
Mobil taksi yang di tumpangi Qania harus berhenti karena di depan terjadi kemacetan.
“Ada apa ya di depan, Pak?” tanya Qania yang sedang duduk gelisah.
“Sepertinya ada kecelakaan Mbak. Ada polisi juga,” jawab sopir taksi.
“Kecelakaan?” beo Qania.
“Iya Mbak. Itu ada polisi juga.”
Qania duduk dengan gusar namun berusaha tetap tenang hingga akhirnya mobil taksi yang ia tumpangi pun bisa kembali melajukan perjalanan.
Qania terus melihat ke arah kecelakaan yang dimaksud dan betapa terkejutnya ia karena mobil yang menabrak pohon besar itu adalah mobil Tristan.
“Pak berhenti dulu,” ucap Qania tiba-tiba hingga sopir taksi itu berhenti mendadak.
Qania turun dari mobil dan menghampiri polisi yang berada di sana.
“Selamat sore Pak. Maaf saya ingin bertanya, korban kecelakaan ini kondisinya bagaimana Pak?” tanya Qania berusaha untuk tidak gugup.
“Anda mengenal pemilik mobil ini?” tanya Pak polisi.
“Iya Pak. Saya sangat mengenalnya,” jawab Qania.
“Oh syukurlah. Segera menyusul ke rumah sakit A, korban dilarikan ke rumah sakit dan tadi tidak ada satu pun yang mengenalnya,” ucap Pak polisi.
“Terima kasih Pak, saya permisi,” ucap Qania dan ia langsung masuk lagi ke dalam taksi.
“Pak ke rumah sakit A,” ucap Qania kepada sopir taksi.
Di perjalanan banyak sekali yang Qania pikirkan. Ia khawatir tentang Tristan, ia juga memikirkan mertua dan keluarganya serta dua koper yang masak iya harus dibawa ke rumah sakit.
Kebetulan arah ke rumah sakit ini melewati rumah Mae, ia meminta sopir untuk berhenti sebentar karena ia ingin menitipkan kopernya.
“Lho Qania, gue kira Lo udah berangkat,” ucap Mae saat membukakan pintu untuk Qania.
“Ceritanya panjang. Tolong titip koperku dulu ya, aku ada urusan penting,” ujar Qania dan langsung pergi begitu saja membuat Mae terbengang di depan pintu sampai Qania masuk ke dalam taksi.
Di rumah sakit, Tristan sedang mendapat perawatan di ruang UGD. Lukanya cukup parah karena tadi ia tak melihat mobil truk yang datang dari arah berbeda saking kerasnya ia berusaha menghubungi Qania. Mau tidak mau untuk menghindari tabrakan, Tristan memilih menabrak pohon hingga banyak darah keluar dari bagian kepalanya karena terbentur setir mobilnya
Qania yang turun dari taksi bergegas masuk ke dalam rumah sakit dan menghampiri bagian informasi untuk menanyakan keberadaan Tristan.
“Sus korban kecelakaan atas nama Tristan Anggara dimana, Sus?” tanya Qania panik.
“Tristan Anggara? Oh korban kecelakaan yang tadi. Sekarang di ruang UGD sedang dalam pemeriksaan dokter. Apakah Anda keluarganya?” tanya suster tersebut.
“Iya saya keluarganya,” jawab Qania.
“Pasien masih berada di ruang UGD. Anda lurus saja dari sini lalu belok kiri,” ucap suster tersebut.
Qania berterima kasih dan langsung menuju ke arah yang ditunjukkan oleh suster tersebut.
Di depan ruang UGD ia mondar-mandir dengan cemas. Ia sangat merasa bersalah karena tadi Tristan sedang berusaha meneleponnya dan ia abaikan. Justru ketika ia menjawab panggilan dari Tristan malah akhirnya berujung kecelakaan begini. Ia terus menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang menimpa Tristan.
“Ya Allah tolong selamatkan Tristan,” gumam Qania.
Hampir setengah jam Qania berada di depan ruang UGD, pintu terbuka dan muncullah suster dari dalamnya.
“Suster, bagaimana keadaan pasien? Bagaimana keadaan Tristan?” tanya Qania.
“Pasien masih belum sadarkan diri dan sudah mendapatkan penanganan dari dokter,” jawab suster tersebut.
__ADS_1
“Apa saya bisa melihatnya?” tanya Qania lagi.
“Tentu saja. Kami juga sedang mencari keluarganya. Anda bisa masuk karena di dalam ada dokter dan beliau pun ingin menyampaikan kondisi pasien,” ucap suster tersebut.
“Baik Sus, terima kasih,” ucap Qania kemudian ia segera masuk dan mencari keberadaan Tristan.
Qania menatap miris kepada Tristan yang terbaring tak sadarkan diri dengan perban yang menutupi sebagian kepalanya. Keadaan ini mengingatkan ia ketika Arkana kecelakaan dulu. Bayangan tentang sayangnya Syeril yang ia kaitkan dengan Marsya pun membuatnya trauma.
