
Qania rasanya ingin tertawa melihat ekspresi cemberut Elin. Sahabatnya itu saat ini tengah merajuk masih persoalan kemarin. Qania pun sama sekali tak berniat membujuknya. Alih-alih membujuk, Qania malah semakin memanaskan suasana dengan mengatakan bahwa ia akan pulang saja karena masih banyak urusan yang lebih penting daripada meladeni orang yang sedang merajuk. Elin tentu saja semakin kesal namun ia juga tidak ingin jika Qania meninggalkannya. Bagaimanapun malam ini adalah malam terakhir ia menyandang status sebagai wanita lajang.
“Coba saja kau pergi dari sini, dalam hitungan lima menit aku akan meratakan rumahmu dengan boom dari Kak Ghaisan,” ancam Elin membuat Qania yang ia punggungi itu cekikikan.
“Oh ya? Maka kau akan gagal menikah besok karena pasti ledakan itu akan mengikut sertakan rumahmu juga. Apa kau lupa kalau rumah kita begitu dekat?” ucap Qania memanasi Elin.
Elin jadi semakin geram. Jika saja bisa terlihat ada kepulan asap yang keluar dari kedua telinga Elin.
“Qaniaaaa!!” Elin berbalik ke arah Qania dengan berteriak.
Akhirnya Qania memecahkan tawanya. Tawa Qania membuat Elin memicingkan matanya.
“Kamu ngerjain aku?” tanya Elin dengan tatapan tajamnya.
Qania hanya mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban dan itu menurut Elin adalah jawaban yang sangat menyebalkan.
“Sejak kapan hem? Sejak kapan sahabatku ini menjadi orang yang begitu menyebalkan? Biasanya dulu kamu yang selalu mudah merasa kesal,” sungut Elin.
“Sejak Arkanaku kembali,” jawab Qania enteng.
Kali ini giliran Elin yang terdiam. Ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Dalam benaknya Elin merasa khawatir sekaligus tidak enak hati saat ini. Ia ingat dulu Arkana meninggalkan Qania di hari pernikahan mereka. Meskipun akhirnya mereka tahu bahwa Qania dan Arkana sudah menikah diam-diam dua bulan sebelumnya. Elin jadi tak enak meminta Qania menemaninya di rumah.
“Jangan menatapku seperti itu. Aku tidak gila dan tunggu saja, aku akan datang bersama Arkana ke hadapanmu nanti. Kuatkan hati dan imanmu, jangan sampai kau pingsan di malam pertamamu,” ledek Qania.
Elin memutar bola matanya jengah, kali ini ia yakin Qania bukan hanya berubah menjadi wanita menyebalkan melainkan tidak waras. Ia pun tak mau menanggapi lebih jauh, ia biarkan saja Qania berfantasi.
Ahh, aku rasanya ingin mengajaknya datang kesini dan membuat malam pertama Elin dan Yoga gagal saking syoknya melihat Tristan, hahaha.
Qania sampai senyam-senyum sendiri saat memikirkan idenya itu. Elin yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Qan, aku nggak tahu apa yang sudah terjadi denganmu selama kau berada di kota itu dan siapa saja yang bersamamu. Tapi aku harap kamu tidak menjadi seperti yang aku pikirkan. Aku harap kau tetaplah Qaniaku, Qania yang kuat dan tangguh meskipun rentan galau, batin Elin.
Lamunan Elin terhenti saat ponselnya berdering. Ia mengernyit karena yang meneleponnya nomor baru.
“Hallo aunty, Mami Ar ada disana?”
Ah … Elin bisa menebak siapa pemilik suara imut namun terdengar begitu dingin itu.
“Ada sayang, lagi sama aunty,” jawab Elin.
“Bisa pulangin Mami Ar dulu nggak. Arm au bobo siang dan Ar mau bobo sama Mami.”
__ADS_1
“Wah dimatiin!” pekik Elin. Benar-benar anak dari Qania Salsabila dan Arkana Wijaya, gumam Elin dalam hati.
“Qan, Ar tadi nelepon dan dia minta Mami-nya dipulangin dulu. Dia kata Mami-nya itu barang apa, hehehe,” ucap Elin membuat Qania mendengus.
