Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Berkunjung ke Makam


__ADS_3

Suara alat makan kini terdengar dari ruang makan kediaman Zafran Sanjaya. Saat ini mereka tengah menikmati sarapan mereka yaitu nasi goreng. Tak ada obrolan karena masing-masing dari mereka tengah sibuk dengan makanan dan pikirannya masing-masing.


“Kak..” panggil Syaquile saat mereka sudah menghabiskan sarapannya.


“Ya..” Qania menoleh padanya.


“Nggak, kakak nggak ngampus?” tanyanya.


“Nggak dek, tinggal nunggu hasil ujian minggu depan keluar. Kenapa?” tanya Qania menatapnya.


“Nggak, sebentar habis jum’atan kita ke mall yuk” ajak Syaquile.


“Boleh, emang ada yang mau kamu beli?” tanya Qania.


“Iya..” jawabnya.


“Tumben ngajak kakaknya” ledek Alisha.


“Kan biasanya bareng kak Tosan ma, tapi sekarang kan…” Syaquile tidak melanjutkan kata-katanya karena mereka sudah paham.


“Ya, tentu kakak akan mememanimu hari ini. Kita kan jarang jajan nih, kita kuras saja uang papa” kata Qania menyeringai.


“Ide bagus kak” kata Syaquile setuju.


“Ya silahkan, papa nggak keberatan. Lagian nggak lama lagi anak papa akan diambil orang dan nggak bakalan minta ke papa lagi” ucap Zahran.


Dan..


Hening…


Dua menit kemudian..


“Ah papaa…” Qania berjalan menghampiri papanya lalu memeluknya dengan erat.


Seketika ruangan tersebut menjadi penuh haru, bahkan bi Eti yang mendengarnya pun ikut terharu.


“Sudah, kita nggak boleh cengeng. Kita nikmati saja waktu-waktu kita bersama ini” kata Zafran memecah suasana.


“Iya, papa benar” sahut Alisha.


“Kak..”


“Iya dek” Qania melirik Syaquile yang masih tertunduk.

__ADS_1


“Aku..”


“Sini peluk” panggil Qania, ia sudah merentangkan tangannya dan dengan cepat Syaquile mendekatinya dan mereka saling berpelukan.


“Kalau dia buat kakak nangis, bilang ke aku. Biar aku tendang dia ke kutub utara” kata Syaquile membuat yang lainnya tertawa.


“Emang bisa gitu?” ledek Alisha.


“Bisa lah ma, aku kan jago silat” jawabnya.


“Iya deh. Ya sudah sana gih berangkat ke sekolah, nanti telat” kata Qania sambil membelai rambut Syaquile yang masih dalam pelukannya.


Syaquile yang memiliki postur tubuh lebih tinggi dari Qania pun sudah merasa pegal karena menunduk menyesuaikan dengan tinggi kakaknya.


“Iya, aku berangkat. Assalamu’alaikum” katanya kemudian mencium tangan anggota keluarganya.


“Hati-hati, wa’alaikum salam” jawab ketiganya.


...


“Apa kabar mbak Ayu? Aku harap mbak baik-baik saja di sana” ucap Alisha sambil mengelus nisan Ayumi.


Zafran, Alisha, Qania, Arkana dan Setya kini sudah berada di makam Ayumi. Tadi Setya datang bersama supirnya dan Arkana membawa motor sportnya sendiri. Sementara Qania datang bersama kedua orang tuanya.


“Hai ma, mama apa kabar di sana? Aku udah datang bersama calon mantu pilihan mama” ucap Arkana sambil tersenyum namun meneteskan air mata.


“Ma, kami datang menyapa mama dan membawakan kabar bahagia yang mama tunggu selama ini. Papa minta maaf karena baru membawa mereka kemari ma. Maafkan papa yang baru ingat saat mama datang ke mimpi papa, papa harap mama sudah bahagia saat ini” lirih Setya.


“Ayu, ternyata tanpa kita pertemukan justru anak-anak kita lah yang lebih dulu menjalin hubungan. Pasti di sana kau sudah tertawa lebih dulu dan mengejek kami yang tidak menyadarinya, hehehe. Aku harap kamu bisa ikut merasakan kebahagiaan ini dari sana” ucap Zafran, kemudian mengelus punggung Setya.


Setelah hampir sejam mereka disana, Setya beserta kedua orang tua Qania pun pulang meninggalkan Qania dan Arkana di sana.


