
Matahari mulai menampakkan sinarnya, membuat Qania mengerjapkan matanya berkali-kali. Ingin hati lebih lama berada di alam mimpi, namun ia ingat dari semalam ia belum makan dan teman-temannya akan datang ke rumahnya pagi ini.
Qania meraba-raba guling yang ia peluk, namun ia merasa aneh.
‘Kok gulingnya keras dan hangat gini ya? Mana nyaman pula’ Qania yang belum membuka matanya pun menjadi penasaran sehingga dengan kekuatannya yang tersisa ia berperang dengan matanya yang masih ingin tertutup dan ia pun menang.
“Huaaaaaaaaaa” teriak Qania sangat terkejut mendapati dirinya tengah berpelukan dengan seseorang.
“Yaaaaaakkkk” teriak orang itu.
Sementara di meja makan, kedua orang tua Qania yang pulang tengah malam dan juga Syaquile yang tengah menikmati sarapan dibuat tersedak karena mendengar teriak dari lantai atas.
“Pa, kok kayak suara Qania ya?” Tanya mamanya.
“Lah emang non Qania nyonya. Kan semalam non Qania udah pulang” celetuk bi Eti yang sedang mengatur makanan yang baru saja selesai ia masak.
“Kalau Qania sudah pulang berarti….”,.
“Oh tidaaaaakkk” kali ini giliran mamanya yang berteriak.
“Astaga berarti non Qania tidur bersama nak Arkana” ceplos bi Eti.
Papa, mama dan adik Qania saling berpandangan kemudian mereka bergegas naik ke lantai dua dan masuk ke kamar Qania. Mereka melihat pasangan kekasih itu tengah bertengkar.
“Kau kenapa bisa ada disini?” Tanya Arkana masih syok.
“Harusnya aku yang Tanya kenapa kau ada disini. Aku kan jelas ada disini karena ini kamarku” sanggah Qania.
“Tapi selama kau tidak ada disini aku yang tidur di kamar ini”,.
“Apa kau tidak melihatku semalam ada di kamar ini hah?”,.
“Aku tidak melihatmu karena kamar gelap dan aku sangat mengantuk. Lagian kenapa pulang nggak bilang-bilang” tukas Arkana sedikit kesal karena tidak mendapat kabar dari Qania.
“Kau…”,.
“Sudah tidak usah bertengkar. Ayo cepat turun sarapan” lerai papa Qania.
Qania berjalan sambil menhentak-hentakkan kakinya menuju ke kamar mandi, sementara papa, mama dan adiknya kembali ke ruang makan.
Arkana menatap pintu kamar mandi Qania dengan senyuman yang sangat manis, ia tidak menyangka akan diberi kejutan saat bangun tidur berupa kepulangan kekasihnya dan juga mereka tidur bersama sambil berpelukan.
Semalam Arkana pikir ia bermimpi sedang tidur bersama Qania sambil berpelukan, tapi ternyata itu bukanlah mimpi melainkan kenyataan.
“Aku sangat bahagia bisa melihatmu ketika aku membuka mataku di pagi hari. Dan aku bahagia bisa tidur sambil memelukmu, meski pun tanpa aku sadari dan mengira itu hanyalah mimpiku saja karena terlalu merindukan Qaniaku” gumam Arkana.
Qania yang baru saja keluar dari kamar mandi menjadi salah tingkah saat melihat Arkana yang tengah tersenyum manis kepadanya.
“Selamat pagi istriku” sapa Arkana membuat Qania tersipu malu.
“Mendadak bisu kah? Mengapa kau tidak membalas sapaan suamimu ini?” Tanya Arkana dengan wajah yang dibuat kesal, tapi ia tak sungguh-sungguh.
“Dih narsis amat sih” ucap Qania kemudian berjalan ke arah pintu.
“Sayang, tidakkah kau ingin memelukku untuk melepas rindu?” rengek Arkana.
“Nggak, aku sangat lapar. Lagian semalam kan kau sudah mencuri kesempatan untuk tidur denganku dan memelukku” sindri Qania membuat Arkana mengerang frustasi.
“Semalam aku tidak tahu kalau aku tidur bersamamu sayang, jadi aku tidak merasa kalau kita sudah melepas rindu” sanggah Arkana namun Qania malah melenggang pergi meninggalkan Arkana yang tengah merajuk kepadanya.
