
Qania bangun tidur dengan wajah berseri-seri, ia kembali teringat akan lamaran Arkana semalam yang membuatnya melayang tinggi.
“Dia begitu romantis” gumam Qania sambil membayangkan wajah Arkana semalam.
Ia merasa malu namun bahagia sehingga ia kembali menutup wajahnya dengan selimutnya.
“Ah apa aku sudah gila?” pikirnya kemudian kembali membuka selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
“Dia sedang apa ya? Apakah dia sedang melakukan hal konyol sepertiku saat ini?” terkanya.
Sementara di tempat lain, Arkana masih berada di alam mimpinya, entah kapan dia akan kembali ke alam nyata padahal papanya sudah berulang kai mengetuk pintunya.
“Haiih anak itu tidur atau pingsan” keluh papanya kemudian pergi dari depan kamar Arkana.
Kembali lagi pada Qania yang masih betah berbaring diatas tempat tidurnya sambil senyum-senyum sendiri. Ia enggan untuk turun padahal waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Bukan tanpa sebab, karena perkuliahan telah berada di akhir semester dan ujian pun telah berakhir, sehingga Qania bisa bersantai menunggu hasil ujiannya keluar. Ia yakin bahwa tidak ada nilainya yang buruk sama seperti semester-semester sebelumnya.
“Qania, kamu masih tidur?” panggil mamanya dari luar pintu kamarnya, membuat Qania tersadar.
“Eh nggak ma, Qania udah bangun. Ini mau mandi” teriak Qania yang bergegas turun dari kamarnya.
“Haiihh anak ini. Ya sudah, mama ada urusan penting dan ini menyangkut acara pertunanganmu. Jadi kalau kamu lapar, minta saja sama bibi karena kami sudah sarapan. Oh iya jangan lupa ajak Arkana untuk mengurus undangan kalian dan juga keperluan yang sudah ditugaskan pada kalian berdua” ucap mamanya panjang lebar.
“Iya ma, baik” jawab Qania.
“Ya sudah, mama pergi dulu” pamit mamanya sambil menggelengkan kepala karena memikirkan kelakuan anak gadisnya.
“Iya ma, hati-hati” jawab Qania.
Setelah mamanya pergi, Qania segera mengambil ponsel yang ia simpan di samping bantalnya kemudian mencari nomor ponsel kekasihnya yang kini tertulis “My Beloved”, sebelumnya nama Arkana ia tuliskan “Pria Menyebalkan”, dasar Qania.
Dua sampai tiga kali Arkana belum juga menjawab panggilan dari Qania, sehingga ia memutuskan untuk mandi saja terlebih dahulu.
“Sepertinya aku salah sudah mengganti nama kontaknya, dia tetap saja membuatku kesal” gerutu Qania.
Qania melemparkan kembali ponselnya ke atas tempat tidurnya, kemudian ia segera mandi.
Sementara Arkana yang beberapa kali seperti mendengar ponselnya berdering dengan nada spesial untuk panggilan Qania mulai membuka kedua matanya. Ia menguap namun ditutupi oleh tangannya, lalu mengucak kedua matanya dan mencari ponselnya yang entah disebelah mana.
Setelah mendapatkan ponselnya, ia langsung tersenyum karena benar bahwa pujaan hatinyalah yang menelepon.
“Pasti dia kesal lagi, hehehe” Arkana terkekeh karena melihat beberapa panggilan tak terjawab dari Qania.
“Sebaiknya gue mandi, setelah itu baru hubungi dia lagi. Maaf ya calon istriku” ucap Arkana yang kemudian bangkit dari tempat tidurnya lalu berjalan kearah kamar mandi.
__ADS_1
__
Arkana sudah terlihat segar, ia sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil setelah ia mengenakan setelah kaos lengan pendek dan celana jeans selutut. Wajahnya yang tampan terlihat sangat berseri ketika habis mandi. Setelah merasa rambutnya cukup kering ia langsung menyisirnya lalu mencari ponselnya untuk menghubungi Qania.
Sementara Qania saat ini tengah duduk di depan meja riasnya, ia sedang memblow rambutnya dan ia biarkan terurai sementara belahan kiri rambutnya ia beri pita cantik menambah kesan imut di wajahnya. Saat ia baru saja selesai dengan riasannya, ponselnya yang berada diatas tempat tidur berdering. Qania bergegas mengambil ponselnya dan menjawab panggilan dari Arkana.
“Maaf sayang, aku baru saja mandi” ucap Arkana tanpa basa-basi.
“Ya.ya.ya” jawab Qania pura-pura merajuk.
“Maaf ya. Kamu lagi apa?” tanya Arkana yang kemudian mendudukkan dirinya di atas tempat tidur.
