
Mobil Arkana berhenti di depan rumah Zafran, di dalam mobil itu ada Setya, pak Anwar serta Fero dan Rizal. Sementara Zafran di mobilnya sendiri bersama supirnya.
Kepulangan mereka disambut dengan antusias oleh anggota keluarga Zafran dan juga bi Ochi yang langsung memeluk suaminya.
Disinilah mereka, berbincang di ruang tamu setelah makan malam. Qania terlihat sangat bahagia karena Arkana sudah kembali dengan selamat begitu pun dengan calon mertua dan supirnya.
"Astagaa.." pekik Qania sambil menepuk jidatnya dan hal itu membuat mereka yang ada disana menatapnya.
"Hehe" Qania menyengir.
"Ada apa sayang, hmm?" tanya Arkana sambil membelai rambut Qania yang terurai.
"Itu, aku ingin bicara dengan Fero" ucap Qania sambil menatap Fero yang juga menatap Qania penasaran.
"Gue?" Fero menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, bisa?".
"Oh tentu saja" Fero berdiri ketika melihat Qania yang langsung berdiri saat ia setuju.
"Aku ikut titik" ucap Arkana juga ikut berdiri.
"Haissshh, aku cuma ada urusan sama Fero sayang. Kamu diamlah disini" protes Qania saat Arkana justru lebih dulu melangkah keluar menuju gazebo.
"Aku ikut atau tidak sama sekali?" ancam Arkana, membuat semuanya membeo.
"Ah sudahlah" Qania pasrah lalu mengekori Arkana disusul oleh Fero dan Rizal yang juga ikut penasaran.
"Lo ngapain Zal?" tanya Fero saat mereka mengikuti Arkana dan Qania keluar.
"Ikutlah, ya kali gue ngumpul sama orang tua sementara gue anak muda" ketus Rizal yang berjalan melewati Fero yang terdiam.
"Aissh bukannya gue yang diajak Qania? Lah kenapa mereka berdua yang terlihat antusias" gumam Fero kemudian kembali melangkah mengikuti ketiga temannya yang sudah duduk di gazebo samping rumah.
Qania, Arkana, Rizal dan Fero saat ini sedang duduk berhadapan dengan tangan Arkana yang tak henti menggenggam tangan Qania.
"Hati-hati Ro, lihat kiri kanan, ntar lo ketabrak" ledek Rizal.
"Hah? Wey Zal lo nggak gila kan?" tanya Fero yang tidak mengerti dengan maksud Rizal.
"Hadeh, lo lemot amat Ro" Rizal menghembuskan napas panjang sambil menggelengkan kepalanya.
"Oh buset dah, hati-hati Zal kayaknya emang benar disini banyak kendaraan" Fero sekilas melirik Arkana dan Qania yang diam memperhatikan mereka.
"Hadeh Arkana, Arkana. Pegang aja terus biar nggak hilang" ledek Fero dalam hati.
"Lo berdua kenapa sih?" tanya Arkana heran.
"Iya, kalian kenapa? Emang disini jalan raya apa" timpal Qania.
"Ya iya, disini jalan raya banyak kendaraan. Saking banyaknya kendaraan sampai-sampai Arkana harus pegang lo biar nggak ilang dan nggak ketabrak" ejek Rizal.
"Serasa milik berdua Zal" celetuk Fero.
Arkana dan Qania spontan memandang jari-jemari mereka yang saling bertautan, lalu tersenyum penuh arti.
"Woy pandang pandangan woy. Jiwa jomblo gue meronta-ronta" pekik Fero.
"Rasanya gue pengen lari dan bawa Gea balik guys" Rizal tidak mau kalah.
"Kalau iri bilang aja" sindir Arkana kemudian menciumu punggung tangan Qania membuatnya merona karena malu.
__ADS_1
"Woww mata suci gue ternodai guys" teriak Fero.
"Emang mata lo masih suci gitu?" ledek Rizal.
"Hehehe nggak tahu juga sih" kekeh Fero.
"Kalian lucu juga ya, hahaha" Qania menertawakan ketiga lelaki di dekatnya ini, baginya perdebatan mereka sangat terlihat menggemaskan.
Ketiga pria itu menoleh kearah Qania yang cekikikan, kemudian ikut tertawa.
"Sungguh pemandangan yang menyenangkan. Sayangnya aku tidak memiliki teman sedekat itu, aku bahkan tidak memiliki sahabat seperti kak Arkana dan kedua temannya itu. Kak Qania tidak salah memilih pria untuknya, semoga kak Qania selalu bahagia" ucap Syaquile yang sedari tadi mengintip dari jendela kamarnya, sebuah senyum terbit di wajahnya.
Syaquile adalah seorang anak yang cuek dan tidak memiliki sahabat seperti kebanyakan anak seusianya. Kesehariannya hanya ia habiskan untuk bermain game di ponselnya, ia bisa menghabiskan waktunya berada di kamar seharian jika sudah bersama ponselnya, namun ia tidak lupa belajar dan kewajiban yang lainnya.
Meski memiliki wajah tampan, Syaquile sama sekali tidak memiliki keinginan untuk mendekati lawan jenisnya, pikirannya masih kekanak-kanakan bahkan ia sama sekali tidak memiliki ketertarikan pada makhluk imut yang disebut wanita itu.
Mungkin belum saatnya, ia masih menikmati dunianya yang bebas bersama ponselnya yang memiliki banyak aplikasi gamenya.
π» Di Gazebo
"Qan, tadi lo manggil Fero ada urusan apa?" tanya Ruzal yang berhenti tertawa lebih dulu ketika teringat tujuan mereka kesini, lebih tepatnya tujuan Qania dan Fero saja.
