Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Segala Macam Cara


__ADS_3

Sudah seminggu Tristan tidak kehabisan cara untuk mendekati Qania, ia melakukan apapun itu agar bisa melihatnya. Berbagai profesi sudah ia tekuni, seperti menjadi perawat gadungan yang datang menanyakan keadaan Qania bersama temannya yang seorang perawat. Menjadi pengantar makanan rumah sakit, menjadi tukang bersih-bersih, semua ia lakukan untuk bisa melihat Qania. Dan untung saja Qania tidak menyadari kalau itu adalah dirinya. Gila memang, namun semua itu ia lakukan karena ingin terus melihat sang pujaan hati.


Tristan tanpa lelah melakoni itu semua, membuang harga dirinya yang begitu tinggi demi seorang wanita bernama Qania Salsabila. Ia bahkan mengacuhkan Marsya yang sering datang ke kafenya untuk mengajaknya jalan-jalan atau hanya sekedar makan bersama dengan dalih banyak pekerjaan.


Tentu saja dibalik itu semua terjadi keributan antara dirinya dan Marsya, namun bagi Tristan itu bukanlah hal yang harus ia pusingkan. Apalagi jika Marsya sampai mengatakan kata putus, maka dengan senang hati ia akan mencium tangan Marsya dan berlutut untuk mengucapkan terima kasih. Namun sayang, Marsya tidak pernah sama sekali mengucapkan kata tersebut yang mana membuat Tristan merasa bimbang karena sudah berbagai macam cara ia lakukan untuk membuat Marsya menjauhinya ataupun marah padanya namun sia-sia saja karena itu tidak memberi efek sedikit pun kepada Marsya.


“Kalau kamu marah ke aku ya udah kamu bebas kok kalau mau ninggalin aku. Aku nggak guna juga kan buat kamu.”


Seperti itulah ucapan Tristan setiap kali ia bertengkar dengan Marsya, berharap Marsya paham bahwa ia memang sudah tidak ingin melanjutkan hubungan mereka.


“Aku nggak mau ninggalin kamu, nggak akan pernah! Aku ngerti kok dengan pekerjaan kamu yang membuatmu sibuk. Ya udah, lain kali aja ya.”


Dan seperti itulah jawaban Marsya ketika Tristan memintanya untuk pergi. Sungguh definisi wanita pantang menyerah menurut Tristan. Tapi ia juga tidak menyalahkan kegigihan Marsya untuk mempertahankan hubungan mereka, sebab ia pun melakukan hal yang sama pada Qania.


Dan akhirnya Tristan tidak bisa mengeluarkan kata-kata lagi mendengar jawaban Marsya. Alhasil, ia hanya bisa menunggu waktu kapan Qania akan jatuh ke pelukannya dan Marsya yang akan sadar dengan sendirinya bahwa ia sudah tidak diharapkan oleh Tristan.


Egois memang, namun apapun akan dilakukan demi cinta termasuk menyakiti orang di sekitar. Mungkin saat ini Tristan tidak meninggalkan Marsya dengan cara yang sadis karena ia dan Marsya dalam posisi yang sama. Sama-sama memperjuangkan orang yang mereka sayangi, dimana Marsya memperjuangkann Tristan, Tristan memperjuangkan Qania dan Qania berharap diperjuangkan oleh Raka. Sungguh miris kisah cinta mereka dan andai saja Raka juga memperjuangkan Marsya, maka terjadilah cinta segi empat yang mana keempat anak manusia itu saling memperjuangkan cinta mereka. Akan terdengar lucu namun menggetirkan.


 


.... . ....


... ...


“Baiklah, karena nona Qania sudah sembuh total maka hari ini sudah bisa pulang,” ucap dokter yang merawat Qania.


Kedua orang tua Qania, mertua, adik dan anaknya pun turut senang mendengar ucapan dokter tersebut.


“Terima kasih dokter,” ucap Qania senang.


Suster pun melepaskan selang infuse yang terpasang di tangan Qania. Tangan dan kakinya sudah tidak diperban lagi sekarang karena sudah dinyatakan sembuh setelah ia dirawat sepuluh hari di rumah sakit dengan dampingan orang tuanya.


