
Gueena ragu-ragu menyapa Qania yang sedang duduk sendirian menunggu kedatangannya bersama Julius di kafe. Merasa minder dan juga merasa sedikit tidak suka sebab mendengar banyak cerita dari sumber tak terpercaya yang mengatakan Qania dan Julius pernah memiliki hubungan khusus.Ada rasa tak enak di hatinya jika harus makan bersama wanita yang pernah singgah di hati Julius.
Sementara Qania belum menyadari kedatangan mereka karena sibuk dengan ponselnya. Ia sibuk melihat-lihat barang di aplikasi belanja online.
Julius yang melihat Qania sedang serius dan Gueena yang tak berani menyapa pun mencoba menjadi penengah yang baik.
“Ekhmmm. Qania, kau begitu sibuk sampai tidak menyambut kedatangan kami,” ucap Julius.
Perhatian Qania teralih pada suara tersebut, ia menoleh dan langsung tersenyum begitu melihat Gueena dan Julius.
“Oh maaf, tadi itu terlalu serius,” ucap Qania masih memasang senyumannya. “Kenapa masih berdiri? Ayo duduk,” imbuhnya.
Julius langsung menarik kursi untuk Gueena. Meskipun masih canggung, Gueena tetap duduk dan mencoba membalas senyuman Qania. Julius pun turut duduk.
“Kau sudah memesan makanan?” tanya Julius pada Qania.
“Belum. Tadi aku bilang pada pelayannya akan memesan jika teman-temanku sudah datang. Nah itu dia pelayannya datang,” ucap Qania begitu melihat ada pelayan yang datang mendekati mereka.
Pelayan tersebut pun mempersilahkan mereka untuk melihat buku menu dan memesan makanan. Setelah mendapatkan pesanan ia pun pergi.
“Jadi Qan, apa yang tadi ingin Lo bicarakan sama gue?” tanya Julius, ia tadinya ingin berbicara seperti biasa aku kamu namun ia menjaga perasaan Gueena yang nanti akan curiga jika ia memakai panggilan tersebut. Bagi Gueena, hanya dengan dirinya lah Julius berbicara menggunakan kata-kata tersebut.
Mengerti dengan situasi, Qania pun mengubah caranya berbicara. “Oh itu, gue ada rencana besok mengunjungi gudang kantor. Gue udah dapat izin dari boss. Besok kita kesana untuk mencari petunjuk,” jawab Qania, sesekali ia melihat wajah Gueena yang seolah tidak nyaman berada disana.
“Oke, besok gue bakalan ikut ke gudang. Ntar kita cari sama-sama disana. Siapa tahu emang disana ada petunjuk,” ucap Julius bersemangat.
Lagi, Qania melirik sekilas wajah masam Gueena. Ia tersenyum tipis merasakan aura tak bersahabat dari gadis di depannya ini. Qania memang orang yang sangat bersahabat namun juga ia tetap merupakan sosok yang sikapnya cukup dingin pada orang baru ataupun orang yang kurang menyukainya.
“Ya. Besok gue kabari. Gue mau kesana dulu ya, mau minta pesanan gue di bungkus saja,” ucap Qania seraya memasukkan ponselnya ke dalam tas.
“Lho kenapa Qan?” tanya Julius kaget.
“Saya hanya merasa tidak nyaman saja berada di sekitar orang yang juga tidak nyaman berada di dekat saya. Permisi,” ucap sarkas Qania yang membuat Gueena tertunduk saat Julius beralih menatapnya.
Tanpa mempedulikan pasangan kekasih itu, Qania pun pergi untuk mengatakan ia tak jadi makan disana dan meminta makanannya untuk dibawa pulang saja. Tak cukup lama menunggu pesanannya sudah siap. Ia pun berjalan keluar tanpa mempedulikan tatapan Julius yang mencoba meminta maaf atas perilaku Gueena.
“Harusnya kamu nggak gitu ke Qania. Dia itu bisa tahu mana yang suka dan tidak suka dengannya hanya dengan sekali melihatnya,” ucap Julius menahan kesal.
“Jadi kamu belain dia?” tanya Gueena mulai kesal.
“Ya aku nggak bermaksud belain Qania. Aku disini hanya meluruskan pikiranmu saja tentang Qania. Dia itu nggak seperti yang kamu pikirkan,” ucap Julius menekankan.
“Belain aja terus. Emang rasa kamu ke dia itu masih ada, iya kan? Ngaku aja kamu. Aku ini cuma pelarian doang, kan? Ck, aku nggak nyangka kamu lebih milih belain dia daripada aku yang udah lama pacaran sama kamu,” bentak Gueena.
