
Tristan POV
Melajukan mobil membelah jalanan demi cepat sampai di rumah dan akhirnya aku sampai juga di rumah. Perut lapar dan juga otakku sudah nggak sabar buat ngerencanain pertemuanku dengan wanita gila yang sialnya sekarang udah bikin aku tergila-gila. Aku tahu dia pasti bakalan mengejekku kalau sampai dia tahu aku memiliki ketertarikan kepadanya. Bodoh amat lah, intinya aku ingin membuat rencana untuk menjeratnya.
Marsya urusan belakang, karena aku mau mantapin dulu perasaanku sebenarnya ke Qania dan bagaimana perasaanku terhadap Marsya. Aku belum ingin melepaskan Marsya sebelum aku yakin kalau aku benar-benar jatuh cinta pada Qania. Egois memang, aku akui. Tapi aku tidak ingin kehilangan salah satunya, mungkin seperti ini prinsip pria kebanyakan dan aku menggunakannya.
Aku nggak mau lah kehilangan Marsya jika nanti Qania ternyata hanya obsesi sesaat sementara Marsya adalah gadis yang sudah bersamaku sejak lama dan dia juga sangat mencintaiku. Tapi jika Qania menerimaku dan ternyata ini benar-benar cinta maka aku akan membuat Marsya mengerti bahwa cinta tidak bisa di paksakan.
"Selamat malam den Tristan," sapa pak Yotar yang membukakan pintu gerbang untukku agar mobilku bisa masuk.
Setelah memarkirkan mobil aku segera masuk ke rumah dimana ada bi Ria yang sudah menungguku.
"Selamat malam den Tristan. Aden ingin makan malam dulu atau mau bersih-bersih?" Tanya bi Ria sambil menyambutku.
"Aku ingin makan saja dulu bi, sudah lapar banget soalnya," jawabku kemudian mengikutinya ke ruang makan.
Bi Ria menyiapkan makananku dan menuangkan berbagai jenis lauk ke dalam piring dan aku pun menyambutnya dengan senang hati. Ia meninggalkanku saat aku mulai memakan makananku.
Sungguh aku bersyukur masih ada bi Ria dan pak Yotar yang mengurusiku meskipun mereka hanya asisten rumah tangga disini. Tapi mereka memperlakukan aku seperti anak mereka sendiri dan aku pun sama sekali tidak menganggap mereka adalah pembantu, mereka adalah orang tua keduaku setelah aku kehilangan kedua orang tuaku.
Rumah ini pun aku membelinya karena aku ingin menampung mereka berdua yang sudah menolongku saat aku hampir dicelakai beberapa orang sekitar tiga tahun yang lalu.
Aku membeli rumah ini dari hasil keringatku sendiri. Murni, tanpa adanya uang tambahan dari Marsya.
Kenapa Marsya?
Itu karena selama ini aku menjalankan kafe dan restoran miliknya. Jika orang mengenalku sebagai pengusaha kafe dan restoran yang sukses maka mereka salah. Memang tidak ada yang tahu kalau semua itu adalah milik Marsya yang aku kelola. Ia dan Papanya mempercayakan kepadaku dan aku pun mengurusnya sampai akhirnya sukses dan membuka cabang dimana-mana.
Hanya kami bertiga yang tahu dan aku pun memilih diam saja.
Rumah ini aku beli dengan keringatku sendiri, mengambil gajiku dari hasil mengurus kafe sesuai kesepakatan tanpa ada korupsi, dan diam-diam menjadi penyanyi di kafe-kafe. Maaf untukmu Marsya karena aku berbohong dengan mengatakan aku tidak bisa bernyanyi, itu karena aku tidak mengerti mengapa aku enggan menunjukkan bakatku padamu.
Hasilku bernyanyi pun aku kumpulkan beserta bonus dan gaji untuk membangun kafe yang selama ini jadi tempat aku merenung dan juga tempat beristirahat selain di rumahku. Tempat kedua ternyaman untukku dan akhirnya Marsya tahu juga keberadaannya.
Penghasilan dari kafe itu yang aku gunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari ku bersama pak Yotar dan bi Ria dan untuk membayar gaji mereka. Sementara uang dari kafe dan restoran milik Marsya hanya menjadi tabungan di rekeningku.
Aku tidak ingin menggunakannya karena instingku berkata suatu saat kemungkinan itu akan menjadi boomerang untukku disaat aku menyakiti atau mengkhianati Marsya.
Dan entah mengapa sepertinya aku sudah tahu akan hal itu jauh hari sampai akhirnya aku berada di titik ini. Dimana aku menyukai seorang wanita dan itu berarti aku mencampakkan Marsya.