Zafran dan Setya sempat pulang ke kota mereka karena ada urusan pekerjaan namun baru kemarin mereka kembali lagi karena tidak bisa meninggalkan Qania lama-lama. Hanya Alisha dan Syaquile bersama Arqasa yang menjaga Qania karena Lala sudah berangkat KKN. Raka juga setiap hari datang menengok keadaan Qania, memastikan bahwa posisinya aman karena Tristan tidak lagi menemui Qania. Hanya saja ia tidak tahu bahwa Tristan setiap hari datang melihat Qania namun dengan profesi yang berbeda-beda.


“Ya udah, kamu bersih-bersih dulu, Nak. Mama mau kemasin barang-barang kamu,” ucap Alisha begitu dokter dan suster sudah pergi.


“Iya, Ma.” Qania pun turun dari brankarnya dan langsung menuju ke kamar mandi.


Tak berselang lama Qania sudah keluar dengan wajah segar dan pakaiannya yang sudah ia ganti. Alisha pun sudah selesai berkemas.


“Ayo kita pulang sekarang,” ajak Zafran.


Qania mengangguk, kemudian ia mengikuti keluarganya berjalan keluar dari ruang rawatnya. Sesampainya di luar, Qania langsung merasa senang karena akhirnya bisa terbebas dari ruangan yang penuh dengan bau obat-obatan. Ia pun bergegas masuk ke dalam mobil dimana Syaquile yang menyupiri mereka.


“Pa, Ma, besok aku bolehkan berangkat KKN?” tanya Qania saat mereka sudah dalam perjalanan ke hotel.


“Nggak,” jawab Alisha, Zafran dan Setya serempak.


“Hah, kok gitu?” Qania memanyunkan bibirnya.


“Belum sembuh total ih, balik dulu ke rumah kita. KKNnya bisa nyusul gelombang kedua,” ujar Alisha yang diiyakan oleh Zafran dan Setya.


“Tapi aku tuh mau cepat-cepat selesai kuliahnya,” lirih Qania.


“Iya Kek, Nek, biarin aja Mami KKN biar kuliahnya cepat selesai dan cepat pulang ke rumah,” ucap Arqasa menimpali.


Qania langsung mencium puncak kepala sang anak yang duduk di pangkuannya itu. “Good job son.”


“Tapi kamu itu baru sembuh sayang, Mama masih khawatir sama kamu,” ucap Alisha.


“Kan kalian udah nyewa orang buat bantu kerja di lokasi KKN gantiin aku. Aku juga udah ngomong ke Zakih kalau aku bakalan balik ke lokasi KKN dan mereka sedang menungguku. Kedua papaku kan banyak uang nih, bantuin kek danain kegiatan KKN kita. Bayar warga gitu buat bantu kerja biar teman-teman aku bisa santai seperti aku. Aku nggak enak kalau melihat mereka kerja lantas akunya cuma bisa ngelihatin. Ya, ya, ya,” bujuk Qania.


Ketiga orang dewasa itu hanya bisa mendesah, sekeras apapun mereka melarang, Qania lebih keras kepala.


“Ya sudah, nanti besok kita nganterin kamu kesana sekalian minta warga buat bantuin kalian kerja,” ucap Setya menyetujui.


“Yes, makasih Papa mertua yang terbaik. Qania sayaaaaaang deh sama Papa Setya,” ucap Qania gembira.


“Papa Setya aja nih,” sindir Zafran.

__ADS_1


“Iri bilang bos,” ejek Setya.


“Hidih, enggak ya,” sangkal Zafran.


“Hihihi, Qania sayang Mama, Papa dan Papa mertua. Juga sayang adek tampanku, anak gantengku dan yang pasti Arkanaku nomor satu dong,” ucap Qania.


Keheningan langsung terjadi di dalam mobil begitu Qania menyebut nama Arkana. Setya tersenyum getir, ia begitu bangga memiliki menantu yang sampai saat ini masih menomor satukan anaknya yang bahkan sudah lama tiada.


