Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Pedofil


__ADS_3

Suasana sekolah sangat meriah saat mereka tengah melakukan acara perpisahan sekaligus peresmian perpusatakaan dan taman baca. Banyak hidangan yang pihak sekolah sediakan membuat kesepuluh mahasiswa itu bersorak karena mendapatkan makanan enak dan gratis tentu saja.


Para guru sangat menyayangi mereka dan semua murid dari kelas satu sampai kelas enam juga sangat senang terhadap mereka namun saat ini mereka menjadi sangat sedih karena hari ini adalah hari terakhir mereka bersama kakak-kakak mahasiswa itu.


Banyak murid yang memberikan kenang-kenangan berupa kerajinan tangan sederhana dan juga Qania yang mencetak foto mereka dan di tempelkan di ruang perpustakaan untuk kenang-kenangan.


Qania dan Abdi sampai harus keluar desa untuk mencari tempat percetakan dan mencuci foto mereka agar anak-anak itu tidak begitu sedih jika tidak bertemu lagi karena wajah mereka sudah terpampang di ruang perpustakaan itu.


Cila, murid kelas empat itu tiada hentinya mengejar Witno dan meminta untuk berfoto agar ada kenang-kenangan pribadi untuknya.


“Kok gue merasa kayak pedofil ya?” ucap Witno frustasi dan itu membuat Raka dan Banyu tertawa.


“Pesona lo Wit, bahkan anak SD pun sampai tergila-gila sama elo” ledek Banyu.


“Orang ganteng mah gitu, biar anak bau kencur berbaris teratur buat ngantre jadi pacar gue” ucapnya dengan senyuman kecut.


“Lo harusnya bersyukur Wit” timpal Raka.


“Au ah, malas gue” ucap Witno kemudian bergabung dengan para guru dan teman-temannya yang lain untuk menjauhi Cila.


Ia kembali teringat akan kata-kata murid kelas empat itu.


“Pak guru, tungguin Cila gede ya. Cila bakalan jadi anak yang cantik dan bisa jadi pacar pak guru”,.


Witno menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha mengusir ucapan gadis kecil itu yang terus menggema di telinganya.


“Bisa gila gue” umpatnya.


Kali ini Raka yang mengambil alih sebagai seksi dokumentasi, karena Qania tidak mau kehilangan momen terakhir ini dan Prayoga pun sama. Raka sebenarnya sengaja mengajukan diri karena ia sangat suka melihat Qania yang tertawa lepas bersama murid-murid itu dan ia sangat tidak tahan untuk tidak mengabadikan itu lewat kamera milik Qania dan diam-diam lewat ponselnya juga.


“Gue nggak tahu apakah gue bisa memiliki kesempatan buat milikin elo, tapi gue bahagia bisa melihat elo begitu bahagia dan tertawa lepas Qania. Gue bakalan mengagumi elo dalam diam dan mencintai elo secara sembunyi-sembunyi. Gue bukan pengecut, hanya sadar diri itu perlu” gumam Raka kemudian memotret Qania yang tengah bercanda bersama beberapa murid.


“Wanita itu akan terlihat semakin cantik ketika dia sudah menjadi milik orang” ucap Ikhlas yang baru saja datang menghampiri Raka.


Raka mengangguk, ia sudah jujur kepada sahabatnya itu bahwa ia memiliki rasa yang lebih pada Qania namun ia juga menyatakan dengan sendirinya tidak akan menjadi perusahak hubungan orang dan ia bahkan meminta Ikhlas untuk terus mengawasinya dan menegurnya jika ia melewati batasannya.


“Andai saja gue datang lebih awal” ucapnya sembari terus mengambil gambar, namun kali ini bukan hanya Qania yang sibuk ia potret.


“Tuhan pasti sudah nyiapin yang cocok sama elo, hanya saja belum waktunya kalian di pertemukan” hibur Ikhlas.


“Pertama kalinya As, pertama kalinya seorang Raka jatuh cinta tapi salah pendaratan” ejeknya pada diri sendiri.


