
Qania mencoba mengumpulkan kembali keberaniannya untuk bicara dengan Arkana, bagaimanapun hasilnya ia akan menerimanya. Baginya lebih sakit jika harus terus menunggu tanpa kepastian dibandingkan dengan mengetahui fakta sebenarnya.
“Aku tahu ini akan sangat menyakitkan, tapi lebih baik seperti ini” batin Qania.
Dengan gemetar Qania meraih ponselnya dilantai yang masih menyalah, panggilan tersebut masih tersambung. Qania mendekatkan ponselnya pada telinganya dan terdengar Arkana masih terus memanggilnya.
“Qaniaa, kamu dengar aku?” tanya Arkana terus menerus.
“Iya aku dengar” tutur Qania kemudian menggigit bibir bawahnya.
“Aku sungguh minta maaf Qania, aku tidak tahu akan jadi seperti ini. Sungguh aku sangat cinta padamu, tapi aku pun tidak bisa lari dari tanggung jawab. Tapi aku bisa melakukan itu, asalkan...” Arkana menghentikan ucapannya karena ia ragu untuk melanjutkan.
“Asalkan apa..?” tanya Qania penasaran.
“Asalkan kamu melarangku untuk menikahinya, dan kamu mau pergi dari sini bersamaku” ucap Arkana gugup.
“Jangan gila Arka, aku memang sayang dan cinta padamu, tapi aku juga seorang wanita. Aku tidak akan egois, kamu harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu itu” tegas Qania, hatinya bergetar saat mengucapkan semua itu.
“Tapi aku tidak ingin menikahinya, aku tidak mencintainya” sanggah Arkana.
“Tapi kamu melakukan itu bersamanya” isak Qania.
“Aku sungguh tidak siap Qania, tolong katakan padaku bahwa kamu setuju dengan keinginanku” pinta Arkana.
“Itu tidak mungkin, tidak akan pernah mungkin Arkana” tegas Qania.
“Tapi Qan..”
“Kapan pernikahanmu?” tanya Qania mengalihkan.
“Besok jam sepuluh pagi di rumahku” jawab Arkana lemas.
Bagaikan disambar petir hati Qania saat mendengar ucapan Arkana tersebut.
“Be..besok?” tanya Qania gemetar.
“Iya, aku mohon kamu jangan datang. Aku tidak akan menikahinya jika melihatmu disana. Atau aku akan langsung membawamu kabur” pinta Arkana seraya mengancam.
“Terserah kamu. Ya sudah aku mau tidur lagi” ucap Qania dengan air mata yang menetes begitu saja.
“Selamat tidur malaikatku, mimpi indah. Aku sayang kamu” ucap Arkana kemudian mematikan teleponnya.
Ucapan tersebut sukses membuat Qania menangis tersedu-sedu, ia begitu sakit mendengar fakta ini.
“Besok kamu akan menjadi milik orang lain” gumam Qania.
Entah jam berapa ia baru tertidur, yang pasti saat ini ia merasa sedang di bangunkan oleh seseorang. Qania mengerjapkan kedua matanya, terlihat sosok lembut yang tatapannya selalu meneduhkan hati Qania, yaitu mamanya.
__ADS_1
“Emm ada apa ma?” tanya Qania sambil mengucak matanya.
“Di luar ada teman kamu nungguin” jawab mamanya.
“Siapa ma?” tanya Qania yang kemudian duduk.
“Katanya namanya Gea, kamu cuci muka terus turun temui dia” ucap mamanya seraya berdiri dan meninggalkan Qania di kamarnya.
“Ada apa ya?” pikir Qania yang kemudian bergegas masuk ke kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi.
Qania berjalan menghampiri Gea yang sedang duduk sambil memainkan ponselnya di ruang tamu sendirian.
“Hai Gea” sapa Qania yang duduk di depan Gea.
“Eh Qan kamu sudah bangun. Ayo ikut aku sekarang” ajak Gea.
“Kemana?” tanya Qania bingung.
“Ke acara Arkana” jawab Gea kemudian menggigit bibir bawahnya.
“Aku nggak bisa Ge, maaf” jawab Qania lirih.
“Tapi Qania kami semua menunggumu, kami tidak akan membiarkan Arka menikahi Susan si cewek cabe itu. Tolong Qan” pinta Gea sambil menggenggam tangan Qania.
"Tapi..."
Entah mengapa Qania menurut saja permintaan Gea dan langsung bersiap. Tak sampai setengah jam Qania sudah selesai dengan gaun warna putih dibawah lutut dan rambut yang dibiarkan terurai serta polesan tipis di wajahnya namun tetap menampakkan aura kecantikannya.
