
Qania dan Tristan memasuki lift, dengan Tristan yang sudah mengenakan masker serta kacamata hitam. Dalam lift tangan mereka saling bertaut namun tanpa berbicara sedikitpun. Masing-masing larut dalam pikirannya. Tristan memikirkan tentang ia yang akan berpisah jarak dengan Qania. Sementara Qania, ia sedang beradu dengan pikirannya yang ingin menemui Elin.
Aku sebenarnya sangat ingin menemui Elin dan memperlihatkan Tristan padanya yang tidak percaya dan menyangka aku tidak waras karena mengatakan akan datang bersama Arkana. Pasti akan sangat seru ketika Elin dan Yoga mendapatkan kejutan ketika mereka bangun tidur. Ya setidaknya Elin bakalan pingsan dan Yoga, mungkin akan terlihat syok dan tak bisa berkata-kata serta memperlihatkann tampang konyolnya. Ah, ini pasti sangat mengasyikkan. Tapi Tristan harus segera berangkat dan aku yakin dia akan terlambat jika harus menemui Elin dan ketika Elin pingsan toh kami juga yang akan di repotkan. Hmmm, lain kali saja lah. Pasti saat ini Elin juga belum bangun mengingat semalam itu malam pertama mereka. Sabar aja Qania, nanti ada masanya kau akan mengerjai Elin sampai pingsan, hehehe.
Tristan mengerutkan dahinya melihat Qania yang berganti-ganti ekspresi. Kadang kesal kadang tersenyum.
“Apa yang sedang kau pikirkan sayang?” tanya Tristan.
“Hah? aku?” tanya Qania kaget.
“Ya siapa lagi kalau bukan kamu Qania Salsabila.”
“Oh, haha. Aku tadi sedang memikirkan temanku yang semalam menikah. Aku ingin mengajakmu menemuinya. Dia pasti akan jatuh pingsan saat melihatmu dan itu akan sangat seru. Apalagi ini adalah pagi mereka setelah bermalam pertama. Aku sangat ingin mengganggu dan mengacaukan pagi pertama mereka. Tapi kau sudah akan berangkat. Hum, nanti saja lah,” jawab Qania.
Tristan tertawa sambil sebelah tangannya mengacak-acak rambut Qania, “Kau sangat jahil rupanya.”
“Oh kau baru tahu?”
“Jadi benar?”
Belum sempat Qania menjawab pintu lift terbuka dan keduanya pun berjalan keluar.
“Tentu saja. Aku suka membuat orang kesal dan juga panik. Aku suka melihat ekspresi orang-orang yang aku jahili, sangat menggemaskan,” jawab Qania antusias. Dan itu terjadi ketika Arkana mengajarkanku betapa menyenangkan saat membuat orang lain kesal, lanjut Qania dalam hati.
“Ck, aku pikir kau adalah wanita yang sangat dewasa. Ternyata kau masih punya sisi kekanak-kanakan juga ya,” ucap Tristan terkekeh.
“Jika aku terus bersikap dewasa maka wajahku mungkin tidak akan awet muda seperti ini. Lihatlah pada calon istrimu ini, apakah kau yakin kalau aku ini adalah wanita beranak satu dan berusia dua puluh enam tahun jika kau baru pertama kali melihatku?” tanya Qania sambil menarik wajah Tristan agar menoleh padanya.
Deggg ….
Bukan pandangan mata itu yang membuat Tristan degdegan, melainkan ucapan Qania yang mengatakan bahwa ia adalah calon istrinya. Sungguh saat ini Tristan ingin bersorak.
“Jawab ih, bukan memperhatikanku begitu. Aku tahu aku cantik.”
“Hahaha, kau ternyata sama narsisnya denganku. Baiklah aku jawab. Memang benar, pertama kali aku melihatmu waktu itu aku tidak percaya jika kau adalah wanita yang sudah memiliki anak. Aku mengira waktu itu kau masih berusia belasan,” jawab Tristan jujur.
“Aku suka ucapanmu itu. Nah itu taksi kita, ayo naik” ajak Qania, Tristan pun menurut saja.
Kedua kini sudah berada di bandara, pengumuman tentang pesawat Tristan yang akan segera berangkat pun terdengar oleh keduanya. Tristan kembali memeluk erat tubuh Qania seolah tak ingin berpisah dengannya.