“Gueen! Aku tuh nggak ada ya bela-belain Qania. Kamu aja yang selalu berpikir negatif tiap kali ada hal yang bersangkutan dengan Qania. Jangan melebih-lebihkan Gueen. Kamu tahu sendiri aku itu sayang dan cinta sama kamu. Buang jauh-jauh pikiran burukmu itu. Otak kamu udah terlalu banyak diberi asupan tak bergizi oleh Rossa,” ucap Julius penuh penekanan dan itu bukannya membuat Gueena sadar namun makin marah.
Baru saja Gueena akan membuka suara, pelayan datang mengantarkan makanan mereka kemudian pergi lagi setelah menata makanan tersebut di atas meja.
“Aku tidak ingin makan, aku mau pulang saja,” ucap ketus Gueena.
“Jangan harap bisa melangkah dari sini jika kau tidak memakan makananmu Gueena!” ancam Julius.
“Tapi aku sudah tidak berselera!”
“Gueena! Aku bilang makan. Jangan pernah melampiaskan kekesalanmu pada makanan,” ucap Julius sambil memejamkan mata mencoba meredam amarahnya.
Dengan bersungut-sungut Gueena mulai memasukkan makanannya ke dalam mulut. Ia semakin kesal saja pada Qania. Dalam hati ia membenarkan semua ucapan Rossa yang mengatakan bahwa Qania memang perusak suasana dan juga perebut simpatik Julius.
. . .
Qania memarkirkan motornya di depan rumah kostnya bersamaan dengan Lala yang datang. Keduanya saling sapa kemudian sama-sama masuk ke dalam rumah.
“La, kakak mandi duluan ya. Kalau bisa ini makanan kamu sajikan dulu di piring. Tadi kakak sempat singgah membelinya. Kamu pasti capek dan kakak juga capek,” ucap Qania menyerahkan paper bag pada Lala.
“Baik Kak. Iya nih capek banget. Aku ke dapur dulu ya Kak,” ucap Lala meraih paper bag tersebut kemudian berjalan ke dapur sementara Qania langsung masuk ke kamar untuk mengambil peralatan mandinya.
Qania membasuh wajahnya di wastafel kemudian menatap cermin. “Dasar gadis cemburuan. Dia pikir aku tuh suka sama Julius. Ngeselin banget. Nggak usah masang tampang sok jutek dan nggak suka gitu di depan aku. Tanpa kamu kayak gitu pun aku juga udah nggak nyaman makan sama kalian, huhh,” dengus Qania, ia pun kemudian memutuskan untuk mandi dan menyegarkan tubuh, hati dan pikirannya.
Tak lama kemudian Qania selesai mandi dan bergantian dengan Lala.
Malam harinya setelah makan malam bersama Lala, keduanya sama-sama pamit masuk ke kamar karena lelah dengan aktivitas hari ini. Tidak seperti beberapa hari awal magang yang masih cukup santai saja. Sekarang keduanya sudah menjadi begitu sibuk layaknya karyawan sesungguhnya.
Di dalam kamarnya Lala sedang teleponan dengan Syaquile. Kekasihnya itu sangat tahu cara menghibur dan membuatnya melupakan rasa lelahnya. Syaquile terus memberinya semangat dan juga kata-kata motivasi agar Lala tetap semangat menjalani hari-hari magangnya.
“Kakak dimana?”
“Sedang beristirahat di kamar. Dia terlihat sangat lelah tadi. Wajahnya tak seceria biasanya,” jawab Lala yang memang sedari tadi memperhatikan raut wajah Qania mulai dari masuk ke rumah hingga mereka selesai makan malam.
__ADS_1
“Kamu yakin dia hanya kelelahan saja. Mungkin saja dia sedang kesal atau patah hati, haha.”
“Ih apa sih, nggak baik ngetawain kakak sendiri,” tegur Lala.
“Iya sayang, maaf.”
Meskipun sudah berulang kali mendengar Syaquile memanggilnya sayang namun tetap saja pipi Lala memerah.
Qania tersenyum, saat ia keluar dari kamar ia tak sengaja mendengar Lala yang tengah mengobrol sambil menyebut-nyebut nama adiknya. Ia senang ternyata adiknya itu bisa juga jatuh cinta dan sekarang ia yakin pasti adiknya itu tengah mengeluarkan jurus-jurus jitu untuk melelehkan hati Lala seperti yang dulu sudah pernah Arkana ajarkan padanya.
Sebelumnya Qania mendapat kabar bahwa barang pesanannya sudah sampai dan kurirnya sedang menunggu di depan rumah makanya ia keluar. Setelah mengambil barang pesanannya, Qania kembali masuk dan mengunci pintu rumah lalu ia masuk ke kamarnya.
Qania duduk di atas tempat tidurnya lalu menelepon Julius.
“Jul, kamu sedang sibuk?” tanya Qania begitu panggilannya tersambung.
“Enggak Qan, aku lagi nyantai aja di rumah.”
