Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Menginap Di Kantor Polisi


__ADS_3

Aku percayakan semua urusan Qania padamu. Aku harus pergi untuk urusan kota kita. Ingat, jangan biarkan yang menyentuh puteri kita bisa hidup tenang!” ucap papa Zafran berpamitan kepada papa Setya.


“Pasti, itu pasti. Kau tenang saja,” ucap Papa Setya sambil menepuk-nepuk pundak Papa Zafran.


“Ma, Papa berangkat dulu. Jagain Ar dan jangan sedih lagi, oke. Anak kita kuat dan dia pasti akan segera sembuh,” ucap Papa Zafran seraya mengelus puncak kepala istrinya.


“Iya Pa, hati-hati ya. Kalau udah nyampe jangan lupa kabarin,” sahut Mama Alisha.


“Iya, aku jalan dulu ya,” ucap Papa Zafran kemudian masuk ke dalam mobil.


Setelah mobil yang membawa papa Zafran tak terlihat lagi, Mama Alisha, Papa Setya dan Syaquile pun masuk.


“Al, tolong bangunin Ar. Sebentar lagi kami akan berangkat. Aku ingin menyapanya dulu,” ucap Papa Setya dan Mama Alisha pun langsung naik ke lantai dua sementara Syaquile dan papa Setya menunggu di ruang keluarga.


 


. . .


 


Di salah satu ruang rawat, pak Handoko tengah terbaring lemah setelah mendapat serangan bertubi-tubi dari dua pria muda. Ada asisten Revan yang setia menungguinya hingga ia siuman. Perlahan-lahan matanya mulai terbuka dan asisten Revan segera mendekat.


“Syukurlah, Anda sudah siuman,” ucap asisten Revan lega.


“A-air,” ucapnya parau, asisten Revan pun segera memberikannya segelas air dan membantunya minum.


Asisten Revan meletakkan kembali gelas tersebut di atas balas dan duduk menatapi wajah bosnya yang babak belur itu.


“Apa yang terjadi dengan Anda, bos?” tanya asisten Revan.


Pak Handoko sedikit meringis ketika ia mencoba untuk duduk. Asisten Revan yang tanggap pun langsung membantunya duduk bersandar setelah membuat pengaturan agar atasannya itu bisa duduk nyaman.


“Qania, dia mencuri dokumenku,” jawabnya. Meskipun tengah menahan rasa sakit, namun ekspresi di wajahnya itu menyiratkan kebencian.


“Dokumen? Dokumen apa bos?” tanya asisten Revan panik.


Revan tidak tahu tentang itu, apa yang harus aku katakan? Gumam pak Handoko dalam hati.


“Salah satu dokumen pentingku. Dan juga laporkan mahasiswa magang atas nama Julius, dia sudah menghajar ku dan juga temannya. Periksa cctv agar kau memiliki bukti pengeroyokan tersebut dan sisanya tolong kau tangani, buat mereka membusuk di penjara,” perintah pak Handoko.


“Tapi bos, masalahnya cctv gudang mati. Ini sepertinya sudah direncanakan oleh mereka. Saya yakin kedua mahasiswa itu masuk di kantor kita memang memiliki maksud tertentu,” ucap asisten Revan mengemukakan kecurigaannya dari awal.


“Appaa?!!” pekik pak Handoko terkejut. “Periksa latar belakang kampus dan siapa dosen yang ada dibelakang mereka. Kalau niat dari Qania sendiri itu saya tidak yakin mengingat dia bukan berasal dari kota kita. Ini pasti ada dalangnya,” ucap Pak Handoko. Meskipun tengah sakit tapi otak cerdasnya itu masih bisa berpikir. Orang luar seperti Qania tidak mungkin memiliki urusan dengannya. Data-data milik Qania menunjukkan bahwa ia bukan berasal dari kota dan pulau ini. Ia bahkan sudah mencoba mengingat tapi memang ia tidak pernah memiliki masalah dengan orang-orang di tempat Qania berasal.


“Bagaimana Anda seyakin itu?” tanya asisten Revan.


“Dia bukan penduduk asli disini. Dibalik ini semua ada yang sedang bermain petak umpet denganku. Pasti ada yang menyokongnya. Cari tahu. Aku ingin informasinya ada malam ini juga,” ucap Pak Handoko mengakhiri obrolan mereka.


Tanpa menjawab asisten Revan pun segera keluar dari ruangan tersebut. Ia harus memulai menyelediki tentang Qania. Karena terburu-buru ia bahkan melewati para suster yang membawa brankar Qania beserta Lala, Julius dan juga Raka.


Asisten Revan bingung, harus mulai darimana pengusutan kasus ini. Ia berhenti di pinggir jalan kemudian memukul setir mobilnya.


“Sepertinya lebih baik aku melaporkan kasus ini pada polisi. Pasti orang dibelakang Julius dan Qania akan muncul dengan sendirinya,” gumam asisten Revan kemudian kembali melajukan mobilnya menuju ke kantor polisi.