*
*
Arkana terus mengikuti kemana pun Qania pergi, ia seperti anak itik yang mengekor di belakang induknya. Hal tersebut membuat Qania kesal namun di mata kedua orang tua Qania itu terlihat lucu.
__ADS_1
“Sayang, kau belum memberikanku bayaran atas kerinduanku” rengek Arkana yang kini berjalan di belakang Qania sambil menaiki anak tangga.
“Kau gila? Ini di rumahku dank au berniat berbuat mesum padaku” sentak Qania membuat Arkana menyengir.
“Berhenti dan jangan ikuti aku terus. Apa kau tidak punya kerjaan? Kau tidak masuk kerja? Apakah kau sudah di pecat?” Tanya Qania beruntun membuat Arkana kesal.
“Sayang ini kan hari sabtu, tentu saja aku sedang libur. Dan apa tadi katamu, aku di pecat? Asal kau tahu saja sayang, aku bahkan sudah beberapa kali memenangkan tender dan juga sudah berhasil membuka satu cabang hotel di kota M” ucap Arkana dengan bangga.
Qania tersenyum senang karena kekasihnya itu ternyata sangat pandai dan luar biasa. Ia sempat mengira bahwa kekasihnya itu hanyalah pembalap liar yang tidak memiliki masa depan selain di atas aspal. Ia bahkan tidak tahu bahwa kekasihnya itu akan segera di wisudah. Ternyata benar kata Arkana bahwa masih ada banyak hal tentangnya yang tidak di ketahui oleh Qania.
“Dih sombong” cibir Qania.
“Ya harus dong” sahut Arkana membuat Qania memutar bola matanya jengah.
‘Tuh kan sia-sia aku muji-muji dia. Baru di puji dalam hati gayanya udah selangit, gimana aku puji secara langsung, mungkin dia menganggap dirinya setara dengan dewa Yunani’ umpat Qania dalam hati.
“Sayang berhenti lah mengikutiku, aku ingin mandi. Kau carilah kamar lain untuk mandi, jangan ikut ke dalam apalagi sampai mengintipku” tegas Qania membuat Arkana menyeringai.
“Kau baru saja member ide untukku sayang” ucapnya dengan penuh maksud.
“Apa maksudmu?” Tanya Qania sambil menarik kembali tangannya yang ingin membuka pintu dan berbalik ke belakang.
“Maksudku, aku jadi tertarik ingin menagih bayaran rinduku di dalam kamar mandi. Bukankah kau mengatakan ingin mandi sengaja untuk mengundangku. Aku tahu kau hanya memberi kode, tenang sayang, aku sangat paham” jawab Arkana sambil tersenyum licik.
“Kau sudah gila” bentak Qania.
“Kau lebih gila karena memilih bertunangan dengan orang gila” ledek Arkana kemudian bergegas pergi meninggalkan Qania.
“Satu, dua, tiga”
“Arkanaaaaaaaaaaa” Qania berteriak kesal kepada pria yang sedang berlari kecil menuruni anak tangga.
“Hah rasanya membuatnya kesal adalah kebahagiaan tersendiri untukku” gumam Arkana kemudian berjalan ke kamar tamu untuk mandi.
*
*
Arkana tengah sibuk membawakan print sementara Qania membawa laptopnya ke ruang tamu, lalu Arkana masuk lagi ke kamar Qania untuk mengambil kertas. Qania meminta bantuannya karena ia akan mengerjakan laporan bersama teman-teman KKNnya sepuluh menit lagi.
Setelah semua bahan siap, ia memperlihatkan Arkana tentang laporan pertanggung jawabannya terlebih dahulu mengingat kekasihnya itu pasti sangat paham dengan urusan pengaturan keuangan karena sesuai dengan gelarnya sarjana manajemen.
Arkana memeriksanya sambil senyam-senyum membuat Qania merasa aneh, ia berpikir mungkin saja laporannya aneh atau banyak salahnya sehingga Arkana tersenyum mengejek laporan yang ia buat.
“Gimana sayang?” Tanya Qania gugup.
“Bagus, semuanya bagus. Tapi aku mau Tanya sesuatu sama kamu sayang” jawabnya sambil menatap Qania dengan tatapan menggoda.
“Tanya ya Tanya saja, nggak usah tatap-tatap kayak gitu” ketus Qania.
