
Qania mengangkat kepalanya begitu mendengar langkah Pak Handoko menjauh dan sepertinya sudah keluar dari gudang. Ia sedikit berpikir apa yang sedang di rencanakan Pak Handoko. Lamunannya terhenti saat ponselnya bergetar dan menampilkan panggilan dari Raka. Sebelumnya ia mengganti modenya menjadi mode diam kemudian menjawab panggilan dari Raka.
“Hallo Qan, gue tadi dapat kiriman paket dari Mas ojol. Katanya itu dari elo. Itu apa? Lo dimana?”
“Aku di kantor dan tolong jaga paket itu ya. Jangan di buka, tunggu aku dat—“
Qania terburu-buru memasukkan ponselnya ke dalam tas begitu mendengar langkah menuju ke gudang. Kali ini ia benar-benar menajamkan mata dan telinganya. Begitu melihat gagang pintu diputar, Qania segera kembali membenamkan wajahnya di atas meja seperti semula. Ia bahkan lupa jika masih tersambung dengan Raka.
Gawat, harusnya aku tersambung dengan Julius sekarang. Bagaimana ini? Aku sudah tidak memiliki kesempatan untuk menghubungi Julius, batin Qania merutuki kecerobohannya.
Dalam hati Qania terus berdoa semoga Julius bisa datang tepat waktu untuk menolongnya jika Pak Handoko melakukan sesuatu terhadapnya.
“Ekhmmm.”
Qania tak menggubris deheman Pak Handoko, ia berpura-pura tertidur pulas. Saat ini ia sedang tegang dan mencoba untuk membujuk jantungnya agar tidak berdegub kencang.
“Qania, kau tidur?” tanya Pak Handoko. Ia menyeringai sambil menjilati bibirnya sendiri saat tak mendapati pergerakan dari Qania.
Ia menatap penuh birahi pada Qania yang hari ini terlihat begitu seksi. Meskipun memakai kemeja berlengan panjang dan rok menutupi lutut, namun posisi Qania yang membungkuk itu semakin membuatnya tergiur.
Perlahan-lahan Pak Handoko mulai mengulurkan tangannya mencoba menyentuh rambut Qania. Qania membulatkan matanya begitu merasakan Pak Handoko menyentuh rambutnya.
Qania dengan cepat mengangkat kepalanya dan membuatnya terlihat seolah itu adalah gerakan refleks karena terkejut.
“Eh ya ampun Pak. Sejak kapan Anda berada disini? Maafkan saya Pak, saya tertidur saking seriusnya membaca,” ucap Qania gelagapan walaupun cuma berakting saja.
“Saya sudah meneleponmu tapi tak dijawab, makanya saya memutuskan untuk kesini menyusulmu. Eh ternyata kamu sedang tidur. Saya memutuskan untuk menunggu sebentar tapi kita sudah harus pergi jadi saya berniat membangunkanmu,” jawab Pak Handoko yang mendapat cibiran dari dalam hati Qania.
Dasar pendusta!
“Oh maaf sudah membuat Bapak menunggu. Mari kita menemui kliennya,” ucap Qania bergegas merogoh tasnya untuk mencari cermin. Ia mengeluarkan cermin kecil lalu melihat penampilannya.
“Saya permisi ke toilet sebentar Pak, sepertinya penampilan saya agak berantakan,” ucap Qania seraya berdiri, namun baru saja ia menggandeng tasnya, tangannya sudah ditarik oleh Pak Handoko.
“Kenapa terburu-buru, bukankah kau belum merapihkan berkas-berkas ini?” tanya Pak Handoko sambil menunjuk berkas yang berserakan di atas meja.
“Upss, maaf Pak. Kalau begitu saya rapihkan dulu,” ucap Qania kemudian mengumpulkan berkasnya dan memasukkannya ke dalam box file.
Qania berjalan ke arah lemari yang berada di sisi kiri meja yang tadi ia gunakan, posisinya masih terjangkau jelas oleh kameranya. Ia berjinjit berusaha menyimpan kembali box file itu. Namun bukannya tersimpan di lemari, box tersebut malah terjatuh ke lantai mana kala Qania terkejut mendapatkan pelukan dari arah belakang oleh Pak Handoko.
Tubuh Qania menegang, antara takut akan traumanya dan juga marah dengan perlakuan tak senonoh yang ia terima.
“Pak tolong lepaskan saya. Kenapa Anda memeluk saya?” teriak Qania marah.
“Salahkan saja posisimu yang memancing saya untuk memelukmu,” ucap Pak Handoko semakin mempererat pelukannya di perut Qania.