“Bisa datang ke tempatku sekarang?” tanya Qania.
“Bisa. Aku kesana sekarang.”
“Ya sudah, hati-hati ya.”
“Iya.”
Julius tentu saja langsung mengiyakan karena ia yakin Qania pasti akan membahas tentang misi mereka. Dengan segera ia meraih kunci mobilnya. Sepanjang jalan Julius sibuk merangkai kata maaf untuk sikap Gueena tadi. Ia jadi kesal sendiri kenapa kekasihnya itu justru tidak bersikap ramah pada Qania dan malah begitu akrab dengan Rossa yang nyata-nyata adalah musuh dalam selimut.
Setelah hampir setengah jam Julius pun sampai di rumah kost Qania. Ia tersenyum saat turun dari mobil dan mendapati Qania sudah menunggunya di kursi teras.
“Selamat malam,” sapa Julius.
“Malam, silahkan duduk,” balas Qania.
“Terima kasih,” ucap Julius kemudian duduk di samping Qania yang hanya dibatasi oleh meja.
“Maaf mendadak memintamu untuk datang,” ucap Qania namun ia tidak melirik Julius, pandangannya lurus ke depan.
“Tidak masalah. Oh ya, aku mau minta maaf soal sikap Gueena tadi sore. Harusnya dia nggak bersikap seperti itu padamu,” lirih Julius.
“Ya, aku memang kesal. Tapi mau bagaimana, kita tidak bisa memaksa orang untuk bersikap pada kita seperti yang kita mau, kan? Lupakan saja, aku ingin membahas hal penting padamu,” ucap Qania kini beralih menatap serius pada Julius.
“Nggak Qan, aku nggak setuju kalau yang itu,” tolak Julius.
“Jul, kamu harus yakin. Lagian ada kamu yang akan menolongku disana,” ucap Qania meyakinkan.
“Tapi ini terlalu berisiko Qan, jangan gila,” ucap Julius sedikit membentak namun tak membuat Qania marah, ia hanya tersenyum karena ia tahu itu adalah wujud kepedulian Julius padanya.
“Tapi dengan begini kita bisa mendapatkan alat untuk membuka mulutnya jika kita tidak menemukan bukti tentang kejahatan mereka terhadap pamanmu.”
“Qan, tapi ini berbahaya. Kamu yang akan menanggung risiko terburuknya dan aku yang akan sangat merasa bersalah jika terlambat menolongmu,” lirih Julius.
“Kita yakinkan saja dan percayakan ini semua pada Tuhan, Jul. Jika niat kita baik maka aku yakin Tuhan pasti akan merestui dan menolong kita,” ucap Qania sekali lagi meyakinkan Julius.
“Berjanjilah untuk tidak akan kenapa-napa padaku, Qan,” pinta Julius dengan lirih.
“Aku berjanji. Dan berjanjilah untuk datang menolongku jika terjadi sesuatu,” balas Qania meminta Julius berjanji.
“Aku berjanji, aku berjanji.”
Qania tersenyum, ia masih menangkap raut penuh kekhawatiran di wajah Julius. Ia pun memberikan benda yang tadi ia pesan kepada Julius.
“Nanti kau atur saja dimana letak yang paling strategis. Ini juga sudah terhubung dengan ponselku,” ucap Qania.
“Baiklah,” ucap Julius sedikit lemas sambil menerima barang pemberian Qania.
“Hei mengapa lemas sekali sih, hahahaha,” tawa Qania membuat Julius menatap datar padanya. “Oke, oke. Aku tahu kau sangat khawatir. Tapi yakinlah kita bisa melakukannya dan doakan saja aku akan baik-baik saja. Jangan berpikir kemungkinan terburuk, berpikir positif saja, oke,” ucap Qania dengan serius namun tetap memasang senyumannya untuk membuat Julius tenang.
“Hmm, meskipun berat tapi aku akan berusaha yakin bahwa kau akan baik-baik saja dan aku pasti akan datang menolongmu tepat waktu,” ucap Julius.
Qania hanya membalasnya dengan senyuman. Ia sedikit lega karena kini Julius tak protes lagi.
“Aku pamit pulang dulu Qan, udah hampir jam sepuluh. Kamu masuk saja dan istirahat, oke,” ucap Julius setelah melirik jam tangannya.
“Ya, kamu hati-hati. Aku akan masuk jika sudah melihatmu pergi . Dan besok bisakah kau datang menjemputku? Aku sedang malas membawa motor sendiri,” tanya Qania dan Julius hanya menjawab dengan anggukan pelan.
“Aku pergi,” ucapnya.
__ADS_1
Setelah mobil Julius tak terlihat lagi, Qania pun masuk ke dalam rumah. Ia kini merasa khawatir sendiri. Demi mengusir kekhawatirannya, ia menelepon anaknya namun justru mamanya yang menjawab panggilan tersebut.
