
“Arkana kenapa kamu ninggalin aku sendirian hah? Kenapa kamu ingkari janji yang kamu buat? Kamu udah janji akan terus bersamaku dan menua bersama. Arkana tolong jangan giniin aku, ku mohon jangan” teriak Qania dengan deraian air mata.
“Kakak ayo kita pulang” ajak Syaquile yang berjongkok di samping Qania.
“Kakak masih ingin disini dek, kakak nggak mau ninggalin Arkana. Dia sendiri disini dek, kasihan dia. Kakak akan menemaninya disini, kau pulanglah” ujar Qania membuat Syaquile meradang.
“Kak, jangan begini. Kakak harus ikhlas meskipun aku tahu itu tidak akan mudah tapi itu harus kak. Kasihan kak Arka jika kakak seperti ini, dia tidak akan tenang” bujuk Syaquile.
“Tidak dek, kakak nggak mau pulang. Kamu pulang saja” bantah Qania.
Byurrrr…..
Hujan turun dengan derasnya membasahi area pemakaman serta Qania dan Syaquile yang masih berada disana.
“Kak ini sudah hujan dan kita harus pulang” ajak Syaquile.
“Tidak dek, kakak nggak mau ninggalin Arkana, kakak tidak bisa. Kasihan dia sendirian, disini sangat sepi dan kakak yakin di dalam dia pasti akan merasa sesak dan gelap. Kakak akan menemaninya tidur malam ini. Ini adalah hari pernikahan kami dan kakak akan terus berada di sini sampai malam karena malam ini adalah malam pertama kami” bantah Qania yang belum juga beranjak dari nisan Arkana yang terus dipeluknya.
Syaquile tidak menanggapi ucapan kakaknya, ia hanya diam menanti kakaknya hingga mau kembali ke rumah.
Hujan semakin deras dan keduanya sudah basah kuyup namun Qania enggan beranjak dari posisinya. Hari semakin sore dan akhirnya Qania yang sudah kedinginan jatuh pingsan. Dengan cepat Syaquile membawa tubuh Qania masuk ke mobil dimana supirnya masih menunggu mereka setelah mengantar keluarga Qania pulang ke rumah.
🥀
🥀
Qania POV
Akhirnya aku berada di hari ini, hari yang tidak ingin aku lalui dalam hidupku. Dalam mimpi pun aku sudah sangat tersiksa, tapi kembali lagi ini adalah nyata. Aku tidak mengira takdir mempermainkan aku seperti ini.
Mempertemukanku dengannya, lalu memisahkan kami. Mempertemukan lagi dan akhirnya memisahkan kami juga.
Apa yang salah denganku?
Kenapa takdir begitu kejam kepadaku?
Mengapa Tuhan mengambilnya di hari yang paling kami nantikan?
Aku terus saja memandangi foto kami di ponselku sambil terus menekan tombol panggilan video ke nomor Arkana yang meskipun aku tahu dia tidak akan pernah bisa mengangkatnya.
Aku rindu..
Aku sangat merindukan wajahnya dan aku sangat merindukan suaranya.
Aku merindukan tingkahnya yang selalu membuatku kesal dan bahagia di waktu bersamaan.
Aku kurang bersyukur apa Tuhan? Mengapa kau mengambil Arkanaku? Satu-satunya harta yang paling indah pemberianmu, mengapa kau merebutnya dariku? Iri kah kau padaku Tuhan?
Lagi, kembali kau mempermainkan hidupku. Mengambil apa yang paling aku jaga dan membuatku dirundung kesedihan. Sudah puas Engkau melihatku menderita?
__ADS_1
Hahaha pasti sudah sangat puas.
Mengapa tidak kau ambil saja diriku bersamanya?
Mengapa membuatku terluka untuk kesekian kalinya?
Aku terdiam saat aku mendengar suara ketukan di balik pintu kamarku. Sudah tiga hari semenjak kepergian Arkana untuk selama-lamanya aku mengurung diri di kamarku. Aku bahkan enggan untuk turun ke bawah walau hanya untuk meneguk segelas air. Aku tidak menyentuh sebutir nasi pun.
