Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Kelas Baru


__ADS_3

Setelah berkeliling mencari rumah kost akhirnya Qania dan Lala pun memutuskan untuk menyewa satu rumah kost yang memiliki dua kamar tidur untuk mereka dan lokasinya lumayan jauh dari kampus mereka namun suasananya terbilang cukup nyaman dan aman. Qania lebih memilih kost sederhana tersebut karena lokasinya ditengah-tengah masyarakat dan tentunya bisa dipastikan keamanannya.


Mereka sudah membawa barang-barang mereka tadi di taksi dan setelah membayar uang sewa rumah tersebut Qania mengajak Lala untuk pergi ke dealer motor dengan taksi yang masih menunggu mereka setelah menemani keduanya berkeliling untuk mencari kost-kostan.


“Kak masih capek nih, kenapa kita nggak rebahan dulu gitu biar tenaganya balik dulu” protes Lala sambil berjalan ke arah taksi yang masih menunggu mereka dengan setia.


“La, kamu mau rebahan dimana? Itu rumah kosong La, kita belum nyiapin alas buat kita tidur. Belum beli sapu sama alat pel beserta alat tempur memasak. Kamu gimana sih?” cecar Qania sambil masuk ke dalam taksi diikuti oleh Lala.


“Iya juga sih kak, hehe” akhirnya Lala pun menyetujui keinginan Qania.


Taksi tersebut berhenti di depan dealer motor dan langsung pergi begitu Qania dan Lala turun dan membayar ongkosnya.


Qania mengajak Lala memilih motor dan akhirnya setelah dipaksa oleh Qania, Lala pun menerima satu unit motor pemberian Qania.


“Harusnya sih nggak usah kak” ucap Lala setelah menandatangani berkas.


Saat ini Lala dan Qania sedang berada di ruang tunggu sambil menikmati makanan dan minuman yang disuguhkan kepada mereka.


“La kamu tahu sendiri kan tempat tinggal kita yang sekarang itu cukup jauh dari kampus dan kita juga memiliki kelas dan jam yang berbeda. Mana bisa hanya punya satu kendaraan” ujar Qania.


“Hmm, kak makasih ya udah begitu baik sama Lala. Kalau nggak ada kakak, Lala nggak tahu gimana jadinya Lala. Kuliah kakak yang tanggungi, kakak berikan Lala tempat tinggal dan sekarang kakak juga memberikan Lala kendaraan. Lala nggak tahu harus dengan cara apa berterima kasih kepada kakak” ucap Lala panjang lebar dengan lirih.


Qania tidak menjawab, ia hanya memberikan senyuman tulus dan nampak begitu manis. Lala pun membalas senyuman tersebut tak kalah manisnya.


‘Nikmat mana lagi yang hamba dustakan kalau sudah seperti ini. Makasih ya Allah karena Engkau sudah mengirimkan malaikatmu ke kehidupan hamba yang menyedihkan ini. Makasih kak Qania untuk semua kebaikanmu, aku berjanji akan belajar dengan baik dan bisa memberikan ilmuku pada perusahaanmu dan membantu memajukannya nanti’,.


.


Qania baru saja keluar dari kamar mandi setelah menghabiskan waku sampai sore bersama Lala, mulai dari membeli motor, perlengkapan masak-memasak, perabotan rumah tangga serta tempat tidur mereka. Kini giliran Lala yang masuk ke kamar mandi yang memang hanya ada satu.


“La, setelah magrib kita cari makan di luar dan sekalian belanja buat ngisi kulkas di supermarket” ucap Qania sebelum Lala masuk ke kamar mandi.


“Iya kak” jawab Lala.


Setelah Qania berlalu barulah Lala masuk ke dalam kamar mandi.


Qania sedang duduk di depan meja rias yang tadi ia beli bersama Lala dan Lala juga membeli satu dan tentu saja itu karena paksaan Qania.


“Hah, anak sultan ngekostnya di sini. Uang jajan sebulan padahal bisa buat ngekost di hotel atau paling nggak sewa apartemen mewah. Lah ini mah gue nyewa rumah kost yang hanya rumah kosong doang nggak ada tempat tidur dan lemari sama sekali. Hahahahaha, sombong banget lo Qan” kekeh Qania sambil memandangi wajahnya di depan cermin.


