
Qania menatap nanar pada Raka yang sedang duduk di bangku di samping brankarnya. Pria itu terus menatap Qania dengan tatapan yang sulit Qania artikan. Tapi satu hal yang ia tahu, Raka tengah kecewa padanya karena ulah Tristan tadi. Sedari tadi mereka hanya berdua saja namun Raka enggang mengeluarkan suara. Mungkin ia sedang menunggu Qania untuk berbicara lebih dulu, namun Qania pun belum memiliki keberanian untuk bercerita padanya.
"Kenapa Qania?" tanya Raka, membuat Qania mengernyit.
"Kenapa Tristan?" lanjut Raka, belum sempat Qania menjawab ia sudah dibuat tak berkutik oleh Raka.
"Bagaimana bisa?" tanya Raka lagi, sebenarnya ia tidak ingin mendengar jawaban dari Qania karena baginya itu pasti akan sangat menyakitkan.
"Raka," lirih Qania.
"Lalu bagaimana dengan gue, Qania?" lirih Raka.
Qania menggenggam tangan Raka, "Aku nggak ada hubungan apa-apa dengan Tristan, Ka. Sungguh, aku tidak bohong," ucap Qania lirih.
"Setelah semua ini, Qania? Gue lihat sendiri Lo pergi KKN, tapi kenapa Lo bisa celaka dan itu di depan kampus Lo. Tristan tahu darimana Lo kecelakaan dan Lo dirawat disini. Bukannya hubungan Lo dengan Tristan itu nggak baik? Kenapa, Qania, kenapa? Gimana gue nggak berpikir yang nggak-nggak kalau sampai seperti ini kejadiannya," ungkap Raka.
"Aku ada alasannya Raka, nggak seperti yang kamu bayangin. Sungguh aku nggak ada hubungan apa-apa dengannya," Isak Qania.
"Apa karena dia berwajah sama dengan Arkana makanya Lo langsung jatuh cinta sama dia? Terus gue apa Qania? Gue yang bertahun-tahun nungguin elo malah kalah dengan Tristan yang baru datang ke kehidupan Lo hanya modal wajah doang. Gue tahu cinta itu nggak bisa dipaksain, gue juga tahu Lo maksain perasaan Lo kan ke gue. Tapi kalau Lo maunya ke Tristan ya gue bisa apa, Qan. Asal Lo bahagian Qan, asal Lo bahagia gue rela ngelepasin elo. Gue nggak mau maksain elo mau ke gue, tapi nggak gini caranya Qan. Setelah Lo ngasih kesempatan ke gue, terus Lo udah sama Tristan. Nggak gini caranya dong Qan, Lo nyakitin gue banget tahu nggak," tutur Raka, ia mengeluarkan semua isi hatinya yang sedari tadi terus menyakiti hatinya.
Qania menggenggam tangan Raka, air matanya tak kuasa ia bendung melihat wajah kecewa Raka. Ia akui ia sudah menyakiti begitu banyak hati Raka, namun pria itu tetap setia menunggunya. Bahkan yang lebih membuat Qania merasa sakit setelah mendengar Raka merelakannya untuk Tristan.
"Nggak gitu Ka, masa kamu berhenti berjuang untukku," kata itu lolos dari mulut Qania dan membuat Raka memandang intens padanya.
"Lo maunya gue gimana Qan? Lo nggak mau gue berhenti berjuang sementara Lo udah sama Tristan. Lo bikin gue bingung, Salsabila," gerutu Raka.
"Mau berapa kali aku bilang aku itu nggak ada hubungan apa-apa sama Tristan. Dan kalaupun aku ingin membuka hatiku dan membaginya dari Arkana maka pria beruntung itu adalah kamu Raka Saputra," ucap Qania penuh penekanan, ia berkata sungguh-sungguh bukan untuk sekedar menyenangkan Raka.
"Lo beneran Qan? Tapi kenapa gue?" tanya Raka, dalam hatinya ia saat ini sangat ingin bersorak.
"Karena si Raka Saputra itu adalah pria gila yang tidak berhenti mengejar ku dari lima tahun yang lalu. Aku bahkan lelah menghindar, tapi dengan tidak tahu malunya dia terus datang padahal sudah ku tolak berkali-kali. Rasanya jadi aku yang gila karena berhadapan dengan pria tak tahu malu sepertinya. Kira-kira kau punya solusi untukku agar bisa menghindari pria gila tak punya malu itu?" tanya Qania berusaha menggoda Raka agar pria itu tidak berlarut dalam pikirannya yang tidak-tidak.
Pipi Raka memerah, ia benar-benar dibuat malu oleh Qania, dalam hatinya seperti ada ribuan kupu-kupu yang menggelitik.
