Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Raka Vs Julius


__ADS_3

Setelah mengurus KRS, Qania dan Julius keluar dari ruangan BAK. Keduanya berjalan bersama hingga ke parkiran.


“Qan, gue antar ya. Sekalian kita makan siang bareng” ajak Julius, sungguh dia terlihat sangat berharap Qania akan menjawab iya.


“Hmm lain kali deh Julius” tolak Qania yang juga merasa tidak enak.


Ini sudah yang kesekian kalinya Qania selalu menolak ajakan Julius. Meskipun tidak enak hati Qania tetap menolak karena ia tidak ingin memberi harapan pada pria muda di depannya ini.


Julius merasa kecewa, namun ia tidak berhenti mencari ide agar Qania mau pergi bersamanya.


“Qan, kita kan memiliki dosen wali yang sama, gimana kalau kita ke rumah pak Agus untuk meminta tanda tangan dan saran mata kuliah padanya?” ucap Julius.


Qania meringis, rasanya ia ingin mengatakan pada Julius alasanmu itu tidak masuk akal namun ia tahu itu semua adalah salah satu cara Julius untuk bisa mengajaknya.


‘Ya ampun Julius, aku ini mantan mahasiswa bahkan aku sarjana. Ya kali mahasiswa semester dua minta saran mata kuliah, yang ada mata kuliah semester satu dan dua itu semuanya dasar dan belum boleh mengambil mata kuliah di atas atau tidak program semua mata kuliah semester dua. Yang ada tahun depan kamu mengulang lagi’,.


‘Tapi benar juga sih, sekalian ke rumah pak Agus buat minta tanda tangan dan sekalian biar tahu rumah pak Agus juga dan membalas jasa Julius. Menerima ajakannya sepertinya bisa sedikit banyak membuat Julius senang’,.


“Ya udah ayo” ucap Qania.


Bukannya mengajak Qania masuk ke mobil, Julius malah terbengang mendengar ucapan Qania tadi. Qania tersenyum tipis melihat pria di depannya yang lebih muda dari adiknya itu terlihat syok. Mungkin karena masih belum percaya kalau Qania menyetujui ajakannya.


“Jadi nggak?” tanya Qania menyadarkan Julius.


“E..elo benaran mau Qan?” tanya Julius tergagap.


“Ya udah deh nggak jadi” ucap Qania berpura-pura merajuk.


“Eh jangan…” pekik Julius membuat Qania terkekeh.


“Ya sudah ayo” ajak Qania yang berjalan lebih dulu ke mobil Julius.


Julius nampak sangat bahagia dan langsung mencegat tangan Qania yang ingin membuka pintu mobil tetapi tangannya kembali dicegat oleh Qania.


“Aku masih punya dua tangan dan masih berfungsi dengan baik apalagi hanya untuk membuka pintu mobil” ucap Qania lembut namun terdengar begitu tegas sembari menatap Julius.


“Ah iya, iya. Tapi bukannya cewek-cewek itu biasanya dibukain pintu ya?” tanya Julius.


“Menurutmu?”,.


“Ya gue nggak tahu Qan, gue nggak pernah jalan bareng cewek” kekeh Julius.


‘Sumpah demi apa cowok sekaya dan sekeren serta tampan kayak Julius nggak pernah ajak jalan cewek?’ pekik Qania dalam hati.


“Hehe, lo jangan ledekin gue dalam hati ya Qan. Gue emang nggak pernah pacaran karena sibuk belajar dan ngegame” kekeh Julius.


“Oh kamu sama persis seperti adikku” gumam Qania yang tiba-tiba saja teringat akan Syaquile, cowok tampan yang kalau bukan karena hasutan Arkana tidak akan pernah merasakan yang namanya pergaulan karena hanya senang bersama ponselnya.


“Apa Qan?” tanya Julius.


“Eh enggak, ayo” ajak Qania mengalihkan.


Baru saja Qania dan Raka akan masuk ke dalam mobil, tangan Qania dicegat oleh seseorang sehingga Qania menoleh padanya.


“Lo mau kemana Qan?” tanya Raka.


“Mau makan dan mau ke rumah dosen waliku” jawab Qania ketus.


“Biar gue yang antar” ucap Raka tegas.


“Eh nggak boleh gitu dong, kan Qania mau pergi sama gue” protes Julius yang berjalan kearah Qania dan Raka.


“Ya bisa lah, dia teman gue sahabat gue” sungut Raka.

__ADS_1


“Ya tapi yang ngajak Qania pergi itu gue” balas Julius tidak mau kalah.


“Gue udah ada janji sama Qania dari pagi” ucap Raka ingin menjatuhkan Julius.


“Tapi ini udah siang bukan pagi” bantah Julius membuat Qania terkekeh.


“Ya..yaa..”,.


“Ya apa, hemm? Benar kata Julius ini sudah siang” potong Qania.


“Maaf Qan, gue tadi kesiangan” cicit Raka.


“Ya sudah kamu mending balik, aku ada urusan sama Julius” ucap Qania membuat Julius tersenyum senang lalu menatap Raka dengan tatapan penuh ejekan .


Sementara kedua pria itu bersitegang, Qania berdiri menyandar di mobil Raka sambil menghubungi Lala.


‘Apa dia saingan gue, ah tapi dia terlihat sangat muda. Qania nggak mungkin suka sama dia’ batin Raka sambil menatap sengit pada Julius.


‘Apa dia saingan gue, tapi ya kali gue kalah sama dia secara gue lebih tampan dan keren darinya’ batin Julius yang juga menatap sengit pada Raka.


“Pokoknya Qania pergi bareng gue, titik” ucap Raka tegas.


“Emang lo siapa hah? Qania itu mau pergi sama gue, kita ada urusan sama dosen wali kita. Lo nggak usah ikut campur” balas Julius sengit.