Saat asisten Revan tengah sibuk memecahkan kasus ini, Papa Setya dan Syaquile baru saja tiba di bandara. Mereka langsung menuju ke mobil taksi dan segera saja supir membawa mereka menuju ke rumah sakit tempat Qania di rawat.


Hampir setengah jam akhirnya mereka sampai juga. Lala sudah menunggu di depan rumah sakit ketika Syaquile mengabarkan jika mereka sebentar lagi akan sampai.


“Selamat malam Om, selamat malam Kak,” sapa Lala begitu Papa Setya dan Syaquile sudah turun dari mobil.


“Malam, ayo kita masuk,” ucap Papa Setya tak sabaran.

__ADS_1


Lala berjalan lebih dulu sebagai penunjuk arah dan Syaquile bersama papa Setya mengikutinya hingga mereka masuk di ruangan VVIP.


Di dalam kamar tinggal Julius dan Qania karena Raka sedang menerima panggilan telepon diluar.


“Qan, aku tuh nggak habis pikir sama kamu. Gila ya kamu, kamu ngebahayain dirimu sendiri. Aku hampir gila saat dokter bilang kamu nggak selamat. Kamu nggak mikirin diri kamu sendiri apa? Kamu nggak mikirin anak dan keluarga kamu, huh?” keluh Julius, ia sedang mengeluarkan unek-uneknya.


Qania tersenyum menanggapi ucapan Julius, ia bisa melihat temannya ini sangat khawatir padanya.


“Tapi sekarang aku kan baik-baik saja,” jawab enteng Qania.


Julius terbengang, tak tahu harus berkata apa. Ia kemudian mendengus, tak mau membahas apapun lagi karena toh Qania sudah seperti itu orangnya.


“Oh ya Jul, kameranya?” tanya Qania.


“Aman Qan, ada di dalam tasmu,” ucap Julius kemudian melirik tas Qania yang ada di atas balas. Ia tanggap dan langsung mengambil tas tersebut dan menyerahkannya kepada Qania.


Qania mengeluarkan kamera tersebut dan langsung mengeluarkan ponselnya juga. Ia melihat rekaman tersebut sambil sesekali bergidik ngeri melihat bagaimana ia disiksa. Julius pun sampai memerah matanya melihat kejadian sebenarnya. Tangannya terkepal kuat, masih ingin menghajar pak Handoko.


“Qan, kamu sudah sangat menderita,” lirih Julius begitu mereka selesai menonton rekaman tersebut.


“Kau tahu, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Aku percaya dengan pepatah tersebut. Dan juga percayalah sesudah kesulitan pasti ada kemudahan,” ucap bijak Qania membuat Julius perlahan melunak.


“Baiklah. Aku akan selalu mendukungmu, Qan. Kita akan bersama-sama menghadapi semua ini. Ingat kau tidak sendiri,” ucap Julius sambil mengelus kepala Qania.


Pemandangan itu tertangkap oleh indera penglihatan Papa Setya, Syaquile, Lala dan Raka yang sama-sama hendak masuk ke ruang rawat Qania.


“Assalamu’alaikum,” ucap Papa Setya membuat Qania mengalihkan pandangannya.


“Wa’alaikum salam. Papaaa!!” panggil Qania.


Papa Setya pun segera mendekati Qania. Qania yang sedang duduk bersandar itu langsung menghambur memeluk Ayah mertuanya tersebut.


“Gimana keadaan kamu Nak?” tanya Papa Setya setelah melepas pelukannya.


“Kak,” panggil lirih Syaquile.


Qania merentangkan tangannya dan Syaquile langsung memeluknya.


“Maaf aku tidak bisa jagain kakak,” Isak Syaquile.


“Hei kenapa jadi mellow gini sih? Nggak malu dilihatin sama Lala?” ledek Qania, dalam hati sebenarnya Qania pun sedang menahan perasaan sedihnya.


“Biarin Kak, biar dia melihat sisi rapuh aku. Kak, kakak baik-baik aja kan? Bilang padaku Kak, siapa yang sudah membuat Kakak seperti ini. Malam ini juga akan kukirim dia minimal rumah sakit atau penjara dan maksimal kuburan,” ucap Syaquile geram namun itu justru membuat Qania terkekeh sehingga Syaquile mengurai pelukannya.


“Kak, aku serius!” ujar Syaquile kesal.


“Iya Kakak tahu. Terima kasih sudah sangat perhatian. Kakak menyayangimu,” ucap lirih Qania yang membuat Syaquile kembali memeluknya.


Pemandangan kasih sayang kakak beradik tersebut disaksikan oleh Papa Setya yang sudah merasa itu hal biasa karena semenjak kepergian Arkana, Syaquile lah yang selalu bertindak menjaga kakaknya, begitu pun dengan Raka yang sudah tahu seperti apa keposesifan adik Qania itu. Sementara Julius yang baru dua kali melihat Syaquile pun dibuat terharu akan perhatiannya terhadap Qania. Dan Lala, dalam hati ia tengah mengagumi kekasihnya tersebut dan membayangkan seperti apa nanti keposesifan Syaquile padanya dan anak-anak mereka nanti. Jika pada kakaknya saja sudah seperti ini, bagaimana nanti dengan keluarga kecilnya, pikir Lala dengan senang.


