
Pagi ini suasana kota Y cukup sejuk karena sedari subuh sudah diguyur hujan dan kini hanya tinggal tetesan sisa hujan dari pepohonan yang menetes sedikit demi sedikit. Namun hal tersebut tidak bisa menahan aktivitas para pekerja dan pelajaran yang sudah memadati jalanan.
Seorang pria paruh baya duduk di mobilnya dengan di antar oleh supir menuju ke kantor polisi. Ia turun dengan mengenakan masker dan kacamata hitam sambil sesekali memperhatikan sekitarnya. Saat ia hendak masuk, seorang pria berjas seusianya pun memanggilnya.
“Tuan Alvindo, selamat pagi. Anda datang lebih awal,” sapanya.
“Aku hanya ingin memastikan bahwa semua akan baik-baik saja dan kita akan memenangkan kasusnya. Kau adalah pengacara andalanku, tolong pastikan aku tidak kecewa padamu,” ucap tuan Alvindo penuh penekanan.
“Tentu saja semua akan saya usahakan agar berbalik menyerang mereka,” jawabnya.
Keduanya pun masuk bersamaan dan meminta izin untuk bertemu dengan Pak Handoko. Pria itu datang dengan mengenakan seragam hitam putih karena ia pun kembali di panggil menuju ke pengadilan karena kasus tambahan yang baru akan terkuak.
“Alvin, ini pengacara andalanmu bukan?” tanya Pak Handoko setelah ia turut duduk.
“Ya. Dan semoga kita bisa menang. Aku sudah menyusun rencana ini dengan baik dan aku harap orangmu juga bisa membantu kita dengan baik. Pak Gavin ini adalah sainganmu, bukan?” ucap tuan Alvindo melirik Pak Handoko dan Pak Gavin bergantian.
Pak Gavin tersenyum tipis sementara Pak Handoko hanya mengangguk.
“Pak Gavin bisa tinggalkan kami berdua, ada hal penting yang ingin saya bahas dengannya?” minta tuan Alvindo dengan sopan.
“Ya tentu.”
Tuan Alvindo menatap pengacaranya yang pergi keluar dan berbicara dengan beberapa polisi yang bertugas disana.
“Lima hari yang lalu aku mendapat surat panggilan dari pengadilan dan juga kantor polisi untuk memeriksaku. Bukti yang mereka miliki juga menyeret namaku. Setelah diperiksa di kantor polisi ini, aku masih dinyatakan bebas namun dalam pengawasan sampai pengadilan memutuskan. Jika kita berhasil menang maka aku tidak akan dipenjara dan bisa mengurus semua bisnis kita namun kau karena kasusmu pada Qania maka kau harus siap mendekam di penjara untuk beberapa tahun kedepan,” ucap tuan Alvindo dengan serius.
Pak Handoko menghela napas berat. “Ya aku tahu. Tapi apa kau yakin kita bisa memenangkan kasus ini?” tanyanya ragu mengingat ada beberapa bukti di tangan Qania dan beberapa kasus lama mereka yang diketahui Qania jadi bukan tidak mungkin jika Qania pun memegang buktinya.
“Hampir seratus persen. Aku sudah memegang kuncinya. Orang tua itu dan cucunya berada dalam genggamanku. Anaknya yang mendekam di penjara pun sudah aku tekan agar tutup mulut. Bahkan akan dibawa untuk menjadi saksi nanti di pengadilan. Mereka sudah kutekan agar berada di pihak kita. Aku memang tidak tahu pasti bukti apa yang mereka miliki, namun aku yakin kita bisa membalik keadaan,” jawab tuan Alvindo kemudian ia mengepalkan kedua tangannya.
“Kau cukup licik dan sangat hebat. Kau memegang kunci mereka dan aku salut padamu. Tolong menangkan kasus ini agar hukumanku pun tidak bertambah,” ucap pak Handoko kemudian tersenyum seringai.
Tuan Alvindo tersenyum tipis kemudian mereka sama-sama terdiam dengan pikiran mereka masing-masing.
Berbeda dengan di kediaman Pak Erlangga, mereka menikmati sarapan dengan diam dan terlihat sedang dalam suasana tidak baik-baik saja. Beberapa kali sendok berisi makanan berhenti di depan mulut Qania kemudian ia membuang napas gusar lalu memasukkan makanan tersebut ke mulutnya.
Pagi ini keluarga Pak Erlangga lengkap dengan saudaranya yaitu ibu Maharani dan Pak Agus Setiawan yang turut sarapan disana dan akan berangkat bersama ke pengadilan nanti.
