Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Marah yang bersambung


__ADS_3

Arkana melangkah ke kamarnya dimana tadi ia menyuruh Qania menunggu. Tapi sang papa menyuruhnya datang ke kamar untuk membahas soal Daren Wilanata yang siap maju ke pengadilan untuk menyelesaikan kasusnya.


Arkana memutar gagang pintu, dengan perlahan ia mendorong pintu hingga terbuka lebar. Matanya menangkap sosok yang tengah terlelap di atas tempat tidurnya. Arkana tersenyum manis saat melihat kekasihnya itu, ia kemudian melangkah mendekati Qania.


“Katanya tadi nggak ngantuk, eh belum setengah jam aku tinggal udah lelap gini” Arkana terkekeh sambil membelai rambut Qania.


“Kalau udah halal, aku udah selesaiin kamu sekarang. Hmm sabar, sabar” Arkana mengelus dadanya.


“Ma, aku masih ngantuk ini” racau Qania, ia mengira tangan Arkana yang mengelus pipinya, sementara Arkana terkekeh mendengar Qania.


“Gemesin banget sih tunangan gue ini. Coba sekali lagi deh” Arkana berniat untuk menjahili Qania lagi.


Arkana mengelus pipi Qania, menciumi pipinya, membelai rambutnya, dan hal itu membuat Qania merasa terusik. Arkana cekikikan melihat Qania terus saja bolak-balik karena merasa tidak nyaman saat tidurnya terganggu.


“Lima menit ma, oke” racau Qania yang merasa kesal kemudian mengerucutkan bibirnya.


Cup..


Arkana langsung berlari ke kamar mandi setelah mencium bibir Qania, ia tertawa di dalam kamar mandi.


“Gue mandi saja dulu, nanti Qania bangun gue udah segar terus anterin dia deh” ucap Arkana kemudian membuka satu persatu pakaiannya.


Sementara di tempat tidur Qania tersentak karena merasa ada yang mencium bibirnya. Perlahan-lahan ia membuka matanya dan mengamati sekitarnya.


“Mamaaaaa, Qania diculik maaa” teriak Qania saat terbangun namun ia sadar bahwa ia tidak tidur di kamarnya.


“Papaaa tolong Qaniaaa” teriaknya lagi.


Kebetulan Setya yang melintas di depan kamar Arkana mendengar teriakannya. Secepat mungkin Setya bergerak kearah pintu kamar Arkana.


“Astaga Arka jangan bilang kamu apa-apain Qania” ucap Setya khawatir.


Bertepatan dengan Setya membuka pintu, Arkana juga keluar dari kamar mandi.


“Qania” panggil keduanya bersamaan.


Qania yang menutupi wajahnya dengan kedua tangannya itu mendengar namanya dipanggil, dan suaranya tidak asing di telinganya perlahan menurunkan kedua tangannya.


“Eh papa Setya, Arkana” gumam Qania.


“Sayang kamu kenapa?” tanya Arkana panik, ia mempercepat mandinya saat mendengar Qania berteriak.


“Iya sayang kamu kenapa?” tanya Setya yang juga ikut panik.


“Aku kan tadi ngira aku diculik, bisa malu aku kalau jawab jujur” pikir Qania.


“Itu pa, tadi Qania mimpi buruk. Fyuuhhh” jawab Qania kemudian menghembuskan napas lega.


“Oh papa kira ada apa. Ya sudah papa tinggal dulu, ada urusan di luar” pamit Setya.


“Kamu cuci muka gih di kamar mandi, aku mau ganti baju” pinta Arkana.


“Iya” jawab Qania kemudian turun dari tempat tidur dan melangkah masuk ke kamar mandi.


Di dalam kamar mandi Qania merutuki kebodohannya sendiri.


“Bodoh, bodoh. Bisa-bisanya tadi aku berteriak diculik. Hah untung mereka percaya” ucap Qania kemudian membasuh wajahnya dengan air.


Setelah merasa cukup segar, Qania berjalan keluar dari kamar mandi. Arkana yang sudah berganti pakaian kini sedang duduk di sofa sambil menunggu Qania keluar.


“Sayang udah?” tanya Arkana kemudian memasukkan ponselnya di dalam saku celananya.


“Iya, ayo pulang” jawab Qania yang melangkah mendekati Arkana.


“Lah kok pulang? Kan lagi diculik” ledek Arkana.

__ADS_1


Blushhhh...


Wajah Qania memerah karena malu, rupanya Arkana tahu tentang teriakannya tadi.


“Malu, hemm?” goda Arkana yang berjalan mendekati Qania.


“Eh, i..itu” Qania gugup saat Arkana berjarak begitu dekat dengannya.


“Mendadak gugup kah?”,.


Posisi Arkana dan Qania sangat dekat, membuat jantung Qania berdisko ria. Qania menutup matanya saat Arkana mengecup keningnya dengan lembut namun rasanya begitu hangat.


Qania masih terus menutup kedua matanya membuat Arkana menahan tawanya. Terlintas kejahilan di benak Arkana, kemudian ia meniup wajah Qania pelan, membuat Qania membuka matanya perlahan saat aroma mint itu menembus indera penciumannya.


“Ingin diculik kah?” tanya Arkana dan dijawab anggukan oleh Qania yang masih terpana oleh ketampanan pria di depannya ini.


Arkana menggulum senyum saat melihat Qania mengangguk, ia kembali berniat menjahili Qania.