Sampai akhirnya mereka sampai di hotel dan menuju ke kamar mereka masing-masing dan Arqasa kali ini ikut ke kamar Maminya.


 


.... . ....


 


Dengan bersemangat Tristan mengendarai mobilnya menuju ke rumah sakit. Ia yang tadinya berencana untuk datang membesuk Qania pagi-pagi malah harus tertahan karena ada meeting mendadak dan akhirnya jam makan siang ia baru bisa menemui sang pujaan hati.


Kali ini Tristan tidak lagi mengenakan seragam profesi apapun, ia sudah bertekad untuk memperkenalkan dirinya dihadapan keluarga Qania dengan keyakinan bahwa keluarga Qania tidak akan menolaknya sebab memiliki wajah yang sama dengan Arkana.


“Selamat si—ang. Eh, kosong?” Tristan terkejut begitu mendapati ruang rawat Qania sudah kosong. Bunga yang ia bawa pun terjatuh di lantai.


Tristan keluar dari kamar tersebut tanpa memunguti bunganya untuk mencari perawat yang biasanya merawat Qania.


“Permisi Sus, pasien atas nama Qania Salsabila kemana ya?” tanya Tristan panik.


“Oh, sudah pulang tadi pagi,” jawabnya ramah.


“Pulang Sus?” beo Tristan.


“Iya Pak,” jawabnya.


Tristan melangkah lesu meninggalkan suster tersebut. Dalam hati ia terus mengumpati kliennya tadi yang memaksa untuk meeting mendadak. Hatinya terasa begitu sesak, ia tidak mendapati Qania yang sudah dibawa pulang oleh keluarganya.


Tristan memukuli stir mobilnya, menyesali keterlambatannya menemui keluarga Qania untuk mengutarakan perasaannya dan juga meminta restu.


“Gimana kalau Qania dibawa pulang ke kotanya? Gue udah nggak bisa ketemu dia lagi dong. Ah, tapi nggak mungkin, dia kan masih berstatus mahasiswa. Dia nggak mungkin pulang. Sebaiknya gue cari ke kostannya,” ucap Tristan kemudian menghidupkan mesin mobilnya lalu dengan kecepatan tinggi ia melajukan mobilnya menuju ke kostan Qania.


Lagi, ia harus menelan kekecewaan karena kata pemilik kost kedua penyewanya itu sedang tidak berada di tempat karena sedang mengikuti kegiatan KKN. Alhasil Tristan pun memutuskan untuk kembali ke kafe karena hari masih siang. Dengan bekerja mungkin ia akan bisa menghilangkan rasa kecewanya hari ini.


“Nggak apa gue nggak bisa menemukan lo hari ini, Qania. Besok, lusa dan sampai bulan dan tahun berganti gue tetap bakalan nyariin elo. Lo nggak bakalan bisa sembunyi dari gue. Gue, Tristan Anggara nggak bakalan menyerah buat dapatin elo, Qania Salsabila Wijaya,” ucap Tristan kemudian memacu mobilnya menuju ke kafenya.


 


. . .


 


Qania mengecup puncak kepala Arqasa yang sudah tertidur di pelukannya. Ia kemudian menghubungi adiknya dengan ponsel baru pemberian sang mertua. Tak lama kemudian Syaquile datang ke kamar kakaknya.


“Ada apa Kak?” tanya Syaquile begitu ia sudah duduk di sofa bersama kakaknya.


“Anterin kakak ke suatu tempat,” jawab Qania.


“Kemana?”


“Nanti kamu juga bakalan tahu sendiri, kok,” ucap Qania tersenyum misterius.


“Sekarang, Kak?” tanya Syaquile sambil melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul dua siang.


“Nanti malam, bisa kan?”


“Bisa Kak,” jawab Syaquile.


Malam pun tiba, tepat pukul tujuh malam mereka sudah selesai makan malam di restoran hotel yang mereka tempati. Setelah meminta izin kepada para orang tua dan menitipkan Arqasa, Qania dan Syaquile pun pergi.