“Lagi nungguin jemputan kamu” jawab Qania ketus.
“Emang kamu mau jalan?” tanya Arkana dengan polosnya.
“Hei bapak Arkana, saya pikir anda masih muda untuk dikatakan pikun diusia anda saat ini” sindir Qania.
“Hah?” Arkana bingung.
“Apa kamu lupa hari ini kita sudah harus mengurus acara kita. Atau kamu memang nggak niat buat tunangan sama aku. Ya sudah batalin aja” ucap Qania merajuk.
“Ya ampun si tukang merajuk mulai deh ah. Ya sudah aku kesana sekarang, tungguin. Daa, ummmaaahh” ucap Arkana diakhiri ciuman mesranya.
“Heih dasar Arkana menyebalkan, semaunya sendiri” umpat Qania setelah mematikan panggilan telepon tersebut.
“Sayang kita makan disini dulu ya” ajak Arkana.
“Hmm” jawab Qania.
“Oh masih merajuk rupanya” ledek Arkana.
“Tau ah” jawab Qania ketus kemudian segera masuk ke warung makan tersebut.
“Hmm dasar tukang merajuk, tapi hari ini dia terlihat begitu cantik” gumam Arkana yang memperhatikan Qania masuk ke warung makan tersebut dengan menghentak-hentakkan kakinya dan hal tersebut sukses membuat Arkana tertawa.
__
“Sayang kita kemana dulu nih? Nyari cincin, buat undangan atau nyari pakaian buat tunangan nanti?” tanya Arkana saat mereka baru saja selesai makan.
__ADS_1
“Terserah” jawab Qania singkat namun enggan menatap ke arah Arkana.
“Masih marah?” tanya Arkana sambil menatap Qania yang enggan menatapnya balik.
“Nggak sih, aku kan Cuma di bonceng jadi nurut aja” jawabnya ketus.
“Oh ya sudah aku bawa kamu ke kamar bulan madu aja sebelum nikah” ucap Arkana yang sukses membuat Qania memalingkan pandangan ke arahnya.
“Maksud kamu apa hah?” tanya Qania makin kesal.
“Nah gitu dong, kalau lagi ngobrol orangnya dilihat bukan dicuekin” ucap Arkana.
“Tau ah, nyebelin” ucap Qania kemudian berdiri dan tanpa sadar ia menabrak seseorang.
“Maaf mas, maaf” ucap Qania gugup.
“Nggak apa-apa” jawabnya.
“Sayang kamu hati-hari.. dong.. Eh Ghaisan” Arkana langsung mengalihkan pandangannya pada sosok yang ditabrak Qania yang tak lain adalah Ghaisan.
“Eh kalian berdua rupanya” ucap Ghaisan canggung.
“Eh Ghai, kamu ya. Maaf aku nggak lihat dan nggak sengaja nabrak kamu” ucap Qania merasa bersalah.
“Nggak apa kok, kalian udah mau pergi?” tanya Ghaisan.
“Iya, kita baru aja selesai. Kamu baru datang?” tanya Qania.
“Iya, pesanannya juga baru dibuatkan” jawab Ghaisan sambil tersenyum ramah pada Qania membuat jiwa pencemburu Arkana bangkit seketika.
“Oh iya Ghaisan, kebetulan sekali kita bertemu disini. Gue ingin mengundang lo secara khusus untuk datang ke acar pertunangan gue bersama Qania hari sabtu nanti. Gue harap lu datang ya” pinta Arkana yang sebenarnya ingin memanasi Ghaisan.
“Tunangan?” tanya Ghaisan.
“Iya, lo datang ya” jawab Arkana.
Sementara Qania saat ini sudah memasang wajah bersalah karena tindakan Arkana, bagaimana pun Qania tahu pasti Ghaisan sedikit terluka atau bahkan banyak terluka akibat ucapan Arkana barusan. Qania memilih diam dan membiarkan Arkana yang berbicara.
“Oh iya, tapi nggak janji ya. Soalnya beberapa hari lagi saya akan kembali ke tempat saya bekerja” jawab Ghaisan berusaha tegar.
“Ya sangat disayangkan. Tapi nggak apa deh, yang penting gue udah ngundang lo” jawab Arkana berpura-pura kecewa.
“Ya sudah, kita duluan ya. Masih harus ngurusin pertunangan. Bye” ucap Arkana kemudian menarik tangan Qania.
Sementara Arkana tersenyum puas atas kemenangannya, dibelakang mereka Ghaisan menatap nanar kepergian Qania. Ia tidak menyangka harus merelakan secepat ini sebelum berjuang.
__ADS_1
____