“Makanya kalau mau mendarat itu cek dulu tempatnya, aman tidak?” kekeh Ikhlas.


Setelah acara makan-makan selesai, kepala sekolah memberikan sambutan penutup dan mengucapkan banyak terima kasih kepada para mahasiswa KKN dan juga memberikan laporan atas nama sekolah mereka bahwa kelompok KKN dusun Suka Asrih harus mendapatkan nilai A pada mata kuliah Kuliah Kerja Nyata ini.


Wajah bahagia terpancar dari kesepuluh mahasiswa tersebut begitu mendengar ucapan pak Zaenal, bagi mereka nilai untuk mata kuliah KKN sudah aman tanpa ada hambatan lagi.


Setelah berpamitan dengan pihak sekolah, kesepuluh mahasiswa itu kembali ke rumah pak kadus dan sampai tepat pukul dua belas siang.


Mereka memutuskan untuk istirahat di kamar masing-masing dan akan membicarakan mengenai kegiatan mereka dua hari kedepan, karena hari berikutnya bu Lira akan datang untuk menjemput mereka pulang dan kegiatan KKN dinyatakan selesai atau istilahnya penarikan mahasiswa KKN.


Sementara yang lain tengah sibuk dengan kegiatannya, Qania yang baru saja selesai mandi dan berganti pakaian langsung mengambil laptopnya untuk memindahkan dokumentasi di sekolah tadi dari kameranya. Ia terkejut karena dari banyaknya foto yang paling banyak hanyalah wajahnya.


‘Raka, kenapa jadi muka aku semua sih ini? Kan nggak adil, aihh dasar pengagum rahasia’ batin Qania.


Setelah minggu lalu Raka menyatakan perasaannya, tidak terjadi kecanggungan diantara keduanya. Bahkan Raka masih sering mengusili Qania, dan Qania juga tidak menjaga jarak dari Raka. Raka mengatakan dia menyukai Qania namun tidak berniat merusak hubungan mereka dan itu membuat Qania diam-diam mengagumi sikap Raka yang jujur dan berterus terang itu.


“Gue suka sama elo Qan, tapi gue sadar elo nggak mungkin suka sama gue karena elo sudah memiliki tunangan. Gue sadar diri dan nggak meminta tanggapan elo, cukup gue nyatain dan cukup elo tahu. Gue harap lo bersikap biasa-biasa aja ke gue dan gue juga bakalan anggap kalau gue nggak pernah nyatain perasaan gue ke elo”,.

__ADS_1


Qania menghela napas beberapa kali kala teringat ungkapan Raka tersebut, sesekali ia tersenyum saat teringat Raka yang begitu gugup dan berbicara tanpa titik koma waktu itu.


Rasa bersalah juga menghinggapi hati Qania karena sudah membuat orang menyukainya dan ia tidak bisa membalas perasaan orang tersebut. Baginya sosok Raka sangat berbeda dengan Arjuna yang menurut Qania penuh trik sedangkan Raka sangat apa adanya. Ia juga sempat beberapa kali menyamakan sikap dan tindakan Raka dengan Arkana, dan itu membuatnya kadang melihat Arkana di diri Raka.


Qania tidak ingin munafik bahwa ia juga menyukai Raka, hanya sebatas suka. Karena ia sadar bahwa yang ia sukai hanyalah kesamaan mereka, jika saja ia menerima Raka maka pria itu akan tersakiti karena Qania tidak lah melihatnya sebagai Raka melainkan hanya karena banyaknya kesamaan dengan tunangannya Arkana Wijaya, pikir Qania.


*


*


Waktu menunjukkan pukul tiga sore, waktu yang telah mereka sepakati untuk membuat rapat akhir sebelum persiapan penarikan beberapa hari lagi. Mereka sudah berkumpul di teras rumah pak kadus, tempat yang selalu mereka jadikan sebagai ruang rapat mereka.


“Gimana guys, kira-kira kalian ada ide nggak untuk kenang-kenangan di dusun ini?” Tanya Abdi.


“Gimana kalau kita buat tugu untuk kenang-kenangan dan kita tulis nama kita” usul Witno.


“Nggak bisa, kita harus ngumpulin material lagi dong dan kita harus kerja paling tidak dua hari untuk itu” sanggak Baron.


“Benar juga” sahut Witno.


“Terus apa dong, gue buntu nih nggak ad aide” ujar Elin.


“Kalau untuk dusun ini aku belum ada ide, tapi kalau untuk sekolah gimana kalau kita buat maket denah sekolah? Nggak usah Tanya bahan, aku udah nyiapin kok dari waktu bokap datang” ucap Qania.


“Kalau buat maket gue setuju, SD itu juga nggak besar dan nggak banyak bangunannya jadi kita kerja hari ini paling ntar malam atau subuh selesai” seru Prayoga.


“Maket itu apa?” Tanya Manda dan Elin bersamaan.


“Maket itu seperti miniatur, kita buat di dalam kotak yang dilapisi kaca tuh denah sekolah dasar dusun Suka Asrih, ntar kalian juga tahu. Sebenarnya ini keahlian anak Arsitektur, tapi kita juga bisa buat kok” jawan Abdi.


“Oh yang biasa di pamerin anak-anak arsitek kalau pameran kampus itu ya” seru Banyu.


“That’s right gaya Batu” ucap Baron membuat semuanya tertawa.


“Buatin maket aja, biar samaan” seru Raka.


“Terus elo gitu yang mau kelliling dusun untuk tahu gimana medannya dan juga buat gambar denahnya?” tukas Baron.


“Lah itu gue mundur deh, gue nggak ahli” kekeh Raka.


“Gimana kalau kita buat maket tapi nggak usah kayak maket biasanya, kita buat aja kayak peta dusun tapi kita buat kayak maket hanya saja dia nggak terlalu tinggi dan nggak dilapisi kaca biar bisa digantung?” usul Qania lagi.


“setuju” seru Abdi, Baron dan Prayoga bersamaan sementara yang lain melongo karena tidak paham.


“Udah, kalian lihat saja nanti dan ikut bantuin juga, kita bakalan ajarin kok” ucap Abdi.


“Oke, tolong yang lain bantuin aku dong buat bawa peralatan untuk buat maket di kamar. Masalah denah sekolah nggak usah dipikirin, aku udah gambar kok” ucap Qania seraya berdiri dan diikuti oleh Witno, Abdi, Raka dan Prayoga.


Sore itu mereka habiskan untuk membuat maket denah sekolah dasar dusun Suka Asrih, yang awalnya hanya Qania, Abdi, Prayoga dan Baron yang bergerak kini semuanya ikut membantu karena sudah diajari dan masing-masing mendapat bagian yang mudah saja.


Raka, Ikhlas dan Prayoga ditugaskan untuk memotong gabus. Elin, Qania dan Manda membantu mengoles lem di kardus yang sudah di potong-potong. Abdi dan Baron bertugas untuk menempelkan dan mengatur tata letak, sementara Banyu dan Witno ditugaskan untuk merapihkan alas dan bingkai.


Pekerjaan mereka boleh dikatakan sudah mencapai lima puluh persen, namun karena waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, mereka bergantian untuk mandi. Saat memasuki waktu magrib dan makan malam mereka meninggalkan pekerjaan mereka di teras karena selama ini disana aman-aman saja.


“Woaahhh sangat keren” ucap Manda dan Elin takjub.


“Nggak sia-sia begadang” ucap Witno tak kalah takjub.


“Tinggal sentuhan akhir dan kita bingkai” ucap Qania sambil merapihkan dan mengatur dekorasinya dengan senyuman tersungging di wajahnya.

__ADS_1


“Yang udah capek dan ngantuk boleh istirahat, tinggal sentuhan akhir kok” ucap Abdi saat melihat beberapa dari mereka ada yang menguap.


“Udah pukul dua belas kurang tujuh menit, masuk gih. Buat Manda dan Elin, istirahat aja” tambah Qania.


“Terus kamu Qan?” Tanya Elin.


“Dia mah nggak tidur dua hari dua malam udah biasa, nggak usah dipikirin” jawab Abdi membuat Qania tertawa.


“Aku oke, udah biasa” sahut Qania setelah mengakhiri tawanya.


“Ya udah kita masuk dulu” ucap Manda yang baru saja menguap dan menutup dengan tangannya.


Manda dan Elin berjalan masuk ke kamar dan langsung merebahkan tubuh mereka, tidak membutuhkan waktu lama keduanya sudah tertidur.


“Kita juga” ucap Witno dan Banyu bersamaan kemudian berjalan masuk.


“Gue stay deh, gue ini gamer jadi udah biasa begadang” ucap Raka yang masih sibuk melihat-lihat Qania yang tengah sibuk.


“Gue juga” ucap Ikhlas yang sedang mengurus bingkai.


“Raka, temenin aku buat kopi buat kita” ajak Qania.


“Oke, lo pengertian banget sih Qan” ucap Raka sambil senyam-senyum.


“Good girl” ucap Abdi, Baron dan Prayoga bersamaan.


Di dapur kini Qania dan Raka tengah bercanda sambil memanaskan air untuk menyeduh kopi.


“Qan gimana rasanya kalau kopi si Baron gue kasih garam?” Tanya Raka sembari memegang toples garam sambil tertawa.


“Boleh juga, tapi kamu harus siap pasang badan, hehe”,.


“Kalau Abdi gulanya dikit aja” ucap Qania lagi.


“Oh dia suka kopi pahit?” Tanya Raka sambil bergidik ngeri.


“Itu biasa kita minum saat bedagang kerja tugas, dijamin nggak bakalan ngantuk” jawab Qania.


“Elo juga?” Tanya Raka terkejut.


“Tentu. Tahu nggak kopi pahit itu bisa buat yang minum terlihat manis” ucap Qania sambil menyeringai tipis tanpa diketahui oleh Raka.


“Yang benar lo Qan?” Tanya Raka penasaran.


“Benar dong, emang kapan sih Qania bohong” jawab Qania meyakinkan.


Raka yang percaya pun langsung meminum salah satu kopi yang sudah Qania seduh dan siap untuk dibawa keluar.


Gluk…


“Puihh, puihh. Qan lo ngerjain gue ya” ucap Raka sambil meludah karena kopi buatan Qania rasanya pahit.


“Hahahaha, menggemaskan” tawa Qania, ia kemudian berjalan meninggalkan Raka yang tengah menambah takaran gula di kopinya.


“Sial, ternyata Qania bisa juga ngerjain orang. Gue kira dia itu orang yang serius dan tidak pernah berbohong dari wajahnya terlihat kayak gitu, tapi ternyata dan ternyata pemirsa” ucap Raka sambil geleng-geleng kepala, sesaat kemudian ia tersenyum bahagia.


“Seenggaknya gue bisa menikmati waktu bersama elo meski pun nggak lama Qan, karena setelah ini kita bakalan kembali ke dunia kita masing-masing dan gue udah nggak bisa menikmati senyum dan muka kesal elo setiap hari. Jangankan setiap hari Qan, mungkin saja gue bakalan kehilangan itu selamanya. Izinin gue egois di tiga hari terakhir ini Qan” gumam Raka sambil menatap punggung Qania yang perlahan mulai menghilang dari jarak pandangnya, kemudian Raka menyusul Qania keluar.


Waktu menunjukkan pukul dua dini hari baru lah maket mereka selesai, mereka berdiri dan merenggangkan otot-otot mereka dan bersorak karena satu misi sudah terselesaikan. Setelah mereka merasakan kantuk yang luar biasa, barulah mereka masuk bersama maket yang mereka angkat bersama kecuali Qania yang sudah lebih dulu masuk ke dalam kamarnya dan langsung terlelap.

__ADS_1


 


...***...


__ADS_2