
Setelah mengantar Qania dan Arkana ke rumah Arkana, Rizal pamit karena Gea meminta di jemput dari kampusnya.
Qania mengekori Arkana yang berjalan menaiki anak tangga ke lantai dua sambil terus berpikir.
"Kira-kira dia mau ngapain ya? Aku gugup nih, jangan sampai kejadian sama Fandy terulang lagi" pikir Qania yang tiba-tiba teringat kejadian bersama Fandy.
Flashback on...
Qania diajak oleh Fandy ke rumah tantenya yang berada tak jauh dari kampusnya karena Fandy ingin dimasakkan oleh Qania. Dengan menaiki motor sport warna hitam milik Fandy, Qania ikut ke rumah tersebut karena kasihan jika membiarkan Fandy kelaparan.
"Kita makan di warung aja ya Fand, ini sudah sore juga" usul Qania setengah berteriak karena jalanan begitu berisik.
"Aku maunya dimasakin sama kamu aja" jawab Fandy.
Qania diam tak membantah karena tidak ingin berdebat di jalanan, hingga mereka sudah sampai di depan rumah tersebut. Halamannya luas terdapat gazebo dan disana ada Jerry dan Fadly tengah asyik mengobrol dan terdengar tawa mereka.
"Hai kak Jerr, hai kak Fadly" sapa Qania membuat mereka menoleh kearahnya.
"Eh ada Qania" ucap Jerry.
"Iya nih kak" tutur Qania dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ayo beb kita masuk" Fandy menarik paksa tangan Qania.
Qania mengikuti langkah Fandy yang menarik tangannya namun bukan menuju kearah dapur melainkan masuk ke sebuah kamar. Qania awalnya menurut saja, namun setelah mereka masuk Fandy dengan cepat menutup pintu tersebut lalu memeluk tubuh Qania dengan erat.
"Fan lepasin, aku nggak bisa napas" keluh Qania berusaha melepaskan tubuhnya.
"Maaf" ucap Fandy kemudian melepaskan pelukannya.
Fandy menuntun Qania untuk duduk diatas tempat tidur.
"Aku masakin kamu sekarang aja ya, udah sore juga dan aku harus segera pulang" ucap Qania.
"Kenapa terburu-buru sih?" tanya Fandy sambil membelai pipi Qania dengan lembut.
"Fan jangan gini dong" ucap Qania yang merasa risih.
"Nggak usah muna deh Qan, kita sama-sama saling cinta. Jadi apa salahnya kalau aku meminta hakku?" Fandy terlihat semakin bernapsu memandangi Qania.
__ADS_1
"Ma..maksud kamu apa Fan?" tanya Qania gugup.
"Kamu cinta nggak sama aku?" tanya Fandy sambil memainkan rambut Qania yang terurai.
"Iya" jawab Qania masih gugup.
"Kalau gitu buktiin" pinta Fandy sambil memeluk Qania yang duduk disampingnya.
"Bu..buktiin gimana maksud kamu?" tanya Qania tidak mengerti.
"Aku mau bukti cinta kamu ke aku saat ini" jawab Fandy.
"Caranya?" tanya Qania polos.
Fandy masih diam sambil memainkan anak rambut Qania, namun Qania tiba-tiba saja teringat ucapan kakak sepupunya yang bernama Afrilia.
"Dek nanti kalau kamu pacaran terus pacar kamu nyuruh buktikan cintanya, kamu jangan mau ya. Karena bukti cinta yang mereka inginkan itu adalah kamu harus menyerahkan kehormatanmu. Lelaki yang baik dan benar-benar mencintaimu tidak akan meminta sebelum dia menikahimu. Ingat baik-baik pesan kak Afril".
Begitulah ucapan kakak sepupunya saat Qania masih duduk di bangku SMA, hingga membuat Qania tersentak.
"Apa jangan-jangan...." pikiran Qania semakin kalut, ia semakin gugup.
"Apaa?" Qania tersentak, ternyata benar apa yang dikatakan kak Afril.
"Hei jangan teriak dong beb, ntar mereka dengar lagi. Tenang aja aku akan pelan-pelan kok nggak akan kasar juga. Aku janji aku tanggung jawab" bujuk Fandy yang mulai hilang kendali.