Qania turun menemui Gea yang sudah menunggunya, Gea terlihat sedang berbicara dengan mamanya.
“Aku udah siap” ucap Qania mengagetkan keduanya.
“Wah anak mama sudah cantik, mau kemana?” tanya mamanya.
“Ke acara teman tante” jawab Gea menyela.
“Oh hati-hati ya” pesan mamanya.
“Iya ma, kami pergi dulu. Assalamu’alaikum” pamit Qania kemudian mencium tangan mamanya diikuti oleh Gea.
Gea melajukan mobil milik Rizal dengan kecepatan diatas rata-rata karena acara akan dimulai sepuluh menit lagi. Mereka kini sudah memasuki halaman rumah Arkana yang sudah di dekorasi sedemikian rupa, mata Qania tak lepas dari berbagai karangan bunga yang bertuliskan selamat menempuh hidup baru Arkana dan Susan.
Dengan gemetar Qania turun dari dari mobil tersebut bersama Gea, ia melihat di depan pintu sudah ada Rizal dan Fero yang menunggu mereka. Acara Akad dilaksanakan di dalam rumah dan para tamu hanya kerabat dekat saja karena Arkana menolak mengadakan acara yang mewah.
“Kalian datang tepat waktu” ucap Rizal.
“Aku tidak ingin masuk, sungguh” ucap Qania lirih.
__ADS_1
“Jangan buang waktu Qania, kita harus segera menemui Arkana” sela Fero kemudian menarik tangan Qania untuk masuk diikuti oleh Gea dan Rizal.
Qania mengedarkan pandangannya berusaha mencari sosok Arkana, ternyata yang dicarinya saat ini sedang menuruni anak tangga dengan jas hitam dan kopiah dikepalanya menambah ketampanannya.
“Andai saja aku yang duduk bersanding disana bersamamu, apakah aku harus egois kali ini? Rasanya aku ingin menculikmu dan membawamu pergi dari pesta pernikahan ini ke tempat yang jauh hanya ada aku dan kamu yang saling mengenal” batin Qania.
Saat pandangan Qania terfokus pada Arkana yang begitu terlihat tampan, tiba-tiba seorang pelayan tak sengaja tersandung dan menumpahkan jus jeruk di gaun putih Qania membuat Qania tersadar dari lamunannya.
“Maaf nona, saya tidak sengaja” ucapnya gemetar.
“Hei punya mata nggak sih? Lo bisa kerja nggak sih? Gaun dia itu warna putih dan lo numpahin jus ke bajunya” bentak Gea kesal.
“Udah Ge, aku nggak apa-apa. Temani aku ke toilet ya, aku mau bersihin nodanya” ucap Qania melerai.
Gea mengangguk dan berjalan bersama Qania menuju toilet, sementara si pelayan melirik ke arah Susan sambil memberi kode bahwa ia berhasil melaksanakan perintah.
Flash back on...
Susan mondar-mandir di kamar yang disediakan untuknya, ia begitu khawatir jangan sampai rencananya untuk menikah digagalkan oleh teman-teman Arkana. Ia membuka sedikit pintu untuk mengintip, matanya melotot saat melihat rombongan Rizal masuk dan ia melihat Qania juga ada disana. Sementara Arkana sudah akan menuruni tangga karena acara ijab qabul sudah akan dimulai.
Tak sengaja ia melihat seorang pelayan yang melintas di depan kamarnya, ia segera memanggil wanita yang usianya sekitar delapan belas tahun itu.
“Kamu kemarilah” panggilnya pada pelayan itu.
Pelayan tersebut berjalan mendekati Susan.
“Ada yang bisa saya bantu nona?” tanyanya.
“Kamu mau uang?” tanya Susan sambil berjalan mengambil tasnya.
“Tentu” jawabnya.
“Kamu lihat wanita yang bergaun putih disana, kamu harus melakukan sesuatu untukku agar wanita itu tidak berada disekitar pelaminan saat aku akan ijab qabul” perintah Susan sambil menunjuk kearah Qania.
“Baik nona” jawabnya.
Kemudian Susan mengeluarkan uang sekitar tiga ratus ribu dan memberikan pada pelayan tersebut.
Pelayan itu berjalan mendekati Qania dan berpura-pura tersandung dan menumpahkan jus jeruk di gaun Qania.
Flash back off...
Qania kembali dari toilet bersama Gea, saat ia berjalan menghampiri Rizal dan Fero, suara serentak para tamu undangan mengatakan “Sah”.
Pandangan Qania menjadi kabur, kepalanya serasa berputar-putar dan kemudian semuanya menjadi gelap. Qania jatuh tak sadarkan diri, beruntung Fero dengan cepat menangkap tubuhnya.
............
__ADS_1