Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Tidak Peduli


__ADS_3

**Hai guys, aku udah nyelesaiin ujian tutup dan akhirnya aku udah Sah memakai gelar ST alias Sarjana Teknik. Aku senang banget lho, meskipun aku tahu ini nggak ada hubungannya sama kalian.


Dan terima kasih karena terus menunggu kelanjutan ceritanya, I love you ...


...🍁🍁🍁🍁🍁🍁**...


Entah kata apa yang harus aku tulis untuk membuka surat ini, aku bingung.


Menyapa selamat malam karena saat aku menulis memang malam. Tapi kan nanti saat kamu membaca surat ini tentu saja hari sudah berganti. Entah itu malam atau pagi ataupun sore. Yang pasti aku nggak tahu makanya aku hanya bisa *bilang :


...Hai, Tristan Anggara...


...Apa kabarmu?...


Maaf kalau kau harus mengeluarkan banyak waktumu untuk membaca surat ini tapi aku tidak pusing juga sih entah kau keberatan atau tidak meluangkan waktumu untukku. Aku tidak peduli!


Jahat ya, emang jahat akunya. *Tapi apapun pendapatmu aku tentu tidak peduli.


Oh ya Tristan, mengenai ucapanku waktu itu. Hmm ... maaf tapi aku tidak benar-benar jatuh cinta padamu. Aku selama ini hanya menatapmu sebagai Arkanaku. Terserah apa pendapatmu dan aku pun tetap tidak peduli.


Aku seorang j*lang katamu, mungkin seperti itu pendapatmu tentang aku, tapi aku pun tidak peduli apa pendapatmu tentangku.


Kau tahu tidak, rasanya dikhianati orang yang paling kita sayang itu sangat menyakitkan. Aku juga seorang perempuan lho. Maka dari itu aku sama sekali tidak ingin menyakiti hati perempuan lain dan kau pasti tahu apa yang aku maksud. Jika kau tidak paham maka aku tidak peduli.


Jahat ya?


Ya, jahat karena aku memang adalah orang yang jahat. Bencilah aku sebanyak yang kau mau dan kalau bisa lupakan aku Tristan.


Memang aku tertarik padamu, sedikit tertarik. Tapi kembali lagi, ada hati yang harus kita jaga. Jika aku ingin menuruti egoku maka aku akan melukai dua orang sekaligus, ah tidak. Bahkan ada banyak hati yang akan tersakiti. Seperti putraku yang tidak ingin sosok Daddy kepunyaannya digantikan oleh orang lain. Dan aku pun sudah berjanji untuk setia kepada Almarhum suamiku.


Asing, bersikap asinglah jika suatu saat kita berpapasan. Bersikaplah seolah Tristan Anggara tidak pernah mengenal Qania Salsabila Wijaya. Sugesti dirimu dan provokasi hati serta pikiranmu bahwa tidak pernah ada seseorang yang bernama Qania Salsabila Wijaya dikehidupan Tristan Anggara.


Lupakan aku, lupakan. Lanjutkan hidupmu bersama wanita yang lebih dulu bersamamu. Jika kau memilih bersamaku maka kau hanya akan merasakan sakit karena aku tidak memandangmu sebagai Tristan melainkan Arkanaku.


Jangan sok naif dengan berkata kalau kau bersedia aku menganggap dirimu seperti itu. Aku tahu sedikit banyak kau pasti tetap terluka.


Jangan menungguku datang padamu! Karena itu tidak akan mungkin pernah terjadi kecuali kau benar adalah Arkanaku, maka aku sendiri yang akan berlari padamu.


Lupakan aku dan lanjutkanlah kehidupanmu. Aku akan mendoakanmu dari sini. Semoga kau selalu bahagia dan sehat selalu. Makanlah yang banyak, karena seseorang yang menyukaiku itu membutuhkan banyak energi untuk bisa melupakanku.


Selamat tinggal Tristan Anggara, aku akan merindukanmu kelak jika aku sempat.