"Kenapa wajahmu memerah?" goda Qania.
"Jangan mengalihkan pembicaraan. Gue ingin tahu Lo kenapa bisa kecelakaan dan kenapa bisa Lo dekat dengan Tristan," alih Raka.
"Mau tahu aja atau mau tahu banget?" ledek Qania.
"Qania Salsabila Wijaya, coba tolong itu mode ngeselin bin nyebelin jangan diaktifin dulu," keluh Raka.
Qania tertawa, ia merasa bahagia sudah membuat Raka kesal dan tentu saja wajah suaminya sekilas melintas di benaknya. Berkat ilmu dari Arkana dia bisa membuat orang lain kesal.
"Kamu juga nyebelin dari dulu kalau kamu lupa," sindir Qania.
"Iya-iya gue tahu gue nyebelin. Dan gue juga tahu Lo sekarang lagi ingat kan sama Arkana. Ayo ngaku," ledek Raka, ia biasa saja jika membahas soal Arkana dengan Qania karena tidak ada yang ia cemburui dari pria yang memang statusnya adalah suami Qania.
__ADS_1
Qania hanya menjawabnya dengan senyuman. Saat Raka hendak berbicara lagi, pintu kamar Qania terbuka dan dengan berlari Arqasa menghampiri Qania.
"Mami," panggil Arqasa dan langsung naik ke atas brankar.
"Darimana sayang, hem? Unclenya kemana, kok nggak balik bareng uncle?" cecar Qania sambil mengelus-elus rambut putranya itu.
"Aku nggak tahu uncle kemana, tadi aku ditinggalin gitu aja waktu beli ice cream," adunya.
Tadi memang benar jika Syaquile keluar bersama Arqasa agar bisa memberi ruang untuk Raka dan Qania berbicara. Namun ia menghilang entah kemana hingga akhirnya Arqasa bertemu dengan Tristan.
"Ya ampun Syaquile, bisa-bisanya dia ninggalin Arqasa sendiri," gerutu Qania.
"Tapi aku baik-baik aja kok Mi. Aku juga tadi ketemu sama Om baik hati yang mau ngajakin aku main dan ngobrol," cerita Arqasa.
"Om baik hati?" beo Qania.
"Iya Mi. Tapi Mami tenang aja, aku tadi sempat kok minta KTPnya. Tapi namanya susah bacanya Mi, untung dia ngasih tahu aku kalau namanya om Tristan. Wajahnya sangat mirip sama Daddy loh Mi," cerita Arqasa dengan bersemangat.
Qania melempar tatapan pada Raka begitupun Raka yang juga tengah menatapnya.
"Sayang, lain kali kalau kamu bertemu dengan om Tristan itu kamu jangan dekat-dekat. Dia itu yang udah bikin Mami celaka," ucap Qania penuh amarah tanpa ia sadari ia sudah mengatakan sedikit alasan kenapa ia bisa celaka.
Raka terbelalak kaget saat mendengar Qania marah dan juga apa yang ia katakan.
"Gue nggak salah dengar kan, jadi si Tristan itu yang udah buat elo celaka kayak gini. Tuh orang butuh dikasih pelajaran kayaknya," geram Raka.
Qania menggeleng memberi isyarat agar Raka tidak melakukan sesuatu.
"Baik, Mi. Arqasa janji nggak akan dekat-dekat dengan om Tristan lagi," lirihnya.
Qania bisa melihat kalau saat ini anaknya tengah bersedih. Mata yang penuh binar kebahagiaan setelah menceritakan pertemuannya dengan Tristan kini berubah sendu. Qania pun membawa Arqasa ke dalam pelukannya.
"Maaf, Mami nggak maksud buat marahin Arqasa. Mami hanya takut kalau Arqasa kenapa-kenapa, cuma Arqasa pria milik Mami. Kalau Arqasa kenapa-kenapa, siapa yang bakalan jagain Mami nanti, hem?" tutur Qania lembut, hatinya pun terasa sakit setelah memarahi putra semata wayangnya itu.
"Iya, Mi. Nggak apa-apa kok. Oh ya Mi, aku ngantuk. Boleh nggak tidur bareng Mami disini?" tanya Arqasa sambil menguap.
"Boleh dong sayang, sini baring di samping Mami. Maaf ya, tangan Mami yang ini diinfus sementara yang satu nih diperban karena patah," ucap Qania sambil mengangkat satu per satu tangannya.
"Nggak apa-apa kok Mi, Mami duduk aja kayak gitu. Biar aku yang meluk Mami," tuturnya membuat hati Qania menghangat akan kedewasaan sang anak.