Bukan karena aku ingin menyiksa diriku, tapi setiap sudut rumah ini terus saja mengingatkanku dengan kekasihku yang dengan kejamnya Tuhan merebutnya dariku.
Di dalam kamar ini aku pun merasa semakin pilu saat kenanganku bersama Arkana seakan terputar bak film di depanku. Aku ingin meraihnya dan memeluknya saat ia sedang bercanda bersama seorang wanita di depanku yang tidak lain adalah bayangan diriku sendiri.
Aku membalas senyuman manisnya dan bergegas turun dari tempat tidurku untuk memeluknya. Tapi aku malah jatuh terduduk di lantai saat tubuh yang ingin ku peluk tiba-tiba saja menghilang. Dan aku tersadar semua hanya bayanganku saja, dan rasanya aku ingin mati saja.
Aku kembali duduk di tempat tidurku sambil mendengar rekaman suara kekasihku itu bernyanyi dan suaranya sangat merdu sambil memandangi foto kami berdua yang terlihat sangat bahagia.
Aku mengalihkan pandanganku ke sofa dimana gaun pengantinku masih terletak seperti tiga hari yang lalu tanpa ada niatku menyimpannya. Aku berjalan dan mengambil gaunku lalu memakainya. Aku mendandani wajahku yang terlihat kusam dengan mata yang bengkak dan lingkaran hitam tergambar jelas di sekitar mataku.
Sudah tiga hari semenjak kepergiannya aku kesulitan untuk tidur, aku bahkan enggan untuk membersihkan tubuhku yang lengket.
“Aku sangat cantik dengan gaun ini, Arkana pasti akan terpesona melihatku” ucapku setelah merias wajahku di depan cermin.
Aku seolah melihat Arkanaku tengah duduk di sofa sambil berpangku dagu memperhatikanku dengan senyum yang teramat manis di wajahnya.
“Kau cantik, sangat cantik” pujinya.
Aku tersenyum dan bergegas berjalan ke sofa untuk ikut duduk bersamanya. Baru saja aku akan memeluknya lagi, aku mendapati kejadian yang sama dengan tadi, Arkanaku menghilang lagi.
Aku memeluk lututku yang ku naikkan ke atas sofa sambil menangis sesenggukan.
“Arkana kenapa kau meninggalkanku sendiri? Kembalilah, ku mohon” jeritku.
“Kau bukannya tidak suka melihatku menangis? Kemana dirimu, kemarilah hapus air mataku dan buat aku tersenyum lagi, ku mohon”,.
“Kau membuatku bersedih, tapi kali ini kau tidak bisa lagi datang untuk menghilangkan kesedihanku seumur hidupku. Arkana aku merindukanmu, hikss sangat rindu”,.
“Aku sangat merindukanmu Arkana Wijaya” teriakku.
“ARKANA WIJAYA AKU MERINDUKANMU KEMBALILAH, KU MOHON” teriakku.
Aku terus menangis sesenggukan tanpa mempedulikan dari luar mama dan papaku terus memanggilku. Aku juga mendengar di luar ada suara papa Setya, Rizal, Gea dan Fero serta adikku yang setiap hari datang untuk menghiburku tapi tidak pernah ku bukakan pintu.
Aku merasakan kepalaku pusing dan penglihatanku menggelap, setelah itu aku tidak sadar lagi.
Qania POV End
🥀
🥀
__ADS_1
Karena tidak lagi mendengar suara teriakan Qania, mereka memutuskan untuk mendobrak pintu kamar itu. Alisha sangat mengkhawatirkan Qania yang tidak makan dan minum selama tiga hari dan hanya mengurung diri di dalam kamar sehingga ia meminta Rizal dan Fero untuk mendobrak pintu kamar Qania.