“Ya sudah aku balik dulu. Nanti malam aku bakalan nginap sama Ar disini,” ucap Qania seraya berdiri.
“Iya. Awas saja kalau tidak datang,” ancam Elin.
“Oke.”
Qania menahan Elin yang ingin mengantarnya ke depan, “Kamu di kamar aja.”
“Baiklah.”
Qania pun keluar dari kamar Elin. Ia tak lupa menyapa Syifa yang terlihat begitu sibuk mengurus anaknya. “Wah lama nggak jumpa Nizam udah gede aja ya Kak,” Qania sambil mengacak rambut bocah lelaki yang usianya hampir sama dengan Arqasa itu.
“Iya Dek. Kan cuma beda beberapa bulan doang sama Arqasa,” ucap Syifa sambil menyuapi Nizam makanan.
“Oh iya ya Kak. Emm, aku balik dulu, Ar katanya mau bobo siang, hihi,” pamit Qania.
“Oke, balik lagi ntar,” sahut Syifa.
Di dalam kamar, Arqasa sudah menunggu Qania sambil memainkan ponselnya sendiri. Qania tersenyum melihat raut wajah sebal anaknya. Bisa ia tebak anaknya itu pasti sedang bermain game dan mengalami kekalahan.
“Katanya mau bobo,” ucap Qania begitu ia sudah berada di samping Arqasa namun ia belum naik ke tempat tidu.
“Kan nungguin Mami,” jawab Arqasa sekenanya.
“Ya sudah ayo Mami temani bobonya,” ucap Qania kemudian naik ke tempat tidur.
Arqasa menyimpan ponselnya di samping bantalnya kemudian berbalik dan memeluk Mami-nya. Ia terdiam membuat Qania kembali berpikir ada apa dengan anaknya yang cerewet ini.
“Mi,” panggil Ar dalam dekapan Qania.
“Iya sayang, Ar butuh sesuatu?” tanya Qania lembut sambil membelai rambut anaknya.
“Om Tristan itu kenapa mirip Daddy?”
Pertanyaan Arqasa sukses membuat Qania kesulitan menelan salivanya. “Kenapa Ar tiba-tiba nanyain ini?” tanya Qania.
“Sebenarnya Ar selalu keingat sama Om Tristan, Mi. Kira-kira dia mau nggak jadi daddy-nya Ar. Kan wajah mereka sama Mi, Ar nggak akan nolak kok,” ucap Ar dengan suara lirih.
__ADS_1
Tentu saja dia sangat mau Nak, batin Qania.
“Mami pikir Ar nggak mau gantiin posisi Daddy dengan orang lain,” pancing Qania.
“Om Tristan kecualinya Mi. Kalau yang lain Ar nggak mau. Mami hanya milik Ar dan Daddy, Ar nggak mau Mami diambil orang,” Arqasa langsung memeluk erat tubuh Qania. Bisa Qania rasakan saat ini anaknya itu tengah menangis membuatnya turut merasakan sakit yang sama.
“Kenapa Om Tristan?” tanya Qania mencoba mengajak Arqasa berdiskusi agar anaknya itu tidak larut dalam tangisnya.
“Jawabannya hanya satu, karena dia mirip Daddy. Kalau dia yang jadi Daddy-nya Ar, itu sama aja kayak Daddy Ar yang asli Mi. Nggak ada bedanya. Ar cuma mau dia saja Mi, tolong Ar Mi. Ar sangat ingin memanggil seseorang dengan sebutan daddy tapi Ar nggak mau orang lain selain daddy Ar sendiri. Ar suka iri lihat teman-teman di sekolah yang di antar sama Daddy-nya. Mereka main sepeda dan main bola bareng Mi.Ar jadi sedih Mi. Ar juga mau seperti teman-teman Mi, Ar juga mau digendong di punggung Daddy, duduk di bahu Daddy sambil lari-larian, Ar sangat ingin Mi.”
“Sebenarnya dulu Ar baik-baik aja, tapi waktu ketemu sama Om Tristan, Ar jadi tahu kalau ternyata Allah ngabulin doa Ar. Allah balikin Daddy dari surga Mi. Tolongin Ar, Mi. Tolong bujukin Om Tristan biar dia mau jadi Daddy-nya Ar. Tolong Mi, tolongin Ar bilangin ke Om Tristan kalau Ar berharap dia mau jadi Daddy-nya Ar. Ar mohon Mi, demi Ar.”