Setelah sarapan mereka berkumpul di ruang keluarga dan sedikit membahas masalah persidangan nanti.
“Apapun hasilnya kami sudah sangat berterima kasih kepada Pak Setya Wijaya dan Qania yang sudah mau membantu sampai sejauh ini,” ucap Bu Maharani.
“Apa itu bisa diartikan sebagai bahasa pesimis, Rani?” tanya Papa Setya sedikit meledek.
“Ya aku harus gimana, Mas? Aku seperti sudah pasrah pada keadaan. Biarlah Angga tenang di alam sana dan biar hukuman Tuhan yang akan membalas mereka,” jawab Bu Maharani.
“Sekian waktu berlalu rupanya adikmu ini sudah sangat berubah dari yang keras kepala menjadi begitu perasa dan mudah mengalah ya,” ledek Papa Setya.
“Hahaha, itu semua karena suaminya yang begitu lembut padanya dan bisa mengubah kepala batu itu menjadi kepala jelly,” timpal Pak Erlangga yang mana membuat Bu Maharani mendengus sementara Pak Agus turut tertawa.
“Kalian! Dari dulu selalu kompak membullyku,” gerutu Bu Maharani.
Kembali gelak tawa terdengar di ruangan tersebut. Istri Pak Erlangga hanya turut tersenyum dan sesekali tertawa. Wanita pemalu itu jarang mengangkat suara kecuali benar-benar ia harus berpendapat.
“Sudah-sudah, sebaiknya sekarang kita siap-siap karena kita harus berangkat ke pengadilan. Dan ingat apapun hasilnya hari ini, kita semua sudah berusaha. Jika Tuhan belum berkehendak menghukum mereka di dunia ini, maka percayalah bahwa Tuhan sudah menyiapkan hukuman bagi mereka di akhirat nanti. Optimis saja jika semua ini adalah jalan yang sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa,” ucap Papa Setya mengingatkan dengan ucapannya yang bijaksana.
“Hahh, Mas Setya benar. Tapi rasanya nggak adil aja kalau mereka yang menang. Aku jadi siksa batin kalau sampai tahu mereka menang dan para penjahat itu bisa menghirup udara segar sementara kita yang sesak karena perbuatan mereka,” ucap Bu Maharani dengan mata berkaca-kaca.
Pak Agus yang melihat raut wajah sedih istrinya pun langsung merengkuhnya.
“Mama jangan sedih gini. Papa tahu memang semua akan terasa tidak adil jika kejahatan menang melawan kebaikan. Tapi jika Tuhan sudah menulis garis takdir, kita bisa apa? Mama harus sabar dan lebih lapang dada,” ucap Pak Agus sambil mengusap-usap bahu sang istri.
__ADS_1
Bu Maharani hanya mengangguk. Kemudian ia dekap sang suami mencoba mencari ketenangan dan juga kekuatan dari tubuh pelindungnya itu.
Ternyata benar, Bu Maharani ini hanya case-nya aja yang terlihat wanita angkuh dan tak tersentuh tapi ketika sudah bersama orang terdekatnya beliau justru terlihat begitu manis, manja dan rapuh. Dia tidak bisa berpura-pura bahagia di depan keluarganya. Dia mau berbagi kesedihannya dengan keluarga. Sedangkan aku? Aku adalah pelakon yang handal karena selalu mampu bersandiwara di hadapan keluargaku dengan memperlihatkan kebahagiaan palsu agar aku tidak terlihat menyedihkan. Aku lupa satu hal jika keluargalah tempat berbagi. Mereka yang akan paling ngerti perasaanku. Aku sesak jika harus menyimpan ini sendirian.
Qania hanya bisa tersenyum getir memikirkan dirinya yang begitu lihai dalam berpura-pura bahagia di depan keluarganya. Ia teringat akan keluarganya yang selalu menanyakan perasannya namun selalu ia bantah dan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.
Baiklah baiklah, setelah kasus ini selesai aku akan membagi semua rasa sedihku pada semua keluargaku. Aku lelah menyimpannya sendiri. Aku ingin pulang dan memeluk Mama sambil mencurahkan semua isi hatiku. Aku ingin bilang ke Mama kalau anakmu ini tidak baik-baik saja. Anakmu ini begitu kesepian dan dirundung kerinduan yang mendalam dan banyak hal lagi yang ingin aku bagi dengan Mama dan Papa. Ma, Pa, Qania awalnya merasa mampu dengan berpura-pura namun akhirnya Qania sadar kalau semua itu justru membuat Qania tersiksa. Qania ternyata masih anak cememen Pa.
