
Arkana cekikikan melihat Qania yang tengah sibuk menghabiskan makanannya, namun bukan Qania lah yang ia tertawakan melainkan ia sedang mengingat bagaimana usahanya sampai bisa bersama Qania saat ini di restoran.
Ia teringat perdebatannya tadi sore bersama calon mertuanya itu yang akhirnya dimenangkan olehnya, bukan menang murni melainkan menggunakan cara sedikit licik.
Sebenarnya tadi Arkana sudah menyerah karena ia kalah debat dengan papa Qania, namun ia terpikir untuk meminta bantuan papanya untuk menangani calon mertua itu.
🌻Beberapa waktu sebelum ini…..
“Heh calon mantu lucnut kamu ya, saya ini sudah seharian menemani anak saya untuk mengurus kuliahnya dank au dengan enaknya menyuruh saya pulang dan kamu ingin mengajak anak saya jalan. Oh tidak bisa, langkahi dulu papanya” sungut Zafran.
“Maaf pa, Arka nggak tahu kalau papa dengar tadi yang Arka bilang. Arka bercanda doang kok pa, nggak serius aku” sangkal Arkana.
Sementara Qania merasa sangat lucu namun kasihan juga mendengar Arkana dimarahi sang papa seperti itu.
“Tiada maaf bagimu” ketus Zafran.
“Lagu kali pa” ceplos Arkana.
“Oh berani kamu ya” hardik Zafran.
Seketika wajah Arkana langsung pias meskipun ia tidak berhadapan langsung, ia merasa sangat gugup pada calon ayah mertuanya itu.
“Eh nggak seperti itu pa, Arka Cuma…”,.
“Cuma apa? Nggak usah banyak omong, saya matiin sekarang. Good bye” ucap Zafran kemudian memutus panggilan tersebut.
“Papa tega bener deh ah” celetuk Qania.
“Haha, sekali-kali tunangan kamu itu papa kerjain. Ternyata seru juga mengerjai anak itu, sayangnya papa tidak bisa melihat wajahnya saat ini” tawa Zafran memenuhi mobil mereka yang masih berada di parkiran kampus.
Sementara di kantor Setya Wijaya, wajah Arkana berubah pias mendapat hardikan dari calon mertuanya itu. Papanya yang baru saja kembali dari rapat terheran melihat raut wajah sang anak.
“Ada apa?” Tanya Setya yang baru saja duduk di sofa di samping Arkana.
“Arka dimarahin calon mertua pa” curhatnya memasang wajah memelas.
“Loh kok bisa? Emang kenapa dia marahin kamu?” Tanya Setya mulai kesal, ia tidak terima anaknya dimarahi orang lain.
“Arka nggak sengaja bicara kurang sopan pa, Arka kira papa Zafran nggak dengar tadi” cerita Arkana.
“Kalau gitu emang kamu yang salah, udah minta maaf belum?” Tanya Setya.
“Udah pa tapi nggak berhasil bawa Qanianya” jawabnya frustasi.
“Terus apa yang bisa papa lakuin buat kamu?” Setya ksihan pada anaknya yang sedang galau itu.
“Papa ajak papa Zafran ketemu kek, apa kek, terserah papa” ucap Arkana bersemangat.
“Oke”,.
Setya mengambil ponselnya dari saku jasnya, kemudian ia langsung menelepon Zafran yang saat ini tengah menyetir mobil.
“Hallo, Assalamu’alaikum” sapa Zafran yang saat ini tengah menepikan mobilnya.
“Wa’alaikum salam, lo lagi ngapain Zaf”,.
“Lagi nyetir gue, ada apa?”,.
__ADS_1
“Gue butuh bantuan lo, penting banget” Setya menekankan kata penting itu.
“Lah gue lagi sama anak gue mau pulang, malam gimana?”,.
“Bentar doang kok, gue udah mau siding pertama besok” bujuk Setya.
“Hah besok?” pekik Zafran.
“Iya besok, makanya gue butuh bantuan lo sekarang karena nanti malam gue ada pertemuan sama tim gue”,.
“Oke, lo dimana sekarang biar gue samperin?” Tanya Zafran antusias.
“Gue di kantor, terus gimana sama anak lo? Ajak kesini aja atau gimana?” Tanya Setya masuk ke inti tujuannya.
“Pa Qania lapar” ceplosnya.
“Oh jadi lo lagi sama Qania, mantu gue?” Tanya Setya pura-pura tidak tahu.
“Iya, gue tadi abis nemenin dia ke kampus” jawab Zafran.
“Lah si Arkana udah pulang juga dari tadi, kasihan juga kalau diajak ke kantor gue ntar dia malah uring-uringan, mana lagi lapar pula” Setya berusaha menahan tawanya saat Arana mulai bersorak padahal ini belum tentu berhasil.
“Jadi gimana?”,.
“Gini aja deh, lo anterin mantu gue ke restoran ntar gue teleponin si Arkana buat susulin mantu gue di sana, gimana?” usul Setya.
“Emm… ya sudah, tunggu gue disana” jawab Zafran setuju, dan hampir saja Arkana bersorak gembira karena papanya berhasil.
“Oke, bye. Assalamu’alaikum”,.
Arkana tak henti memuji papanya yang berhasil membuatnya bisa bertemu dengan kekasihnya yang sangat ia rindukan itu. Dengan cepat ia meninggalkan kantor papanya dan pergi menemui Qania di restoran setelah ia menelepon Qania untuk menanyakan posisinya.
🌻Kembali ke restoran….