Qania berusaha keras melepaskan tangan Pak Handoko. Bahkan air matanya sampai tumpah manakala tubuhnya menempel dengan tubuh Pak Handoko. Bayangan akan kejadian dimasa lalu bersama Juna muncul di benaknya namun Qania dengan keras menggigir bibirnya agar bisa kuat dan melawan traumanya.
“Pak lepaskan saya!” teriak Qania murka.
“Silahkan saja berteriak, tidak akan ada yang mendengar, hahaha.”
Dengan keras Qania berusaha melepaskan diri hingga akhirnya ia menginjak kuat kaki Pak Handoko dengan sepatunya yang cukup runcing. Begitu Pak Handoko lengah, ia langsung menampar wajah Pak Handoko dengan refleks.
“Anda jangan kurang ajar kepada saya Pak. Saya bisa menuntut Anda atas perbuatan tak senonoh,” bentak Qania.
“Hahaha, menuntut saya? Kamu waras? Saya ini pengacara hebat, saya adalah ahli hukum. Saya bisa membalikkan keadaan dengan mudah. Dasar J*lang!”
Plakkk ….
Pipi Qania tertoleh ke samping begitu mendapat tamparan keras dari Pak Handoko. Pipinya yang putih mulus itu kini berubah warna menjadi merah. Mata Qania berkaca-kaca karena menahan sakit dan juga panas di pipinya.
“Itu balasan karena kau sudah berani menamparku. Sebaiknya kau menurut saja, aku hanya ingin mengajakmu bersenang-senang menikmati surga dunia Qania. Mari anak manis, menurutlah padaku maka kau akan kubuat enak, hahahaha.”
Tubuh Qania kembali menegang karena marah. Ia begitu geram mendengar ucapan kurang ajar dari Pak Handoko.
Aku dan Arkana saja melakukannya sebanyak dua puluh kali dan dia tak pernah berkata sekurang ajar ini padaku, teriak Qania dalam hati.
Cuihhh ….
Qania meludahi wajah pak Handoko saking geramnya. “Jangan berkata kurang ajar kepada saya jika Anda tidak ingin merasakan akibatnya nanti,” ucap Qania dengan nada begitu dingin.
Pak Handoko mengusap wajahnya yang diludahi oleh Qania sambil menatap bengis kepadanya. “Memangnya kau siapa hah? Hanya mahasiswa magang yang tak berpengalaman tentang hukum. Datang dari kota kecil dengan suami yang hanya bermodalkan usaha kuliner mau mengancamku. Hahahaha, akan kuperlihatkan padamu seperti apa akibat yang kau maksud itu,” ucap pak Handoko dengan tawa menggelegar yang membuat Qania sedikit merinding.
“Kau ingin tahu siapa aku? Aku adalah kesialan yang selama ini kau hindari brengsek!” bentak Qania.
Merasa geram dengan ucapan Qania, pak Handoko langsung menamparnya lagi kemudian menyeretnya dengan cara menarik rambut Qania lalu menghempaskannya hingga dahi Qania membentur sudut meja.
Qania tak sempat lagi mengaduh begitu melihat tangannya ada darah yang berasal dari dahinya. Ia memejamkan mata berusaha untuk meyakinkan dirinya bahwa ia tidak akan kenapa-napa.
“Jangan pernah sekali-kali mencoba melawanku Qania. Kau menurut saja jika tidak ingin bernasib sama seperti Clara,” hardik Pak Handoko. Ia kemudian berjalan ke arah Qania lalu dengan kejamnya menarik lagi rambut Qania hingga wajah Qania tertoleh ke atas.
Sambil menahan sakit, Qania masih sempat membatin mempertanyaan soal Clara yang kata pak Erlangga adalah korban dari Pak Handoko. Ia berniat untuk membuat Pak Handoko mengakui kejahatannya terhadap Clara agar Clara juga bisa mendapatkan keadilan.
__ADS_1
“Cla-Clara?”
“Ya, Clara mantan sekretarisku itu. Kau dan dia sebelas dua belas bebalnya. Dan kau tahu, di sini juga aku melecehkannya. Memperkosanya puluhan kali dan mengancamnya jika ia berani melapor hingga akhirnya dia hamil dan menjadi gila. Tapi untukmu itu pengecualian karena kau akan kusimpan seumur hidup dan menjadi pemuas nafsuku, hahaha. Sangat sayang jika wanita secantik dirimu menjadi gila seperti Clara. Aku sangat baik padamu bukan?”
Kurang ajar! Maki Qania dalam hati.
