
Qania dan Tristan sama-sama terdiam di dalam mobil yang kini melaju menuju ke restoran tempat Raka meminta Qania untuk datang. Jika Tristan diam karena sibuk memikirkan rencana untuk menaklukkan hati Qania, berbeda dengan apa yang tengah Qania pikirkan. Ibu satu anak itu tengah berpikir langkah apa yang akan ia ambil untuk menjauhi kedua pria yang menginginkannya itu.
Aku harus apa ya Tuhan, batin Qania.
Tak lama kemudian mobil Tristan terparkir di parkiran restoran, keduanya pun turun masih dalam keheningan. Tristan yang tadinya ingin membukakan pintu mobil untuk Qania justru kalah cepat. Dan saat ini, Qania sudah berjalan masuk meninggalkan Tristan yang mematung sambil menatap punggung Qania yang semakin menjauh.
"Kenapa dia diam saja dari tadi? Jangan bilang dia tadi sedang memikirkan cara untuk meninggalkan aku dan menerima cinta dari pria itu. Awas saja kalau sampai itu terjadi," kesal Tristan yang kemudian berjalan masuk ke dalam restoran namun ia mengambil jarak dari Qania yang tengah berbincang dengan Raka.
"Besok Lo ke kampus, Qan?" tanya Raka.
"Hmm ... besok kami akan mempresentasikan laporan KKN," jawab Qania.
"Jadi keingat waktu kita KKN dulu. Eh, ngomong-ngomong soal KKN, gue nggak nyangka KKN mempertemukan gue dan Lo meskipun waktu itu cinta gue bertepuk sebelah tangan. Hihihi. Nggak tahu kalau sekarang gimana," celoteh Raka membuat Qania trsenyum kala kenangan KKN mereka kembali melintas di benaknya.
"Kamu benar Raka. Hah ... aku jadi merindukan masa KKN kita dulu, sangat mengesankan bagiku," ungkap Qania, hatinya terasa ngilu karena merindukan kenangan KKN bersama teman-temannya dulu.
"Silahkan dinikmati," ucap pelayanan yang mengantarkan makanan mereka.
"Terima kasih," ucap Qania dan Raka hampir bersamaan.
"Ayo kita makan," ajak Raka.
"Ayooo ...."
Qania membaca doa kemudian mulai menyantap makanannya.
Sementara itu di meja agak jauh dari mereka, Tristan mengepalkan tangannya karena melihat Qania yang sedang makan bersama pria lain dan juga bercanda ria.
"Harusnya gue yang duduk disana atau Qania yang duduk disini," gerutu Tristan.
Karena kesal melihat kemesraan yang terlihat antara Qania dan Raka, Tristan pun memutuskan untuk pergi melakukan sesuatu.
Qania yang memang sedari tadi sesekali mencuri pandang kepada Tristan pun mengernyit saat tidak melihat Tristan lagi.
Kemana dia? batin Qania.
"Qan, Lo kenapa?" tanya Raka yang melihat Qania seolah sedang mencari sesuatu dan terlihat bingung.
"Eh, enggak kok. Tadi aku pikir yang makan di pojok sana itu teman sekelas ku. Eh ternyata bukan," jawab Qania berkilah, Raka pun mengikuti arah pandang Qania.
"Oh yang sana. Iya sih, sedikit mirip sama teman kamu yang suka pakai lipstik itu," ucap Raka menimpali.
What? Mae maksudnya? Yang mana sih yang Raka lihat?
"Mae maksud kamu?" tanya Qania yang sedang sibuk mengedarkan pandangannya mencari sosok yang dilihat oleh Raka.
"Ah iya, dia," ucap Raka.
Qania hampir tertawa karena melihat sosok yang dilihat oleh Raka yang memang adalah Mae yang kini tengah duduk menikmati makanannya sendirian. Ingin rasanya Qania menghampiri namun ia urungkan karena sudah terlanjur berbohong kepada Raka eh justru temannya memang ada disini.
"Ya udah sih, kita makan lagi," ucap Qania mengalihkan.
"Tentu."
Saat Qania dan Raka sedang menikmati makanannya, dari panggung kecil khusus penyanyi restoran ada seorang pria yang sudah mengenakan topi dan kacamata hitam sedang duduk sambil memangku gitar. Lampu yang temaram membuat pengunjung restoran tidak begitu jelas melihatnya.
"Selamat malam semua. Apa kabarnya malam ini? Semoga baik-baik saja ya. Gimana, masih ingat nggak sama saya? Jangan-jangan udah pada lupa sama penyanyi yang nggak ngetop ini?" tanya pria tersebut.
"Wah dia kembali ...."
"Ingat sayang ingat ...."
__ADS_1
"Siapa sih?"
"Ayo cepat bernyanyi, kami merindukan suara emasmu ...."
"Hehehe ... terima kasih untuk para sahabat yang masih mengingat saya. Malam ini saya akan membawakan lagu spesial untuk seseorang yang sedang berada di tempat ini. Ungkapan hati saya dan semoga dia mengerti dan bisa menerima perasaan saya. Untuk seseorang yang tidak bisa disebutkan namanya, this song for you. Dan buat sahabat semuanya, mari berdansa," ucapnya kemudian mulai memainkan gitarnya dan beberapa pasangan pun sudah berbondong-bondong untuk mengambil posisi di lantai dansa.