__ADS_1
Aku sedikit bersyukur karena aku sudah memiliki rencana awal sehingga aku sudah siap menghadapi semuanya jika Marsya nanti menuntutku.
Itu sebabnya aku bungkam juga ketika Qania menghina uang di rekeningku, karena itu benar sekali. Aku hanya pekerja dan pemilik sebuah kafe kecil, tidak sebanding dengannya yang memiliki banyak usaha dan bercabang dimana-mana. Ya meskipun aku tahu kalau itu adalah milik mertuanya, tapi tatap saja semua itu akan jadi miliknya.
Tak terasa makananku begitu cepat habis bahkan aku menambah seporsi lagi tadi karena memikirkan kisah hidupku bersama Marsya dan pendatang baru bernama Qania Salsabila Wijaya itu.
Aku pun bergegas naik ke lantai dua dimana kamarku berada. Rumahku sederhana saja, hanya saja memiliki dua lantai dengan empat kamar tidur. Di atas dua dan di bawah juga dua. Sederhana saja, aku tidak berminat memiliki rumah megah dan mewah. Mungkin jika nanti aku menikahi Qania dan dia meminta rumah mewah, barulah aku akan membelinya.
"Oh ****! Bicara apa aku ini? Kenapa bisa sampai berpikir akan menikah dengan Qania. Hahahaha ... pikiran Lo kejauhan, Tris."
Aku geleng-geleng kepala sambil melangkah ke dalam kamar mandi.
Bahkan di bawah guyuran shower pun wajah Qania masih terus menghiasi pikiranku. Oh inikah yang dinamakan jatuh cinta?
Sial! Aku termakan ucapanku sendiri saat pertama kali menghina Qania. Ah ... memang benar apa yang orang-orang katakan kalau benci itu jangan terlalu benci, karena benci sama cinta itu bedanya sangat tipis.
Aku mengacak rambutku yang basah berusaha mengusir bayangan Qania dari otakku. Sungguh aku bisa gila jika terus seperti ini.
"Gila!"
Aku menyudahi mandiku kemudian bergegas mengenakan pakaian. Tiba saatnya bagiku untuk duduk manis di atas kasur sambil memikirkan rencana untuk menjerat Qania.
"Tiba-tiba saja gue berharap kalau gue ini adalah suami Qania," sadar, gue bahkan sangat sadar saat mengatakannya barusan.
Saat aku sedang tersenyum karena perkataan ku barusan, bunyi notifikasi dari ponselku membuatku mengalihkan pandangan pada ponsel yang tergeletak di atas bantal di sampingku.
"Marsya," gumamku.
^^^Tris, sudah sampai di rumah belum?^^^
^^^Udah makan?^^^
^^^I Miss you 🤗^^^
Degg ...
Rasanya aku tertampar saat membaca pesan singkat dari Marsya, wanita yang selama ini begitu peduli dan sayang padaku.
Apa iya aku tega menyakitinya. Bahkan dengan orang yang baru saja masuk ke dalam kehidupanku dan bahkan aku tidak kenal betul bagaimana karakternya.
__ADS_1
"Apa gue hanya kagum doang sama Qania?"
Beribu tanda tanya menyerbu otakku, aku jadi bingung kembali dengan perasaanku saat ini.
*Aku udah sampai dari tadi.
Udah makan juga.
Miss you too 😊
^^^Syukurlah...^^^
^^^Kalau kamu lelah, segera tidur ya sayang.^^^
^^^I love you 🥰*^^^
Baru kali ini aku seperti tidak ikhlas membalas pesan dari Marsya. Semenjak ada Qania yang memenuhi otakku.
Bisakah aku menyebut Qania itu wanita penggoda? Pelakor? Perusak hubungan orang?
Hahahaha ...
Bagaimana mungkin, sementara aku yang tergila-gila padanya. Bahkan dia tidak tahu dan kami tidak sedekat itu sampai julukan itu diberikan kepadanya.
"Dia akan mengamuk jika ada yang bilang dia pelakor dan perusak hubungan orang."
"Melihat wajah kesalnya menjadi hiburan tersendiri untukku."
Oh malam cepatlah berlalu. Aku sudah tidak sabar ingin menemui si pencuri hatiku itu. Tak sabar ingin berdebat dengannya dan membuatnya mengeluarkan kata-kata pedas untukku.
"Heran, kenapa aku menyukai saat dia memakiku?"
Sepertinya musim sudah berganti dengan musim semi. Seperti ada bunga-bunga yang bermekaran di dalam hatiku.
"Bisakah aku mengaku, aku ingin mengakui kalau aku jatuh cinta padamu, Qania Salsabila Wijaya. Aku jatuh cinta padamu."
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...
Terima kasih sudah membaca 🤗🤗🤗
__ADS_1