Qania menghentikan Syaquile begitu mereka berada di dekat mesin ATM, ia masuk dan menarik sejumlah uang kemudian mengajak Syaquile pergi lagi.


Dan disinilah mereka, di depan rumah berlantai dua dengan gaya minimalis. Syaquile membuka helmnya kemudian mengikuti Qania yang sudah turun untuk menemui seorang satpam.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum pak Yotar," salam Qania.


"Wa'alaikum salam, non Qania," balasnya.


"Tristan ada, Pak?" tanya Qania.


"Belum pul--ang. Nah itu dibelakang," ucap pak Yotar menunjuk mobil yang baru saja datang.


Benar saja, Tristan datang dengan gaya kacaunya. Namun begitu ia melihat Qania sedang berdiri di depan gerbang rumahnya, dari dalam mobil ia langsung tersenyum dan bergegas keluar.


"Qania," panggil Tristan begitu bahagia.


Syaquile menoleh ke asal suara. Lagi, ia membatu di tempat begitu melihat pria berwajah sama dengan kakak iparnya.


"Kak Arka," gumam Syaquile lirih.


"Dia Tristan, Dek," tegur Qania membuat Syaquile mengerjapkan matanya berulang kali.


"Akhirnya Qania, aku melihatmu lagi," ucap Tristan langsung membawa Qania ke dalam pelukannya.


"Tristan lepas," pinta Qania dengan suara dingin.


"Maaf," cicit Tristan melepaskan pelukannya.


"Yuk masuk dulu ke dalam," ajak Tristan.


"Kamu," panggil Syaquile lirih.


Tristan menoleh, "Lo siapa?" tanya Tristan.


"Dia adik aku dan nggak perlu kenalan denganmu. Aku kesini cuma mau ngasih ini-" menyerahkan amplop berwarna cokelat- "Aku nggak mau hutang apapun. Dan terima kasih sudah mau membagi waktu denganku. Selamat malam," ucap Qania tegas kemudian menarik Syaquile ke arah motor yang terparkir di belakang mobil Tristan.


"Qania tunggu," teriak Tristan.


Qania tak menghiraukan panggilan Tristan, ia langsung naik ke atas motor.


"Kak kasihan," ucap Syaquile iba.


"Biarin aja dulu, Dek. Kamu tahu sendiri kan alasan kakak menjauhinya," bisik Qania dan Syaquile pun hanya tersenyum getir kepada Tristan.


"Qania aku bilang tunggu, aku mau ngomong," ucap Tristan yang sudah berada di dekat mereka.


"Maaf Tristan, urusan kita sudah selesai dan aku harap setelah ini kita bersikap layaknya dua orang asing. Permisi," ucap Qania membuat Tristan meradang.


"Qania, aku cinta kamu. Aku sayang sama kamu, maafin aku. Please, tinggallah dulu dan dengarkan penjelasan ku," mohon Tristan.


"Nggak ada lagi Tristan," ucap Qania melepaskan tangan Tristan yang sedang menggenggam tanganya. "Jalan Dek," ucap Qania.


Meskipun tidak tega, Syaquile tetap melakukan perintah kakaknya.


"Maaf Kak," ucap Syaquile lirih kepada Tristan.


"QANIA NGGAK PEDULI SEPERTI APAPUN KAMU MEMBENCI AKU DAN MARAH PADAKU, AKU TETAP CINTA KAMU. BERSEMBUNYI LAH YANG JAUH KARENA AKU PASTI AKAN MENEMUKANMU. I LOVE YOU QANIA, JE T'AIME," teriak Tristan begitu Qania dan Syaquile sudah menjauh darinya.


Je t'aime aussi, Tristan Anggara. Je t'aime, je t'aime Tristan. huhuhu ...


Qania hanya bisa menangis dalam hati setelah bersikap seperti itu kepada Tristan.


.... . . ....


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...


.... . . ....


Terima kasih sudah membaca 🤗🤗🤗


 


 

__ADS_1


__ADS_2