Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
SC _247 : Menjemput


__ADS_3

“Hallo, ada apa kau menghubungiku?” Tanya Tristan yang baru saja mengenakan kemeja, ia sedang berdiri di depan cermin sambil merapihkan penampilannya.


“Maaf mengganggu, Pak. Tapi saya mendapat kabar dari pak Meldi bahwa ia sedang dalam perjalanan ke lokasi proyek, Pak. Lalu apa yang harus saya lakukan?”


“Oh … jadi dia sudah datang. Ya sudah, kau hubungi yang lain dan para pekerja. Hah … seharusnya pekerja itu urusan pihak kontraktor tapi mengapa jadi kita yang mengurusnya. Sial!” Tristan mengumpat, ia sangat kesal pada perbuatan Meldi.


“Baik, Pak. Kalau begitu saya akan menghubungi para pekerja. Sampai ketemu di lokasi, Pak. Selamat pagi.”


Tristan meletakkan ponselnya di atas meja kemudian duduk di sofa untuk memakai sepatunya. Kemeja berwarna navy dan celana jeans hitam begitu mendukung penampilannya yang semakin terlihat tampan.


Tristan menuruni anak tangga, ia berjalan ke arah meja makan dimana bi Ria sudah menyiapkan makanan untuknya.


“Selamat pagi den Tristan,” sapa bi Ria.


“Pagi Bi,” balas Tristan dengan senyuman tipis hampir tak terlihat.


Bi Ria pun menyendokkan makanan ke dalam piring Tristan kemudian ia pergi ke dapur meninggalkan majikannya yang tengah menikmati sarapannya sendiri.


“Kapan ya den Tristan menikah? Rasanya begitu aneh saja melihatnya makan sendiri di meja itu,” gumam bi Ria sambil memasukkan pakaian kotor ke dalam mesin cuci.


Tristan yang sudah menghabiskan sarapannya langsung keluar, ia melihat pak Yotar sedang berdiri di dekat mobilnya yang sedang dipanaskan olehnya.


“Selamat pagi den Tristan, mobilnya sudah saya siapkan,” ucap pak Yotar.


“Terima kasih, Pak. Saya pamit dulu,” ucap Tristan kemudian masuk ke dalam mobilnya.


“Hati-hati, Den.”


Tristan pun melajukan mobilnya menuju lokasi proyek, ia sesekali mengumpat saat teringat akan pekerjaannya yang tidak beres sehingga Qania yang cuma melihat saja langsung tahu kualitas bahan yang mereka gunakan.


“Awas saja kau, Meldi. Gue bakalan pastiin lo bakalan masuk ke dalam penjara.”


Saat lampu lalu lintas menunjukkan warna merah, ponsel Tristan berbunyi dan ia pun segera melihat nama pemanggilnya.


‘Mereka berada di desa X, Boss.’


“Kerja bagus, saya akan mentransfer uangmu sebentar karena saya sedang menyetir.”


‘Baik, Boss. Terima kasih.’


Tristan kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya, kemudian ia melajukan kembali mobilnya sambil senyam-senyum.


Sesampainya di lokasi proyek, Tristan sudah melihat para pekerja dan pak Meldi di sana yang sedang mengarahkan mereka untuk melakukan pekerjaan masing-masing. Ia pun bergegas turun dari mobilnya sambil mengenakan kacamata hitamnya.


“Selamat pagi pak Meldi,” sapa Tristan saat ia sudah berdiri di samping pak Meldi.

__ADS_1


“Selamat pagi juga pak Tristan Anggara. Apa kabar?” Tanya Meldi basa-basi.


“Saya baik. Oh ya, bagaimana perjalanan anda ke luar kota?” Tanya Tristan dengan tenang, bahkan tidak ada yang menyadari sorot matanya begitu menakutkan saat ini.


“Oh itu, cukup baik. Saya mendapatkan panggilan kerja ke luar kota, tapi setelah proyek ini selesai,” jawabnya.


“Wah anda begitu hebat, bahkan perusahaan dari luar kota pun memakai jasa anda. Luar biasa,” puji Tristan dengan kedua tangannya terkepal kuat.


“Hahaha, anda bisa saja memuji saya,” kekehnya.


“Saya hanya bicara fakta saja, Pak.”


Pak Meldi pun hanya tertawa menanggapi ucapan Tristan, sementara orang yang ia tertawakan saat ini sedang menyumpah serapahinya dalam hati.


“Oh iya pak Meldi, apakah anda sibuk malam ini?” Tanya Tristan memulai rencananya.


“Sepertinya tidak, ada apa?” Pak Meldi menatap Tristan yang sedang menatap lurus ke arah para pekerja.


“Nanti malam saya ingin mengundang anda untuk makan malam di kafe. Kalau anda bertanya dalam rangka apa, tentu saja untuk merayakan keberhasilan kita karena proyek ini akan segera selesai bahkan sebelum waktu yang ditentukan,” ucap Tristan semeyakinkan mungkin.


“Hahahaha … tentu saja saya akan datang, nanti katakan saja di kafe apa dan jam berapa,” ujarnya.


“Nanti saya akan menghubungi anda,” sahut Tristan.


“Oke.”


‘Tertawalah sepuasmu, Meldi. Setelah ini akan saya pastikan kau tidak akan bisa tertawa lagi.’


Tristan menatap jam tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan lewat tiga puluh pagi. Ia sudah berencana untuk menemui Qania dengan meminta orang suruhannya untuk mencari tahu di daerah mana Qania dan teman-temannya melangsungkan KKN.


