Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Oh Hujan


__ADS_3

Arkana semakin gusar karena Qania juga tidak menghubunginya. Perkataan mama Qania terus terngiang di telinganya, bagaimana dengan tegasnya ia mengatakan mengakhiri hubungannya dengan gadis kesayangannya itu. Belum lagi papanya yang marah dan tidak ingin membantunya menyelesaikan masalah dan membujuk mama Qania.


“Arrrggghhhh” Arkana berteriak di dalam kamarnya.


Ia membanting apa yang bisa ia banting di dalam kamarnya, melampiaskan kepada benda-benda mati yang tidak bersalah itu.


“Qaniaaaaaaaa” teriaknya lagi.


Sementara Qania yang sedang tidur siang langsung terbangun karena merasa ada yang meneriakinya.


“Hei ada apa dengan jantungku” tanya Qania pada dirinya sambil memegang jantungnya yang berdegup begitu kencang.


Qania menghembuskan napas dengan kasar setelah tiba-tiba terbangun, ia langsung mencari ponselnya namun saat ia melihat tidak ada pesan dari Arkana.


“Benar-benar berakhir” lirihnya.


Kedua pasangan itu sama-sama saling menunggu untuk dihubungi, meninggikan ego dan gengsi untuk menghubungi lebih dulu.


 


__


 


Qania baru saja ingin keluar saat Elin meneleponnya untuk jalan-jalan, namun hujan turun dengan derasnya sehingga ia hanya bisa melihat buliran air yang jatuh dari atas dari balik jendela kamarnya.


Entah mengapa ia seakan melihat bayangan dirinya dan Arkana yang tengah bermain hujan waktu itu.


“Aku sudah gila” gumamnya sambil tertawa getir.


Sebuah pesan masuk membuat Qania menoleh ke ponsel yang ia letakkan di sofa sebelah tempat ia duduk.


💌 My Beloved 💕


Bisa kita bertemu?


.....


Qania langsung tersenyum saat mendapati sms dari Arkana. Ia langsung membalas namun beberapa kali mengetik kemudian ia hapus, karena bingung harus menjawab apa


Ting..


💌 My Beloved 💕


Qania?


....


Qania bingung, karena tadi mamanya melarangnya untuk menemui Arkana apapun yang terjadi.

__ADS_1


Sebuah panggilan tertera dilayar ponsel Qania membuatnya semakin sedih.


📞 My Beloved 💕


....


Qania hanya bisa mendiamkan ponselnya itu, karena tidak ingin mengecewakan mamanya.


Sementara Arkana ketika panggilannya yang ke lima tidak juga dijawab oleh Qania, ia langsung bergegas keluar kamar dan menerobos hujan deras dengan menaiki motornya itu.


“Apapun Qania, apapun untukmu. Aku tak peduli hujan badai sekalipun” ucap Arkana sambil mengendarai motornya menerobos hujan yang makin lama semakin deras dan mengguyur seluruh tubuhnya.


__


 


Arkana sudah tiba di depan rumah Qania yang pintunya tertutup rapat itu. Ia langsung berteriak di depan rumah Qania sekeras mungkin berusaha mengalahkan suara hujan.


“Qania aku tahu kamu di dalam, tolong keluarlah” teriak Arkana membuat Qania yang sedang berada di dekat jendela kamarnya seolah mendengar sesuatu.


“QANIA SALSABILA, AKU MENCINTAIMU. MAAFKAN AKU” teriaknya lagi tak putus asa.


Qania menoleh kearah luar jendela dan..


Deg...


Jantungnya seolah ingin melompat dari dalam tubuhnya.


Namun ada guratan senyum di wajahnya saat melihat sang pujaan hati tengah mencoba membujuk dirinya dengan berhujan-hujanan di luar.


Qania langsung bergegas untuk menemui Arkana, namun saat hendak membukakan pintu tangannya langsung dicegat oleh mamanya dan ia mendapat tatapan tajam dari sang ibu.


“Jangan keluar, biarkan dia” titah sang mama.


“Tapi ma..”


“Diam disini dan kita lihat seberapa keras dia berjuang” potong mamanya.