“Gue siapa? Gue sahabat Qania dari kecil” ucap Raka bangga.


‘Dan calon imamnya juga’,.


“Gue nggak peduli, yang jelas Qania berangkat bareng gue” ujar Julius masih bersikeras.


‘Ya kali gue ngalah, ini kesempatan yang nggak bakalan gue sia-siain meskipun gue harus beradu jotos dengan nih orang. Setelah sekian lama gue nunggu ya nggak mungkin gue buang begitu aja. Tapi kalau gue berpura-pura mengalah, Qania bakalan kasihan nggak ya sama gue?’ batin Julius.


Sementara keduanya saling berdebat, Lala pun datang dan mengajak Qania naik karena ia tidak mematikan mesin motornya. Qania pun langusng naik tanpa mempedulikan pertanyaan Lala mengenai kehadiran Raka dan perdebatannya dengan salah satu mahasiswa most wanted di kampus itu.


“Eh Qan” teriak Raka bersamaan dengan Julius.


Raka bergegas ke motornya tanpa mempedulikan Julius yang tengah mengajukan protes padanya. Julius yang melihat Raka pergi pun memutuskan untuk mengikuti Raka.


“Mungkin dia tahu dimana Qania tinggal” gumam Julius kemudian melajukan motornya.


 


*


 


Qania berdiri dengan melipat kedua tangannya di atas dada sambil menatap satu per satu pria yang duduk di teras rumah nek Nilam yang juga sedang menatapnya. Qania mendengus kesal dengan kelakuan dua pria itu yang tadi mengikutinya.


“Kenapa kemari?” tanya Qania yang ucapannya terdengar sedikit ngeri.


“Menyusulmu” ucap Raka.


“Kalau kamu Julius?” tanya Qania menatap Julius yang tertunduk.


“Mengikutinya untuk mencari tahu tempat tinggalmu yang ternyata tidak jauh dari kampus” jawab Julius jujur.


Qania merasa tergelitik dengan jawaban penuh kejujuran Julius. Ingin rasanya ia tertawa namun ia sadar masih dalam mode marah.


“Kalian pulang saja, aku mau tidur” ucap Qania ketus.


“Eh kenapa disuruh pulang, ini nenek baru buatkan minuman” ucap nek Nilam yang baru saja datang dengan membawa nampan berisi dua gelas jus.


Raka dan Julius bersorak dalam hati karena pemilik rumah ini mencegat keduanya dan itu membuat Qania menghembuskan napas kasar kemudian ikut duduk bersama dua pria itu.

__ADS_1


Di teras rumah nek Nilam terdapat empat buah kursi kayu dan satu meja kayu bundar dan Qania duduk menghadap keduanya dengan wajah ditekuk.


Nek Nilam tersenyum melihat dua pria yang sedang memasang wajah bak orang yang sedang mendapat hukuman dari orang tuanya di hadapan Qania. Ia tidak muda lagi namun masih bisa membaca situasi bahwa kedua pria ini pasti memiliki rasa pada Qania dan sedang bersaing untuk menjadi pemenang di hati Qania.


“Diminum ya, nenek masuk dulu” ucap nek Nilam kemudian masuk ke dalam rumah.


“Makasih nek” ucap Raka dan Julius bersamaan.


“Lo ngapain ikutan bilang makasih?” ketus Raka.


“Lo yang ngikutin gue” sanggah Raka.


“Silahkan berdebat aku mau masuk” ucap Qania sebal.


“Jangaaannn” pekik keduanya mencegat Qania yang hendak berdiri.


Qania hanya bisa tertawa dalam hati menyaksikan dua pria itu. Sungguh sangat menghibur, pikir Qania.


“Ya sudah nggak usah berdebat dan sekarang habiskan minuman kalian” ucap Qania memerintah.


Keduanya dengan kompak langsung mengambil gelas berisi jus itu dan meneguknya sampai tandas. Hal tersebut membuat Qania terbengang dan beberapa saat kemudian terkekeh.


“Haus rupanya” cibir Qania namun kedua pria itu mengangguk pasti membuat Qania tersenyum.


“Manisnyaaaa” gumam Raka.


“Imutnyaaa” gumam Julius bersamaan dengan Raka.


“Lo hobi banget deh ngikutin gue” ketus Raka yang tidak terima kalau Julius ikut memuji Qania.


“Ya enggaklah, yang ada elo tuh yang suka ngikutin gue” elak Raka.


“Hah itu tandanya kalian berjodoh” ucap Qania.


“Apaa? Berjodoh? Gue masih normal kali Qan” pekik Julius.


“Elo nih Qan, ada-ada aja deh” timpal Raka.


“Hmm, berhubung minuman kalian sudah habis dan udah nggak haus lagi aku mau masuk” ucap Qania sambil menaruh dua gelas yang sudah kosong itu kedalam nampan lalu berjalan masuk ke dalam rumah.


“Qan mau kemana?” teriak Raka.


“Mau bobo siang” sahut Qania dari dalam.


Raka dan Julius mendesah pasrah, kemudian mereka saling menatap kesal.


“Semua gara-gara elo” tuduh Raka.


“Ya elo lah, elo yang datang-datang cegat gue mau ke rumah dosen sama Qania” sanggah Julius.


“Alah palingan juga elo mau modusin Qania” cibir Raka.


“Kalau iya emang kenapa?” tantang Julius.


“Kalau begitu mulai sekarang kita bersaing” ucap Raka sinis.


“Siapa takut” sahut Julius.


Kedua pria itu pun memutuskan untuk pulang, dalam hati Julius ia merasa senang karena sudah mengetahui dimana Qania tinggal.


 


...🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀...

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca 🤗🤗🤗🤗


__ADS_2