
Pagi ini membuat Arkana mengerang frustasi di kamarnya karena sebentar lagi ia akan melangsungkan akad nikah dengan wanita yang sama sekali tidak ia cintai bahkan bermimpi untuk menikahinya pun tidak pernah bagi Arkana.
Suara ramai para pengurus acara pernikahan terdengar seperti kegaduhan di jalanan akibat kemacetan bagi Arkana. Kamarnya yang tadinya sudah di rapihkan kini malah lebih parah daripada sebelumnya.
Suara ketukan pintu membuat Arkana menghembuskan napas kasar.
"Masuk" teriaknya ketus.
Pintu terbuka dan terlihat sosok papanya dengan setelan jas berwarna maroon dan sisiran belah pinggir dengan rambut yang mengkilap. Ia berjalan mendekati putranya yang terlihat jauh dari kata baik-baik saja.
"Hei man, ada apa dengan kamarmu?" ledek papanya.
"Papa tidak perlu bertanya karena papa sudah tahu jawabannya" ketusnya.
"Sudah, nikmati saja setiap acaranya. Papa sudah punya hadiah pernikahan untukmu" ucapnya sambil menepuk bahu Arkana, membuat Arkana menatap sinis padanya.
Papanya menanggapi tatapan anaknya itu dengan senyuman manis, kemudian melangkah keluar kamar. Saat ia memegang gagang pintu dan hendak membukanya, ia kembali berbalik badan dan tersenyum hangat.
"Papa sudah menerima kerja sama dengan Qania" ucapnya.
Benar saja dugaan papanya, pasti setelah kata ajaib yang berbunyi "QANIA" itu membuat Arkana bisa langsung mengubah moodnya. Namun karena masih ingin mengerjai Arkana, papanya langsung saja pergi meninggalkan Arkana yang terlihat ingin mengatakan sesuatu.
"Papa tungguu" teriak Arkana kesal.
"Arghh kebiasaan deh, selalu buat gue penasaran" keluhnya.
Di kamar lain di lantai bawah rumah Arkana, seorang gadis nampak tengah di make up. Ya dia adalah Susan, yang kini tengah berbahagia karena sebentar lagi akan menikah dengan Arkana dan menjadi nyonya di rumah ini.
Di kamar itu sudah ada mama dan papanya, lebih tepatnya orang tua sewaan karena kedua orang tuanya sudah lama tiada dan ia dibesarkan oleh omnya namun karena kemiskinan mereka membuatnya harus menempuh jalan yang salah sebab ia tidak bisa jauh-jauh dari fashion meskipun ia sadar betul ekonominya tidak mampu menjangkau keinginannya.
"Sebentar lagi, sebentar lagi aku akan menjadi nyonya disini dan menjadi menantu Setya Wijaya. Apapun akan bisa ku dapatkan hanya dengan mengedipkan mata" ucapnya dalam hati.
Setelah selesai di rias, petugas MUA pamit keluar dari kamar tersebut.
__ADS_1
"Wah kau sangat cantik nak" puji Nurmi, ibu bayaran Susan.
"Tentu saja" jawab Susan begitu percaya diri sambil menatap wajahnya di cermin.
"Anak kita memang cantik" sambung Lisman.
"Hanya untuk hari ini kau menyebutku anak, setelah nanti gue nikah kalian berdua harus pergi jauh. Ini uang kalian, simpan dan gunakan sesuka hati" ucap Susan yang berjalan mendekati kedua orang tua sewanya dan menyodorkan sebuah amplop cokelat yang cukup tebal.
Keduanya terlihat sangat antusias menerima amplop tersebut dan saling berebut untuk membukanya.
"Hei tenanglah, jangan terlihat begitu susah di depanku. Setelah menikah aku akan mempunyai lebih banyak uang dari pada itu, bagi mertuaku itu hanya uang jajan sehari. Kalian pasti akan mendapatkannya lagi jika mau bekerja sama denganku nantinya" ucap Susan sedikit menghardik pasangan suami istri itu.
"Tentu saja" jawab keduanya kompak.
Susan berjalan dan kembali duduk di depan meja riasnya, sambil berkhayal tentang masa depannya. Sementara kedua orang tua itu sibuk menghitung uang mereka. Keduanya memang berasal dari kampung dengan kehidupan yang kurang layak, sehingga mendapatkan uang sebanyak lima puluh juta bagi mereka adalah sebuah mimpi.
***
"Wah apakah seperti ini kamar pengantin?" ledek Rizal lalu duduk bersama Gea di sofa yang tengah Arkana duduki saat ini.
"Tidak bisa kah kalian menolongku?" pinta Arkana berharap teman-temannya dapat membawanya kabur dari sini.
"Tentu saja tidak bro" jawab Fero terkekeh.
"Sudah nikmati saja" timpal Rizal sambil menepuk bahu Arkana.
"Gue sih masih belum bisa terima kalau lo nikah sama dia" ketus Gea.
"Apalagi gue" sahut Arkana.
"Om dimana?" tanya Rizal.
"Pria tua itu sedang sibuk mengurus acara pernikahan terkutuk ini" ucap Arkana yang masih kesal pada papanya.
__ADS_1
"Sejak kapan lo ngatain bokap lo kayak gitu?" tanya Fero heran.
"Tahu tuh, gelap deh" ketus Arkana.
"Kalian disini dulu, gue mau cari oom dulu. Sayang kamu disini dulu ya, jagain tuh pengantinnya awas jangan sampai kabur" ucap Rizal diiringin ledekan untuk Arkana.
"Oke" jawab Gea.
"Sialan lo" maki Arkana geram.
"Gue pergi dulu" pamit Rizal.
Rizal keluar dan mencari keberadaan papa Arkana, ia tadi tidak melihatnya di bawah. Baru saja ia ingin turun lagi, suara khas orang yang tengah ia cari memanggilnya.
"Eh oom, saya mencari oom sejak tadi" ucap Rizal mendekati Setya yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Tadi oom dari kamar, oom juga mencarimu. Bagaimana persiapan kejutannya?" tanya Setya.
"Sudah beres oom, sebelum mereka ijab qabul saya akan melakukan rencananya" jawab Rizal.
"Bagus, oom sangat berterima kasih padamu" ucap Setya sambil merangkul bahu Rizal.
"Jangan sungkan oom, oom sudah seperti papa saya sendiri" tutur Rizal sembari tersenyum hangat.
"Kamu memang anak baik, oh ya oom mau turun dulu. Sepertinya disana sudah banyak tamu" pamit Setya.
"Baik oom, saya juga mau kembali ke kamar Arka" jawab Rizal.
"Oke, sampai ketemu setelah acara pernikahan" ucap Setya kemudian melangkah pergi.
Rizal pun kembali menuju ke kamar Arkana sambil terus mengontrol pergerakan orangnya yang ia tugaskan untuk melancarkan rencananya bersama Setya.
........
__ADS_1