Saat dalam suasana haru tersebut, ponsel Julius berdering dan ia pun segera menjawab telepon dari sang Mama.


“Iya Ma, ada apa?” tanya Julius.


“Kamu dimana Nak?”


“Aku di rumah sakit Ma, menemani Qania.”


“Katanya waktu di kantor kamu tidak hanya sendiri ya Nak membantu Qania?”


“Oh iya Ma, ada Raka teman Qania yang juga turut membantu.”

__ADS_1


“Yang sabar ya Nak, semoga ada jalan untukmu dan Qania. Bilang padanya Mama dan Papa selalu mendoakan agar dia cepat sembuh. Dan untukmu maafkan Papa dan Mama Nak.”


“Kenapa Mama berbicara seperti itu Ma?”


“Hallo?”


“Ma?”


Panggilan terputus, Julius menjadi bingung dengan situasi saat ini. Terlebih lagi dengan suara lirih sang Mama. Ia pun berusaha untuk bersikap tenang dan kembali masuk ke dalam ruang rawat Qania.


Malam ini Papa Setya sangat ingin untuk langsung mengusut kasus Qania, namun melihat sang menantu sepertinya sedang dalam keadaan bahagia, ia belum ingin membahas masalah yang nantinya akan membuatnya kembali mengingat kejadian tersebut.


Biarlah, nanti ketika hanya ada kami saja baru aku akan menanyakannya pada Qania, batin Papa Setya.


Semua mata yang ada di ruangan tersebut teralih pada tiga orang pria berbadan tegap dengan seragam khasnya berdiri di pintu.


“Selamat malam,” ucap ketiganya.


“Malam, ada apa ya Pak?” tanya Papa Setya.


“Kami dari pihak kepolisian mendapat perintah untuk menangkap saudara Julius dan saudara Raka atas tuduhan pengeroyokan Pak Handoko di kantornya sendiri hingga beliau masuk rumah sakit,” jawab salah satunya.


Julius, Raka dan Qania saling menatap.


Apa ini tadi maksud Mama? Jangan-jangan tadi polisinya datang ke rumah, batin Raka.


“Tapi Pak, mereka tidak bersalah. Mereka hanya menolong saya. Bapak lihat sendiri bagaimana keadaan saya disini,” ucap Qania membela kedua kawannya.


“Semuanya bisa dijelaskan di kantor nona,” ucap pak Polisi.


“Tenang aja Qan, semua akan baik-baik saja, oke. Kita kan udah punya senjatanya,” ucap Julius setengah berbisik.


Qania langsung teringat akan rekaman tersebut dan sedikit merasa lega.


“Raka, apa Lo keberatan menginap di kantor polisi?” tanya Julius, Qania pun menatap Raka menunggu jawabannya.


“Gue? Siapa takut. Ayo kita menginap disana malam ini,” jawab Raka dengan candaan.


Syaquile, Papa Setya dan Lala masih diam memperhatikan interaksi ketiganya yang sepertinya tidak terbebani dan tidak merasa takut jika harus diseret ke kantor polisi.


Ini pasti ada hal yang sudah mereka rencanakan. Tidak mungkin anak-anak muda ini dengan senang hati masuk ke penjara, batin Papa Setya.


“Om Setya Wijaya, Anda kan pengacara hebat di kota kita, aku yakin Anda pasti bisa mengeluarkan kami dari penjara,” ucap Raka yang membuat Papa Setya pun teralih dari lamunannya.


“Pasti, saya akan segera membebaskan kalian. Tidak sampai dua puluh empat jam,” janji Papa Setya.


“Terima kasih Om,” ucap Julius dan Raka bersamaan.


“Sama-sama.”


Raka dan Julius pun berjalan bersama ketiga polisi tersebut. Sebelum pamit, mereka meminta untuk tidak diborgol karena mereka tidak akan melawan ataupun kabur. Polisi tersebut pun menyetujui dan langsung berpamitan pada Papa Setya yang juga mengantar mereka sampai ke parkiran mobil.


“Anda bisa datang ke kantor polisi untuk mengurus kasus ini Pak. Kami permisi,” ucap salah satunya.


Papa Setya pun mengangguk. Setelah mobil polisi tersebut berlalu, raut wajah papa Setya berubah. Sangat mengerikan dan itu tidak pernah dilihat oleh Qania dan hanya ada beberapa yang pernah melihatnya termasuk Arkana.


“Berani menyentuh keluarga Setya Wijaya juga harus berani menerima risikonya. Aku bersumpah akan menghancurkan siapapun yang sudah membuat menantuku terbaring di rumah sakit dan sempat meregang nyawa,” ucap geram Papa Setya dengan kedua tangannya terkepal kuat.


Ia pun memutuskan untuk kembali ke ruang rawat Qania. Kali ini ia akan menginterogasi Qania. Ia harus bergerak cepat dan tidak ingin membuat kedua teman Qania itu berlama-lama di kantor polisi.


 

__ADS_1


 


__ADS_2