek sudah meninggalkan kita kak, hikss” tangis Lala dalam dekapan Qania.
Qania tidak bersuara, ia mendekap erat tubuh Lala mencoba menyalurkan kekuatannya. Entah mengapa mendengar kata meninggal tidaklah membuat air mata Qania menetes. Padahal hatinya sangat perih namun tetap saja tak ada setetes pun air mata yang lolos dari kedua netranya.
Qania melepaskan pelukannya dan berjalan mendekati brankar dimana nek Nilam sudah ditutupi oleh kain putih.
“Innalillahi wainnailaihirajiun” ucap Qania setelah membuka penutup tubuh nek Nilam, hatinya hancur namun ia tidak bisa meneteskan air matanya.
“Kak, aku nggak bisa bawa nenek keluar karena aku belum mengurus administrasinya” ucap Lala yang sudah berdiri di sebelah Qania.
Qania diam, ada rasa kesal karena pihak rumah sakit menghambat prosesi pemakaman nek Nilam namun ia juga paham itu sudah menjadi prosedur dari rumah sakit.
Qania menatap pilu wajah tua yang sudah ia anggap sebagai neneknya itu. Ia kemudian menutup kembali wajah nek Nilam.
“La, kamu tunggu disini dan kakak akan mengurus administrasinya” ucap Qania sambil berjalan untuk menuju ke bagian administrasi.
Setelah mengurus administrasi, Qania membawa nek Nilam di dalam mobil ambulans bersama Lala di dalamnya menuju ke rumah nek Nilam untuk dilakukan prosesi sebelum pemakaman.
Sesampainya disana, Qania dibuat tidak bisa berkata-kata dengan kondisi rumah yang sama sekali tidak ada penghuninya dan bahkan tidak ada orang yang menunggui mereka untuk mengurus jenazah nek Nilam.
“Kemana anak nek Nilam?” tanya Qania dengan memancarkan aura dingin kepada Lala.
“Mereka entah pergi kemana membawa kabur uang itu kak. Kita harus bagaimana sekarang?” jawab Lala yang kembali bertanya karena ia pun tidak tahu harus melakukan apa.
“Bagaimana?” tanya salah satu petugas dari rumah sakit yang turut mengantar jenazah, ia membuka pintu belakang mobil karena sudah merasa cukup lama menunggu.
“Bisakah kau bersabar sebentar? Kami juga sedang berpikir. Aku akan menambah upahmu jika kau keberatan menunggu lama” bentak Qania membuat Lala takut.
Petugas tersebut diam, ia menatap tidak suka kepada Qania karena merasa diremehkan.
“Ada apa ini?” tanya supir mobil tersebut yang ikut turun.
“Begini Pak, sebenarnya kami berdua bukanlah keluarga dari jenazah ini. Dan kami pun tidak tahu harus bagaimana karena tidak ada satu pun keluarganya disini” jawab Qania.
“Oh seperti itu masalahnya, mengapa tidak mengatakan sedari tadi. Kalau begitu mari kita kembali ke rumah sakit dan biarkan prosesinya di lakukan oleh pihak rumah sakit dan jenazahnya akan dimakamkan di TPU rumah sakit” ucap sang supir.
Qania awalnya merasa keberatan namun ia tidak bisa melakukan apa-apa karena ini bukan daerahnya.
“Bagaimana kak?” tanya Lala.
__ADS_1
“Ya sudah Pak, lakukan saja” jawab Qania mengikut.
Petugas yang tadi sempat bersitegang dengan Qania kembali menutup pintu mobil dan menuju ke depan lalu masuk bersama supirnya. Mereka pun kembali ke rumah sakit untuk memakamkan nek Nilam.
“Maafkan Qania, Nek” lirih Qania sambil menatap tubuh yang sudah terbujur kaku itu.
Pemakaman nek Nilam pun sudah selesai dilaksanakan, namun tidak di TPU rumah sakit karena tadi Qania berubah pikiran. Ia meminta supir dan satu petugas tersebut membawa jenazah nek Nilam ke TPU warga setempat dengan memberikan mereka imbalan. Dan akhirnya nek Nilam dimakamkan di TPU yang menurut Qania sangat tepat sebagai tempat peristirahatannya yang terakhir.