“Ma, terima kasih sudah memilihkan aku seorang gadis yang terbaik. Walaupun aku tidak tahu bagaimana rasanya kasih sayang mama, tapi dengan memilihkan aku seorang gadis sepertinya aku merasakan bahwa mama begitu sayang padaku” Arkana menghela napas, “Ma, semoga mama baik-baik saja di sana. Aku janji akan menjaga dan menyayangi pilihan mama ini setulus hatiku, seumur hidupku ma. Mama jangan lagi mengkhawatirkanku di sana. Mama berbahagialah, aku sayang mama. Ma, aku rindu..” ucap Arkana di akhiri dengan tangis kerinduan seorang anak yang tidak sempat merasakan bagaimana kasih sayang seorang ibu.


“Sabar sayang, tante Ayu pasti sudah tenang di alam sana” ucap Qania sambil mengelus punggung Arkana.


Arkana menyandarkan kepalanya di bahu Qania, seolah meminta di kuatkan hatinya. Qania beralih membelai rambut Arkana dan menghapus jejak air mata di pipi Arkana.


“Makasih tante Ayu, makasih karena sudah melahirkan Arkana. Qania tidak tahu harus dengan kata apalagi untuk mengungkapkan rasa terima kasih Qania karena tante sudah melahirkan pria yang sangat Qania sayangi dan cintai juga menyayangi dan mencintai Qania. Terima kasih tante” ucap Qania sambil menitikkan air matanya.


“Kata-katamu sungguh manis sayang” goda Arkana membuat Qania tersenyum sesaat. “Maka dari itu, menikahlah denganku secepatnya dan kita akan membuat anak yang banyak” lanjut Arkana dan spontan saja Qania mendorong kepala Arkana.


“Bisa nggak sih kamu nggak buat orang kesal di momen haru kayak gini” ucap Qania kesal namun Arkana hanya tertawa.

__ADS_1


“Gimana ya sayang, rasanya nggak ngelihat wajah kesalmu itu seperti ada yang kurang dari hidupku” ledek Arkana.


“Arkanaaa……” teriak Qania, “Tante, tante lihat sendiri kan bagaimana Arkana itu sangat sangat dan teramat menyebalkan” Qania mengadukan Arkana di depan makam mamanya.


“Wah kamu nggak konsisten sayang, tadi katanya sangat berterima kasih karena sudah melahirkan aku, eh sekarang kok lain lagi sih. Kami nggak konsisten banget sih sayang” ledek Arkana membuat Qania mengepalkan tangannya.


Hening….


Hening…


“But I love you so much, today, tomorrow, and forever. I do love you forever, every single day of forever” bisik Arkana kemudian membawa Qania kedalam pelukannya.


“Maaf selalu membuatmu kesal, aku suka melihat wajah kesalmu. Sangat menggemaskan” ucap Arkana sambil terkekeh.


“Dasar ya kamu, baru juga romantis dikit eh mulai lagi” gerutu Qania masih dalam pelukan Arkana.


“Hahaha, iya maaf. Pulang yuk, mau jum’atan nih” ajak Arkana.


“Oh iya sayang, aku hampir lupa ngasih tahu kamu kalau sebentar aku mau nemanin Syaquile ke mall setelah shalat jum’at” kata Qania yang sudah melepaskan pelukannya.


“Aku temani atau..?”


“Nggak usah sayang” jawab Qania sambil tersenyum.


“Tapi kalau ada apa-apa langsung kabarin ya” pinta Arkana.


“Oke calon suami” goda Qania membuat Arkana merona.


“Ma, Arka sama calon istri Arka pulang dulu ya. Nanti kita datang lagi” pamit Arkana.


“Kita pamit ya tante” sambung Qania.


Keduanya pun berjalan pergi meninggalkan area pemakaman tersebut dengan menaiki motor Arkana.


Setelah kepergian mereka, seseorang yang dari tadi mengintai mereka pun kini melangkah ke makam Ayumi.


“Maaf tapi saya juga menyukai gadis yang anda jodohkan dengan anak anda. Saya akan melakukan segala cara untuk mendapatkan gadis itu” kata orang tersebut yang tidak lain adalah Fandy.


Fandy meninggalkan area pemakaman tersebut dengan menaiki motornya.


“Jika tidak bisa gue miliki, maka nggak akan ada yang bisa memilikimu juga Qania” ucap Fandy menyeringai kemudian melajukan motornya.


“Hah lo lihat sendiri kan Jer, dia sudah gila sekarang” desis Fadly, ya ia memutuskan untuk mengikuti kemana pun Fandy pergi bersama Jerry.

__ADS_1


“Gue nggak habis pikir, kita nggak boleh lengah. Jangan sampai dia berniat sesuatu pada Qania, lo dengar sendiri kan kalau Qania mau pergi ke mall sama adiknya sebentar” kata Jerry.


“Iya, kita akan mengawasinya terus. Yuk balik” kata Fadly kemudian melajukan motornya karena keduanya sudah berada di atas motor.


__ADS_2