Pak Handoko mulai mendekati wajahnya ke wajah Qania yang masih mendongak, ia berniat menciumi wajah cantik itu. Namun Qania dengan cepat meludahi wajah tersebut hingga membuat Pak Handoko marah lalu kembali membenturkan wajah Qania di lantai.
“Kurang ajar! Wanita sialan! Beraninya jal*ng sepertimu meludahi wajahku. Rasakan ini,” ucapnya dengan terus-terusan membenturkan wajah Qania ke lantai hingga membuat lantainya berlumuran darah.
Tolong tetap sadar Qania sampai bala bantuan datang. Jangan sampai kau pingsan, dia pasti akan memanfaatkan situasi itu. Bertahanlah Qania.
Meskipun sudah merasakan begitu sakit dan juga hampir hilang kesadaran, Qania masih tetap menguatkan dirinya. Apapun yang terjadi ia harus kuat dan harus bisa mencegah pria brengsek ini menyentuh tubuhnya.
“Berteriaklah Qania, tidak akan ada yang mendengarmu. Atau mau kubuat pingsan agar jalanku semakin mudah? Tapi aku paling tidak suka bermain sendiri. Aku ingin mendengar suara indahmu itu saat aku menguasai tubuh indahmu ini,” ucap Pak Handoko sambil meraba punggung Qania dengan penuh nafsu meskipun masih tertutupi oleh kemeja, ia juga menciumi aroma tubuh Qania.
“Sangat menggoda,” ucapnya yang sudah semakin terbakar birahi.
Dengan sisa tenaganya, Qania menarik kuat tangan Pak Handoko lalu sedikit menggeser tubuhnya hingga Pak Handoko hilang keseimbangan dan jatuh di lantai.
Qania berusaha berdiri dengan berpegangan di sudut meja. Ia menyeka darah yang terus keluar dari dahinya agar tidak jatuh ke matanya. Qania memanfaatkan kesempatan itu untuk mengambil tasnya dan berjalan dengan cepat namun kalah cepat karena tangan Pak Handoko sudah memegang betisnya dengan kuat hingga Qania kembali terjatuh telungkup di lantai.
Pak Handoko langsung saja menerjang tubuh Qania yang akan berbalik namun ia lagi-lagi mendapatkan serangan begitu Qania menendang alat vitalnya yang membuat ia mengadu kesakitan.
Julius mengumpat saat nomor Qania tidak bisa dihubungi. Sudah berkali-kali ia menelepon Qania namun tetap saja operator yang menjawab bahwa Qania sedang berada di panggilan lain.
“Qan, Lo lagi teleponan sama siapa sih? Apa elo baik-baik saja sekarang?” Julius terus mencoba untuk menghubungi Qania.
Ini sudah jam makan siang namun Julius masih harus mengerjakan sedikit pekerjaan yang tadi ia tinggalkan sewaktu mengurus bagian CCTV. Meskipun pekerjaannya cukup mudah, nyatanya Julius tak mampu menyelesaikannya dengan cepat karena pikirannya terus tertuju pada Qania.
“Sial! Gue harus cek sendiri kesana untuk lebih pastinya,” ucap Julius kemudian ia terburu-buru keluar dari ruang kerjanya menuju ke lantai dasar.
Menunggu di depan lift membuatnya terus menggerutu hingga akhirnya pintu lift terbuka dan ia terburu-buru masuk.
“Qan, awas aja kalau Lo dalam bahaya. Gue nggak bakalan bisa maafin diri gue sendiri,” gumam Julius yang untung saja hanya sendirian di dalam lift.
“Ini kenapa lamban sekali sih turunnya,” gerutuJulius
Begitu pintu lift terbuka, Julius dengan langkah setengah berlari keluar dari lift. Ia bahkan beberapa kali menabrak pegawai kantor.
“Maaf, maaf.”
Ia harus tertahan saat salah satu pegawai yang ia tabrak marah padanya.
Disaat Julius tengah berdebat, Qania di dalam ruangan tengah berusaha melarikan diri. Namun sayang terus saja gagal dan keinginan pak Handoko yang ingin menyentuhnya juga masih gagal akibat perlawanan Qania.
Wajah cantik itu sudah dipenuhi lebam dan sisa-sisa darah. Matanya sudah sayup dan kepalanya sudah pusing namun ia tetap berusaha keras untuk bertahan. Ia tidak ingin pak Handoko sampai menjamah tubuhnya. Membayangkannya saja sudah membuat Qania tegang dan juga menghina dirinya sendiri jika itu sampai terjadi.
Julius cepatlah datang.
Pak Handoko berdiri dan menarik rambut Qania hingga tubuh mungil itu terseret dan dengan kasar dan keras pak Handoko menghempaskannya hingga membentur lemari. Meskipun merasa lemas, Qania tetap berusaha mempertahankan tubuhnya agar tetap berdiri.