“Laporan yang sempurna, tapi sepertinya ada permainan di dalamnya” tandas Arkana membuat Qania tersentak dan langsung menyengir.
“Kok tahu sih?” Tanya Qania sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Tahu lah, kalian bangun apa saja dan memberikan apa saja itu sangat tidak sesuai dengan dana yang kamu cantumkan sayang. Mana mungkin uang sebesar lima belas juta bisa membangun dan memberikan fasilitas seperti ini semua” papar Arkana membuat Qania kembali melihat laporannya.
“Iya sih sayang, kan aku nggak mungkin kasih tahu kalau aku pakai uang pribadiku dan juga uangmu sertra uang papa” ucap Qania sambil berpikir cara baru untuk mengubah laporannya.
“Hm gini aja sayang, kamu tulis saja sumbangan dari papa kamu dan nanti kamu jelaskan kebetulan ada kunjungan disana dan kalau sumbangan aku, bilang aja ada pemerhati sekolah di pelosok yang datang saat kalian sedang KKN. Kamu nggak perlu cantumin buku-buku dan alat tulis menulis, cukup dana pembangunannya saja. Aku takutnya kalian akan mendapat kesusahan saat sidang laporan pertanggungjawaban nanti, bisa saja berbagai macam tuduhan dilayangkan ke kalian entah kalian yang dituduh korupsi atau penyalahgunaan dana desa yang sudah ada namun kalian cantumkan sebagai dana kalian” Arkana menjelaskan seperti dalam ruang rapat, singga Qania bukannya memperhatikan penjelasan Arkana ia malah sibuk mengagumi kekasihnya itu.
“Sudah puas memandangiku hah?” sentak Arkana membuat Qania menggeleng reflex.
Arkana tertawa kemudian meletakkan laptop Qania di atas meja dan membawa kekasihnya ke dalam dekapannya. Arkana mencium mesra kening Qania cukup lama.
“Aku sangat merindukanmu sayang” lirih Arkana setelah menyudahi acara mencium dahi itu.
__ADS_1
Qania semakin mempererat pelukannya, ia menghirup aroma tubuh yang begitu sangat ia rindukan itu.
“Aku sangat dan amat terangat sangat merindukanmu, Arkana Wijayaku” ucap Qania lirih, dengan setetes air mata lolos dari indera penglihatannya itu.
Raka yang sengaja datang lebih awal mengurungkan dirinya untuk menyapa Qania karena tidak sengaja melihat adegan mesra tapi sayangnya justru meremukkan hatinya itu. Raka berbalik arah dan berjalan ke rumah Elin meninggalkan sepeda motornya di depan pagar rumah Qania.
Elin yang baru saja keluar dari rumahnya menatap heran kepada Raka yang bukannya pergi ke rumah Qania malah ke rumahnya.
“Raka” panggil Elin yang terburu-buru membuka gerbang rumahnya.
“Eh Felin” sapa Raka.
“Kok nggak langsung masuk ke rumah Qania saja?” Tanya Elin sambil berjalan mendekati Raka.
“Gue nggak PD datang sendirian” jawab Raka berbohong.
“Ya ampun, emang kemana tuh si tanpa pamrih? Kok kalian nggak bareng?” Tanya Elin.
“Bentar lagi dia datang kok, tadi ada urusan” jawab Raka asal.
“Kalau begitu yuk kita ke rumah Qania” ajak Elin sambil berjalan mendahului Raka.
“Ck,ck,ck, ya ampun kita datang mau buat laporan bukan buat melihat kemesraan kalian” Elin menggelengkan kepalanya sambil berkacang pinggang.
“Hehe maklum lah” kekeh Arkana.
“Yuk Raka, kita masuk” ajak Elin sambil berjalan masuk dan duduk di sofa di samping Qania.
Mendengar nama Raka entah mengapa membuat Arkana memasang keamanan penuh pada Qania. Ia begitu takut Raka akan merebut Qanianya dari genggamannya, padahal ia tahu Qania begitu mencintainya dan hanya dirinya saja yang ada di hati Qania.
Raka pun memberi salam dan berjalan masuk ke rumah Qania sambil tersenyum manis. Ia duduk di sofa yang berhadapan dengan Arkana yang tengah menatap intens kepadanya.