“Aku akan jaga diri, hati, telinga dan mataku untukmu. Bertenanglah. Aku juga akan merindukanmu,” ucap Qania menyela Tristan yang baru akan bersuara.
“Sudah paham rupanya dengan yang ingin aku katakan,” kekeh Tristan seraya melepaskan pelukannya.
“Hmm, sudah cepat sana nanti kau tertinggal,” ucap Qania mencoba melawan keinginan hatinya yang ingin menahan Tristan lebih lama bersamanya.
“Baiklah.”
Tristan tak lupa mengecup kening Qania lalu melambaikan tangan sambil berjalan mundur menjauh dari Qania, tak lupa ia memberikan simbol love dengan jarinya. Qania hanya tersenyum menanggapinya itu hingga Tristan tak terlihat lagi di pandangannya.
Qania pun kembali ke hotel dengan menggunakan taksi yang tadi mengantarnya ke bandara bersama Tristan dengan perasaan sedih di hatinya. Ia harus kembali ke hotel untuk mengambil motornya.
. . .
Pak Zafran Sanjaya seolah tak percaya saat melihat foto yang dikirimkan oleh orang suruhannya yang tadi ia tugaskan untuk mengawasi Qania.
__ADS_1
“Anak nakal. Jadi kau punya kekasih dan tidak ingin mengenalkannya pada kami?” gumam Pak Zafran sambil terus mengamati foto tersebut.
Ada foto ketika Tristan memeluk Qania dari belakang ketika di depan kamar hotel, foto mereka masuk ke dalam taksi, hingga foto mereka yang berpelukan di bandara.
“Rupanya aku akan segera mendapatkan menantu. Dari foto-foto ini terlihat mereka begitu mesra dan saling mencintai seperti pasangan pada umumnya. Apakah ini tandanya Qania sudah membuka hatinya untuk pria lain dan mulai melupakan Arka?”
“Ini sebuah kabar baik yang hanya akan aku simpan sendiri sampai Qania mau mengakuinya. Tapi dari perawakannya sepertinya lelaki ini tidak asing bagiku. Tapi dia siapa?”
Karena tak ingin penasaran, Pak Zafran pun menelepon orang suruhannya.
“Ada apa Pak?”
“Ah ya, saya hanya ingin tahu siapa pria yang bersama anak saya tadi,” jawab Pak Zafran.
“Oh namanya Tristan Anggara.”
“Tristan Anggara?”
“Benar Pak.”
“Oh ya sudah, terima kasih.”
Pangilan terputus dan kini Pak Zafran semakin pusing mengingat nama itu.
“Aku seperti pernah mendengar nama itu, tapi dimana?”
Cukup lama ia berpikir hingga ia teringat akan pemilik nama itu. “Tapi cukup berbeda dengan beberapa tahun yang lalu.”
Ia kembali mengamati foto tersebut hingga matanya terbelalak. “Oh tidak, kenapa aku malah berpikir pria ini lebih condong ke sosok Arkana? Ini tidak mungkin benar kan?”
Kali ini Pak Zafran semakin pusing. Ia dibuat bingung oleh teka-teki yang sedang Qania berikan padanya secara tidak langsung. Karena terus merasa bingung akhirnya Pak Zafran memutuskan untuk keluar dari ruang kerjanya. Begitu ia akan menuruni tangga, ia berpapasan dengan Qania yang langsung menyapanya.
Rasanya lidahku begitu gatal untuk menanyainya. Tapi itu privasi Qania. Biarlah nanti dia akan menceritakan dengan sendirinya.
Pak Zafran masih memandangi Qania yang berjalan masuk ke kamarnya, kemudian ia turun ke lantai bawah untuk mencari sang istri.
Di dalam kamar Qania menangkap sosok bocah yang sedang bermain ponsel di atas tempat tidur masih dengan piyamanya. Ia tersenyum lalu naik ke tempat tidur.
“Mengapa belum sarapan?” tanya Qania.
“Menunggu Mami. Mami darimana saja?” tanya Arqasa melepaskan ponselnya lalu menatap cemberut pada Qania.
“Oh maaf sayang. Tadi Mami tidak sempat membangunkanmu karena kau sangat nyenyak. Mami mengantar Om Tristan ke bandara,” jawab Qania.