Setelah hampir sepuluh menit, Arqasa pun terlelap. Qania yang sedari tadi duduk bersandar sebenarnya sudah lelah namun ia urung bergerak karena tidak ingin mengganggu tidur anaknya.
Qania menatap Raka yang saat ini juga tengah menatapnya. Dari raut wajahnya saja Qania sudah bisa tahu kalau sedari tadi pria itu menunggu penjelasannya.
"Aku tidak sengaja mendengar kata-kata yang tidak enak di dengar oleh telingaku sehingga aku marah padanya dan melajukan motorku tanpa melihat kiri dan kanan sampai aku menabrak truk," cerita Qania.
"Kata-kata yang nggak enak didengar? Coba ceritakan bagaimana bisa kamu bersamanya sementara aku tuh udah mastiin kalau kamu berangkat KKN," pinta Raka.
__ADS_1
Qania pun menceritakan awal pertemuannya dengan Tristan karena proyek jalan sampai akhirnya ia mendengar pembicaraan antara Tristan dan Marsya. Namun ia tidak menceritakan tentang ciuman dan keromantisannya bersama Tristan. Ia cukup sadar untuk tidak menyakiti perasaan Raka.
"Harusnya kamu tuh nggak usah bantuin dia. Dari awal kita bertemu dengannya kan orangnya sudah seperti itu. Gue rasanya pengen ngasih pukulan ke wajahnya tepat di bibirnya biar nggak bisa berbicara yang tidak enak di dengar," geram Raka.
Tapi kalau kamu tahu Ka, justru dia yang tertindas oleh ucapanku selama kami bersama.
"Nggak perlu Ka, aku udah maafin dia kok. Hanya saja tolong bantu aku menjauh darinya, aku benar-benar takut jika disebut sebagai pelakor nantinya," ucap Qania memohon. Tangannya yang terpasang infus menggenggam erat tangan Raka.
"Pasti Qania, gue pasti bakal bantuin elo dan jagain Lo dadi dia," janji Raka.
"Raka," panggil Qania.
"Sebenarnya masih ada satu hal lagi yang mengganjal di pikiranku," ucap Qania ragu, namun jika bukan pada Raka, pada siapa lagi ia akan berbagi mengenai suatu masalah yang cukup berat.
"Apa Qania? Ada sesuatu yang mengganggumu?" tanya Raka khawatir.
"Aku belum tahu itu, Ka. Tapi nanti pada waktunya aku akan memberi tahu padamu dan jika itu adalah hal berbahaya maka tolong bantu aku," pinta Qania.
"Tentu, aku pasti membantumu Qania. Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa," ucap Raka meyakinkan Qania.
"Makasih Ka. Semoga Allah membalikkan hatiku, hihihi," ucap Qania tulus diiringi tawa.
"Aamiin," ucap Raka bersemangat.
Keduanya pun mengobrol biasa sambil bercanda tanpa tahu di depan pintu ada seorang pria yang tengah mengepalkan tangannya.
"Jadi pria itu yang bakalan jadi rival gue. Nggak bakalan gue kasih cela buat dia ngerebut hati Qania meskipun gue dengar Qania sendiri tadi yang ingin diperjuangkan olehnya. Gue Tristan Anggara, gue yang bakalan rebut hati Lo Qania, bukan dia," ucap Tristan geram, kemudian ia berbalik badan dan tanpa sengaja menabrak orang yang ada di belakangnya.
"Aww ... kamu gimana sih jalan nggak hati-ha-"
"Sorry, gue buru-buru," potong Tristan kemudian berlari cepat.
Syaquile membatu di tempatnya. Ia kembali melihat pria yang berwajah sama dengan Arkana. Beberapa saat kemudian ia mengerjapkan matanya beberapa kali untuk mengumpulkan kesadarannya.
"Aku harus bertanya pada kakak," ucap Syaquile kemudian masuk ke dalam ruang rawat Qania.
Sampai di dalam bukannya langsung bertanya ia malah disambut dengan amarah sang kakak karena sudah meninggalkan Arqasa sendiri tadi.
Syaquile meminta maaf, ia mengakui keteledorannya saat meninggalkan Arqasa yang tengah membeli ice cream begitu mendapat panggilan dari temannya tadi.
"Sekali lagi maafin aku ya, Kak, " cicit Syaquile.
"Ini pertama dan terakhir ya, Dek," ucap Qania.
Raka yang menyaksikan hal tersebut menjadi senyum-senyum sendiri. Ia jadi teringat akan kakaknya.
Raka pun berpamitan pulang karena mendapat telepon dari temannya karena ada hal penting yang harus ia selesaikan menyangkut pendidikannya yang sudah berada di tahap akhir.
__ADS_1
...🌻🌻🌻🌻🌻🌻...
Terima kasih sudah membaca 🤗🤗🤗