"Nggak bisa, aku nggak bisa. Kamu kalau mau itu harus nikah dulu" tolak Qania sambil menggelengkan kepalanya dengan keras.
"Aku janji Qan aku pasti tanggung jawab" bujuk Fandy sambil mengelus rambut Qania.
"Tolong jangan Fan, aku cinta kamu aku bisa buktikan tapi bukan dengan cara itu" tolak Qania yang berdiri dan berjalan menjauhi Fandy.
"Aku tidak ingin yang lain" tegas Fandy.
"Fan aku mau pulang" pinta Qania, matanya mulai berkaca-kaca.
"Apa susahnya sih Qan tinggal nurut aja" bentak Fandy membuat Qania tersentak. "Atau kamu lebih suka pakai cara kekerasan atau kamu maunya dipaksa hah?" tanya Fandy yang berjalan mendekati Qania yang berada dipintu.
"Tolong jangan lakuin itu Fan aku mohon" pinta Qania yang mulai menangis.
__ADS_1
Namun Fandy seolah tuli dan tetap menjalankan aksinya. Qania tidak tahu harus apa karena posisinya terjepit dimana Fandy mengurungnya dengan kedua tangannya yang ia sandarkan di pintu.
Baru saja Fandy akan mencium Qania, namun pintu kamar tersebut diketuk oleh seseorang.
"Sialan" maki Fandy kemudian menyingkirkan tubuh Qania dari pintu dan membukakan pintu tersebut.
"Ada apa hemm?" tanya Fandy kesal.
"Gue mau pamit, udah sore" ucap Jerry sambil melihat Qania yang tertunduk.
"Pulang tinggal pulang aja, susah amat lo" ketus Fandy.
"Apaan sih lo. Oh iya udah sore, anak orang sebaiknya diantar pulang" ucap Jerry sambil melirik Qania.
"Iya, bawel ah" ucap Fandy kemudian menutup pintu dengan keras.
"Untung gue belum terlambat, kasihan kamu Qania" batin Jerry, kemudian ia melangkah pergi.
Fandy yang merasa kesal karena adanya gangguan semakin terlihat kesal saat melihat Qania yang terus menunduk dan diam saja.
"Sekarang disini udah nggak ada siapa-siapa baby, ayo kita mulai" ucap Fandy sambil tersenyum licik saat ia mendengar suara motor milik Jerry dan Fadly meninggalkan area rumah tersebut.
Namun Qania terus diam membisu dan tetap menundukkan kepalanya, membuat Fandy semakin bernafsu. Ia mendekati Qania yang berada di dekat tempat tidur tersebut, kemudian mengangkat dagu Qania dengan menggunakan jari telunjuk kanannya sehingga wajah Qania terangkat dan mereka saling berpandangan.
Baru saja Fandy hendak mencium Qania lagi, sebuah batu besar menerobos masuk dari balik jendela kaca yang kini pecah. Fandy merasa geram dan langsung keluar dari kamar untuk mencari pelakunya.
Qania yang merasa mendapat kesempatan untuk kabur pun langsung bergegas berlari kearah luar dan tak sengaja mendapati seorang pria yang sepertinya seorang tukang ojek yang sudah dikirim untuk menjemputnya di depan rumah tersebut.
"Jalan pak" ucap Qania saat naik diatas motor tersebut.
Tanpa menunggu lagi, pria itu langsung melajukan kendaraannya.
"Qania lo mau kemana? Kita belum selesai" teriak Fandy saat melihat Qania sudah pergi bersama tukang ojek yang entah siapa.
Qania merasa ketakutan dan juga merasa lega saat sampai di depan rumahnya, ia belum sempat membayar ongkos namun pria itu sudah pergi.
"Dia tukang ojek atau apa ya? Kenapa secara kebetulan dia sudah berada disana di waktu yang tepat pula? Apa jangan-jangan dia malaikat penyelamat aku ya?" pikir Qania sambil menatap kepergian si ojek misterius yang wajahnya ditutupi masker itu.
Flashback off.......
__ADS_1