‘Gila, lirikan mata tunangan Qania ini bikin gue nggak berkutik’ umpat Raka dalam hati.
Tak lama setelah itu, teman-teman mereka mulai berdatangan dan terakhir pasangan yang tengah hangat-hangatnya itu muncul barulah mereka memulai pembahasan mereka.
Meski pun Arkana merasa risih karena tidak memiliki kepentingan disana, ia tetap bertahan karena tidak ingin meninggalkan Qania. Entah mengapa hatinya terus merasa ketakutan seolah Raka akan menculik Qania dan membawanya pergi dari sisi Arkana.
“Di, gimana kamu udah siapin nggak laporan pertanggung jawaban?” Tanya Qania mencoba menggoda Abdi yang jelas-jelas ia tahu Abdi sama sekali tidak mengerjakannya.
“Ya belum lah Qan, bukannya kamu udah buat ya?” Abdi balik bertanya.
“Udah sih, tapi kata Arkana itu harus diubah karena dana dan pengeluaran kita sangat berbeda jauh” ujar Qania sambil melirik Arkana dengan ekor matanya.
“Kok bisa?” Tanya mereka serempak.
“Ya soalnya semua kegiatan kalian mulai dari pembangunan masjid, penyediaan perpustakaan, renovasi ruang kelas, taman baca, pengadaan buku bacaan dan buku pelajaran sampai alat tulis menulis itu jumlahnya lebih besar dari dana yang kalian kumpulkan. Benar, nggak?” Tanya Arkana dengan memaparkan satu persatu kegiatan mereka.
“Benar juga ya, kita kan dapat dana dan beberapa fasilitas dari elo dan bokapnya Qania” sahut Baron mulai paham.
“Nah itu udah paham. Jadi kalian sebaiknya berunding, apa-apa saja yang ingin kalian masukkan di kegiatan kalian, maksud gue program kerja apa saja yang kalian lakukan dengan dana kalian yang seadanya. Gue tahu kalau tunangan gue ini sebenarnya sedikit mau pamer kehebatan kelompok kalian yang memiliki banyak kegiatan yang sangat baik dan sangat bermanfaat saat nanti kalian akan mempresentasikan laporan kalian. Kalian kan tahu Qania itu tidak mau kalah dengan yang lain dan dia maunya semua yang berhubungan dengannya itu sempurna. Tapi sayang, dia tidak memperhitungkan sampai kesana” ucap Arkana sambil melirik Qania yang tengah menganga karena disebut seperti itu oleh Arkana.
“Ah lo benar Ka, dia emang selalu mau tampil sempurna karena dosen walinya juga dosen yang selalu sempurna” seru Prayoga membuat Qania berganti meliriknya dengan tatapan sinis tapi Prayoga malah acuh karena ia tahu ada Arkana yang bisa menenangkan Qania.
“Gue setuju sama yang dikatakan Arkana, karena bagaimana pun dana kegiatan yang kita lakukan disana itu melebihi dana yang sudah disepakati bersama oleh pihak kampus” seru Ikhlas dengan tampang seriusnya.
“Iya, bisa-bisa kita dituduh menggunakan dana desa terus kita masukin sebagai program kerja kita. Habis kita kalau sampai dituduh seperti itu” timpal Witno.
“Terus gimana dong sayang?” Tanya Qania bermanja membuat Arkana menatapnya sambil tersenyum manis.
‘Oh my God, senyumnya oh senyumnya kenapa buat gue meleleh. Bisa nggak sih tukar posisi Qan’ batin Manda.
‘Arkana sangat tampan pakai banget, senyumnya juga sangat menawan. Apalah gue yang nggak dianggep oleh Qania’ batin Raka.
“Ya sebaiknya kalian diskusiin dulu, saran gue sebaiknya masalah pengadaan perpustakaan kalian tukar dengan renovasi ruang kelas atau sebaliknya. Sementara untuk buku dan alat tulis menulis bisa kalian lampirkan dan katakana saja ada pemerhati sekolah datang dan memberikan itu sebagai sumbangan, dan kalian nggak perlu sebutin itu entah gue atau papa, katakan saja seperti itu” tambah Arkana.
__ADS_1
Semuanya pun saling menatap dan mulai mendiskusikan apa-apa saja yang akan mereka masukkan dalam program kerja mereka.
...☘☘☘☘☘☘☘☘☘...