“Sudah Ranj, kuatkan hatimu dan mari kita bersiap menuju ke pengadilan. Akan memakan waktu ke tempat itu. Apapun itu percayalah bahwa hasil tidak akan pernah mengkhianati usaha,” ucap Pak Erlangga.
“Mas, bagaimana jika mereka pun memegang prinsip itu. Hasil tidak akan mengkhianatinya usaha mereka. Mereka juga berusaha lho Mas buat menjatuhkan kita,” pekik Bu Maharani.
“Rani ....” Pak Erlangga hanya bisa mendesahkan nama adiknya itu, ia tidak bisa pun membantah ucapannya. Ia juga tidak pernah bisa marah pada adik perempuan satu-satunya itu.
“Yah, jangan marah padanya. Bagaimanapun dia begitu menyayangi Angga. Kalian tumbuh bertiga dan dialah yang paling dekat dengan Angga karena hampir seumur hidup Angga, dialah yang merawatnya setelah Ibu meninggal di usia Angga yang masih sepuluh tahun. Ayah sendiri kan yang ceritain ini ke Bunda. Jadi Ayah jangan salahin Rani,” ucap lembut istri Pak Erlangga.
Pak Erlangga menatap istrinya kemudian menghela nafas. “Iya Bun, maafin Ayah.”
. . .
Mobil rombongan Papa Setya dan mobil tuan Alvindo memasuki area parkir bersamaan. Mereka yang turun dari mobil saling bertatapan dengan tuan Alvindo namun hanya sekilas lalu mereka memilih masuk sementara tuan Alvindo menunggu rombongan dari lapas mengantar Pak Handoko.
Memasuki ruang persidangan membuat jantung Qania berdebar-debar. Ia menggosok telapak tangannya untuk menghilangkan rasa gugup. Ia masih teringat dengan ucapan Bu Maharani tadi. Kata ‘bagaimana’ itu memenuhi rongga pikirannya.
Semua peserta sidang sudah hadir disana dan juga Papa Setya sudah bersiap di tempatnya bersama Pak Erlangga. Awalnya yang akan duduk sebagai pelapor atas kasus Pak Angga adalah Bu Maharani. Namun melihat kerapuhannya tadi membuat Pak Agus meminta agar kakak iparnya saja yang menggantikannya.
Sidang yang ditunggu pun dimulai dengan hakim membacakan beberapa tuntutan dari pihak keluarga korban beserta buktinya. Semua itu membuat mereka yang berada di ruang sidang tak bisa merasa tenang terlebih Pak Handoko dan tuan Alvindo.
Rupanya semua kejahatan itu sudah diketahui oleh mereka. Sudah ku duga, jika kasus Angga terbuka maka kasus yang lain pun akan ikut terkuak. Semua ini karena Handoko. Coba saja dia mendengar keinginanku untuk memusnahkan semua bukti itu maka tidak akan ada hari ini. Tuan Alvindo membatin kesal namun terus memperlihatkan raut wajah tenang.
Yang pertama kali bicara adalah tuan Alvindo. Beliau mengatakan bahwa semua itu adalah dokumen hasil rekayasa karena beliau tidak merasa memiliki urusan dengan Pak Angga apalagi terlibat konflik hingga membunuh seseorang. Pengacaranya pun turut menimpali dan mereka berbicara dengan santai seperti tidak ada beban.
“Hakim yang mulia, saya benar-benar tidak memiliki hubungan khusus atau masalah khusus dengan jurnalis itu. Mengapa saya dikait-kaitkan dengan kematiannya dan juga para asistennya. Saya bukan orang yang suka bermain licik. Jika memang nama saya tercantum dalam dokumen tersebut sebaiknya Anda dan para penuntut itu menelaah lebih dulu data yang ada pada Anda. Jangan asal melontarkan tuduhan seperti itu. Jika kasus Pak Handoko memang benar adanya terhadap saudari Qania, itu adalah sebuah fakta. Tapi untuk kasus ini, Anda bisa tanyakan pada Pak Handoko atau saudari Qania sendiri. Ada apa dan kenapa bisa kasus bertahun-tahun lamanya ini baru terkuak,” ucap tuan Alvindo dengan santai namun terlihat sangat berwibawa.
Ap-apa maksud Alvin? Jangan bilang dia ingin lempar batu sembunyi tangan.
Pihak korban tentu terperangah dengan ucapan tuan Alvindo tersebut. Terlebih Qania dan Papa Setya. Mereka saling melirik dan hanya mereka yang paham maksud dari tatapan mereka.
