Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Siapa Pria itu?


__ADS_3

Qania kembali dari toilet bersama Gea, saat ia berjalan menghampiri Rizal dan Fero, suara serentak para tamu undangan mengatakan “Sah”.


Pandangan Qania menjadi kabur, kepalanya serasa berputar-putar dan kemudian semuanya menjadi gelap. Qania jatuh tak sadarkan diri, beruntung Fero dengan cepat menangkap tubuhnya.


“Qania bangun nak” ucap mamanya sambil menepuk pipi Qania.


“Arkanaaaaaa” teriak Qania mengagetkan mamanya.


“Qania sadar nak” ucap mamanya memegang kedua bahu Qania.


Qania mengedarkan pandangannya sambil mengatur napasnya.


“Loh kok aku bisa ada di kamar? Bukannya aku ada di...” ucapan Qania terhenti saat ia melihat dirinya masih dengan pakaian tidurnya. “Ini bukannya pakaian semalam dan...” Qania berusaha menerka-nerka apa yang sudah terjadi dengannya.


“Kamu mimpi buruk nak?” suara lembut mamanya membawa Qania kembali ke alam sadarnya.


“Mimpi buruk?” Qania balik bertanya pada mamanya.


“Ia nak, mama tadi ingin membangunkanmu karena katamu hari ini ada kuliah pagi. Tapi mama menunggu sejak tadi kamu belum turun juga, sementara setengah jam lagi kamu akan masuk. Saat mama masuk mama melihat kamu masih tidur sambil mengigau memanggil nama Arkana. Makanya mama membangunkanmu” cerita mamanya.


“Jadi ini hanya mimpi? Yang tadi itu hanya mimpi?” tanya Qania pada dirinya sendiri.


“Huuhhhh” Qania menghembuskan napas lega.


“Ya sudah cepat mandi dan bersiap, papa akan mengantarmu ke kampus hari ini” ucap mamanya kemudian pergi meninggalkan Qania.


Qania sudah berada di mobil berdua dengan papanya, ia terus kepikiran mimpinya semalam yang sungguh terlihat seperti nyata.


“Arkana kemana?” tanya papanya memecah kebisuan sambil terus fokus menyetir.


“Arkana lagi banyak urusan pa, dia kan anak satu-satunya om Setya Wijaya yang katanya banyak usahanya itu” ucap Qania berbohong.


“Setya Wijaya?” tanya papanya sambil mengingat-ingat nama yang tak asing tersebut.


“Iya pa, papa kenal?” tanya Qania sambil menoleh pada papanya.


“Ooh Setya Wijaya yang punya usaha kafe dan juga pengacara itu?” tanya papanya sambil mengingat.


“Mungkin pa, Qania nggak pernah nanya soalnya” jawab Qania sambil mengangkat kedua bahunya.


Papa Qania menghentikan mobilnya karena lampu merah, ia mengambil kesempatan untuk mengambil ponselnya dan mencari sesuatu.


“Setya Wijaya yang ini bukan?” tanya papanya sambil memperlihatkan sebuah foto.


“Iya pa, yang ini” jawab Qania antusias.

__ADS_1


“Jadi selama ini kamu pacaran sama anaknya si Setya. Papa baru tahu” ucap papanya senyam-senyum.


“Emang papa kenal?” tanya Qania penasaran.


“Nanti juga kamu bakalan tahu” jawab papanya kemudian melajukan kembali mobilnya.


“Papa rese deh, buat aku penasaran aja” batin Qania.


“Anakmu sudah besar Yu, tanpa terduga dia datang dengan sendirinya ke rumahku” batin papa Qania.


Mobil papanya kini berhenti di area parkir kampus, Qania berpamitan dan mencium tangan papanya kemudian turun dari mobil.


.......


Qania baru saja keluar kelas dan ponselnya berdering, ia melihat nama penelepon tersebut adalah Elin ia langsung ingat jika mereka memiliki janji dan Qania pun segera menjawab panggilan tersebut.


“Hallo Lin, kamu dimana?” tanya Qania sambil mengedarkan pandangannya.


“Aku di luar kampus, aku tunggu di parkiran ya. Kebetulan aku bawa motor” jawab Elin.


“Oke on the way” jawab Qania seraya mematikan telepon dan memasukkan ponselnya ke dalam tasnya.


Elin menghentikan motornya di sebuah mall dan masuk bersama Qania. Mereka mengunjungi toko khusus pria dan sibuk memilih barang apa yang akan Elin beli untuk hadiah ulang tahun Fadly.


“Qania menurut kamu aku beliin kak Fadly apa ya?” tanya Elin bingung.


“Gimana kalau jam tangan?” tanya Elin.


“Boleh juga, biar melekat terus di tangannya, hehehe” canda Qania.


“Ihh apaan sih Qan, hehehe” Elin pun ikut tertawa.


Cukup lama mereka memilih akhirnya Elin memutuskan untuk membeli jam tangan keluaran terbaru kata mbak peniaga tokonya itu.


“Udah lapar nih Lin, makan yuk” ajak Qania.


“Ayo, aku juga nih” ucap Elin.


Kemudian keduanya bergandengan menuju tempat makan di mall tersebut. Mereka memilih duduk di pojokan agar tidak mencolok saat mereka melahap makanan agak rakus tanpa malu-malu, hehe.


Saat Qania hendak memanggil pelayan untuk menambah jus alpukatnya, matanya tertuju pada pasangan yang sedang bermesraan di pojokan lain di tempat makan tersebut.


“Eh itu bukannya Susan ya?” batin Qania. “Tapi dia sama siapa sih?” selidik Qania.


Saat itu Susan sedang bersama seorang pria yang terlihat begitu mesra. Mereka belum makan dan juga belum memesan apa pun sampai seorang wanita bak model datang menghampiri mereka. Wanita tersebut duduk di samping pria tersebut sambil merangkul tangan si pria. Saat Qania menajamkan penglihatannya, ia sangat terkejut dengan apa yang ia lihat.

__ADS_1


“I..itukan Syeril” ucap Qania begitu terkejut.


“Kenapa Qan?” tanya Elin sambil mengunyah.


“Ssttt, kamu diam dan tetap pada posisi itu. Ada yang ingin aku lakuin" pinta Qania.


“Oke” jawab Elin cuek sambil kembali melanjutkan makannya.


Qania dibuat semakin penasaran saat mereka tiba-tiba saja menyebutkan nama Arkana. Dengan cepat Qania mengambil ponselnya dan diam-diam merekam video mereka.


“Gimana? Kapan lo bakalan nikah sama Arka?” tanya Syeril saat pelayan pergi untuk mengambil pesanan mereka.


“Rencananya besok jam sepuluh” jawab Susan tersenyum.


“Bagus, jangan sampai gagal. Kita udah bayar lo mahal” ancam Syeril.


“Gue yakin nggak akan gagal, kehamilan palsu ini udah buat papa Arkana itu stres dan tidak ingin menanggung malu” jawab Susan percaya diri.


“Gue nggak sabar buat lihat kehancuran Setya. Dia harus merasakan akibat dari perbuatannya” ucap pria yang bersama mereka.


“Kamu tenang aja sayang, semua akan berjalan lancar. Saat Susan sudah menikah dengan Arkana kita akan berusaha masuk ke kehidupan mereka dengan menyuruh orang lain agar bisa mencuri aset perusahaan dan semua kekayaan mereka” ucap Syeril sambil mengelus lengan kekasihnya itu.


“Kamu sih gagal dekati anaknya itu” ketus pria itu.


“Maaf, dia kayaknya udah cinta mati sama si Qania itu” ucap Syeril kesal.


“Benar tuh, bahkan Arka saat ini sudah seperti orang gila di rumahnya hanya memandangi foto wanita tak bermodel itu” timpal Susan.


“Biar saja dia menjadi gila, supaya rencana kita berjalan lancar” sahut Syeril.


“Lihat apa yang akan aku lakukan padamu Setya Wijaya” ucap pria itu sambil mengepalkan kedua tangannya dan terlihat tatapan penuh kebencian dari sorot matanya.


Qania menghentikan rekamannya dan ingin segera menunjukkannya pada Arkana. Elin yang sudah selesai makan langsung memanggil pelayan untuk membayar makanan tersebut.


Saat Qania dan Elin hendak pergi, tak sengaja ia menabrak Susan yang juga akan pergi dari sana. Susan terlihat sangat gugup, ia takut jika Qania mendengarkan percakapan mereka. Cukup lama mereka saling menatap hingga Elin menarik tangan Qania.


“Ngapain lo disini?” tanya Susan sinis.


“Ya makanlah” jawab Qania ketus.


“Udah yuk Lin kita pergi aja, udara tiba-tiba menjadi begitu panas disini” ucap Qania menyindir Susan.


“Lo nyindir gue?” bentak Susan.


Qania hanya mengangkat kedua bahunya kemudian pergi meninggalkan Susan yang masih kesal

__ADS_1


..............


__ADS_2