Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
So Sweet


__ADS_3

Acara makan bersama itu berlangsung dengan penuh keributan dimana mereka tak hentinya saling melempar candaan. Iren langsung cepat akrab dengan Qania dan Lala begitupun dengan keduanya.


“Qan, berhubung kamu disini bisa nggak aku minta tolong?” tanya Mario disela-sela makan mereka.


“Boleh? Emang mau minta tolong apaan?” tanya Qania.


“Aku mau nyanyi tapi kamu yang iringi aku dengan piano itu” jawab Mario.


“Boleh” sahut Qania.


“Apa sih bisik-bisik?” tegur Iren merasa tak nyaman.


“Ada deh” sahut Qania membuat Iren mengerucutkan bibirnya sementara Lala hanya fokus pada makanannya.


“Yuk Qan” ajak Mario tanpa mempedulikan tatapan horror dari Iren.


Qania berdiri dan mengikuti langkah Mario, meninggalkan Iren yang dihujani beribu tanda tanya di benaknya dan juga rasa cemburu yang mendera hatinya.


“Ngapain mereka ke tempat piano itu?” gumam Iren.


Qania sudah duduk di bangku menghadap ke piano sementara Mario sudah memegang mic.


“Selamat malam semua … maaf mengganggu acara makan kalian, saya hanya ingin bernyanyi dan lagu ini saya tujukan untuk seorang gadis cantik yang sedang duduk di meja kosong delapan. Dia sangat cantik malam ini dengan balutan dress peachnya. Iren Maharani, I love you” ucap Mario dengan senyuman yang terus tersungging di bibirnya.


Kecemburuan yang tadi menghujani hati Iren pupus sudah setelah mendengar ucapan Mario yang dengan terang-terangan memujinya. Pipinya bersemu merah, ia begitu malu dan senang luar biasa.


“Ciee … kak Iren” goda Lala yang membuat pipi Iren semakin merona merah.


“Ih Lala, jangan bikin kakak makin malu nih” ucap Iren malu-malu namun Lala hanya cekikikan.


Qania mulai memainkan pianonya dengan lagu yang dibawakan oleh Mario yang berjudul Beautiful Girl dengan penuh penghayatan.


Di mejanya, Iren semakin dibuat berbunga-bunga oleh Mario yang bernyanyi tanpa melepas tatapan darinya.


‘I love you Mario, I love you so much’,.


🌷


🌷


Tristan, Marsya dan tuan Alvindo sedang menikmati makanan mereka di ruang VIP restoran dengan keadaan diam, hanya bunyi alat makan yang terdengar dalam ruang tersebut.


Tuan Alvindo meneguk minumannya sampai tandas sebelum memulai perbincangan bersama Tristan dan Marsya. Ia menunggu keduanya selesai makan barulah ia akan berbicara.


“Tristan” panggil tuan Alvindo begitu melihat Tristan dan Marsya sudah menghabiskan makanan dan minuman mereka.


“Iya om” sahut Tristan.


“Om ingin meminta sesuatu darimu, bisa?” tanya tuan Alvindo dengan lembut.


“Jika aku bisa memberikannya tentu akan ku berikan” jawab Tristan namun dalam benaknya ia sibuk berpikir kira-kira apa yang akan diminta oleh ayah dari kekasihnya itu.


“Begini Tris, kau dan Marsya sudah sangat lama menjalin hubungan dan bahkan jika diibaratkan dengan cicilan kalian itu sudah melunasi cicilan satu unit rumah” ucapnya terjeda.


“Apa tidak sebaiknya hubungan kalian diresmikan ke jenjang yang lebih serius lagi, menikah misalnya?” tanya tuan Alvindo hati-hati.


“Me … menikah?” tanya Tristan terkejut.


“Ya menikah. Atau paling tidak kalian bertunanganlah dulu sebelum menikah. Usia kalian sudah cukup matang untuk menikah. Kau sudah hampir kepala tiga dan Marsya sudah dua puluh tujuh tahun, apalagi yang ingin kalian tunggu?” ujar tuan Alvindo.


“Pa, jangan terburu-buru lah. Bagaimana kalau tunangan saja dulu, iya kan Tris?” ucap Marsya sembari bertanya kepada Tristan.


‘Ah mengapa rasanya aneh saat om Alvin memintaku untuk mengikat Marsya? Padahal kami berdua sudah menjalin hubungan sangat lama dan memang benar seharusnya kami menikah atau bertunangan dulu, tapi mengapa hatiku seakan menolaknya?’,.


“Tristan?” panggil tuan Alvindo saat mendapati Tristan sedang melamun.


“Ya” sahut Tristan kaget.


“Jadi bagaimana, apa keputusanmu?” tanya tuan Alvindo.