“Baik terima kasih. Di mohon pihak pelapor untuk memberikan tanggapannya,” ucap hakim tersebut.
“Terima kasih yang mulia. Dari pihak kami, awal mula perkara pembunuhan seorang jurnalis yang sampai saat ini masih belum juga ditemukan keberadaannya. Mengapa kami mengatakan ini adalah sebuah pembunuhan? Itu karena kami memiliki bukti rekaman CCTV mobil yang terakhir kali di kendarai oleh jurnalis tersebut. Menyusul lagi datang seorang pria yang mengaku sebagai kakak dari salah satu korban dengan membawa barang bukti yang merupakan dokumen-dokumen terpisah yang memang kemungkinan sengaja dipisah agar nanti saat mengusut kasus ini hanya orang yang dipercaya lah yang akan bisa mengumpulkan semuanya.
“Lanjut lagi, saat berita mengenai Pak Handoko yang ditangkap polisi, ada orang tua korban yang menghubungi kami dan memberikan lagi beberapa dokumen dan bukti-bukti yang akhirnya setelah dikumpulkan hasilnya mengarah pada satu kejahatan yang mendasari pembunuhan pada jurnalis tersebut.
“Dalam semua bukti yang ada, sang jurnalis ternyata mengetahui tindakan mereka yang melakukan pencucian uang, pembunuhan, pelecehan dan entah apalagi.”
Paparan dari Papa Setya yang cukup panjang membuat para hakim berdiskusi sejenak.
“Mohon maaf yang mulia, saya pun penasaran dengan bukti-bukti yang disebutkan oleh mereka. Bisakah perlihatkan bukti tersebut kepada kami supaya kami tahu apakah mereka hanya berspekulasi atau memang benar adanya seperti itu,” ucap pengacara tuan Alvindo.
Hakim pun meminta kepada Papa Setya untuk memperlihatkan buktinya. Video pertama memperlihatkan Pak Handoko yang datang bersama tuan Alvindo dan beberapa pria berbadan kekar ke kantor Pak Angga. Disana mereka bertemu dan mengancam Pak Angga agar jangan mencampuri urusan mereka apalagi menerbitkan berita tentang kasus mereka. Namun karena Pak Angga tetap saja bersikeras untuk mempertahankan keadilan maka mereka pun memukulinya sebagai peringatan.
Video selanjutnya menampilkan Pak Angga sedang berada di dalam mobil dan tengah menelepon lalu tak lama kemudian pintu dibuka dan masuk tiga orang. Dua di sisi kiri dan kanannya dan satu duduk di depan menghadap ke arahnya.
“Ada apa ini?” tanya Pak Angga.
“Berikan dokumennya. Kalau tidak nyawamu akan melayang!” ucap pria di sisi kirinya.
__ADS_1
“Oh jadi kalian suruhan Pak Handoko dan tuan Alvindo?” tebak Pak Angga.
“Tidak usah banyak bertanya. Jika ingin aman maka serahkan dokumennya sekarang. Atau katakan saja dimana kau menyimpannya. Dan jika masih bersikeras maka kekasihmu yang jadi taruhannya.”
“Jangan menyentuhnya brengsek. Mana ada orang tua yang tega menyakiti anaknya sendiri. Jangan mengada-ada,” ucap marah Pak Angga.
“Hahaha, apapun demi uang dan jabatan bro. Sekarang cepat katakan dimana dokumen tersebut atau kau akan lebih dulu mendengar berita kematian kekasihmu sebelum kau menyusulnya!” ancamnya lagi.
“Brengsek! Jangan apa-apakan dia. Dia tidak ada hubungannya dengan ini semua. Kalian hanya menggertakku saja. Aku yakin orang tuanya tidak akan mau melukai putrinya demi harta dan tahta. Tidak usah membohongiku. Jika ingin bunuh saja aku tapi jangan harap bisa menemukan dokumen tersebut!” ucap Pak Angga.
“Oh ya? Lalu ini apa?” tanya pria di sisi kanan dengan memberikan ponsel yang kemungkinan menampilkan foto kekasih Pak Angga.
“Gila! Ini benar-benar gila! Orang tuanya terlalu tega. Baiklah, lepaskan dia dan aku akan memberikan dokumennya,” ucap Pak Angga menyerah setelah melihat foto tersebut.
“Katakan dimana dokumen tersebut!”
“Di kantorku.”
Mereka pun menyeringai kemudian menelepon seseorang.
“Pak dokumennya berada di kantor. Lalu kami apakan orang ini?”
“Baik Pak.”
