
Bersama teman-teman barunya yang begitu hangat Qania melewati hari-harinya dengan bahagia karena tidak ada lagi pembullyan dan sesuatu hal yang membuatnya merasa jengah.
Qania sampai dibuat terkejut lagi ternyata semua mahasiswa di kelas tersebut sangat pandai dan cekatan meskipun penampilan mereka tidak mencerminkan hal yang sama. Qania sampai harus berusaha cepat agar bisa menjawab pertanyaan dan bahkan mengantarkan kertas jawaban Quis lebih awal.
Kenyataannya si Mae yang hobby make up justru sangat aktiv sedangkan Zakih si ketua kelas sangat cepat tanggap dan si raja game Yusuf ia bukan hanya jago bermain game dan menggombal, ia justru sangat mahir dalam menyelesaikan sebuah kasus yang diberikan kepada mereka.
Bukan berarti teman-teman yang lain tidak secekatan mereka, kecerdasan mereka hampir setara hanya saja ada yang diam dengan kecerdasannya bak emas ada juga yang terlewat aktiv namun kecerdasannya sama dengan mereka yang lebih memilih diam.
Di kelas ini Qania kembali menjadi dirinya yang dulu sebagai mahasiswa yang hyper aktiv dan tidak menjadi orang lain bahkan harus menjaga image, semua tidak ia perlukan. Semua teman sekelasnya sudah tahu dengan statusnya dan bahkan mereka sering curhat kepada Qania yang kata mereka lebih berpengalaman.
“Qan, ada yang nyariin” bisik Mae saat mereka sedang memasukkan peralatan belajar mereka ke dalam tas.
“Siapa?” tanya Qania tanpa menatap Mae.
“Most wanted angkatan kita” jawab Mae tersipu.
Qania hanya memberikan tatapan melongo kepada Mae.
“Julius” ucap Mae.
Qania mengalihkan pandangannya ke pintu dimana sudah ada Julius yang sedang berdiri sambil menatapnya dengan senyuman manis. Qania membalas senyuman Julius kemudian ia memakai tasnya dan berdiri bersama Mae.
Setelah berpamitan dengan teman-temannya Qania pun menghampiri Julius yang langsung mengajaknya pulang, namun ditolak oleh Qania.
“Maaf Jul, aku masih ada keperluan bersama Mae jadi nggak bisa pulang bareng kamu” tolak Qania yang entah sudah kesekian kalinya dan itu tidak membuat Julius menyerah.
Bagi Julius cukup sekali ia membuat kesalahan, ia ingin mencontoh Raka yang tidak menyerah dan tidak lari dari samping Qania meskipun sudah mendapat penolakan berkali-kali.
“Ya udah, lain kali ya Qan” ucap Julius kemudian melenggang pergi dengan membawa kekecewaan.
Setelah Julius pergi, barulah Mae mengajak Qania pergi ke perpustakaan.
“Yuk Qan, jangan sampai anak-anak yang dapat bukunya duluan” ajak Mae yang diangguki oleh Qania.
....................
“Hallo bos, sudah sebulan kami mengamati rumah ini akan tetapi tidak ada tanda-tanda orang yang bos cari” ucap seorang pria yang memakai jaket hitam dan juga celana hitam pada sambungan telepon.
“Cari sampai dapat”,.
“Baik bos, tapi kemana lagi harus mencari orang itu bos karena terkahir yang saya dengar rumah ini sudah berpindah tangan dan pemiliknya sudah meninggal bos”,.
“Ya sudah kau cari saja dimana pun karena saya juga tidak memiliki detail info tentang orang itu”,.
“Baik bos”,.
Setelah memutus sambungan teleponnya pria itu pun pergi dari depan rumah nek Nilam.
...🍀🍀🍀🍀🍀...
.
Waktu terus berlalu tanpa terasa kini Qania sudah memasuki semester tujuh dan bersiap untuk KKN. Bersama teman sekelasnya ia tidak merasakan perputaran waktu yang sangat cepat karena di kelas itu ia merasa kadang sangat serius dan juga sangat santai. Ada waktunya ia tegang dan juga ada waktu dimana ia merasa biasa saja.
Qania tidak lagi memikirkan Tristan Anggara yang tiba-tiba masuk kedalam kehidupannya dengan wujud sang suami namun sifat dan sikap yang bertolak belakang.