“Ya kalau saya sih sebaiknya kami bertunangan saja dulu karena untuk menikah itu bukanlah perkara yang mudah menurut saya om. Menikah itu menyatukan dua karakter yang berbeda dan untuk waktu seumur hidup, tidak sama seperti berpacaran yang saat kita suka kita akan bilang cinta tapi saat kita bosan maka kita akan dengan mudah mengatakan berpisah. Bagi saya menikah hanya sekali dalam seumur hidup. Dan saya tidak ingin bermain-main dengan yang namanya pernikahan” ucap Tristan dengan serius, namun dadanya terasa sesak saat mengatakan kata pernikahan itu.


Beda halnya dengan Marsya yang sudah meleleh karena ucapan Tristan yang mau bertunangan dengannya, tuan Alvindo justru merasa ambigu dengan pernyataan Tristan. Ia merasa sepertinya Tristan belum ingin menjalin hubungan ke jenjang yang lebih serius dengan putrinya.


‘Saya merasa aneh dengan jawabannya, karena menurut saya Marsya tidak akan bermain-main dengan pernikahan yang dia sendiri sudah sangat menantikannya. Apakah Tristan yang tidak ingin menikahi Marsya?’,.


“Ekhmm …” tuan Alvindo berusaha menstabilkan perasaannya sebelum memulai pembicaraan lagi.


“Jadi kamu setuju untuk bertunangan dengan Marsya?” tanya tuan Alvindo.


“Iya om” jawab Tristan berusaha meyakinkan calon ayah mertuanya itu.

__ADS_1


“Oke, jadi kapan?” tanyanya lagi.


“Jangan tanyakan saya om, tapi tanyakan ke putrimu itu. Apakah dia ingin bertunangan dengan saya atau tidak” jawab Tristan mengalihkan.


“Ih Tristan, kamu kok nggak romantis banget sih. Masa iya papa yang kamu suruh buat nanya ke aku. Kan harusnya kamu yang nanya ke aku bukan papa, gimana sih?” sewot Marsya yang sedari tadi sudah menunggu kata-kata romantis Tristan namun nyatanya Tristan malah meminta papanya yang bertanya padanya.


“Hahaha … benar juga kamu sayang” tawa tuan Alvindo.


Tristan ikutan tertawa melihat kekesalan Marsya, ia lupa bahwa disini dialah prianya bukan papa dari gadisnya.


“Hahaha … maaf sayang, aku sampai lupa. Mungkin karena aku gugup di hadapan papamu” ucap Tristan menghentikan tawanya.


‘Oh rupanya Tristan ini sedang gugup. Saya sempat mengira dia tidak serius dengan anak saya, tetapi setelah mendengar ucapan dan ia pun turut tertawa saya paham memang dia sedang gugup saja’ batin tuan Alvindo.


Marsya mendengus, sementara Tristan sedang berpikir cara apa yang  cukup romantis untuk melamar Marsya dan memintanya untuk bertunangan dulu.


Samar-samar Marsya mendengar suara pria yang sedang bernyanyi diiringi oleh piano. Terbesit ide di pikirannya.


“Tris, boleh nggak kamu nyanyiin aku lagu?” tanya Marsya penuh harap.


“Aku nggak bisa nyanyi Marsya” elak Tristan.


“Aku nggak percaya kalau kamu nggak bisa nyanyi” bantah Marsya.


“Apa kamu ingin membuat para pengunjung restoran ini pergi karena mendengar suara emasku?” canda Tristan diikuti gelak tawa oleh tuan Alvindo.


“Ishh …”,.


“Hmm … gimana kalau kita minta penyanyinya yang mewakili aku untuk menyanyikan lagu yang kamu inginkan?” saran Tristan.


“Tidak begitu buruk, ya sudah minta kepada penyanyinya dan aku mau pria ini yang bernyanyi karena suaranya sangat bagus” sahut Marsya menyetujui.


Tristan bergegas mencari pelayan restoran untuk meminta maneger restoran menemui mereka di ruang VIP. Setelah Tristan masuk kembali, tak lama kemudian maneger restoran itu pun datang.


“Permisi, ada yang bisa saya bantu?” tanyanya.


“Begini Pak, maaf mengganggu waktu anda. Saya bisa minta tolong untuk meminta penyanyi restoran anda untuk menyanyikan sebuah lagu untuk calon tunangan saya ini, Pak? Tapi kekasih saya ini maunya penyanyi yang saat ini tengah bernyanyi ini” tanya Tristan dengan sopan.


“Tentu saja bisa pak Tristan, hanya saja penyanyi yang sekarang itu bukanlah penyanyi kami. Dia hanya meminta izin untuk menyanyikan lagu karena sedang melamar kekasihnya” jelas maneger tersebut.


“So sweet” gumam Marsya.


“Gimana sayang? Yang sekarang tengah bernyanyi ini bukan penyanyi restoran ini loh” tanya Tristan kepada Marsya.


“Pak bisakah?” tanya Tristan memelas.