Hei Qania, dia itu Tristan dan bukan Arkana. Jangan disama-samakan apalagi kau terus saja mengingat kejadian pahit itu. Fokusmu disini adalah untuk melihat keadaan Tristan.
“Permisi Dok, saya keluarga pasien. Bagaimana keadaannya?” tanya Qania setelah berhasil mengontrol dirinya.
“Oh Anda keluarganya, syukurlah. Tadi pasien sempat kritis. Namun akhirnya ia bisa melewati masa itu. Setelah saya melakukan pemeriksaan, pasien mengalami benturan dan cidera yang cukup serius di kepalanya sehingga ada kemungkinan pasien akan mengalami amnesia. Dan semoga saja itu tidak terjadi. Jika pasien sudah siuman, maka kami akan memindahkannya di ruang rawat inap,” ucap dokter tersebut menjelaskan.
Qania hanya mengangguk paham, tak tahu harus menjawab apa.
Ketika dokter tersebut berpamitan, datang seorang suster memanggil Qania untuk mengurus administrasinya. Qania pun mengikuti suster tersebut dan kini Tristan hanya ditemani oleh seorang suster.
Setelah mengurus administrasinya, Qania merasa lelah. Lelah fisiknya tidak begitu terasa, namun hatinya sudah terlalu lelah.
“Di depan ada warung tenda. Ada ayam bakar kali ya. Rasanya perutku sangat lapar,” gumam Qania kemudian ia berjalan keluar rumah sakit.
Sekembalinya Qania ke rumah sakit, ia tidak mendapati Tristan di ruang UGD. Padahal ia hanya keluar setengah jam saja.
“Suster, pasien disini tadi kemana ya?” tanya Qania.
“Oh, beliau sudah di pindahkan ke ruang rawat inap karena tadi sempat sadar,” jawab suster tersebut kemudian memberitahukan kamar Tristan dan Qania pun berpamitan.
Qania membuka pintu kamar yang dimaksud oleh suster tadi. Ia mengedarkan pandangannya dan mendapati sosok Tristan yang sedang duduk bersandar dan entah sedang menatap apa. Qania mengetuk pintu yang setengah sudah terbuka itu. Tristan menoleh padanya dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Boleh aku masuk?” tanya Qania hati-hati.
“Masuklah,” ucap Tristan dengan suara yang cukup dingin.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Qania dengan suara pelan.
“Menurutmu?” tanya Tristan balik.
Qania ingin marah dengan jawaban Tristan yang justru balik menanyainya. Namun karena ia sadar Tristan kecelakaan karenanya maka ia berusaha sabar.
“Kenapa Qania? Kenapa begitu sulit untuk dihubungi, hm?” tanya Tristan dengan menekan kata-katanya.
“I-itu. Hmm, maafkan aku. Jika kau sudah baikan, aku ingin berpamitan karena sudah ketinggalan pesawat,” ucap Qania entah kenapa malah berkata seperti itu.
“Apa?! Sudah membuatku kecelakaan dan kini mau melarikan diri? Seperti itukah kebiasaanmu Qania Salsabila Wijaya? Suka pergi seenaknya? Setelah membuat orang jatuh cinta lalu kau tinggalkan begitu saja,” ucap sarkas Tristan yang membuat Qania tertohok.
“Maafkan aku,” ucap Qania lagi.
“Maaf, maaf, maaf. Bisamu meminta maaf saja ya. Kemarin ketika aku meminta maaf apa kau mau memaafkanku? Justru kau malah mengabaikan ku hingga aku kecelakaan begini. Kau punya hati tidak sih?” sindir Tristan.
“Lalu aku harus apa dan bagaimana?” tanya Qania memberanikan diri untuk menatap Tristan.
“Minta maaflah dengan benar,” ucap Tristan.
“Maksudnya? Apakah aku kurang benar dalam meminta maaf?” tanya Qania heran.
“Ya. Kau kurang tulus dalam meminta maaf padaku. Harusnya kau merayuku untuk mendapatkan kata maaf. Ingat, sudah berapa banyak kesalahanmu dan aku terus saja yang minta maaf dan merasa bersalah. Kau membuatku jatuh cinta lalu mencampakkanku. Kau membuatku melambung tinggi lalu kau menghempaskanku. Kau memberiku ekspektasi lalu kau tampar aku dengan realita. Dan sekarang kau membuatku kecelakaan lalu justru kau berpamitan untuk pergi. Sadis ya, Bun,” ucap Tristan panjang lebar.
“Bisa tidak kau tidak perlu mengungkit itu semua? Kau itu sedang sakit justru malah kelihatan seperti orang sehat. Mulutmu tidak berhenti berbicara padahal kau itu harus istirahat. Aku sudah meminta maaf untuk itu semua dengan tulus. Kenapa kau menyebalkan sekali!” bentak Qania mulai tersulut emosi. Ia paling tidak suka jika selalu diungkit dan pembahasan melebar kemana-mana.