Mereka semua terkejut melihat Qania pingsan di atas sofa dengan memakai gaun pengantinnya serta wajahnya yang terlihat mengenakan make up meskipun air mata membasahinya.
Hati Alisha sangat hancur melihat keadaan anaknya, tangisannya pecah karena sangat miris membayangkan nasib anaknya itu.
*
*
Qania mengerjapkan kedua matanya, menyesuaikan dengan cahaya lampu yang masuk ke indera penglihatannya. Qania mengedarkan pandangannya dan mendapati ruangan dengan cat berwana putih yang ia yakini saat ini ia berada di rumah sakit dan ia melihat jam dinding dan waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Qania menangkap wajah papanya dan mamanya yang sedang berdiri menatap sinis padanya.
“Sudah bangun kamu hah?” suara lantang papanya mengagetkan Qania yang masih mengumpulkan kesadarannya.
“Pa tenang pa, Qania baru siuman” ucap Alisha sambil mengelus lengan suaminya.
“Papa kenapa marah-marah pa?” tanya Qania dengan suara parau.
“Dasar anak kurang ajar kamu, papa mengizinkan kamu pacaran dan membebaskan kamu pergi bersama Arkana karena papa yakin kalian bisa menjaga batasan. Tapi kali ini papa kecewa Qania, papa sangat kecewa mendapati kamu yang sekarang tengah hamil tanpa suami dan pria itu justru sudah meninggal sebelum menikahimu” teriak Zafran membuat Qania syok dan mereka yang ada di luar menunggu pun ikut terkejut.
“Ha..hamil pa?” tanya Qania.
“Ya, anak yang papa banggakan kini melempar kotoran ke wajah papa. Qania papa ini wakil rakyat dan kamu membuat papa kehilangan muka di depan rakyat papa dengan mengandung anak haram” bentak papanya.
“Hikss anak Qania bukan anak haram pa, anak ini buah cintaku dengan Arkana pa. Papa jangan menyebutnya anak haram” teriak Qania dengan tangisan sambil memegangi perutnya.
“Apa yang terjadi?” tanya Setya yang baru saja masuk diikuti oleh Rizal, Gea, Fero dan Syaquile.
“Anakmu sudah menitipkan benihnya di rahim anakku lalu pergi meninggalkannya” tandas Zafran yang sedang tersulut emosi.
“Appaaa?” pekik Setya kaget.
“Qania sedang hamil dan usia kandungannya memasuki delapan minggu dan kau tahu itu artinya mereka sudah melakukannya dua bulan yang lalu” ucap Zafran dengan suara yang lantang dan juga ada kemarahan di sorot matanya.
“Anak Qania bukan anak haram pa, hikss” Qania kembali meneriaki papanya.
“Bukan anak haram katamu? Kau melakukan itu dengan lelaki yang bukan suamimu Qania, anakmu anak haram” teriak papanya.
“Cukup pa, anak kakak bukan anak haram dan keponakanku itu anak sah bukan anak haram” teriak Syaquile dari belakang membuat semua pandangan tertuju padanya.
“Apa maksudmu hah?” bentak papanya.
“Aku bilang anak kakak bukan anak haram karena kakak dan kak Arka sudah menikah dua bulan yang lalu dan aku yang menikahkan mereka” teriak Syaquile yang kemudian berlari ke arah Qania dan memeluk kakaknya yang tengah duduk bersandar sambil menangis.
“Apa maksud semua ini Syaquile?” tanya Zafran dengan nada rendah karena syok dengan ucapan anak bungsunya itu.
“Yang dikatakan Syaquile benar om, saya dan Fero saksinya. Syaquile menjadi wali nikah Qania dan kami yang menjadi saksi malam itu Qania menikah dengan Arkana dua bulan yang lalu” ujar Rizal menimpali ucapan Syaquile.
“Bagaimana bisa?” lirih Zafran dan Setya bersamaan.
__ADS_1
...🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀...
Terima kasih sudah membaca 😊😊🤗🤗