^^^Your old friend^^^


^^^^^^Qania Salsabila Wijaya^^^^^^


Tristan mengepalkan kedua tangannya dengan kertas surat yang ia baca itu di dalam kepalannya. Sungguh surat di pagi hari yang dibawakan oleh pak POS itu langsung membakar hatinya.


Geram, itulah yang dirasakan oleh Tristan saat ini.


Qania, apa-apaan ini?

__ADS_1


Tristan pun bergegas menuju ke kamarnya setelah membaca surat tadi di ruang tamu. Mengabaikan bi Ria yang terus memanggil untuk sarapan. Tristan masuk ke kamarnya dan langsung membersihkan dirinya di dalam kamar mandi.


Setelah beberapa menit ia pun keluar dari kamar mandi dan langsung mengganti pakaiannya dengan pakaian formal seperti yang ia gunakan setiap hari untuk pergi bekerja.


Tristan masuk ke dalam mobilnya yang sedang dipanaskan oleh pak Yotar. Hanya ada satu tujuan, memacu mobil menuju ke rumah kontrakan Qania.


Tristan menghentikan mobilnya tepat di depan kontrakan Qania bersamaan dengan sebuah motor yang juga berhenti tepat di samping mobil Tristan yang tidak lain adalah Raka. Saat Tristan membuka pintu mobilnya, Raka pun membuka helmnya.


"Kau?!" Keduanya saling menunjuk dengan ekspresi berbeda.


"Mau apa kau kemari?" Lagi, keduanya bertanya hal yang sama di waktu yang sama.


"Tentu saja saya ingin menemui Qania," ucap Tristan sedikit angkuh, bahkan ia lupa kalau semalam mereka terlihat begitu akrab.


Dari tatapan mata keduanya, bisa dilihat ada permusuhan dan persaingan disana. Raka pun tidak lagi mempedulikan Tristan yang menatap penuh intimidasi padanya. Ia melengos lalu berjalan menuju ke kontrakan Qania. Tak mau kalah dari Raka, Tristan pun langsung berjalan menuju ke kontrakan Qania.


Tok ... tok ... tok ...


"Qan, ini gue Raka. Lo di dalam, kan?" tanya Raka dengan lembut sambil mengetuk pintu rumah itu.


Satu menit ... dua menit ... tiga menit ... lima menit ...


"Qania kok nggak keluar ya?" gumam Raka.


Tristan pun hanya menunggu, ia diam di tempat namun matanya terlihat gelisah saat Qania tak kunjung keluar. Ia mulai memikirkan hal-hal yang mungkin terjadi mengingat surat yang tadi pagi ia terima.


Qania!! Kumohon jangan pergi meninggalkan aku Qania. Please, kita harus bicara dari hati ke hati. Aku mau minta maaf atas perkataan buruk yang tak sengaja keluar dari mulutku bajinganku ini. Tolong keluarlah Qania, aku berharap kau masih disini.


"Setidaknya berbicaralah denganku langsung, Qania. Gue pasti bisa paham, kenapa harus melalui surat seperti ini?" gumam Raka sambil mengeluarkan surat dari saku jaketnya.


"Surat?"


Tristan yang masih berdiri di depan rumah itu terkejut begitu mendengar ucapan Raka, ia pun berjalan menghampiri Raka dan ikut duduk bersamanya.


"Apa?" tanya Raka tak suka melihat kedatangan Tristan.


"Gue dengar tadi Lo ngomong soal surat," ucap Tristan datar, berusaha menyembunyikan rasa penasarannya.


Saat Raka ingin mendebat Tristan pemilik kontrakan datang menghampiri mereka.


"Permisi, ada apa ya berkumpul di depan kostan Qania?" tanya pak Darman.


"Kami sedang mencari Qania, Pak," jawab Raka.


Tristan pun ikut menunggu suara bapak itu kembali terdengar dan dalam hati ia terus berdoa semoga kabar baik yang akan ia dengar.


"Oh, Qania sudah pulang kampung dan dia sudah memberikan kuncinya kepada saya," ucapnya membuat Tristan seolah kehilangan tenaga dalam tubuhnya.