Tanpa di duga, setelah menelepon orang tersebut langsung menusuk perut Pak Angga dengan belati hingga beliau mengeluarkan darah dari mulutnya. Pak Angga sangat terkejut namun tak bisa menghindar lagi hingga beliau dibawa keluar dari mobil.
Setelah video tersebut selesai diputar, wajah Pak Handoko semakin memucat begitupun dengan tuan Alvindo. Ia tidak menyangka jika mereka memiliki rekaman CCTV mobil itu. Tuan Alvindo merasa sia-sia sudah menyandera Pak Jayadi dan cucunya serta mengancam Pak Nizar. Ia tidak tahu kalau bukti yang ada di tangan pihak lawan sangat akurat dan juga berakibat fatal untuknya.
Bu Maharani kembali histeris menonton video tersebut dimana adik kesayangannya berakhir karena sebuah dokumen.
“Kalian benar-benar biadab! Karena kesalahan kalian sendiri yang terendus tapi justru membunuhnya. Kalian membunuh adik saya yang saya besarkan dengan tangan saya sendiri. Kurang ajar! Bahkan dipenjara seumur hidup pun itu tidak akan cukup!!” teriak marah Bu Maharani disertai tangisannya.
Papa Setya mencoba menenangkan Bu Maharani dan memberinya kekuatan. Bu Maharani menatap bengis kepada tuan Alvindo dan Pak Handoko bergantian. Jika Pak Handoko terlihat semakin gugup, maka tuan Alvindo sudah berhasil menormalkan raut wajahnya.
“Yang mulia, saya ingin bertanya dulu pada pihak penggugat,” izin pengacara tuan Alvindo.
“Silahkan.”
“Terima kasih. Baik Pak Setya Wijaya, saya tidak akan meragukan hasil rekaman CCTV tersebut. Namun saya ingin bertanya kepada Anda, apakah Anda sudah menelaah dengan benar dari rekaman tersebut? Bisa jadi mereka adalah suruhan pihak lain dengan mengatasnamakan kedua klien saya. Mereka merupakan pebisnis hebat dan rasa iri hati dari berbagai pihak tentu saja ada dan bisa menghalalkan segala cara untuk menjatuhkan mereka. Apakah Anda sudah bertemu dengan para pria yang ada di mobil tersebut? Atau apakah orang yang memberikan rekaman CCTV itu adalah salah satu dari mereka?” tanya pengacara tuan Alvindo.
Papa Setya tersenyum tipis. Ini adalah pertanyaan yang paling ia tunggu. Jika tidak salah taksir maka selanjutnya pasti mereka akan menghadirkan Pak Jayadi ataupun Pak Nizar.
“Saya mendapatkannya dari seseorang,” jawab enteng Papa Setya. Bagaimanapun ia hanya akan mengikuti arus permainan mereka dulu kali ini sebelum mengeluarkan lagi senjatanya.
“Jadi Anda mendapatkan dari seseorang? Apakah orang ini? Tolong asisten Revan bawa masuk orang-orang tersebut,” pinta pengacara tuan Alvindo.
Benar saja, begitu pintu dibuka masuklah Pak Jayadi dan Pak Nizar dengan dibawa oleh asisten Revan. Dibelakangnya juga ada Pak Herman yang datang dengan wajah memar-memar.
Pak Erlangga yang melihat Pak Herman pun turut berada disana menjadi semakin ciut.
Apakah Herman juga sudah ketahuan menjadi mata-mata di kantor itu? Batin Pak Erlangga.
Berbeda dengan Pak Erlangga, Pak Handoko justru tersenyum senang karena asistennya kali ini sangat bisa di andalkan.
Bagus Revan, kau memang paling bisa kuandalkan. Habislah kalian Setya Wijaya, kali ini kalian akan kalah dan keadaan akan berbalik menyerang kalian.
Papa Setya memandang Qania yang juga tengah menatapnya. Mereka mengangguk saling memahami dan memberikan dukungan.
Tuan Alvindo yang paling santai dalam hal ini. Ia memiliki kartu As mereka jadi ia saat ini bisa memposisikan dirinya sebagai pihak di rangking satu.
“Maaf menyela yang mulia. Maaf juga karena sudah mengganggu proses persidangan. Tapi saya kali ini datang bersama para saksi sekaligus korban atas kasus yang dituduhkan pada tuan Alvindo dan Pak Handoko. Dan saya datang dari pihak penggugat untuk menguatkan gugatan mereka,” ucap lantang asisten Revan yang membuat mereka semua terkejut terutama pihak tergugat yaitu tuan Alvindo dan Pak Handoko.
__ADS_1