Can I call you baby?
Can you be my friend?
Can you be my lover up until the very end?
Let me show you love, oh, I don't pretend
Stick by my side even when the world is givin' in, yeah
Oh, oh, oh, don't
Don't you worry
I'll be there, whenever you want me
I need somebody who can love me at my worst
Know, I'm not perfect, but I hope you see my worth
'Cause it's only you, nobody new, I put you first
And for you, girl, I swear I'll do the worst
If you stay forever, let me hold your hand
I can fill those places in your heart no else can
I'll be right here, baby, you know I'll sink or swim
Oh, oh, oh, don't
Don't you worry
I'll be there, whenever you want me
I need somebody who can love me at my worst
Know, I'm not perfect, but I hope you see my worth, yeah
'Cause it's only you, nobody new, I put you first
And for you, girl, I swear I'll do the worst
I need somebody who can love me at my worst
No, I'm not perfect, but I hope you see my worth
'Cause it's only you, nobody new, I put you first
And for you, girl, I swear I'll do the worst
Tanpa terkecuali Raka yang memaksa Qania untuk berdansa. Awalnya Qania bersikeras untuk menolak, namun Raka terus merengek dan akhirnya Qania pun menyetujuinya.
Entahlah, tapi Qania sangat hapal suara itu. Suara yang begitu mirip dengan Arkana namun ia pun sangat sadar kalau orang yang saat ini tengah bernyanyi itu adalah Tristan.
__ADS_1
Kenapa aku merasa Tristan menyinggungku lewat lagu ini ya? batin Qania.
Ia terus berdansa bersama Raka sambil sesekali melirik pada Tristan yang ternyata terus menatap tajam padanya meskipun sedang bermain gitar sambil bernyanyi. Tatapan mata Tristan membuat Qania kesulitan menelan ludahnya. Tatapan itu seperti berkata 'beraninya kau berdansa bersama pria lain di hadapanku, Qania. Aku yang bernyanyi untukmu tapi kau malah berdansa dengan pria lain. Awas saja kau, aku akan memberikan hukuman untukmu setelah ini'.
Qania yang terus bertatapan dengan Tristan tanpa sadar menginjak kaki Raka.
"Aw," rintih Raka yang membuat Qania terkejut.
"Eh, ma-maaf Raka," cicit Qania.
"Nggak apa-apa kok Qan, kamu kenapa sih?' tanya Raka menyudahi dansanya dan tanpa ia ketahui Qania menghembuskan napas lega.
Qania bukannya takut kepada Tristan, melainkan ia merasa risih bersentuhan dengan pria lain sedekat itu. Tubuhnya menolak sentuhan dari pria lain selain Arkana dan entah mengapa ia pun tidak merasa risih jika bersentuhan dengan Tristan.
"Aku lelah, aku juga udah ngantuk," jawab Qania. "Udah jam sembilan lewat juga." Qania melirik jam tangannya.
"Ya udah kita pulang," ajak Raka dan Qania pun hanya mengangguk.
Tanpa pamit pada Tristan, Qania mengikuti Raka dan pulang bersamanya menaiki motor.
"Ya ampun ...." pekik Qania.
"Kenapa Qan?" tanya Raka mengerem motornya mendadak.
"Raka, besok aku ada presentasi laporan KKN dan aku belum print out laporannya," ucap Qania panik.
"Astaga, terus gimana?" tanya Raka ikutan panik.
"Kamu mending sekarang ngebut antar aku ke rumah. Biar aku bisa cepat cetak laporannya. Duh gimana bisa lupa gini sih, padahal aku udah berusaha ingat tadi pagi," gerutu Qania.
"Ternyata miss Perfect bisa lupa juga ya," ledek Raka kemudian kembali melajukan motornya.
"Dih, aku kan juga manusia biasa," ucap Qania membela diri.
Raka hanya tertawa mendengar Qania yang sepertinya sedang cemberut karena perkataannya. Dan tak lama kemudian mereka pun sampai di rumah kontrakan Qania.
"Makasih untuk makan malam gratisnya," ucap Qania saat ia sudah turun dari motor Raka.
"Sama-sama. Gue juga mau bilang makasih karena Lo udah bersedia makan bareng gue," ucap Raka kemudian memasang kembali helmnya.
"Iya."
"Ya udah, sekarang kamu masuk dan cepat kerjain laporan kamu. Besok kamu harus presentasi, kan? Jangan begadang dan jangan maksain diri ya," nasihat Raka.
"Dih, cuma cetak laporan doang," ucap Qania sewot.
"Hahaha ... iya ya. Kalau gitu aku pamit ya, selamat malam Qania Salsabila," pamit Raka.
"Selamat malam, Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam," balas Raka.
"Hati-hati di jalan," pesan Qania dan Raka pun mengangguk.
Setelah Raka pergi, Qania pun masuk ke rumah. Namun baru saja ia akan menutup pintu rumah itu, sebuah tangan kekar menghalangi tindakannya dan Qania pun terkejut melihat tatapan mata yang tajam bak elang yang sedang mengincar mangsanya sedang menatap kepadanya.
"Tri-Tri-Tristan?"
.... . . . ...
Terima kasih sudah membaca 🤎🤎🤎🤎
__ADS_1
...❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️...