“Anakmu sudah tidur. Disini pukul sebelas malam.”
“Ah iya Ma, Qania lupa, hehe.”
“Besok pagi saja ya. Mama juga sangat mengantuk.”
“Baik Ma. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam.”
Qania merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, ia bingung harus apa karena tidak bisa tidur. Ingin berbicara tapi dengan siapa.
Qania menepuk jidatnya, “Ya ampun Qania, kenapa bisa kau lupa dengan Tristan?” pekiknya kemudian segera menghubungi pria itu. Hanya dengan sekali berdering panggilannya lansung dijawab.
“Kemana saja? Seharian kau melupakan aku? Sudah tidak cinta? Atau sudah memiliki kekasih baru?”
Qania terbengang begitu mendengar suara yang langsung memberinya banyak pertanyaan tanpa menyapa terlebih dahulu.
“Ish, ish, ish. Kenapa bertanya begitu? Kau tidak menyapaku dulu? Tidak merindukanku?” tanya Qania balik.
“Qania, kenapa masih bertanya hem? Bukannya pertanyaan-pertanyaanku tadi itu sudah menegaskan betapa hari ini aku sangat merindukanmu dan sangat kesal karena kau mengabaikanku?”
Qania terkekeh mendengar suara Tristan yang sepertinya tengah kesal.
“Aku tahu dan aku hanya ingin mendengar langsung darimu. Bisakah?” pinta Qania, entah mengapa ia menjadi sedih sendiri.
Tristan yang mendengar suara lirih Qania pun langsung mengalihkan panggilan mereka menjadi panggilan video.
“Ada apa?” tanya Tristan begitu melihat raut wajah sedih Qania.
“Tidak ada apa-apa. Aku hanya sedang lelah saja,”kilah Qania.
“Jangan bekerja berlebihan, oke. Nanti jika aku dan kamu sudah menikah maka aku yang akan bekerja untukmu. Kau cukup berada di rumah dan mengurus anak-anak kita, serta menungguku pulang bekerja,” ucap Tristan.
“Sangat manis bukan? Tapi silahkan berkhayal karena itu tidak akan mungkin. Aku memiliki banyak tanggung jawab dengan banyaknya pekerjaan yang akan dilimpahkan padaku nanti oleh Papa Setya. Jangan lupakan hal itu,” ucap Qania.
“Oh ya, aku lupa kau adalah menantu sultan,” ledek Tristan.
“Ya. Dan kau harus menyiapkan uang yang banyak saat melamar menantu sultan ini,” kekeh Qania.
“Tentu saja, aku sudah menyiapkannya sejak lama,” ucap Tristan ikut tertawa.
“Tristan.”
“Iya sayang.”
“Katakan.”
“Apa sayang?”
“Ish!”
“Hahaha, iya sayang aku merindukanmu. Sangat merindukanmu malah. Aku mencintaimu dan juga sangat menyayangimu,” ucap Tristan.
Qania tersenyum manis dan juga pipinya merona. Hal itu semakin membuat Tristan merasa gemas.
“Mengapa kau begitu menggemaskan sih? Aku kan jadi ingin segera sampai di rumahmu dan memelukmu. Oh ya, besok aku akan pulang dan tunggulah aku. Siapkan bayaran untuk menebus rinduku ini,” ucap Tristan bersemangat.
“Baiklah, bayaran apa yang kau inginkan?” tanya Qania.
“Dirimu.”
Qania mengangkat sebelah alisnya.
“Aku hanya ingin kau membiarkan aku untuk memelukmu dengan waktu yang lama. Jangan protes jika nanti aku akan terus memelukmu,” ucap Tristan menyadari jika Qania berpikir lain padanya.
“Tidak janji ya. Aku tidak ingin dipeluk tunangan orang,” sindir Qania.
“Ishh ….” Tristan menggaruk kepalanya.
“Tristan, aku mengantuk. Besok harus bekerja dan disini juga sudah larut malam,” ucap Qania.
“Iya sayang, kau tidurlah,” ucap Tristan yang terlihat berat untuk mengalihkan panggilannya.
“Nyanyiin lagu biar aku cepat tidur,” pinta Qania.
__ADS_1
Tristan terkekeh, kemudian ia pun mulai menyanyikan lagu romantis untuk Qania. Tak lama berselang sudah tidak lagi melihat wajah Qania di layar ponselnya melainkan rambut Qania. Itu karena Qania telah tertidur dan ponselnya tak sengaja jatuh ke samping kepalanya.
“Kau sangat manis jika sedang manja begini Qania. Aku semakin ingin menyegerakan melamarmu. Aku takut akan ada yang datang merebutmu dariku. Tunggu aku Qania, aku akan segera datang,” ucap Tristan sebelum ia mematikan sambungan video mereka.