Qania, Arkana dan Fero berhenti tertawa saat mendengar pertanyaan Rizal, kemudian mereka menatap Qania.
"Ya ampun hampir aja lupa. Kalian sih ngelawak mulu" sahut Qania sambil menyeringai menatap Fero.
"Kok gue merinding ya" ucap Fero yang menatap smirk di wajah Qania.
"Sayang ada apa sih?" tanya Arkana yang juga sangat penasaran.
"Fero, aku mau nanya kamu nih, jawab jujur ya" ointa Qania dengan senyuman menggoda.
"Tanya sih tanya aja sayang, tapi nggak usah tersenyum seperti itu nanti Fero tergoda sama senyuman kamu" protes Arkana, jiwa posesifnya meronta-ronta.
"Apa sih lo Ka, gue masih waras kali. Nggak mungkinlah gue tergoda sama senyuman tunangan lo, kalau tertarik iya" ledek Fero yang sukses membuat Arkana memelototinya.
Rizal tergelak melihat ekspresi Fero dan Arkana yang saling pandang penuh permusuhan.
"Stop, aku mau ngomong nih. Tadi kan aku udah bilang mau bicara berdua sama Fero, ini nih yang aku hindari" kesal Qania.
"Sayang, kamu nggak dengar apa kalau Fero tadi bilang dia tertarik sama kamu. Gimana kalau tadi kalian cuna berdua, bisa bisa dia jatuh cinta sama kamu" ucap Arkana berusaha membela diri.
"Ya ampun Ka, ya kali gue kayak gitu. Lo cemburunya udah stadium akut nih, sadar bro" protes Fero yang tidak terima mendengar tuduhan Arkana.
"Lagian lo Ro, udah tau anjingnya galak, lo malah nyari gara-gara" ledek Rizal memprovokasi Arkana dan Fero.
"Sialan lo, emang gue anjing gitu?" umpat Arkana.
"Stop, aku masuk aja kalau gitu" Qania pura-pura merajuk agar ketiga pria itu bisa tenang.
"Jangaaan.." teriak ketiganya kompak.
Bibir Qania berkedut, ia berusaha menahan tawanya karena mengingat ia masih pura-pura merajuk.
"Kalau begitu kalian diam, biar aku sama Fero yang bicara" tegas Qania masih memasang wajah kesal.
"Baik" jawab ketiganya kompak, membuat Qania ingin tertawa.
"Ya sudah kalian berdua diam, aku mau bicara sama Fero dan jangan ada yang bersuara diantara kalian berdua karena nggak ada sangkut paut dengan kalian, sampai disini paham?" Qania seolah jadi guru yang tengah menjelaskan.
Arkana dan Rizal kompak mengangguk, membuat Qania menggigit bibir dalamnya menahan tawa melihat ekspresi dan kekompakan mereka.
__ADS_1
"Gue jadi penasaran nih Qan" ucap Fero menopang dagunya dengan tangannya.
"Tapi ada imbalan buat usaha aku ini, gimana?" Qania mengedipkan matanya.
"Asal yang gue mampu pasti gue kasih Qan, asalkan emang yang akan lo sampaikan adalah sesuatu yang waw buat gue" jawab Fero.
"Jangan mena..."
"Ekhmmm" Qania berdehem keras saat Arkana mencoba protes, Arkana yang mendapat kode dari Qania langsung saja diam seperti kucing basah. π
"Cika?" Qania menyebut nama itu membuat Fero membulatkan matanya dan membuat ekspresi harap-harap cemas.
"Cik..cika?" tanya Fero tergagap.
"Iya Cika".
"Ada apa dengannya?" tanya Fero antusias.
"Cika siapa?" tanya Rizal dan Arkana bersamaan.
"DIAAMM" teriak Fero dan Qania kompak.
Rizal dan Arkana langsung mengatupkan mulut mereka.
"Lanjutin Qan" pinta Fero.
"Aku punya rekaman di hp aku dan kamu bisa mendengarnya" ucap Qania sambil menyodorkan ponselnya dan langsung disambut Fero.
Baru saja Fero akan meraih ponsel itu, Qania langsung mengambilnya kembali.
"Ada harganya" ucap Qania menyeringai.
"Oke oke Qan, lo mau apa?" tanya Fero tak sabaran.
"Aku mau setelah kamu dengar rekaman itu, kamu harus bertindak secepatnya".
"Gampang" Fero langsung menyanggupi.
"Kamu punya headset?" tanya Qania.
"Buat apa?".
"Buat dengerin rekamannya lah, emang kamu mau teman-teman kamu ini mendengarnya, nanti kamu malu lagi".
"Oh benar juga, ada kok Qan tapi di mobil" jawab Fero.
"Ya sudah, kamu bawa ke mobil aja hp aku, sekalian dengar disana saja" ucap Qania menyerahkan hpnya dan langsung diambil dengan cepat oleh Fero, takutnya Qania mengambilnya kembali.
"Hahaha, tenang aku nggak akan ngerjain kamu" Qania menertawakan reaksi Fero.
"Makasih Qan, gue ke mobil dulu" ucap Fero bergegas.
π» Di dalam Mobil
"Kira-kira apa ya isi rekamannya?" gumam Fero sambil memasang headset di telinganya.
Fero diam mendengarkan isi rekaman dimana Cika mengutarakan isi hatinya, matanya memanas seolah ada yang ingin menerobos keluar dari matanya. Namun ia juga merasa kesal saat Qania mengatakan bahwa dirinya abnormal dan menyukai sesama jenis.
Dan akhirnya, air mata Fero menetes saat mendengar semua isi percakapan dalam rekaman itu.
"Terima kasih Qania" ucap Fero lirih saat selesai mendengar isi rekamannya.
__ADS_1
...πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ...