Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Tidak bisa di selamatkan


__ADS_3

Tosan dibawa ke ruangan UGD bersama dengan teman-temannya dan Arkana yang mengikuti dari belakang. Semua terlihat tegang dan panik ketika di mobil tadi tiba-tiba saja Tosan kejang dan mengeluarkan banyak darah dari mulutnya.


Mereka semua hanya bisa pasrah karena tidak diizinkan untuk masuk ke dalam ruang UGD, sehingga hampir sepuluh orang itu berdiri saja menunggu di depan ruangan sambil terus berdoa untuk keselamatan teman mereka.


"Apakah diantara kalian ada yang tahu siapa pembalap tadi?" tanya Arkana sambil menatap satu per satu yang ada disana.


"Kami tidak tahu dia siapa, gue cuma tahu dia yang buat taruhan ini" jawab Reka, pemandu balapan tadi.


"Lo tahu wajahnya?" tanya Arkana semakin serius.


"Nggak, tadinya dia hanya minta gue buat adain balapan ini bareng lo doang Ka, tapi si Tosan tadi juga dengar dan dia maksain buat ikutan, ya sudah gue izinin" cerita Reka.


"Cuma gue doang?" tanya Arkana meyakinkan.


"Ya, katanya dia ingin balapan dengan lo doang, gue pikir dia salah satu rival lo Ka" tegas Reka.


"Nggak, gue nggak kenal sama sekali. Motor dan helmnya gue juga nggak pernah lihat" sanggah Arkana.


"Apa dia punya maksud lain ya?" terka Rizal.


"Apa jangan-jangan sasaran dia sebenarnya itu gue, tapi sayangnya yang terkena malah Tosan?" terka Arkana juga.


"Kalau seperti itu, kita harus cari orangnya sampai ketemu" usul Reka.

__ADS_1


"Lo punya kontaknya tau apalah yang bisa hubungin dia?" tanya Rizal.


"Sayangnya nggak ada" jawab Reka lesu.


"Sepintar apapun kita nyembunyiin bangkai toh akan tercium juga. Gue yakin kita juga pasti bisa temukan orang itu, sialan" ucap Arkana di akhiri makian, ia semakin geram.


"Lo benar, kita semua harus bisa menemukan orang itu, jangan sampai ada korban lagi diantara kita" ucap Reka menyetujui Arkana.


"Nanti setelah Tosan siuman, kita akan susun rencana untuk menemukan orang itu, gue nggak bakalan tinggal diam" geram Arkana.


____


Waktu menunjukkan pukul tiga dini hari, dokter yang menangani Tosan akhirnya keluar, wajahnya begitu terlihat kelelahan. Sementara Arkana dan Reka yang masih terjaga di dekat pintu langsung menghampiri dokter yang terlihat masih tampan meskipun usianya sudah kepala lima itu.


Dokter tersebut hanya menggelengkan kepalanya sambil menampilkan wajah yang tidak bisa di tebak.


"Katakan dok, jangan membuat kami bingung" bentak Reka, membuat teman-teman yang lain terbangun.


"Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, namun pendarahannya tidak bisa dihentikan, akibatnya ia kehilangan banyak darah. Dan kantung darah persediaan kami bahkan tidak mencukupi untuk di donorkan padanya" ucap dokter tersebut lalu menarik napas panjang. "Kalian yang sabar, Tuhan lebih sayang padanya sehingga ia menghentikan penderitaannya dan membawanya ke surga" lanjutnya membuat semua yang ada di sana tersentak.


"Maksud dokter, Tosan tidak selamat?" tanya Arkana tegang.


Dokter tersebut menjawab dengan menganggukkan kepalanya. Sontak hal tersebut membuat semua yang ada disana menjadi tegang sekaligus sedih.

__ADS_1


"Tolong hubungi pihak keluarga dan mengurus administrasinya, karena lebih baik jenazahnya sesegera mungkin di urus, saya permisi dulu" ucap dokter tersebut kemudian pergi meninggalkan mereka.


"Kurang ajar, gue nggak bakalan ampuni siapa pun dia yang sudah mencelakai Tosan" geram Arkana, kedua tangannya mengepal dengan keras.


"Sebaiknya kita bagi tugas, yang lain hubungi keluarganya dan sisanya mengurus jenazah Tosan disini" usul Rizal.


"Kedua orang tua Tosan sedang di luar negeri, ia tinggal bersama neneknya disini. Gue nggak berani ngabarin, soalnya neneknya pasti sangat terpukul. Secara dari kecil Tosan hanya tinggal bersama kakek neneknya, sementara beberapa tahun lalu kakeknya sudah meninggal. Apa jadinya jika neneknya tahu kabar ini" ucap salah satu teman Tosan.


"Biar gue yang ngabarin dan datang langsung ke rumahnya" ucap Arkana, sorot matanya terlihat penuh dendam mana kala mengingat pengorbanan Tosan meskipun secara tidak langsung.


"Lo yakin Ka?" tanya Rizal.


"Ya, berikan alamatnya" pinta Arkana.


Salah satu teman Tosan memberikan alamatnya, sontak membuat Arkana terkejut.


"Ini bersebelahan dengan rumah Qania" ucap Arkana terkejut.


"Lo yakin mau kesana Ka?" tanya Reka.


"Gue harus kesana, kita tidak bisa membiarkan Tosan seperti ini. Gue bakalan urusin persiapan di rumah Tosan, kalian urus semua administrasi disini dan segela macam yang harus di urus untuk kepulangan Tosan. Gue pamit dulu" ucap Arkana kemudian pergi meninggalkan mereka semua.


........

__ADS_1


__ADS_2