Qania bangkit dan berjalan ke tempat tidur, waktu kini sudah menunjukkan pukul lima sore ketika Qania menyalakan ponselnya.


“Hah kangen kamu, Nak” desah Qania setelah menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur yang empuk karena masih baru itu dan terus menatap foto sang anak di ponselnya.


“Hmm, mami pastikan akan cepat sarjana karena mami udah nggak di kelas itu lagi. Semua karena Syaquile, haih anak itu memberikan beban berat kepadaku dengan masuk ke kelas seperti itu. Tapi bagus juga sih karena bisa serius kuliah dan bisa cepat sarjana dan bisa pulang dengan cepat tentu saja”,.


Qania menciumi ponselnya, kemudian ia melakukan panggilan video pada nomor mamanya karena kemarin mereka memberitahu kalau Arqasa berada di rumah mereka sebab Setya Wijaya harus keluar kota mendadak dan Nisha pun sibuk mengurus wisudahnya.

__ADS_1


Panggilan video tersambung dan Qania tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya begitu melihat sang anak langsung berceloteh dan tidak terlihat sedih. Qania menanggapi celotehan anaknya itu sampai akhirnya sang anak merasa lelah dan Qania hanya tertawa dengan keluahan sang anak.


“Mami capek bicara” ucapnya dengan raut wajah kesal.


“Haha, ya sudah sayang besok lagi ya. Sekarang kamu mandi sama nenek” ucap Qania masih sedikit tertawa.


“Hm, iya Mami, daa” ucapnya sembari memberikan kiss bye.


“Bye juga sayang, ummaahh” balas Qania.


Qania pun menyimpan ponselnya ke dalam tas yang akan ia gunakan untuk keluar mencari makan bersama Lala.


Setelah menunaikan ibadah Qania dan Lala pun keluar bersama dengan mengendarai motor Qania.


 


... ………………………………….....


 


Tanpa terasa semester baru pun telah dimulai. Suasana kampus nampak begitu ramai apalagi bertambahnya dengan mahasiswa baru yang membuat suasana kampus juga terlihat baru dengan kehadiran mereka yang baru saja lulus dari Sekolah Menengah Atas.


Qania memarkirkan motornya dan setelah itu ia bergegas menuju ke kelas barunya yang tentu saja di awal perkuliahan ia harus datang cepat karena ia belum mengenal siapa saja teman sekelasnya.


Saat Qania berjalan dengan terburu-buru, ia tak sengaja melihat Julius yang sedang bersandar di dinding di depan kelas lamanya sambil menatap Qania. Qania melempar senyum kepadanya dan Julius menyambutnya dengan senyuman yang tak kalah manisnya.


“Qan, lo ngapain kesini?” tanya Julius setelah sampai di hadapan Qania.


“Oh, aku pindah ke kelas ini” jawab Qania sembari tersenyum senang.


“Pindah?” pekik Julius.


“Tapi kenapa?” cicitnya lagi.


“Kamu ingat kejadian waktu aku dibully Rosa dan dua temannya kan dan saat itu adikku datang dan marah karena aku dibully makanya dia minta ke pak Erlangga untuk memindahkan aku ke kelas ini dan beliau langsung menyetujuinya” jelas Qania.


“Tapi nggak harus pindah juga kan Qan, ka nada gue yang ngelindungin elo” protes Julius.


“Hmm, maaf bukannya kamu nggak mau ngomong ya sama aku?” tanya Qania sarkas.


“Maaf Qan, gue hanya kecewa sama lo. Gue nggak bisa ngendaliin diri gue karena rasa kecewa udah nguasain hati gue dan dengan bodohnya gue ngelakuin hal yang buat elo malu dan dibully sama teman-teman terlebih elo sampai masuk ke ruang dekan karena sebuah kasus yang disebabkan oleh gue. Maaf banget Qan, gue salah dan gue tahu perbuatan gue udah keterlaluan ke elo, maaf Qan” lirihnya.