“Ayo kita selesaikan di ranjang itu. Mari bantu aku menghangatkannya” ajak Arkana dan benar saja, kesadaran Qania langsung kembali.


“Ih ngeseliiiiiiiin” teriak Qania membuat Arkana memecahkan tawanya yang dari tadi ia tahan.


“Terus, ketawain aja terus” Qania merajuk kemudian berjalan kearah pintu.


“Haha, habisnya kamu sih. Kamunya dimana, pikirannya dimana” ucap Arkana sambil berjalan menyusul Qania yang sudah membuka pintu kamar itu.


“Tau ah, gelap” Qania berjalan dengan cepat menuruni tangga.


“Sayang ayolah jangan ngambek” teriak Arkana tapi masih diselingi tawa.


Arkana berhasil menggenggam tangan Qania saat mereka sampai di teras rumah.


“Kok nggak ngelawan?” ledek Arkana.


“Siapa juga yang mau ngelawan” ketus Qania.


“Aku lapar, nggak ada waktu buat ngambek” ucap Qania menahan senyum.


Bibir Arkana berkedut mendengar ucapan Qania. Ia merasa dongkol sendiri jika kekasihnya ini sedang marah namun juga lapar. Apapun masalahnya jika ia sudah lapar, pasti akan hilang dengan sendirinya. Setelah kenyang barulah marahnya akan dilanjutkan.


“Mendadak bisu kah?” tanya Qania menatap Arkana dengan sinis.


“Eh iya sayang, ayo. Kamu mau makan apa?” tanya Arkana tersadar.


“Mau makan gado-gado, bakso, ayam bakar, nasi padang, burger, emmm....”


Arkana yang gemas dengan semua celotehan Qania, akhirnya ia membungkam mulut Qania dengan mulutnya. Aksinya tidak cukup lama karena mengingat tempat mereka berdiri di teras rumah, Arkana khawatir bi Ochi atau tetangga yang lainnya akan lewat dan melihat mereka.


“Morning kiss” ucap Arkan tanpa dosa.


“Ih reseeeee” teriak Qania kesal.


“Udah ayo pergi, kita cari makan. Udah lapar kan?”,.


“Iya, iya. Kali ini kamu selamat karena aku lagi lapar” ketus Qania.


“Kita naik motor aja ya” ucap Arkana yang tengah berjalan kearah motornya.


“Terserah kamu aja deh” jawab Qania mengekori.


🍁


🍁


Arkana dan Qania baru saja sampai di rumah Qania setelah mereka sarapan nasi padang. Keduanya berjalan memasuki rumah Qania dan duduk di ruang tamu.

__ADS_1


“Sayang aku pulang ya, kamu istirahat. Kan semalaman nggak bobo” ucap Arkana masih menggenggam tangan Qania.


“Hmm”,.


“Kok gitu?”,.


“Terus aku gimana?”,.


“Masih marah nih?,.


“Menurut lo?”,.


“Ya ampun jadi benar ya, marah yang bersambung” Arkana menepuk jidatnya, ia tidak habis pikir dengan tunangannya itu.


“Pulang sana, aku mau istirahat” ketus Qania.


“Cari aman aja dulu deh” pikir Arkana.


“Mendadak tuli atau mendadak bisu?” sindir Qania.


“Iya sayang aku pulang. Kamu istirahat gih” ucap Arkana tergesah-gesah karena tidak ingin diamuk lagi.


“Hmm”,.


Cup..


“Aku pulang dulu, kabari kalau udah selesai istirahatnya” ucap Arkana setelah mengecup kening Qania.


Qania spontan mengangguk membuat Arkana tersenyum. Arkana memegang sebelah pipi Qania, mengelusnya penuh kelembutan.


“Aku pulang” pamitnya.


“Hati-hati” ucap Qania hampir tak terdengar.


Sebenarnya Qania masih berat untuk berpisah dengan Arkana, mengingat tinggal beberapa hari lagi ia akan pergi KKN yang entah di daerah mana.


Tapi tubuhnya juga butuh istirahat, ia akan menghabiskan beberapa waktu yang tersisa bersama Arkana setelah ia merasa tubuhnya sudah enakan.


Qania melangkah mengikuti Arkana, saat Arkana sedang menghidupkan motornya Qania berhenti di ambang pintu sambil menatapnya.


Arkana memakai helmnya dan melirik kearah Qania.


“Udah masuk sana, atau mau aku culik?” ledek Arkana yang membuat Qania kembali kesal.


“Arkanaaaaaaaaa....” teriak Qania.


“Bye sayang, I love you” Arkana tertawa karena berhasil membuat Qania kesal.


“I love you too” jawab Qania tanpa sadar sedang marah.


“Cie dibalas” ledek Arkana.


Qania menatap Arkana dingin, membuat yang ditatap mengerti maksudnya. Dengan cepat Arkana membelokkan motornya dan meninggalkan Qania yang sedang menatap marah padanya.


Qania menghentak-hentakkan kakinya masuk kedalam rumah membuat mamanya melihat dengan heran. Sementara Arkana sepanjang jalan terus tertawa mengingat Qania yang membalas ucapan cintanya tanpa sadar sedang kesal.


“Menggemaskan”,.


“Tunangan siapa sih itu?”,.


“Ya tunangan gue lah”,.


Arkana seperti orang gila yang berbicara sendiri di atas motornya sambil sesekali tertawa, senyum dan berteriak senang.


 

__ADS_1


...⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘...


__ADS_2