“Tunggu, nanti akan saya tanyakan” jawab maneger tersebut.


“Kami menunggunya Pak” sahut Tristan.


Maneger tersebut mengangguk kemudian pergi menemui penyanyi yang tidak lain adalah Mario. Kebetulan saat ia akan menemui Mario, lagunya pun sudah habis.


“Permisi dek” panggilnya kepada Mario.


“Iya Pak”,.


“Emm begini, di dalam ada tuan Tristan Anggara, dia ingin memintamu untuk bernyanyi lagi karena beliau juga ingin melamar kekasihnya. Bolehkah?” tanya maneger tersebut.


“Emm gimana ya Pak, sebenarnya teman saya baru saja saya mintai untuk memainkan piano sambil bernyanyi karena saya ingin berdansa bersama calon istri saya” jawab Mario tak enak hati.


“Wah kalau benar begitu, sepertinya rencanamu tidak begitu buruk. Tunggu sebentar, saya akan menanyakan dulu kepada tuan Tristan Anggara” ucapnya bersemangat.


Mario mengangguk, ia kemudian menghampiri Qania untuk memintanya menunggu sebentar karena ada yang ingin memintanya untuk bernyanyi lagi. Qania mengiyakan, ia pun meminta Mario untuk menemui Iren dulu untuk memberitahukan rencana mereka. Mario pun meninggalkan Qania.


“Hmm, lagu apa ya yang cocok buat mereka?” gumam Qania sambil memikirkan judul lagu.


Entah mengapa ingatannya kembali ke masa dimana ia bertunangan dengan Arkana dan suaminya itu menyambutnya dengan lagu Beautiful in White. Senyum manis terbit dibibir Qania.


“Tapi aku nggak akan nyanyiin lagu kami untuk orang lain” ucap Qania lagi.


Tok … tok … tok …


Setelah mendapat sahutan dari dalam, maneger tersebut pun masuk. Dengan senyuman merekah ia mendekati ketiga orang yang cukup terkenal di kota itu.


“Begini Pak, dari informasi yang saya dapatkan mereka akan kembali bernyanyi tetapi teman si pria itu yang akan bernyanyi dan memainkan piano sementara si pria tadi itu akan berdansa bersama calon istrinya” ucap maneger tersebut.


“So sweet” pekik Marsya.


“Apakah kau mau berdansa sayang?” tanya Tristan.


“Tentu” jawab Marsya antusias.

__ADS_1


“Baiklah kalau begitu Pak, saya akan memberitahukan kepada mereka. Anda dan nona Marsya silahkan bersiap” ucap maneger tersebut tak kalah antusias, kemudian ia bergegas keluar.


Marsya tersenyum menyambut uluran tangan Tristan, ia menatap kepada papanya yang juga tengah tersenyum melihat kebahagiaan putrinya tersebut.


“Om, boleh saya membawa Marsya untuk berdansa?” tanya Tristan.


“Tentu” jawab tuan Alvindo sambil mengangguk dengan senyum tak lepas dari bibirnya.


Di luar, Mario mendekati Qania untuk memberitahukan bahwa tamu yang ingin ikut berdansa sudah siap dan Qania pun mengangguk. Ia mulai menekan pedal piano untuk memberi kode kalau ia pun sudah siap.


“Hmmm … hmmm … lalala lalaa” suara merdu Qania mengecek suaranya sendiri.


Suara merdu Qania terdengar sampai di ruang dimana Tristan dan Marsya sedang menunggu waktu untuk mereka keluar. Tristan yang sudah menggenggam tangan Marsya pun langsung membawanya keluar dari ruangan tersebut menuju ke lantai dansa.


Sir I’m bit nervous ‘bout being here today


Still not real sure what I’m going to say


So bare with me please


If I take up to much of your time


 


...See in this box is a ring for your oldest...


...She’s my everything and all that I know is...


...It would be such a relief if I know...


...That we were on the same side...


...Cause very soon I’m hoping that I...


... ...


Can marry your daughter


And make her my wife


I want her to be the only girl


That I love for the rest of my life


And give her the best of me


Till the day that I die


 


I’m gonna marry your princess


And make her my queen


She’ll be the most beautiful bride


That I’ve ever seen


I can’t wait to smile


When she walks down the isle


On the arm of her father


On the day that I marry your daughter


 


Sementara Qania tengah menghayati lagunya dengan senyuman tersungging di bibirnya dan deraian air mata membasahi pipinya, di lantai dansa ada dua pasangan yang sedang berbunga-bunga karena bagi mereka lagu yang Qania bawakan sangat pas dengan suasana hati mereka.


 


 


...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...


Terima kasih sudah membaca 🤗🤗🤗🤗


Berteman yuk:


IG: Vvillya

__ADS_1


FB: Vicka Villya Ramahani


WA: 0823 5054 5747


__ADS_2