“Ya makanya minta maaflah dengan benar supaya aku tidak terus mengungkit semua kejahatanmu. Kau itu sudah berbuat kriminal pada hatiku,” ucap Tristan yang membuat Qania tersedak air liurnya sendiri. “Sini mendekatkan. Pegang tanganku lalu minta maaf. Jangan lupa ciumannya, maka aku pasti akan langsung memaafkanmu,” ucap Tristan.
__ADS_1
Qania naik pitam. Bisa-bisanya Tristan berkata seperti itu padanya.
“Kau! Kau sungguh menyebalkan Tristan Anggara. Terserah, terserah apa katamu. Entah aku tulus atau tidak menurutmu yang penting aku sudah minta maaf. Aku pamit, aku sudah ketinggalan pesawat karenamu, permisi,” ucap kesal Qania.
Begitu Qania hendak pergi, tangannya ditarik oleh Tristan. Ia enggan berbalik. Masih kesal pada Tristan dan tak ingin menatapnya.
“Katakan padaku, apa kau kesal?” tanya Tristan dengan lembut.
Qania menitikkan air matanya karena mungkin sudah habis kesabarannya.
“Tentu saja. Lepaskan tanganku, aku harus segera pergi,” jawab Qania.
Bukannya melepaskan, Tristan justru menarik Qania agar duduk di ranjang. Namun Qania yang sudah duduk itu masih tidak ingin berbalik.
“Jika kau merasa kesal maka ....”
“Maka apa, hah?” sungut Qania.
“Maka aku, maka ha-hariku sudah lengkap,” ucapnya dengan gugup.
Deggg ....
Qania membisu. Kata-kata itu sangat tidak asing baginya dan sudah begitu sangat lama tidak ia dengar. Sesaat kemudian Qania yang jantungnya masih berdebar-debar tak karuan itu berbalik. Ia mendapati sosok pria di hadapannya ini sudah berderai air mata.
Mereka bertatapan sebentar kemudian Qania dibawa masuk kedalam pelukannya.
“Maaf. Maafkan aku. Maafkan aku,” ucapnya terus menangis sambil memeluk erat Qania.
Qania hanya semakin mempererat pelukannya begitupun dengan tangisannya.
“Maafkan aku yang sudah meninggalkanmu dan melupakanmu. Maafkan aku sayang, maaf. Maaf sudah membuatmu melewati semuanya sendirian. Aku tidak berada disisimu saat kau mengandung dan melahirkan. Aku tidak ada di dekatmu saat kau kesepian dan aku tidak datang saat kau merindukanku. Yang ada justru aku melupakanmu. Ketika Tuhan kembali mempertemukan kita justru aku memberikan kesan buruk padamu. Tapi percayalah, hatiku selalu mengenalmu. Hatiku sungguh hebat karena bisa mengenali rumahnya, tempatnya tinggal. Maafkan aku sayang, maaf.”
“Arkana, kau jahat, hikss.”
“Aku tahu sayang, aku tahu aku jahat.”
Tak ada lagi ucapan kata yang keluar dari mulut keduanya. Mereka hanya saling memeluk erat melepaskan semua rasa dan kerinduan mereka.
“Arkana, Arkana, Arkana,” ucap Qania berulang kali dan itu semakin terdengar lirih di telinga Arkana Wijaya.
Pelukan semakin erat seolah jika dilepas keduanya akan saling kehilangan.
“Ya, ini aku Arkanamu, Arkana Wijaya, suamimu. Maafkan aku sayang, maafkan aku.”
“Kau sangat jahat Ka, kau meninggalkanku di hari pernikahan kita. Kau membuatku menangis dan menanggung rindu bertahun-tahun. Kau tidak tahu berapa banyak doaku memaksa Tuhan untuk mengembalikanmu padaku. Kau tidak tahu tiap malam aku selalu memaksa Tuhan—“
“Aku tahu,” potong Arkana.
Qania melepaskan pelukannya lalu menatap pria yang wajahnya pun basah dengan air mata.
“Aku benar-benar yakin kau adalah Arkana Wijaya,” ucap Qania setengah kesal namun Arkana hanya tersenyum dan kembali membawa Qania kedalam pelukannya.
“Ya, ini aku Arkana Wijaya pembalap liar yang tampan dan sayangnya paling kau sayangi. Yang kalau berada di dekatmu membuat jantungmu berdebar-debar dan tanganmu begitu dingin. Sebenarnya aku ingin mengatakan satu hal lagi namun dari yang aku lihat kau bahkan sangat hebat mengendarai motorku,” ucap Arkana yang membuat Qania senang sekaligus kesal.
“Kenapa kau sangat menyebalkan sih?” ucap Qania.
“Karena aku adalah Arkana dan aku sangat suka melihatmu kesal. Hidupku terasa belum lengkap jika tidak membuatmu kesal,” jawabnya bangga membuat Qania mencubit perutnya dan ia merintih.
“Dasar brengsek!”
“Mulutmu sangat manis nyonya Wijaya,” ucap Arkana yang kemudian keduanya sama-sama tertawa tanpa tahu di balik pintu ada seseorang yang tengah menangis mendengar kemesraan mereka, dialah Marsya Alvindo.
__ADS_1
???