
Setelah menghabiskan makan malam, Tristan tidak benar-benar mengantar Qania pulang melainkan membawanya berputar-putar mengelilingi kota, mengukur jalan dan menghabiskan bahan bakar mobil itu. Itu semua karena perbincangan mereka saat makan tadi.
“Aku akan kembali setelah menyelesaikan ujian skripsi dan mungkin beberapa bulan akan datang lagi dan hanya untuk wisuda. Setelah itu aku akan menetap di kotaku dan mengurus semua bisnis Papa Setya.”
Ucapan itu terus terngiang di telinga Tristan hingga ia tak ingin berpisah dengan Qania. Ia tahu dengan jelas setelah sidang nanti orang yang paling membutuhkannya adalah Marsya. Ia juga tidak ingin meninggalkan gadis yang dari dulu hingga kini selalu bersamanya itu saat sedang dalam keadaan terpuruk. Maka dari itu biarlah ia menikmati dulu waktu bersama Qania sebelum mereka berpisah jarak dan ia yakin pasti pun ia tidak akan berkomunikasi dengan lancar setelah nanti Qania sibuk.
Tidak sibuk pun Qania tak jarang mengabaikannya, bagaimana jika ia sudah bergelut dengan pekerjaannya. Memikirkannya membuat Tristan menghela napas berat.
Qania tak bicara sepatah katapun. Ia membiarkan Tristan membawanya kemanapun malam ini karena ia memang sedang butuh untuk bersantai mengingat besok ia akan menghadapi sidang tutup di universitas yang hampir empat tahun ini menjadi tempatnya menimba ilmu. Ia juga tidak mengelak saat Tristan terus menggenggam tangannya.
“Ingat dan tanamkan kata-kataku baik-baik, Qania. Apa yang aku genggam nggak bakalan aku lepasin,” ucap Tristan tanpa melirik Qania namun ia menciumi punggung tangan itu cukup lama dan penuh kehangatan.
“Aku pasti bakalan rinduin kamu, Qania. Jaga hatimu untukku. Ingat aku pun memberimu waktu berpikir kapan aku akan datang padamu bukan waktu untuk menghindar ataupun pergi dariku. Karena, kemanapun kamu pergi itu pasti akan aku temukan juga. Karena di hatimu adalah rumahku. Dan aku adalah tempatmu untuk pulang. Terserah jika kau mengatakan aku terlalu berekspektasi, tapi aku pastikan para ekspektasi ini akan menjadi realita. Kau tunggu saja,” ucap Tristan dengan serius namun tetap fokus menyetir.
Qania tak ingin menanggapinya. Namun hatinya seperti tercubit dengan ucapan Tristan barusan.
“Tak perlu memberikan jawaban apapun karena aku sudah memberikanmu waktu tanpa batas. Sampai kapanpun aku akan menunggu karena kamulah yang merajai hatiku ini,” ucap Tristan lagi dan hanya bisa mendapat balasan senyuman manis dari Qania
“Ya, ya, ya. Tulus yang katanya bakalan nunggu seribu tahun lamanya pun akhirnya bilang pamit juga,” gurau Qania yang membuat Tristan mengernyit.
“Maksudnya? Tulus siapa?” tanya Tristan.
“Ya itu penyanyi, kan ada lagunya yang bilang bakalan nunggu seribu tahun lamanya eh tapi ada juga lagunya yang judulnya pamit. Awas lho ntar kamu yang udah janji bakalan nunggu tanpa batas waktu ujung-ujungnya permisi juga,” ucap Qania setengah tertawa dan itu membuat Tristan ikut tertawa.
Qania sangat indah. Saat tertawa ia semakin terlihat cantik. Ini bukan rasa obsesi tapi gue emang ingin miliki dia karena dia cantik dan karena aku mencintainya, batin Tristan.
“Tristan, ini udah hampir jam sepuluh malam. Aku harus pulang, besok pagi ada ujian,” ucap Qania dan dengan berat hati Tristan pun mengangguk mengantarkan pujaan hatinya itu pulang.
Besok gue bakalan datang ke kampus dan ngasih ucapan selamat buat Qania setelah dia selesai ujian. Bawain dia boneka dan juga buket bunga yang indah.
. . .
Pagi pun kembali menyambut para penghuni bumi. Pagi ini begitu cerah secerah senyum Qania yang kini tengah menatap dirinya dari pantulan cermin di dalam kamar yang ia tempati.