"Pu-pulang kampung?" tanya Tristan terbata.


"Iya. Dan karena Lala belum kembali makanya saya memegang kunci kostan mereka," jawabnya.

__ADS_1


"Lama nggak pulang kampungnya, Pak?" tanya Tristan dengan tampang yang terlihat seperti orang bodoh.


"Kalau itu saya kurang tahu."


"Ya sudah, terima kasih Pa."


"Iya, kalau gitu saya permisi dulu," ucapnya kemudian melenggang pergi.


Setelah pemilik kontrakan itu pergi, Tristan kembali menanyakan perihal surat kepada Raka.


"Kenapa? Lo iri tahu kalau gue dapat surat dari Qania?" ketus Raka.


"Ya enggaklah. Nih ya, gue lihat dari muka Lo gini sepertinya isi surat Qania itu bikin Lo sakit hati," ejek Tristan.


"Apa sih lo, nggak jelas," dengus Raka.


Tristan tertawa hambar, sejujurnya ia takut kalau ternyata isi surat Qania ke Raka justru sebaliknya dan akan membuatnya sakit hati.


"Gue juga dapat surat dari Qania dan isinya dia nyatain perasaannya ke gue," ucap Tristan berusaha memprovokasi Raka.


Bukannya kesal justru saat ini Raka malah tertawa terbahak-bahak. Tentu saja Tristan merasa kesal namun penasaran juga.


"Jangan berbohong. Lo pikir gue bakalan percaya sama omong kosong Lo itu? Jangan mimpi dan jangan ngehalu!" tegas Raka.


"Maksud Lo apa?" sentak Tristan.


"Gue dan Lo itu sama," ucap Raka sambil menatap Tristan lekat.


"Apanya yang sama?" tanya Tristan.


"Ya sama. Sama-sama dapat surat yang isinya penolakan, bukan?" ucap Raka dan itu sukses membuat Tristan kembali merasa kecewa.


"Di-dia menolakmu?" tanya Tristan memastikan.


Raka menjawab dengan deheman. Ia kemudian tersenyum kecut pada Tristan. Ia teringat kembali saat bangun tidur dan mendapati surat di depan pintu kostannya.


Surat itu berisi permohonan maaf Qania karena sudah pernah memberikan peluang kepada Raka dan memberikannya harapan palsu. Qania meminta maaf karena sampai detik ini ia tidak bisa membalas perasaan Raka dan ingin fokus pada kuliah, anak dan pekerjaannya yang sudah menunggu untuk ia tangani sebagai pengganti Arkana. Di dalam surat tersebut Qania juga menegaskan bahwa ia tidak memilih Tristan juga meskipun wajahnya begitu mirip dengan Arkana. Ada perasaan lega bagi Raka karena rivalnya pun mendapat penolakan.


Setelah membaca surat tersebut, Raka buru-buru mengendarai motornya dan akhirnya sampai di depan rumah kontrakan Qania namun bertepatan dengan kedatangan Tristan. Meskipun ia tidak bertanya pada pria itu, namun dari isi surat Qania tersebut Raka sudah menebak kalau pria ini pun sama-sama mendapat penolakan dari wanita yang sama.


Akhirnya mereka berdua sama-sama terdiam di depan rumah tersebut.


"Lo tahu dimana rumah asli Qania?" tanya Tristan dengan harapan Raka akan memberikan jawaban iya lalu memberitahukan alamatnya kepadanya.


"Cih ... gue tahu lah, kita udah sahabatan dari kelas satu SD. Tapi ... kalau pun gue tahu gue nggak bakalan ngasih tahu Lo," ucap Raka dingin.


"Hmm ... gue bakalan nyari tahu sendiri," ucap Tristan kemudian meninggalkan Raka yang masih terus memandanginya.


.... . . . ...


Terima kasih sudah membaca 🤎🤎🤎

__ADS_1


...❣️❣️❣️❣️❣️❣️...


__ADS_2