Begitu pun dengan Raka yang kini sedang sibuk untuk mempersiapkan ujiannya, mereka sangat jarang bertemu karena Raka yang sangat pandai mengelola aplikasi itu sudah mendapat banyak tawaran kerja dan itu menjadi kesibukan untuknya. Namun ia tidak lupa mengabari Qania dan tetap mengunjungi di waktu senggangnya.
__ADS_1
“Pagi Mami, aku sekolah loh hari ini” ucap Arqasa melalui panggilan video.
“Anak mami udah besar ya, udah mau sekolah nih. Maaf ya Mami nggak bisa nganterin kamu di hari pertaman masuk sekolah” ucap Qania dengan wajah memelas.
“Don’t worry Mami, anak mami ini udah besar dan bisa jaga diri dan tentu saja bakalan jagain Mami” ucap Arqasa dengan gaya angkuhnya.
“Ya ampun Mami punya super hero dong ya” kekeh Qania namun air mata tak bisa ia tahan dari kedua netranya.
“Oh itu sudah pasti Mami. Mami nggak usah mikirin aku dan fokus saja sama sekolahnya. Masa aku mau masuk PAUD sedangkan Mami aku masih sekolah. Apa kata teman-temanku nanti” ucap Arqasa sambil memasang tampang arogan.
“Iya sayang Mami usahain nggak sampai setahun udah kelar” ucap Qania.
“Janji ya Mami”,.
“Iya nak, makanya kamu doain Mami biar bisa cepat selesai sekolahnya” lirih Qania, rasa rindu kembali menggerogoti hatinya.
“Mami berdoa aja, biar aku yang aamiinin” ucapnya membuat Qania terbelalak.
“Nggak usah sok kaget gitu dong Mi, kayak lihat hantu aja. Ini aku Mi, Arqasa Wijaya anak Mami yang paling tampan dan cucunya sultan dan tentunya paling pandai dan berkharisma” ucapnya lagi semakin membuat Qania terbengang.
“Arqa nak, siapa yang ngajarin?” tanya Qania masih menggeleng-gelengkan kepalanya karena tidak menyangka ucapan sang anak sudah seperti orang dewasa.
“Mungkin bakat lahir Mi” jawabnya yang kembali membuat Qania tersentak.
‘Arkana, bakat menyebalkanmu sepertinya mulai tumbuh di diri anakmu’,.
“Mami nggak usah natap kagum kayak gitu ke aku, aku tahu aku tampan tapi Mami nggak usah khawatir karena ketampananku ini hanya buat Mami” ucap Arqa yang membuat Qania sangat ingin meneriaki kenarsisan anaknya itu.
“Iya sayang, awas saja kamu berbagi ketampanan dengan orang lain” ancam Qania berpura-pura.
“Ya udah Mi, aku mau ke sekolah dulu. Bye Mami, I love you” ucapnya sambil memberikan kiss bye pada sang ibu seperti biasa sebelum menutup panggilan.
“Mami tenang aja, aku biar nggak belajar udah pandai kok” ucapnya sebelum mengakhiri panggilan.
Begitu Qania ingin menyahuti perkataan anaknya, panggilan video tersebut sudah terputus dan alhasil Qania hanya bisa menghela napas dan..
“Arqasaaaaaaaaa”,.
Qania hanya bisa berteriak dan hanya Lala lah yang akan mendengarkannya. Dari kamarnya Lala hanya tersenyum karena ia sudah paham dengan Qania yang sering kali meneriaki anaknya.
“Arkana kau memang tidak meninggalkanku sendirian di bumi ini dan kau sudah memberikanku ganti yang sama persis dengan wajah dan sifatmu” lirih Qania dengan air mata yang mengalir dari kedua sudut matanya.
Qania memejamkan matanya, ia berbaring sambil memeluk ponselnya. Dadanya terasa sesak setiap kali teringat akan suaminya, ia hanya bisa mengenang dengan deraian air matanya.
“Aku rindu Ka, sangat rindu padamu” lirih Qania.
“Anak kita sudah besar dan dia sama persis sepertimu. Aku semakin merindukanmu, aku sangat sangat merindukanmu Ka. Bohong jika aku bisa melupakanmu sehari saja, aku sama sekali tidak bisa melupakanmu dan bahkan setiap saat rasa cintaku kepadamu terus saja bertambah. Hikss, semoga kau pun sama Ka” isak Qania dengan mata terpejam.
.................