“Gue bukan Raka yang bisa nerima kalau cinta gue ditolak terlebih lagi ini cinta pertama gue. Gue naïf dan masih kekanak-kanakan, maafin gue Qan. Lo mau kan balik lagi ke kelas kita?” bujuknya lagi sehingga membuat Qania menghiba.


“Aku udah maafin kamu sebelum kamu minta maaf Jul. Tapi maaf, aku nggak bisa balik lagi ke kelas bersama kamu karena aku udah ngurus KRS dan aku udah tercatat sebagai mahasiswa di kelas internasional ini” ujar Qania yang membuat Julius tertunduk lesu.


‘Semua salah gue yang nggak mikir panjang udah nyebarin video itu. Seandainya gue nggak ngelakuin itu mungkin Qania masih berada di kelas bareng gue. Baru saja gue bertemu dan ingin menyambung kembali pertemanan itu eh malah sekarang gue mendapat berita seperti ini. Arrghhh sial, lo bego banget sih Julius’,.

__ADS_1


“Udah nggak usah merasa bersalah dan nyalahin diri sendiri. Aku masuk dulu ya” ucap Qania menepuk bahu Julius lalu melenggang masuk ke kelas barunya.


Julius hanya bisa menatap punggung Qania hingga menghilang dari pandangannya. Dengan gontai Julius berjalan kembali ke kelasnya.


Sementara di dalam ruang kelas baru Qania, ia dibuat sedikit tersentak karena kelas yang ia pikir akan sangat serius justru terlihat lebih parah dari kelas lamanya. Ia menggulum senyum begitu melihat wajah panik para mahasiswa yang mengira bahwa yang datang adalah dosen mereka.


“Ya ampun ternyata elo, hah gue kirain dosen” celetuk salah satu dari mahasiswi yang sedang asyik dengan alat make upnya.


“Selamat datang Qania, semoga betah ya” sambut salah satu mahasiswa yang sedang asyik bermain game. “Yes savage, wah berkat kedatangan elo nih Qan” imbuhnya.


“Alah modus lo”,.


“Iri bilang boss”,.


“Ye mana ada boss-boss yang ngiri”,.


“Udah Qan, elo mendingan jangan dengerin orang gila mending lo duduk manis bareng gue. Oh ya kenalin nama gue Mai” ucap mahasiswi yang tadi sedang merias wajahnya dengan make up.


“Ya ampun Mai, sadar woi. Qan, lo jangan panggil dia Mai, panggil aja Mae kan namanya Maemunah” teriak salah satu mahasiwa.


“Apaan sih, pada sirik lo pada” ketusnya.


Sementara Qania hanya bisa terkekeh mendengar perdebatan manis di pagi hari ini.


‘Pagi yang manis dan awal yang manis, semoga akan selalu manis’,.


“Sebenarnya tadi kita pengen ngerjain mahasiswa baru di kelas kita, eh begitu tahu mahasiswa barunya itu Qania Salsabila pujaan gue eh nggak jadi deh. Oh iya perkenalkan gue Zakih, ketua kelas” ucapnya sambil berjalan mendekati Qania dan Mae.


“Huuuuuuu”,.


“Salam kenal Zakih” ucap Qania dengan memberikan senyuman manis.


“Oh my God, Qan lo jangan tersenyum kayak gitu. Bikin gue pingsan tahu nggak” pekik Zakih.


“Halah lebay lo. Oh ya Qan, gue Yusuf paling jago main game di kelas ini dan pastinya gue paling tampan sebelas dua belas dengan nabi Yusuf” ucap Yusuf, mahasiswa yang tadi bermain game saat Qania datang dan sekarang ia sudah menghampiri Qania diikuti seluruh mahasiswa yang juga tidak mau ketinggalan untuk berkenalan langsung dengan Qania.


“Sudah selesai acara kenalannya?”,.


Semua mahasiswa langsung menatap ke asal suara yang mana di ambang pintu pak Erlangga sudah berdiri dengan tasnya sambil menatap ke perkumpulan mahasiswa dengan senyuman miring.


Mereka pun berhamburan ke tempat duduk masing-masing sementara Mae dan Qania cekikikan melihat gelagat teman-teman mereka yang langsung diam bagai kucing basah.


...................................


Terima kasih sudah membaca 🤗🤗🤗🤗


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🍀🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2