..................
Qania dan Lala tengah mengemas barang-barang mereka yang berada di rumah kost nek Nilam yang kini sangat sepi. Lala sedari tadi terus menangis karena teringat akan masa-masa selama berada di rumah yang nyaman baginya itu. Ia juga terus terkenang sosok nenek yang begitu menyayanginya.
Qania pun sama, namun ia sama sekali tidak menangis, hanya hatinya saja yang terasa pilu dan sesak namun tidak bisa menangis.
“Mungkin aku sudah terlalu banyak menangisi kepergian Arkana sehingga air mataku tidak bisa lagi keluar saat menyaksikan kematian di depanku” gumam Qania sambil mengisi barang-barangnya ke dalam koper.
Tak lama berselang Lala datang ke kamar Qania dengan membawa satu tas ransel dan dua kardus sedang yang berisikan barang-barangnya. Qania yang juga sudah selesai langsung saja mengajak Lala keluar.
Mereka sudah membersihkan rumah tersebut dan merapikan barang-barang yang sempat dirusak oleh anak buah rentenir itu semalam setelah mereka pulang dari panti asuhan untuk melakukan tahlilan nek Nilam. Qania meminta pihak panti asuhan untuk mengadakan tahlilan nek Nilam dengan ia yang mendanai semua kebutuhannya selama tiga malam kedepan.
“Kak, ayo kita pergi. Aku takut sebentar lagi rentenir itu datang dan melakukan hal buruk kepada kita” ajak Lala yang memang nampak ketakutan.
Qania yang memang tinggal menarik kopernya untuk keluar pun mengangguk mengikuti Lala. Ia menutup pintu kamar yang sudah setahun ia tempati itu. Lama Qania menatap ruangan di dalam rumah nek Nilam hingga beberapa foto mereka yang terpajang di dinding membuat hatinya remuk.
Qania berjalan dan mengambil foto berbingkai itu lalu memasukkannya kedalam kopernya begitu pun dengan Lala. Setelah itu mereka keluar dan menutup rapat pintu rumah tersebut namun tidak di kunci karena mereka tidak memiliki kuncinya.
Lala dan Qania berdiri menatap rumah tersebut dari halaman depan. Lala meneteskan air mata dan Qania hanya terdiam menahan sesak.
“Ya sudah, ikhlaskan saja” ucap Qania datar.
Lala terbengang, ia kira Qania akan menuntutnya dan juga anak buah rentenir itu. Namun apa yang ia pikirkan tidaklah sejalan dengan kenyataan.
“Kita sebaiknya cari taksi saja” ajak Qania yang diangguki oleh Lala.
Keduanya pun berjalan keluar dengan Qania yang membawa dua koper yang ia tarik dan Lala yang menggendong ranselnya serta menenteng dua kardus di tangannya.
Mereka terus berjalan mencari angkutan namun belum juga ada yang lewat sampai mereka berhenti di depan kafe yang menjadi saksi dimana Qania dipermalukan oleh orang yang berwajah sama dengan Arkananya.
Qania tersenyum kecut menatap kafe yang nampak ramai itu, ia berusaha menepis bayang-bayang Tristan dari ingatannya yang entah bagaimana tiba-tiba saja melintas di pikirannya.
Saat Qania dan Lala sedang melamun, satu taksi melintas di depan mereka dan untung saja Qania tersadar sebelum taksi itu menjauh.
“Pak antar kami ke hotel di dekat sini ya” ucap Qania ketika mereka sudah berada di dalam mobil.
“Baik mbak” sahutnya kemudian mulai menjalankan mobilnya.
“Ke hotel kak?” tanya Lala kaget.
“Iya, lagian kakak masih lelah. Kita istirahat dulu di hotel dan sore nanti kita akan mencari tempat kost” jawab Qania.
__ADS_1
Lala terbengang, ia masih belum percaya kalau Qania akan mengajaknya menginap di hotel. Qania yang melihat ekspresi lucu Lala yang masih terus menatapnya pun terkekeh.
“Ya, dan kalau kita tidak menemukan tempat kost maka kita akan menyewa hotel untuk tiga tahun ke depan” imbuh Qania yang sebenarnya ingin mengerjai Lala saja.