Pak Handoko hilang kesabaran, ia dengan tergesa-gesa melepaskan ikat pinggangnya, namun sesaat ia berhenti. Mata tajamnya menelisik sesuatu di lemari tempat dimana Qania bersandar sambil menahan segala rasa sakit.
Ia kemudian menyeringai, wajahnya terlihat sangat menyeramkan. “Jadi kau rupanya mata-mata,” ucap Pak Handoko sambil berjalan ke arah Qania dan menggulung-gulung ikat pinggangnya.
“Mata-mata?” beo Qania.
Suara teriakan Qania menggema di seluruh ruangan tersebut ketika pak Handoko mencambukkan ikat pinggangnya dengan keras pada Qania.
“Siapa yang menyuruhmu magang disini, katakan?!”
“Tentu saja atas rekomendasi dari kampus,” jawab Qania yang mulai bingung mengapa sampai Pak Handoko mengetahui motifnya.
“Jangan bohong!!”
Sekali lagi Qania berteriak kesakitan karena lagi-lagi terkena cambukan.
“Cepat katakan, dimana kau menyimpan dokumen di dalam kardus itu. Kau! Kau pikir bisa menipuku yang seorang ahli hukum ini dengan mengganti kardusnya?! Hahaha, kau salah jika ingin bermain-main denganku,” tawa menggelegar Pak Handoko.
Qania sangat terkejut namun ia berusaha agar tidak memperlihatkan raut keterkejutannya.
Apa yang sudah aku lewatkan sehingga pak Handoko bisa tahu kalau itu adalah kardus yang lain?
Qania berpikir keras hingga ia tak sadar bahwa sekarang Pak Handoko sudah melucuti celana panjangnya dan kini tinggal memakai celana pendek saja.
“Masih tidak ingin mengakui? Baiklah akan saya beritahu, kardus yang asli bertuliskan huruf T-A di setiap sisinya dengan tulisan kecil. Jadi, masih mau mengelak?”
“Saya tidak paham dengan apa yang Anda katakan. Saya tidak menyentuh dokumen di lemari ini. Anda bisa melihat cctv, untuk apa saya mengambil dokumen usang jika disini banyak dokumen baru,” elak Qania dengan keras.
“CCTV ya? Baik kita akan melihatnya, tapi alangkah lebih baiknya lagi kau kita bersenang-senang dulu sekarang,” ucap Pak Handoko mulai membuka kancing bajunya satu per satu.
__ADS_1
Tubuh Qania menegang, ia sudah kehabisan banyak tenaga dan ia tidak ingin diperkosa oleh lelaki biadab ini. Qania berusaha memanfaatkan situasi saat pak Handoko sedang membuka kancingnya. Qania berlari pincang ke arah pintu namun ia tak bisa membukanya.
Pak Handoko yang melihat hal tersebut langsung tertawa keras sambil berjalan mendekati Qania.
“Siapapun tolong aku!!” teriak Qania mulai terisak.
“Hahaha, mau sampai suaramu habis pun tidak akan ada yang datang menolongmu. Lebih baik kau menurut padaku agar segera terbebas dari sini. Lagi pula aku hanya ingin mengajakmu bersenang-senang, bukan ingin menyiksamu,” ucap pak Handoko yang dengan penuh nafsunya menghirup aroma tubuh Qania.
Sontak saja Qania menendang perut pak Handoko karena merasa geram dengan perbuatannya. Hal itu memantik amarah pak Handoko. Ia sudah cukup bersabar meladeni penolakan Qania dan juga semakin berang karena dokumennya hilang.
Pak Handoko menampar keras kedua pipi Qania bergantian hingga dari sudut bibirnya mengalir darah segar. Ia dengan kasarnya menarik tubuh lemas Qania lalu menghempaskannya di atas meja. Tubuh mungil itu kini setengah berbaring di meja dan itu membuat pak Handoko semakin terbakar birahi.
Qania terus memberontak ketika kedua tangannya di tahan oleh Pak Handoko. Ia memiringkan kepalanya saat pak Handoko ingin menciuminya. Ia bahkan masih sempat meludahi wajah paruh baya itu.
“Kurang ajar!!”
Baru saja pak Handoko akan melayangkan tamparannya lagi, dari arah luar terdengar panggilan dan juga bisa mereka lihat kalau gagang pintu terus bergerak. Namun karena pintu terkunci maka Pak Handoko merasa tenang-tenang saja.
“Qania, kamu masih di dalam?” panggil Julius.