Qania mengangkat sebelah alisnya karena melihat Arkana yang tengah tersenyum sendiri. Bahkan Qania melihat sekeliling tapi tidak ada satu pun orang yang tengah menatap mereka. Dan sekarang justru tunangannya itu tengah cekikian sambil mengaduk-aduk minumannya.
“Kau gila?” Tanya Qania membuat Arkana tersentak.
“Hei kenapa kau mengatai tunanganmu ini gila?” protes Arkana tidak terima dikatai gila.
“Ya terus kenapa senyam-senyum sendiri?” Tanya Qania lalu menyeruput habis jus alpukatnya.
“Tidak sayang, aku hanya..”,.
“Hanya sedang menertawai kebodohan papaku yang dengan mudah kalian bodohi dengan alasan papa Setya ingin bertemu” tandas Qani membuat Arkana terbelalak kaget.
“Dari mana kau tahu sayang?” Tanya Arkana keki.
“Dari sorot matamu, aku tahu semua hanya saja aku diam. Papa juga tahu kok” ucap Qania.
Arkana dibuat mati kutu dengan ucapan Qania dan bahkan calon ayah mertuanya pun tahu dengan akal bulusnya yang bersekongkol dengan papanya untuk bisa bertemu dengan Qania.
Qania teringat ucapan papanya setelah selesai berbicara di telepon dengan Setya.
“Calon suamimu itu sangat pandai mencari alasan dan calon ayah mertuamu juga sangat pandai berakting. Hah, ya sudah papa akan mengantarkanmu ke restoran. Papa harus meladeni sandiwara calon mertuamu yang tiada kahlak itu, hehehe”,.
Kini gantian Qania lah yang tengah tersenyum mengejek melihat Arkana yang frustasi karena rencananya bersama sang papa sudah ditebak dengan mudahnya.
__ADS_1
“Matilah aku” gumamnya.
“Mendadak pucat heh?” sindir Qania.
“Ya sudah aku sudah ketahuan dan aku mengakui semua rencanaku. Habisnya aku sudah sangat merindukanmu, aku frustasi saat papa menolak untuk mempertemukan kita” keluh Arkana sambil menjambak rambutnya.
“Ya itu juga salahmu, kau berkata yang tidak enak di dengar oleh papa tadi” Qania menyalahkan Arkana.
“Aku tahu sayang, aku tadi tidak tahu kalau papa mendengarkan obrolan kita. Hahh” Arka mendesah frustasi.
Qania menahan tawanya melihat keputusasaan tunangannya itu. Ia kembali berhasil mengerjainya hingga frustasi begini.
“Sudah, ayo kita pulang” ajak Qania.
“Aku bayar dulu” ucap Arkana kemudian pergi ke meja kasir.
Setelah Arkana membayar makanan mereka, kedua keluar dari restoran. Qania mengedarkan pandangannya namun tidak melihat motor atau mobil Arkana.
“Aku tadi naik taksi kesini” ucap Arkana yang mengerti kalau Qania sedang mencari kendaraannya.
“Hahh, terus kita gimana?” Tanya Qania tak habis pikir kalau kekasihnya datang dengan menumpang taksi.
“Jalan kaki lah” ucap Arkana enteng.
Qania tersenyum sangat manis, sejujurnya sudah lama ia ingin berjalan-jalan bersama Arkana tanpa memakai kendaraan. Ia sangat ingin menghabiskan waktu menyusuri jalan dengan berjalan kaki sambil bergandengan tangan, sangat romantis pikirnya.
Arkana yang melihat kekasihnya itu tersenyum langsung mengerti bahwa Qania tidak menolak ajakannya. Dengan lembut ia meraih tangan Qania dan menautkan jari-jari mereka. Keduanya berpandangan dan saling melempar senyum.
“Mari kita mengukur jalan sayang” ajak Arkana dengan sangat mesra.
Qania mengangguk setuju, kemudian keduanya berjalan menapaki aspal jalan raya tersebut sambil bercerita tentang Qania yang mengurus ujiannya dan Arkana yang membantu papanya mengurus sidang kasus nanti.
🍀
🍀
“Sayang aku lelah” ucap Qania setelah hampir setengah jam mereka berjalan kaki.
“Kita istirahat dulu, sebentar lagi kita sampai di rumah kamu sayang” ajak Arkana, mereka duduk di jembatan untuk beristirahat sejenak.
Arkana meminta Qania untuk bergaya, kemudian ia memotret Qania yang sedang tersenyum kearahnya.
“Sayang, tidak lama lagi waktu magrib kita harus segera sampai di rumah” ucap Qania namun masih merasa lelah.
Arkana yang mengerti kondisi Qania langsung berjongkok di hadapan Qania membuat Qania membeo.
“Naik sayang, aku akan gendong kamu sampai di rumah. Sebentar lagi kok” ucap Arkana.
Qania tersipu melihat tindakan manis dari Arkana, dengan malu-malu ia naik ke punggung Arkana.
Suasana romantic, pikir Qania. Ditambah lagi banyak yang melihat kemesraan mereka membuat Qania merasa terbang melayang. Beberapa ungkapan-ungkapan orang-orang yang melihat mereka membuat Qania bahagia dan bangga memiliki Arkana. Namun namanya manusia, ada yang suka melihat orang bahagia dan pastinya juga ada yang iri dan mencibir perilaku mereka.
Qania sama sekali tidak menggubris orang-orang yang menyindir bahkan mengejek mereka. Baginya ini kehidupannya, dunianya, biarlah dia menikmati kehidupannya sendiri dan mengabaikan perkataan syirik dari orang-orang yang tidak menyukai mereka.
...⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘...
__ADS_1