“Semangat Qania, semangat. Hari ini adalah hari akhir dari perjalananmu menempuh pendidikan dan semoga Papa Setya nggak kesambet hantu profesor nyasar sehingga dia nggak nyuruh aku buat ambil program S2,” ucap Qania kemudian ia terkikik sendiri dengan ucapannya barusan.
Tapi ia kembali gugup kala mengingat bagaimana tadi raut wajah Pak Erlangga yang datar padanya di meja makan. Tak ada wejangan ataupun doa untuknya menghadapi ujian satu jam lagi.
“Percayalah pada dirimu sendiri Qania. Percayalah pada kemampuanmu,” ucapnya menyemangati diri sendiri.
Masih harus menunggu setengah jam untuk ia berangkat ke kampus maka Qania memutuskan untuk melakukan panggilan video pada Mamanya. Sayangnya anaknya sudah berada di sekolah dan ia hanya mengobrol bersama Mama dan Papanya.
“Anak Papa pasti bisa menjawab semua pertanyaan tim penguji. Anak Papa kan bukan anak cemen,” ucap Papa Zafran menyemangati dan Qania menjadi tertawa tiap kali mendengar kata ‘anak cemen’.
“Iya sayang, kamu nggak usah khawatir. Mama yakin kamu pasti bisa. Jangan gugup meskipun nyatanya memang tiap kali ujian orang pasti tetap akan merasakan yang namanya gugup. Intinya kamu harus bisa menguasai dirimu sendiri dan mengontrol perasaanmu,” timpal Mama Alisha yang membuat Qania semakin bersemangat.
“Makasih Ma, makasih Pa. Qania yakin doa dari Mama dan Papa akan membantu memperlancar semuanya. Hah, nggak sabar pingin cepat ujian biar besok bisa pulang ke kampung halaman,” ucap Qania yang membuat Mama dan Papanya sama-sama mengiyakan.
“Nggak usah mikir itu dulu Nak, pikirin ujianmu dulu. Kalau itu udah kelar ya kamu bisa pulang kapanpun kamu mau,” ucap Mama Alisha.
__ADS_1
“Saran Papa sih kamu jangan pulang dulu,” ucap Papa Zafran dengan wajah serius.
“Lho, kenapa Pa?” tanya Qania dan Mama Alisha bersamaan.
“Ya kamu nikmati aja waktu-waktu liburanmu. Yakin deh sama Papa, kalau kamu segera kembali yang ada mertuamu itu akan langsung memberikan semua pekerjaannya padamu. Makanya kamu liburan dulu aja ntar Papa biayain deh liburannya,” jawab Papa Setya yang membuat Qania dan Mamanya tertawa.
“Sepertinya Papa memang benar. Tapi aku kangen sama Ar, Pa. Dia udah nanyain aku kapan pulang,” ucap Qania lesu.
“Hahh benar juga. Kamu pulang aja deh tapi ntar jangan mau kalau mertuamu itu menyuruhmu langsung kerja,” ucap Mama Alisha.
“Heh kalian pikir aku ini mertua sadis apa, hah?!”
Qania menoleh ke sumber suara dan ia pun terkekeh. Papa Setya masuk ke kamarnya yang memang pintunya terbuka lebar.
“Pa, kabur Pa. Orangnya udah nongol,” ucap Mama Alisha.
“Iya Ma, ntar dia ngamuk lagi dan bakalan nyiksa anak kita,” timpal Papa Zafran yang membuat Qania dan Mamanya kembali tertawa.
“Dasar besan nggak ada akhlak! Nggak laki nggak bininya, sama-sama ya suka ngebully,” kesal Papa Setya yang hanya mendapatkan gelak tawa dari kedua besannya.
“Ada apa Pa?” tanya Qania kepada Papa Setya.
“Ini, kamu udah harus berangkat ke kampus. Papa bakalan anterin kamu,” jawab Papa Setya.
Qania melirik jam tangannya dan benar saja, tidak terasa ia sudah berbincang hampir setengah jam dengan Mama dan Papanya.
“Ma, Pa, Qania berangkat dulu ke kampus. Doain ya,” ucap Qania berpamitan.
“Anak Papa pasti bisa kok. Set, titip Qania ya. Jangan sampai kamu bikin anak gue stress. Dan jangan sampai kamu punya ide gila buat nyuruh dia lanjutin kuliah lagi. Dia udah capek belajar mulu tuh,” ucap Papa Zafran seolah ia tahu isi hati Qania.
“Wah kamu cenayang ya, baru juga gue mau nyuruh Qania mendaftar kuliah pasca sarjana,” ledek Papa Setya yang membuat Qania membelalakkan matanya.