Ketika Qania hendak berteriak, dengan cepat Pak Handoko membekap mulutnya dengan tangan.
“Qan jawab aku kalau kamu ada didalam?” teriak Julius lagi.
Qania hanya bisa mengeluarkan suara yang tertahan serta air mata yang mengalir dari kedua sudut matanya.
Ya Allah tolong hamba.
Di luar, Julius hendak pergi namun ia tertahan karena mendengar suara teriakan dari dalam gudang.
Pak Handoko yang tadinya sudah tidak lagi mendengar suara dari luar pun mulai lengah namun ia harus mengerah kesakitan karena Qania menggigit kuat tangannya.
“Arggghh!! Kurang ajar kamu ya!!” bentak pak Handoko.
Julius terkejut mendengar suara erangan tersebut sehingga ia memutuskan untuk bertahan disana.
“Julius tolong aku!! Aku ada di dalam!!” teriak Qania dengan sisa tenaganya.
Plakk ...
Kepala Qania terasa begitu pusing, bahkan di telinganya terus berdengung saat tamparan kuat itu lagi-lagi menghantam pipi mulusnya. Entah sudah seperti apa rupa wajah mungil yang biasanya selalu terlihat cerah itu namun kini sudah dipenuhi dengan luka lebam.
“Dia tidak akan datang menolongmu,” ucap pak Handoko dengan sekali tarikan berhasil menyobek lengan baju Qania.
Saat ini Qania sudah tidak memiliki daya lagi untuk melawan. Ia berharap Julius masih bisa menyelamatkannya. Hanya air mata yang terus mengalir dari sudut matanya.
Qania memejamkan matanya ketika pak Handoko mulai meraba pahanya. Ia merasa jijik dengan situasi saat ini namun ia tak mampu melawan karena kehabisan tenaga.
Disaat ia hampir pingsan, masih sempat Qania mendengar suara pintu yang di buka paksa karena di dobrak.
“Brengsek! Bajingan!”
Dengan penuh kemarahan Julius berlari lalu menerjang tubuh pak Handoko yang masih terkejut akan kedatangannya. Julius menjadi kalap ketika melihat Qania yang sudah babak belur.
“To-tolong aku Jul,” ucap Qania lirih sampai akhirnya ia jatuh pingsan.
Melihat hal tersebut langsung saja membuat kemarah Julius memuncak. Dengan kasar ia menarik kerah baju pak Handoko kemudian memberikan pukulan di wajahnya.
Pak Handoko tak bisa menghindar karena Julius masih terus menarik kerah bajunya dan juga tak bisa keluar karena saat ini ia hanya tinggal memakai celana pendek saja dan juga baju kemeja yang sudah terbuka kancingnya.
Julius dengan membabi buta menghajar wajah paruh baya itu hingga tubuh pak Handoko lemas setelah diberi tinju kuat di perutnya. Tubuh itu oleng dan dengan kasarnya Julius mendorongnya hingga jatuh terkapar di lantai.
Masih belum puas Julius kembali menduduki perut pak Handoko dan memberi pukulan keras di wajahnya.
“Qaniaa!!”
Julius menghentikan aksinya dengan tinju yang berhenti di udara begitu melihat Raka datang dan berlari ke arahnya.
Raka menutup mata begitu melihat kondisi Qania, wanita yang sampai saat ini masih dicintainya. Melihat itu membuat amarah Raka tak bisa dikontrol lagi.
Ia dengan kasar mendorong tubuh Julius kemudian duduk di atas tubuh pak Handoko lalu memberikan pukulan bertubi-tubi di wajah itu.
Raka dengan kasar pun menarik kerah bajunya lalu memaksa tubuh lemas itu berdiri. Ia meninju perut pak Handoko dengan keras hingga keluar darah segar dari mulutnya.
“Raka, gu-gue bawa Qania ke rumah sakit. Lo tolong beresin tua Bangka itu,” ucap Julius yang tadi saat Raka menghajar pak Handoko ia menyempatkan diri mengambil kamera yang ia letakkan di beberapa sudut atas lemari lalu memasukkannya ke dalam tas Qania.
“Lo cepat bawa Qania. Gue akan nyusul setelah puas menyiksa tua bangka ini,” ucap Raka tanpa menoleh.
“Gue bawa Qania ke rumah sakit yang dekat dari sini,” ucap Julius kemudian menggendong tubuh Qania dan juga membawa tas Qania.
Di luar ruangan ternyata sudah banyak pegawai yang menyaksikan hal tersebut. Ada yang ketakutan, ada yang senang dan juga ada yang diam-diam langsung menghubungi asisten Revan.
__ADS_1