“Oh iya pak Meldi, saya masih ada urusan di tempat lain. Kalau ada yang harus dibahas maka silahkan anda bicarakan bersama inspektor saya,” pamit Tristan.


“Oh tentu saja,” jawabnya dengan senang hati.


Tristan pun meninggalkan Meldi dan langsung menemui Hamdan untuk berpamitan sekaligus memintanya untuk mengawasi dengan baik apa saja yang dilakukan oleh Meldi.


“Ingat pesan saya baik-baik, Hamdan. Saya pergi dulu untuk mencari bala bantuan,” kekeh Tristan.


“Tentu saja, Pak. Hati-hati.”


Tristan mengangguk kemudian menaikkan kaca mobilnya. Ia pun membunyikan klakson lalu memutar arah mobilnya dan langsung meluncur di jalan darurat yang mereka buat selama masa pebuatan jalan raya.


 


Sementara itu, di lokasi KKN saat ini Qania dan teman-temannya sedang melakukan survey lokasi di desa X. Kali ini mereka berangkat bersama-sama dengan satu tujuan, tidak membagi kelompok padahal jumlah mereka sangat banyak.

__ADS_1


Sahar, anak dari kepala desa yang jadi pemandu mereka untuk berkeliling kampung sekaligus mengenalkan kepada mereka beberapa tempat wisata dan juga berkenalan dengan penduduk sekitar.


“Ayo kita selfie,” ajak Mae saat mereka sampai di salah satu tempat wisata.


“Perasaan dari tadi lo kerjanya selfie mulu deh Mae,” gerutu Yusuf.


“Suka-suka gue dong. Ponsel juga punya gue, wajah juga wajah gue. Kalau gue make ponsel lo dan wajah lo, itu baru lo boleh protes,” cecar Mae.


“Gila nih anak, emang ada gitu orang boleh minjam wajah. Ck, dasar sinting.” Zakih menggeleng-gelengkan kepalanya.


Sementara yang lainnya hanya bisa tertawa mendengar dan menyaksikan perdebatan antara Mae dan Yusuf yang tiada akhirnya.


“Hati-hati, jangan keseringan debat kalian berdua. Bisa-bisa jadian nanti,” ledek Qania.


“Nggak ….” Mae dan Yusuf kompak menolak, mengundang gelak tawa dari teman-temannya.


“Aku bicara fakta,” sambung Qania.


“Oh ya?” Tanya Mae penasaran.


“Ya. Dulu waktu aku KKN, ada satu teman sejurusanku dan sahabatku kerjanya tiap hari berantem-berentem mesra. Si cowok suka banget ngegoda si cewek dan ceweknya selalu kesal dan terkesan cuek. Eh siapa sangka setelah KKN mereka justru pacaran dan dua bulan lagi bakalan nikah,” cerita Qania sambil mengenang bagaimana Prayoga menjahili Elin dan berujung dengan keduanya yang saling jatuh cinta dan tidak lama lagi mereka akan menikah.


“Pasti pas jadian mereka sweet banget,” ucap Mae membayangkan.


“Hmm … jadi mau deh.” Imbuh yang lainnya.


“Jadi Mae, Yusuf, sepertinya hubungan kalian kedepannya udah bisa ketebak,” ucap Zakih meledek Mae dan Yusuf.


Mae dan Yusuf saling berpandangan kemudian membuang muka. Zakih nampak cekikikan melihat wajah dua temannya itu memerah.


“Sepertinya di desa ini sedang musim semi, guys,” ledek Zakih.


“Bunga-bunga bermekaran,” sambung Qania.


Gelak tawa terdengar memenuhi tempat wisata yang hanya ada mereka saja ditambah Sahar. Mae dan Yusuf menjadi salah tingkah hingga mereka tidak berani mengeluarkan suara, karena saat keduanya ingin membantah justru ledekan dari teman-temannya semakin menjadi-jadi. Hingga akhirnya keduanya memutuskan untuk diam saja, melawan pun percuma karena teman-temannya justru menganggap mereka semakin kompak karena bersama-sama menolak untuk mengakui perasaan mereka.


‘Entah mengapa aku jadi sangat merindukan masa-masa KKN bersama sahabat-sahabatku dulu. Aku merindukan rumah pak Jaja dan bu Karni, merindukan keposesifan tiga saudaraku. Merindukan anak-anak SD di desa Suka Asrih yang pasti sekarang ada yang sudah masuk ke SMP. Dan tentus aja aku merindukan Arkanaku, pria yang menjadi semangatku untuk melalui hari dan membunuh waktu tanpa hadirnya dirinya di sisiku. Dan juga pria tengik yang tidak juga menyerah untuk merebut hatiku, Raka. Sedang apa dirimu disana, Ka? Masih memikirkan cara untuk memikat hatiku? Atau sedang berusaha move on? Hihihi … kenapa aku jadi memikirkannya. Itu tidak boleh Qania, satu-satunya pria yang boleh kau pikirkan hanya Arkana.’


‘Memikirkan Arkanaku aku jadi teringat pria sombong itu. Bagaimana kabar proyeknya sekarang, ya? Ah bodoh amat lah. Kenapa aku justru memikirkan para pria itu? Sadar Qania, kau harus ingat bahwa kau adalah ibu dari seorang anak laki-laki yang sangat tampan. Fokuslah untuk masa depanmu bersama anakmu, jangan masukkan orang lain dalam lingkaran kehidupan kalian meskipun Mama dan Papa sudah mengizinkan hal itu.’


...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...


Terima kasih sudah membaca 🤗🤗🤗


 

__ADS_1


 


__ADS_2