Setelah mendaftar KKN bersama teman-teman sekelasnya dan mereka mengambil KKN mandiri dimana hanya mereka saja yang berada di tempat KKN yang mereka pilih sendiri, Qania dan Mae pun langsung bergegas ke mall untuk membeli perlengkapan mereka. Sebenarnya tidak hanya mereka berdua melainkan teman-teman sekelas mereka pun juga pergi berbelanja namun dengan tugas mereka masing-masing sebab mereka sudah membagi kelompok dengan masing-masing menyediakan keperluan yang akan mereka gunakan.
Keduanya sibuk berbincang sambil berjalan tanpa melihat ke depan dan..
Brugghhh...
"Aw, Lo kalau jalan hati-hati dong. Nabrak kan jadinya" gerutunya yang hampir saja jatuh kalau pria bersamanya tidak segera menahan tubuhnya.
__ADS_1
Sementara Qania yang jatuh terduduk sedang dibantu berdiri oleh Mae yang khawatir melihat Qania meringis saat berusaha berdiri.
"Maaf, saya tadi berjalan sambil ngob...",.
"Kamu" pekiknya sambil menunjuk Qania.
"Marsya" ucap Qania pelan, pandangannya pun tertuju pada pria di sebelah Marsya.
Degggg...
'Setelah dua tahun berlalu akhirnya aku melihat dirinya lagi' batin Qania yang lansung memutus kontak mata dengan Tristan yang juga sedang menatapnya.
"Beraninya kamu menatap kekasihku di hadapanku" geramnya membuat Qania kembali menatap Marsya dengan tatapan dinginnya.
'Penampilan gadis piano ini sangat berbeda semenjak terakhir kali aku melihatnya' Tristan berucap di dalam hati.
"Sebaiknya bawa pergi kekasihmu sebelum saya merebutnya darimu dan kamu akan kehilangan dia untuk selamanya. Kalau perlu karungi dia biar sekalian tidak ada yang bisa melihatnya" sarkas Qania.
"Beraninya kamu berbicara seperti itu kepada saya. Belum tahu kamu siapa saya. Saya adalah..",.
"Marsya Alvindo, anak pengusaha di kota ini yang selalu mengaku bertunangan dengan Tristan Anggara akan tetapi kenyataannya tidak demikian bukan" potong Qania.
'Dia bahkan semakin ketus dan bicaranya selalu membuat jantung lawannya seolah berhenti berdetak',.
Marsya terbelalak mendengar ucapan Qania, bagaimana mungkin Qania bisa mengungkapkan hal itu di depan umum sementara para pengunjung mall sudah banyak yang mengerumuni mereka karena keributan yang mereka buat itu.
"Kenapa? Terkejut? Mau marah? Mau protes? Silahkan, saya tidak peduli. Yuk Mae kita pergi, rasanya udara disini tiba-tiba menjadi panas dan menyesakkan" ucap Qania seraya menarik tangan Mae yang masih melongo menatap Tristan Anggara yang sangat tampan menurutnya.
"Qaniaaaa, kau akan membayar perlakuanmu padaku hari ini" teriak Marsya geram, sementara Qania yang sudah berlalu hanya mengangkat jarinya membentuk simbol oke.
Marsya yang geram itu semakin geram karena tidak bisa berbuat apa-apa.
"Tris mengapa kau diam saja?" keluh Marsya.
"Sudah jangan dipikirkan, ayo kita cari barang yang tadi ingin kau beli" ajak Tristan mengalihkan.
"Jangan bilang kau tergoda olehnya Tris, aku melihat dirinya memang sudah berbeda dan penampilannya cukup menggoda" Marsya memicingkan tatapannya kepada Tristan.
"Jangan memikirkan sesuatu yang tidak benar adanya. Ayo sebaiknya cepat, aku masih harus kembali bekerja" Tristan pun menarik tangan Marsya.
"Nggak jadi, aku mau pulang" ketus Marsya.
Tristan hanya bisa menghembuskan napas kasar karena mau marah dengan sikap Marsya pun itu tidak mungkin.
Dari lantai bawah Tristan tidak sengaja melihat Qania yang sedang asyik berbincang di lantai dua bersama Mae. Dan entah mengapa senyuman terbit begitu saja dari bibirnya.
Marsya Alvindo
...🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋...
Terima kasih sudah membaca 🤗🤗🤗🤗
__ADS_1
💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