Bocah yang belum genap berusia lima tahun itu menangis tersedu-sedu dalam pelukan sang Ibu. Qania pun tak kuasa membendung air matanya. Benar-benar ia merasa terpukul kali ini. Ia selama ini melihat anaknya hidup dengan nyaman dan damai tanpa pernah mengeluhkan hal lain selain kepulangannya. Tapi tidak kali ini. Rupanya putranya itu memendam kerinduan dan keinginan yang begitu besar terhadap Arkana. Ternyata bukan hanya dirinya yang membutuhkan sosok pembalap itu.
“Jawab Mi, mau kan bantuin Ar?” Arqasa mendongak menatap wajah Qania yang juga dibanjiri air mata.
“Ini kenapa Mami nangis juga? Mami nggak boleh nangis, nanti cantiknya hilang. Oh tidak!! Ini salahnya Ar, harusnya Ar nggak nangis. Ar nggak boleh cengeng, kan anak laki-laki. Harusnya Ar lebih kuat dari Mami biar bisa melindungi Mami. Maafin Ar ya Mi,” bujuknya sambil menyeka iar matanya yang membasahi pipi tembemnya.
“Nggak sayang. Ar nggak salah. Mami hanya terharu saja, rupanya bukan cuma Mami yang merindukan Daddy, ternyata kita sama ya, hehe,” kilah Qania. Ia berusaha terlihat tegar meskipun ada air mata di pipinya demi Arqasa.
“Gitu ya Mi? Ar pikir hanya Ar saja yang merindukan Daddy. Kalau begitu Mami harus bantuin Ar buat bujukin Om Tristan ya Mi,” bujuknya dengan memasang wajah seimut mungkin.
Sial!
“Bahas Om Tristan-nya nanti aja ya, sekarang Ar bobo siang dulu,” alih Qania.
“Tapi janji Mi.” Arqasa mengangkat jari kelingkingnya.
Baiklah, diiyakan saja biar cepat, pikir Qania. Jari kelingking mereka pun saling bertaut dengan kedua bibir mereka saling tersenyum.
Beberapa menit berlalu akhirnya Arqasa terlelap juga. Qania bisa menghembuskan napas lega karena bisa terbebas dari rengekan sang anak yang memaksa Tristan untuk dijadikan Daddy-nya.
Jika Tuhan berkehendak maka dia memang akan dan memang dia adalah benar Daddymu, Nak. Semoga saja begitu. Tapi jika tidak seperti itu kebenarannya, demi dirimu dan kebahagiaanmu maka Mami rela bermohon padanya untuk menjadi Daddymu. Melihatmu hari ini seperti Mami tertampar kenyataan. Kenyataan bahwa anakku tidak baik-baik saja. Anakku membutuhkan sosok Ayah dan aku dengan jahatnya menutup harapan anakku itu. Baiklah Ar, benar atau tidaknya dia Daddymu, Mami akan membuatnya menjadi Daddymu. Suka atau tidak, Mami pastikan dia akan segera menjadi Daddymu. Coba saja Mami tahu dari dulu kau memiliki keinginan ini, maka tidak akan ada penolakan dan Mami tidak akan menyuruh Tristan untuk bertunangan.
Hahh … baiklah. Sekarang Mami mau menunggu hasil itu dulu sebelum memutuskan langkah apa yang akan Mami ambil. Mami akan mengusahakan semua yang terbaik untukmu Nak, kau tunggu dan lihat saja. Siapa yang kau inginkan menjadi Daddymu pasti akan Mami bawakan untukmu, meskipun harus dengan cara memaksa dan mengancam. Tunggu? Tristan? Tanpa Mami ancam dan paksa pun dia akan datang dengan sendirinya, hahaha.
Qania tersenyum-senyum membayangkan bagaimana jika Tristan tahu bahwa anaknya menginginkan dirinya menjadi Ayah sambung. Ah, pasti pria itu akan langsung menggendong dan membawa anakku berputar-putar, pikir Qania.
__ADS_1