“Pulang Mi?” tanya Arqasa dengan mata berkaca-kaca.
“Ada banyak pekerjaan yang menantinya disana sayang. Tapi katanya jika Mami selesai kuliah maka dia akan pindah kesini. Tidak akan lama lagi bukan?” hibur Qania yang tak tega melihat kesedihan anaknya.
“Benarkah Mi?” tanya Arqasa yang kini dengan mata berbinar.
“Tentu saja. Mami tidak akan membohongi Arqasa,” jawab Qania.
“Horee! Kalau begitu Mami harus cepat lulus kuliah,” ucap Arqasa.
“Makanya dua hari lagi Mami akan berangkat untuk mengurus kuliah biar cepat selesai. Ar nggak apa kan kalau Mami tinggal lagi?” tanya Qania.
Jika dulu Arqasa akan merengek, maka kali ini sama sekali tidak. Justru wajahnya nampak bahagia membuat Qania heran.
“Bagus Mi. Cepat selesaikan kuliahnya dan pulang bersama Daddy Tristan.”
__ADS_1
Qania tergelak, rupanya ini alasan anaknya tak merasa sedih saat mereka akan berpisah lagi.
“Baiklah sayang, Mami akan pulang nanti bersama Daddy,” ucap Qania yang langsung disambut pelukan hangat oleh Arqasa.
“Terima kasih Mi. kalau begitu sekarang Ar mau mandi lalu sarapan,” ucapnya dengan segera bergegas turun dari tempat tidur dan berlari ke kamar mandi.
“Apapun untuk kebahagiaanmu Nak,” gumam Qania sambil menatap pintu kamar mandi yang terbuka itu.
. . .
Tuan Alvindo memeluk Marsya yang sebentar lagi akan berangkat keluar negeri bersama Tristan. Meskipun sudah sering Marsya meninggalkannya keluar negeri namun tetap saja ia merasa sedih dan khawatir.
“Hati-hati disana ya sayang. Jaga diri dan jangan lupa makan,” ucapnya seraya melepaskan pelukannya.
“Iya Pa,” jawab Marsya.
“Tristan, Om titip Marsya padamu. Tolong jaga dia selama disana. Jangan biarkan dia pergi sendiri tanpa pengawasaanmu,” ucapnya sambil menepuk sebelah bahu Tristan.
“Pasti Om. Kalau begitu kami segera masuk ya Om. Pesawat sebentar lagi akan berangkat,” ucap Tristan.
“Ya, kalian berdua hati-hati,” jawabnya.
“Bye Pa, jaga kesehatan selama aku tidak ada di rumah,” ucap Marsya.
“Iya sayang,” jawab tuan Alvindo.
“Pamit Om,” ucap Tristan menundukkan kepalanya sesaat.
“Ya.”
Tristan dan Marsya pun berjalan masuk sementara tuan Alvindo kembali ke rumahnya. Begitu memasuki pesawat Marsya pamit untuk pergi ke toilet dan saat itu juga Tristan gunakan kesempatan untuk menghubungi Qania.
Assalamu’alaikum, sayang aku sudah di pesawat dan sebentar lagi akan mengudara
Tak lama kemudian masuk pesan balasan dari Qania.
Wa’alaikum salam, berhati-hatilah dan kabari jika sudah sampai.
Tristan tersenyum membacanya.
Panggil aku sayang!!
Qania yang membacanya malah mendengus sementara Tristan yang mengetik tadi sedang tersenyum.
Baiklah sayang, kabari aku jika sayang sudah sampai!!
Tristan tertawa membaca pesan tersebut.
Tentu sayang, kau adalah orang pertama yang akan aku hubungi ketika sudah sampai.
Pesan tercentang dua biru namun tidak ada balasan sama sekali. Tristan menghela napas sambil berkata bahwa ini hal biasa. Tak lama kemudian Marsya datang dan Tristan pun langsung menyimpan ponselnya.
“Makasih ya Tris kamu udah mau menemaniku pergi,” ucap Marsya lalu menyandarkan kepalanya di lengan Tristan.
“Iya, itu adalah tugasku untuk menjagamu,” jawab Tristan sekenanya.
__ADS_1