“Hmm terserah mama” Qania langsung duduk ke sofa ruang tamu dengan malas.


“QANIA TOLONG KELUARLAH, AKU MEMBUTUHKANMU. AKU TIDAK BISA HIDUP TANPAMU” teriak Arkana.


“Omong kosong” cibir mama Qania yang masih mengintai dari balik jendela.


“Mama....” rengek Qania.


“Jadilah wanita yang tegas” ujar mamanya.


Qania hanya bisa mengerucutkan bibirnya, sementara sang mama terus terkekeh melihat Arkana di luar sana.

__ADS_1


“Tante Alisha jika kau mendengarku maka aku memohon maaf padamu untuk sikapku. Aku sungguh menyesal telah berbuat sesukaku tanpa memikirkan perasaan putri cantikmu itu. Tolong tante, maafkan aku” teriak Arkana membuat Alisha makin tertawa geli.


“Panggilkan bibi sekarang” perintah mamanya pada Qania.


“Untuk apa ma?” tanya Qania masih kesal.


“Sudah panggil saja sana” perintah mamanya.


Qania berjalan ke belakang sambil menghentak-hentakkan kakinya.


Tak lama kemudian Qania datang bersama sang ART, sementara bi Eti langsung menemui nyonya nya dan Qania kembali duduk di sofa.


“Ada apa ibu memanggil saya?” tanya bi Eti.


“Tolong bibi siapkan kamar tamu dan sediakan air hangat di bathub ya bi. Jangan lupa handuk atau bathrobe ya bi. Sekarang juga jangan lama” perintah Alisha dan bi Eti langsung mengangguk lalu pergi dengan tergesa-gesa.


“Apa yang sedang mama bicarakan sama bi Eti? Pakai bisik-bisik segala” batin Qania.


Tak lama bi Eti sudah datang dan menemui kembali Alisha.


“Bu sudah siap” lapornya.


“Kamu tunggui dia di pintu samping dan setelah dia masuk ke kamar tamu kamu carikan dia pakaian milik bapak yang ada di kamar ya, kaos saja dan celana pendek yang belum terpakai sama pakaian dalam yang juga belum dipakai” titahnya.


“Baik bu, saya langsung ke pintu samping” pamit bi Eti yang dijawab anggukan oleh Alisha.


Kemudian Alisha membuka pintu rumahnya dan melihat Arkana tengah berlutut dan terlihat menggigil karena sudah lama berada di bawah guyuran air hujan yang amat deras. Alisha keluar menuju teras rumahnya dan menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. Namun sebelum ia keluar, ia memberi peringatan pada Qania agar tidak ikut keluar.


“Apa yang kau lakukan disana?” teriak Alisha.


“Tante Al, kau keluar juga” ucap Arkana sambil menyunggingkan senyuman manis saat melihat sosok tersebut.


“Ya dan kau ada apa datang kemari dalam keadaan basah kuyup hah?” tanya Alisha dengan intonasi sok kejam.


“Aku ingin bicara pada tante dan Qania” jawab Arkana berjalan mendekat.


“STOP..” teriak Alisha saat Arkana sudah mendekat.


“Kenapa tante?” tanya Arkana heran.


“Siapa yang menyuruhmu mendekat, lagi pula saya tidak menerima tamu yang akan mengotori rumah saya dengan air hujan” ucap Alisha sadis.


“Maaf tante” lirihnya. “Kalau begitu saya permisi ingin mengganti pakaian dulu” ucap Arkana yang kemudian segera berbalik badan dengan air mata yang sudah tumpah namun tertutupi oleh air hujan yang membasahi wajahnya.


“Siapa yang menyuruhmu pergi?” panggil Alisha yang membuat Arkana kembali menoleh padanya. “Masuklah lewat pintu samping, disana ada bi Eti yang akan membawamu untuk berganti pakaian.


“Terima kasih tante” ucap Arkana dengan senyum paling manis miliknya.


“Ya.ya.ya, segeralah dan kita akan membahas apa yang ingin kau bicarakan” sahut Alisha kemudian kembali masuk ke rumahnya.

__ADS_1


_____


__ADS_2