“Appaa? Menyewa hotel selama ti..tiga tahun kak?” pekik Lala membuat Qania menahan tawa sementara supir taksi hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
Qania hanya menjawab dengan anggukan yang mana membuat Lala semakin histeris.
“Kak aku tahu kau anak sultan tapi tidak juga harus tinggal di hotel selama tiga tahun. Apa kau tidak tahu berapa uang sewa kamar di hotel semalam saja?” cecar Lala dengan hebohnya.
“Kalau hotel milikku mulai dari kamar ratusan ribu sampai jutaan permalam” jawab Qania enteng.
“Appaaa? Hanya semalam sampai berbunyi juta? Hah apa kabar dengan dompet kak Qania yang hotelnya banyak dan beranak pinak itu” pekik Lala sambil membayangkan uang yang dihasilkan Qania dari uang sewa kamar hotel.
“Ya mungkin hampir seratus juta per malam” ucap Qania yang padahal ia pun tidak tahu berapa penghasilan papa mertuanya itu, ia hanya berniat mengerjai Lala saja.
“Se..seratus juta permalam?” Lala tergagap saking terkejutnya, ia rasanya akan terkena serangan jantung.
“Hmm, itu baru hotelku loh La. Belum lagi kafe, restoran dan beberapa jenis usaha yang lainnya” imbuh Qania, ia sebenarnya tidak ingin pamer, ia hanya menyukai ekspresi Lala yang menurutnya begitu lucu dan menggemaskan.
“Jangan diteruskan kak, aku bisa mati mendadak karena membayangkan berapa banyak uang yang akan masuk ke dompet kakak setiap hari” ucap Lala sambil menutupi telinganya.
Qania akhirnya memecahkan tawanya begitu mendengar ucapan Lala yang sungguh menggelitik hatinya.
“Tapi La, itu bukan uang milikku. Itu milih papa Setya” ucap Qania setelah puas tertawa.
“Oh aku kirain uang kakak semua, hah aku sampai tidak bisa bernapas karena memikirkan rupiah kakak” ucap Lala sambil mengelus dadanya.
“Nggak, aku Cuma dapat jajan setengah semilliyard kok sebulan”,.
“Oh Cuma setengah milliyard. Eh Apppaaaa?” pekik Lala membuat Qania kembali tertawa.
Lala terus memegangi dadanya sementara Qania memegangi perutnya yang terasa begitu sakit karena terus tertawa. Jangan tanyakan si supir taksi yang umurnya sudah sekitaran lima puluhan tahun itu, ia sama ingin menjerit seperti Lala namun ia tahan dan begitu ia mendengar tawa Qania, ia sadar bahwa gadis yang tengah memamerkan harta kekayaannya itu hanya sedang bercanda saja.
Lala terus mengatur detak jantungnya setelah mendapat senam jantung dari Qania di pagi menjelang siang ini. Sementara Qania, ia kini tengah mengobrol dengan supir taksi untuk menanyakan dimana saja lokasi kost yang tempatnya strategis dan lingkungannya nyaman.
Supir taksi berhenti di depan hotel berbintang dimana Qania pertama kali menginap saat datang untuk mengikuti tes masuk perguruan tinggi. Kembali Lala dibuat terkejut dengan kemegahan hotel tersebut, ia tak hentinya berdecak kagum.
“Makasih Pak, nanti jangan lupa besok pagi bapak datang ke hotel ini untuk membawa kami mencari rumah kost” ucap Qania setelah memberikan uang kepada supir taksi tersebut.
“Siap mbak” ucapnya senang.
Taksi tersebut pun berlalu, kemudian Qania mengajak Lala untuk masuk dan memesan kamar. Setelah mendapatkan kunci kamar mereka pun bergegas masuk. Karena lelah dan lapar, Qania hanya memesan makanannya dan Lala melalui aplikasi pemesanan makanan online.
Setengah jam menunggu akhirnya makanan mereka sampai dan keduanya makan dengan tenang. Setelah makan keduanya langsung terkapar di tempat tidur.
.......................
Terima kasih sudah membaca 🤗🤗🤗🤗
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