“Hahaha, bercanda Nak. Ayo kita pergi. Setelah ini semua selesai kamu boleh liburan,” ucap Papa Setya yang membuat Qania tersenyum senang.
Papa Setya dan Qania berpamitan pada Mama Alisha dan Papa Zafran kemudian mereka segera turun dan pagi ini Papa Setya yang akan mengantar Qania karena setelah dari kampus ia pun akan menuju ke kantor polisi.
. . .
Tristan melirik jam di tangannya, ia bisa menebak kalau sebentar lagi Qania akan ujian dan ia akan datang satu jam lagi ke kampusnya. Sambil menunggu waktu berlalu ia bersibuk dengan pekerjaannya di kafe sekaligus mengontrol perusahaan dan bisnis-bisnis milik tuan Alvindo.
Ponselnya berdering dengan nama pemanggil yaitu Marsya. Tristan menghentikan sejenak aktivitasnya dan menjawab panggilan dari Marsya. Bagaimanapun sejak kemarin kondisi Marsya sedang tidak baik-baik saja.
“Halo Tris, kamu dimana?”
“Aku sedang di kafe. Ada apa Sya?” tanya Tristan.
“Bisa temani aku ke rumah sakit? Aku ada janji bertemu dokter hari ini.”
“Harus sekarang ya Sya?” tanya Tristan kemudian ia beralih membaca dokumennya.
__ADS_1
“Ya. Kenapa? Kamu sibuk?”
“Ada sedikit pekerjaan Sya. Tapi ini nggak akan lama kok. Aku nggak bisa abaikan karena ini adalah bisnis Papamu. Gini aja, kamu pergi duluan aja dan aku bakalan nyusul sekitar setengah jam dari sekarang.”
“Oh ya udah Tris. Kamu kerjain dulu pekerjaanmu. Makasih ya kamu udah mau bantuin Papa.”
“Nggak usah makasih Sya. Om Alvin udah aku anggap seperti orang tuaku sendiri. Kamu hati-hati ya. Kabari kalau sudah sampai.”
“Ya. Aku jalan dulu.”
Tristan menghembuskan napas gusar. Ia kembali teringat akan keinginannya untuk datang ke kampus Qania.
“Semoga aja gue nggak telat datang ke kampus Qania. Dan semoga kondisi Marsya baik-baik saja,” gumam Tristan kemudian ia kembali berkutat dengan pekerjaannya.
Qania baru saja sampai di kampus dan berpamitan dengan Papa Setya. Ia berjalan menuju ke ruang ujiannya. Saat ia sampai, ia tak menemukan seorang pun disana dan itu artinya ia tidak telat.
Ia ingin sekali lagi mempelajari skripsinya namun ponselnya yang berdering menyita perhatiannya.
“Semoga bukan Tristan,” gumam Qania sambil mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya.
Qania mengernyit melihat nomor tak dikenal lagi.
“Halo,” sapa Qania.
“Halo, selamat pagi. Apa benar ini dengan nona Qania Salsabila?”
“Ya benar.”
“Baik Nona, kami dari rumah sakit XX ingin menginformasikan bahwa hasil tes DNA untuk tuan Tristan dan tuan Setya Wijaya sudah keluar dan bisa di ambil di rumah sakit kami hari ini.”
Degg ...
“Sudah keluar? Bukannya beberapa hari lagi ya?” tanya Qania yang kini tak bisa menahan rasa gugupnya.
“Iya Nona. Ternyata hasilnya lebih cepat keluar.”
“Tapi apakah bisa saya datang satu jam lagi. Saya masih harus melaksanakan sidang skripsi?” tanya Qania dengan perasaan tidak karuan. Ia sangat ingin segera pergi kesana namun ia ingat bahwa sekarang bukanlah waktu yang tepat.
“Tentu. Anda bisa datang ke bagian administrasi nanti.”
“Terima kasih.”
“Sama-sama Nona. Selamat pagi.”
Rasa gugup karena akan menghadapi sidang tutup berubah menjadi rasa gugup mendengar hasil tes DNA itu sudah keluar. Tangan Qania berkeringat dingin. Ia berdebar-debar karena terus menerka hasilnya apa.
Masih dengan kegugupannya, para tim penguji masuk satu per satu ke ruangan dan itu memaksa Qania untuk melupakan dulu perihal tes DNA itu dan fokus pada ujiannya.
. . .
Kira-kira hasilnya gimana ya??
__ADS_1